Google+ Followers

Tuesday, January 31, 2017

7 Rahasia Booster Tea Ibu Menyusui

Hari ini saya nyengir kuda baca status facebook seorang teman yang menulis: sedang berpikir untuk nggak mau punya anak lagi eh lah kok memori fb saya menayangkan foto bayi. 
Hahaha si teman membayangkan repotnya mengurus bayi lagi mengingat putranya sudah tiga. 

Lalu saya terbawa memori mengenang saat anak-anak saya baru dilahirkan. Satu hal yang menyisakan rasa haru, pilu, gemas, campur aduk tak karuan adalah masa saat saya mengalami kesulitan memberikan ASI. Produksi ASI saya saat Rafif dan Radit bayi bisa dibilang jauh dari mencukupi. Padahal sejak hamil saya sudah rajin mengkonsumsi sayur dan kacang-kacangan yang konon membantu produksi ASI. Usai melahirkan saya rutin mengkonsumsi susu ibu menyusui yang dilengkapi daun katuk. Saya juga mendapatkan suplemen untuk booster ASI dari dokter tetapi tanpa merk. Tapi hasilnya masih minim dan terpaksa memberikan susu formula sebagai tambahan. Kasihan sekali mengingat si kecil masih menangis dan berusaha mencari tambahan ASI padahal dua-duanya sudah kosong melompong.

Saya sempat sedih, tertekan dan merasa bersalah karena tak mampu memberikan yang terbaik. Tetapi kemudian saya bertawakal. Bukankah saya sudah mempraktekkan berbagai macam tips, berikhtiar sekuat tenaga agar bisa memberikan ASI sesuai kebutuhan anak-anak?

Produksi ASI yang tidak mampu maksimal bisa terjadi karena banyak hal:
1. Genetis. Ibu saya menyatakan bahwa beliau dahulu juga kesulitan memberikan ASI dan memutuskan memberikan susu formula bagi anak-anaknya. Benarkah produksi ASI dipengaruhi oleh genetis? Entahlah. Mungkin kaitannya dengan penurunan sifat genetis tubuh yang tidak mampu kadar prolaktin sesuai kebutuhan ibu menyusui.

2. Kondisi psikologis. 
Kondisi psikis ibu juga berpengaruh terhadap kadar hormon yang mendorong produksi ASI.
Rasa tertekan, stress karena merasa tidak mampu memproduksi ASI secara mencukupi, kebingungan karena usai cuti melahirkan harus segera bekerja kantoran kembali mungkin menjadi penyebab mengapa produksi ASI saya tidak maksimal

3. Kurang nutrisi
Bisa jadi nutrisi yang saya konsumsi kurang mencukupi. Saya tidak diet atau membatasi makanan, berat badan saya naik hingga dua puluh kilogram (dan nggak bisa turun lagi sampai saat ini hehehe) tetapi kemungkinan zat gizi untuk produksi ASI masi jauh dari kadar seimbang. Akibatnya saya hanya menumpuk lemak dan produksi ASI tidak maksimal. Ini juga kesalahan saya, kurang mampu memilih suplemen untuk booster ASI yang tepat. Ah coba saja saya sudah kenal ASI Booster Tea

Tempo hari saat menerima hadiah lomba blog saya mendapatkan beberapa leaflet, salah satunya tentang kegunaan ASI Booster Tea

Membaca leaflet tersebut saya jadi baper, ih kalau saja kenal dengan suplemen ibu menyusui ini delapan dan dua belas tahun lalu. Lha ya bagaimana nggak baper kalau ASI Booster Tea ini bisa diminum kapan saja, rasanya tidak pahit seperti jamu dan bisa ditambah pemanis sesuai selera layaknya teh biasa. Minuman herbal seperti ini ampuh meningkatkan ASI, 100 persen halal dan aman untuk ibu dan bayi.

Penasaran lagi saya kembali meneliti kandungannya. KEPO nih karena suppliernya mengklaim bahwa suplemen yang terdiri dari 100 persen senyawa herbal dari Mediterania dan Asia Selatan mampu meningkatkan produksi ASI hingga 900 persen!

