Google+ Followers

Friday, January 31, 2014

Review Antologi Cerpen "Negeri Tanpa Nama"


Judul    : Negeri Tanpa Nama
Penulis : Maduretna Menali, Shabrina WS dkk
Penerbit : Ladang Pustaka
Genre : Antologi Cerpen
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 206 Halaman.
ISBN : 978-602-18231-7-0

Negeri Tanpa Nama

Apa yang pertama terlintas ketika mendengar kata “Negeri Tanpa Nama” ?  Antara ada_tiada, mungkin tempat terwujud kebahagiaan sejati atau kepedihan tiada terperi kala mendengar itu yang ada di benak saya. Dan ketika membaca Cerpen Muhammad Qadhafi “Negeri Tanpa Nama” di Antologi Negeri Tanpa Nama tak urung saya pun merinding, apakah benar-benar ada sebuah Negeri Tanpa Nama, tak tertera di peta namun nyata, mungkin penduduknya mirip kaum Elf seperti dalam trilogy Lord Of The Rings ?. Nyatanya cerpen ini membuat pembaca berpikir, andai benar ada dan kita tersesat di sebuah Negeri Tanpa Nama adakah kita bersedia menetap di sana atau ingin kembali pulang di tempat kita berasal ?

Ah pulang, selalu berbicara tentang kerinduan. Kerinduan akan kampung halaman layaknya cerpen Gurindam Hilang di Pulau Selayang (halaman 87), kerinduan yang diperam akan masa kecil yang tinggallah bayang seperti yang banyak terjadi di Indonesia kini, modernisasi telah merenggut kemurnian ajaran nenek moyang, guru-guru mengaji dan yang tertinggal hanya langgar-langgar sunyi, desa-desa sepi.

Kesepian mungkin datang menghampiri seorang wanita renta di penghujung usia ketika ditinggal pergi anak semata wayang jauh merantau ke negeri seberang, anak yang terlahir dari rahim wanita yang terpaksa menjalang, kesepian itu dilukiskan bagai Separuh Purnama oleh Ahmad Ijazi H (halaman 65). Namun sosok ibu seringkali digambarkan sebagai wanita tangguh sebagaimana Maduretna Menali mengisahkannya di Mereguk Rahim Ibunda halaman 15, sekaligus meninggalkan secercah tanya pada diri sendiri, siapakah yang kita sebut ibu, sudahkah kita cukup berbakti ?.

Antologi Negeri Tanpa Nama berisikan cerpen dari 20 cerpenis muda dengan latar belakang berbeda, tema yang diangkat pun beraneka rupa. Tema cinta merupakan kisah yang tak kan lekang digerus usia, tergantung bagaimana cara mengemasnya. Menemukan cinta kembali tepat ketika bertemu idaman lain yang mulai mencuri hati seperti yang dikisahkan Robby Anugerah dalam Perempuan Bernama Nia di halaman 42. Atau cinta yang datang tiba-tiba layaknya Hatiku Terdampar di Pulau Rote karya Arinny Fharahma di halaman 163.

Kecintaan para penulis pada Indonesia, betapapun perihnya sebuah fakta tercermin dari beberapa cerpen yang memotret realita di sekitar kita seperti Titipan – karya Shabrina WS, realita pahit tentang sebuah kisah tiga desa di Ponorogo dengan sejarah keterbelakangan mental menimpa hampir seluruh penduduknya secara turun temurun, pahit namun manusia memang tiada berdaya atas takdir dari Sang Kuasa seperti kalimat bijak sosok ibu sebagai wanita yang kuat “Kita terima saja semua sebagai titipannya Gusti Allah. Kalau kita tidak kuat Gusti Allah yang akan menguatkan kita” (halaman 178). Kisah di sudut Kintamani Bali tentang Kupu-Kupu Kertas dengan sebuah cerita dibaliknya dikisahkan  oleh Ni Putu Fatmaha Lindawati. Kedigdayaan Sakerah tak hanya masyhur di Madura namun juga seantero nusantara, namun bagaimana jika celurit telah kehilangan makna ? Fathorrozi yang akan menjawabnya dalam cerpen Matinya Celurit Malaikat di halaman 97.
Hidup adalah misteri seperti kisah mistis yang tersembunyi dalam cerpen Babi-babi itu karya Reni Hariani (halaman 73), tradisi Toraja yang membuat bulu kuduk berdiri pada cerpen Ma’ Nene (halaman 131) karya Miftah Alia Fauziah, Sihir cerpen M. Arif Budiman di halaman 137 adalah realita bahwa tenung, santet, magis masih kuat melekat tengah masyarakat.

Membaca antologi Negeri Tanpa Nama tidak hanya terhibur oleh jalinan cerita fiksi karena fiksi yang diangkat cerpenis dari latar belakang suku bangsa, pendidikan yang berbeda ini sesungguhnya adalah sebuah realita yang difiksikan, memberi kesempatan bagi kita merenung sebagai insan adakah nurani telah terkoyak tergerus perkembangan zaman ataukah kita mampu menjadi Mercusuar Di Balik Kabut seperti yang dikisahkan Elfa Nurul Annisa di halaman 143.

No comments:

Post a Comment