Ternyata ini dia rahasia senyawa yang terdapat dalam ASI Booster Tea:
1. Fenugreek
Stimulator potent ini telah dikenal sebagai herbal peningkat produksi ASI di India dan Timur Tengah. Food and Drug Administration mengklasifikasikannya pada golongan GRAS (Generally Regarde As Safe). Menurut penelitian terbukti bahwa setelah mengkonsumsi ASI Booster TEA 1200 wanita yang ditunjuk sebagai percontohan mampu meningkatkan produksi ASInya dalam 24-72 jam
2. Anise
Merupakan tanaman fitoestrogen yang berasal dari Mediterania Timur dan Asia Selatan. Di Mesir Anise dimanfaatkan sebagai minuman untuk ibu menyusui. Anise juga dapat membantu menyembuhkan berbagai macam gangguan perut seperti kolik, kembung dan nyeri haid serta membantu mengurangi keluhan batuk dan asma
3. Fennel 
Herbal yang telah dikenal sejak zaman Yunani kuno ini mampu meningkatkan kualitas ASI karena mengandung flavonoid dan kumarin. Kedua zat ini merupakan golongan fitoestrogen yang membantu mengembangkan jaringan payudara.
4. Moringa
Merupakan herbal yang berasal dari pegunungan Himalaya, India. Moringa dikenal sebagai senyawa yang mampu memicu produksi hormon prolaktin karena kaya protein seperti asam amino esensial seperti metionin, histidin, leusin, isoleusin, threonin, valin, arginin, lisisn, triptofan dan valin. Moringa juga mengandung vitamin A dan C, kalsium, kalium dan zat besi serta antioksidan dan fitonutrien (alpha-carotene, beta-Carotenen, beta-cryptoxanthin, lutein, zeaxanthin dan klorofil)
5. Habbatussauda
Zat yang satu ini memang tak diragukan manfaatnya bagi stamina dan obat segala penyakit. Kandungan asam linolnya mampu meningkatkan fungsi otak. Habbatusauda juga membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh agar terhindar dari serangan virus, kuman dan bakteri
6. Alpinia Powder
Bahan ini mengandung zat gingerol membantu menekan prostaglandin yang sifatnya menghambat produksi enzim siklo oksigense sehingga bisa merangsang produksi ASI. Alpinia powder juga mengandung alphalinolenic acid yang bermanfaat meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan produksi getah bening dan menghindarkan terjadinya pendarahan di luar siklus menstruasi. Eh ada bonusnya, yang paling disukai wanita yaitu membantu melangsingkan perut dan memperlambat penuaan dini. Kandungan farnesal pada Alpinia Powder membantu ibu baru melahirkan meraih berat badan idealnya dan awet muda bo'
7. Cinnam (Verum Powder)
Berperan mengurangi kadar kolesterol LDL, memiliki senyawa alami anti infeksi dan membantu mengurangi rasa sakit terkait arthritis terutama pasca operasi caesar (post partum) dan mengandung senyawa alami cinnamaldehyde yang menurut penelitian membantu meningkatkan hormon progesteron bagi wanita.


Wah pantas saja jika produksi ASI bisa meningkat hingga 900 persen setelah mengkonsumi suplemen herbal yang bisa diseduh layaknya minum teh. Sampai para artis pun mengakuinya.



Cara menikmatinya sangat mudah: cukup dengan menyeduh ASI Booster Tea 1 sendok makan penuh dengan air hangat 500 ml. Minuman ini bisa disajikan panas atau dingin serta bisa ditambahkan gula/gula batu/ madu sesuai selera. Agar hasil maksimal baiknya sajian herbal seduh ini dinikmati tiga kali sehari dam secara bertahap dikurangi menjadi dua cangkir perhari hingga cukup satu cangkir sehari. Tak lupa harus banyak minum air putih minimal 1,5 liter sehari. Ibu menyusui kan nggak boleh dehidrasi. Jadi harus banyak minum air. 

Bagusnya lagi di IG ASI Booster Tea ada tips-tips menyusui untuk memperoleh hasil maksimal yaitu:
1. Kosongkan payudara dengan pompa atau hisapan bayi dua jam sekali
2. jaga asupan nutrisi
3. Lakukan diet makanan (agar tidak obesitas tetapi nutrisi tercukupi) dan olahraga teratur
4. Rileks dan selalu berpikir positif
5. Rawat payudara dengan baik. Lakukan pijat dan selalu usap dengan lap yang telah dicelup air hangat. hindari mengenakan bra terlalu ketat dan mengenakan atau membawa sesuatu yang menekan dada terlalu ketat
6. Hindari tidur dengan posisi tubuh tertelungkup karena berpengaruh pada kelenjar susu dan produksi ASI

Nggak salah lagi ya, daripada minum suplemen yang belum ketahuan kehalalan dan manfaatnya seperti obat mengandung domperidon dan reglan yang mampu meningkatkan hormon prolaktin tetapi berefek samping atau suplemen mengandung ekstrak plasenta yang jelas dilarang dalam agama Islam bukankah lebih baik mengkonsumsi suplemen herbal dan menerapkan tips-tips menyusui yang baik dan benar.





Monday, January 30, 2017

Tips (Rahasia) Mengelola Uang Belanja

Ini seri kedua melanjutkan artikel tentang uang belanja. Komen di link facebook tempat saya share artikel tersebut membuat saya senyum sendiri:

Di status saya (sebagai prolog link artikel) yang tertulis: 

Belanja dapur 35 ribu an buat menu tiga hari kok bisa? ternyata ada rahasianya

Ada yang komen 

"ya bisa toh..yang banyak ntu jajannya ibu ibu kalo sayur ma lauk cukup segitu" "maksud saya sehari 35 cukup buat belanja..nah jajan kita beli kue beli bakso n nongkrong dsb baru itu yg bikin gede"

ada juga yang komen

"iy klo sayuran doank bund, blm beli bumbu"nya, blm lg kebutuhan laen"

Haa komen-komen begini ternyata bisa menjadi ide menulis satu artikel lagi yaitu tentang Tips (Rahasia) Mengelola Uang Belanja. Komen tersebut bisa menandakan berbagai kemungkinan:

1. Ibu-ibu ini mungkin tidak membaca link dan kurang teliti membaca status saya yang jelas >> buat menu tiga hari. Entah karena membaca postingan sepintas lalu atau sedang tidak ada kuota untuk membaca link artikel
2. Bahasa kepenulisan saya sulit untuk dipahami. Artinya saya harus belajar teknik berkomunikasi lisan dan tulisan lebih baik lagi ☺✌
3.  Ada ibu-ibu yang mungkin merasa terancam, seolah sedang dibandingkan dengan dirinya yang menghabiskan uang belanja lebih besar.

dan berbagai kemungkinan lain.

Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya sedang tidak membandingkan cara saya mengelola uang belanja dengan ibu-ibu lain sebab banyak faktor yang berpengaruh:
1. ndak ada orang yang mau dibandingkan dengan orang lain, termasuk saya
2. gaya hidup orang lain pasti berbeda dengan diri kita. Misalnya ada yang doyan banget buah dan butuh dana khusus untuk belanja buah tentunya membutuhkan uang belanja lebih besar daripada keluarga saya yang doyannya cuma jus buah dan sop buah yang kadang dibeli seminggu sekali. Jumlah anggota keluarga juga sangat berpengaruh. Lebih banyak *penduduk* tentu lebih besar pula anggaran dan biaya konsumsinya toh.
3. harga-harga barang tidaklah seragam. Di luar Jawa harga barang di pasar pasti jauh lebih mahal daripada di kota kecil tempat saya tinggal. Tentu biaya hidupnya jauh lebih tinggi.

Jadi, beneran saya pernah belanja 35ribuan itu untuk makan tiga hari untuk tiga orang (makan siang suami bawa bekal dari rumah). Tentu saja saya tak menghitung harga gas, gula, garam, kecap, merica bubuk, telur, bawang putih yang masih ada sisa dari hari-hari kemarin. Kok bisa sih? masih penasaran. Gini nih, dari hasil belanja saya itu kan saya merencanakan menu ayam suwir, bothok tahu tempe, pepes untuk tiga hari

hari pertama:
Sarapan tahu tempe penyet
makan siang dan malam ayam suwir. Karena si bungsu minta nasi goreng maka sisa ayam suwirnya saya goreng berikut nasi, tambahkan kecap sedikit

hari kedua:
Sarapan: tempe crispy dengan sambal kecap
Makan siang dan malam: bothok tahu tempe. Buat si Papa ada tambahan telur ceplok

hari ketiga:
Sarapan: Tempe goreng biasa dengan sambal bawang
Makan siang dan malam: pepes ikan pindang

Lha beneran kan, memang segitu bisa untuk tiga hari. Kalau kehabisan lauk buat makan malam atau bosan paling ya bikin nasi goreng, dadar telur atau goreng telur mata sapi. Bikin tahu telur. Pokoknya semaksimal mungkin memanfaatkan stok yang ada di lemari dan kulkas. Saya sendiri kadang ngga makan malam, makan pagi dan siang paling juga cuma beberapa suap dan ga butuh banyak lauk (tapi kok ya berat badan gak berkurang hahaha) Dan ajaibnya lagi sering juga nih tiba-tiba ada hantaran makanan dari tetangga atau nasi kotak dari acara apalah di kantor dibawa pulang suami jadinya bisa buat tambahan lauk malam hari.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya cara hidup super sederhana saya di masa kuliah kebawa sampai saya jadi emak-emak saat ini. Maklumlah dulu sebagai anak yatim saya paham benar kondisi finansial ibu yang tidak bekerja dan tidak memiliki warisan berlimpah. Uang saku 50ribu untuk makan dll sebulan itu saya pergunakan seamanah mungkin.

Maka gara-gara komen nyetatuslah lagi saya (emang narsis banget deh saya ini, dikit-dikit nyetatus ....ampuun)

"Pernah nonton film Red Cliff dan belajar shirah Perang Badar? jumlah (pasukan) yang kecil bisa mengalahkan jumlah pasukan lebih besar. Kuncinya pada strategi, begitu juga mengelola uang belanja menghadapi harga-harga yang memanjat lebih tinggi.
Mantranya cuma satu; bismillah ya Allah cukupkanlah kami dengan rezeki yang halal agar tak tergoda mencicipi yang haram.."


Nah ini. Saya suka komen positif dari salah seorang teman SMA saya. Bener banget bahwa hendaknya kita bergantung pada Allah bukan bergantung pada hukum sebab akibat.

Saya tak perlu mengemukakan berapa uang belanja yang suami berikan. Saya bahkan tak pernah benar-benar tahu berapa penghasilan suami saya karena saya terima sekian rupiah yang boleh saya atur sedemikian rupa dan sang suami juga masih pegang uang sendiri plus bayar SPP dan mencukupi keperluan si sulung yang sedang nyantri.

Kadang suami saya suka heran: dikasih uang kok ditabuunnng aja. Lha gimana ya, saya merasa memang cukuplah dengan cara saya mengelola uang belanja itu. Saya punya target menabung sekian rupiah sebulan untuk persiapan masa depan. Mau makan enak sebagai selingan boleh silahkan beli di luar lha wong saya ga jago masak hehehe.

Setiap menerima pemberian suami doa saya memang seperti yang saya tulis di status itu. Alhamdulillah anak-anak saya juga ga rewel soal makanan. Kalau mereka nanya menu makannya apa ya saya jawab: harusnya bertanya itu bukan menunya apa, tetapi yang kita makan ini halal atau tidak hihihi.

Memang soal makanan kami tak pernah berlebihan. Saya pernah beli satu ekor gurami ukuran sedang seharga 12 ribu rupiah, lalu masak ikan bakar, bumbunya hanya garam, bawang putih dan ketumbar goreng sebentar lalu dilumuri margarin dan kecap. Dimakan bareng sambal kecap dan sambal tomat. Lha menu begini ini cukup untuk bertiga dari siang sampai malam.

Masalah baju dan lain-lain juga begitu. Kami terbiasa membeli kalau yang lama sudah usang atau rusak. Sepatu sekolah anak-anak saya cuma sepasang. Baju tak mesti setahun sekali beli, tergantung kebutuhan saja. Apalagi baju emak dan bapaknya hehe. Nongkrong di mall makan di kafe, foodcourt? sekali setahun aja belum tentu hehehe karena memang ngga hobi. Saya cuma khawatir, kelak tak pantas tinggal berdekatan dengan Rasulullah yang hidupnya sangat sederhana, gamis pun hanya punya dua. Saya khawatir dari rezeki yang kami terima sebenarnya masih banyak yang harusnya dimiliki orang lain yang lebih berhak. Setiap melihat baju atau jilbab bagus, yang ada di pikiran saya: kelak toh yang dibawa mati hanya lima lembar kain kafan dan baju saya yang tak lebih dari lima gamis itu masih bisa menutup aurat dengan cukup baik (ngga ada yang robek atau bolong)
Sekali lagi hal begini jangan dibandingkan dengan yang lain, ini sekedar cerita lalu saja.

Kembali ke masalah mengelola uang belanja saya biasa menyisihkan tabungan di "depan" maksudnya saya menabung bukan dari sisa uang tetapi saya sudah mentergetkan sekian sekian. Misalnya...sekali lagi misalnya...saya terima dari suami 1,5 juta sebulan. Saya langsung sisihkan untuk menabung 1 juta rupiah. Sisanya: 300 ribu untuk iuran RT dan belanja dapur, 200 ribu untuk bayar listrik dan PDAM. Alhamdulillah cukup. Kebutuhan sekolah si bungsu kadang saya ambil dari uang belanja, kadang saya ambil dari uang yang saya peroleh dari fee menulis atau menang lomba. Beras dan kadang telur suami yang belikan dari uang yang dia pegang.

Jadi beginilah tips saya mengelola uang belanja, yang sekarang sudah nggak jadi rahasia lagi:
1. Sisihkan uang tabungan sesegera mungkin sesuai yang ditargetkan. Bismillah aja, minta dicukupkan karena kan sering tiba-tiba ada keperluan mendadak seperti menyiapkan amplop kondangan atau infaq untuk tetangga yang sakit dll
2. Atur menu seminggu
Sebelum ke pasar saya biasa menyusun gambaran menu dalam seminggu. Kalkulasi saya seharinya maksimal butuh 10 ribu saja. Sekali lagi jangan protes mannna cukuuuup :p, kembali ke poin-poin di atas
3. Siapkan uang sesuai anggaran
Saya nih kalau berangkat ke pasar di dompet sudah saya siapkan uang belanja sesuai kalkulasi, paling saya bawa 70 -100 ribu untuk belanja seminggu. Masuk pasar baca bismillah agar tidak tergoda membeli barang di luar anggaran
4. Punya kios langganan
Salah satu keuntungan punya *channel pedagang langganan* di pasar adalah kita bisa memperoleh kemudahan-kemudahan. Ya nih misalnya pedagang ayam potong tanpa diminta pas lebaran ngasih hadiah baskom atau panci (kalau nggak diberi saya juga ngga minta, sadar diri lah wong cuma belanja ayam paling setengah kilo satu minggu hihihi), atau kadang kita juga boleh minta tambahan barang tanpa perlu bayar. Saya ngga pernah nawar tapi kadang (kadang-kadang yang jarang) minta tambahan barang sedikit. Misalnya dua potong cakar ayam buat kaldu masak sop atau satu batang bumbu kunci buat masak sayur bening bayam. Mereka pun memberikan dengan ikhlas. Malah pernah nih saya beli labu siam (manisa) ukuran kecil untuk sayur eh malah ditambahin satu labu lagi dengan ukuran yang sama *cuci gudang* kalee. Eh ya info penting: kalau pas ke pasar saya juga bawa tas kain sendiri jadi pedagang-pedagang itu tak perlu memberikan tas plastik besar sebagai wadah tempat belanjaan.
5. Beli beras dan telur di distributor
Beras dan telur dibelikan suami dan beliau beli di distributor. Jadinya lebih murah loh. Beli beras biasa langsung satu zak 10 kilogram untuk sebulan. Kalau pas ada si sulung dulu beli yang 25 kilogram untuk dua bulan. Telur juga beli langsung sekilo, bisa habis dalam seminggu atau lebih tergantung konsumsi. Lebih murah daripada beli ngecer di toko kelontongan. 

Wah nggak terasa saya nulis sudah panjaaang sekali. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membaca. Padahal rencana mau nyiapin keperluan masak buat besok pagi-pagi sekali. Menunya tongkol bumbu pedas dan tumis pare dengan pipilan jagung manis. Sarapannya bakwan jagung dengan sambal pecel (sambal pecelnya gratis, dikasih tetangga hehehe) Mau?

Sunday, January 29, 2017

Belanja Keperluan Dapur 35 ribuan untuk Tiga Hari, Kok Bisa?


Suatu hari pernah "pamer" di IG macam begini:
Sebentar.. sebentar saya mau pamer hasil belanjaan ke pasar.
Ayam seperempat kilogram 8rb
Ikan pindang "marning" 3rb
Daun pisang seribu
Lombok campur 5ribu (yang rawit dua ribu yang gede 3ribu)
Sop-sopan 5 Rb
Bawang merah 1 ons 5ribu
Tempe dan tahu 3 ribu (tahu seribu. Tempe 2ribu)
Tepung beras bumbu 3ribu
Kelapa muda parut 2500
Total 35.500 (plus 500 rupiah parkir sepeda di pasar ☺) ini bisa untuk makan sekeluarga (tiga orang) tiga hari dng menu: ayam suwir, bothok tahu tempe, pepes ikan pindang, tahu dan tempe penyet dan sayur SOP.
Sebentar.. sebentar saya mau pamer hasil belanjaan ke pasar.
Ayam seperempat kilogram 8rb
Ikan pindang "marning" 3rb
Daun pisang seribu
Lombok campur 5ribu (yang rawit dua ribu yang gede 3ribu)
Sop 5 Rb
Bawang merah 1 ons 5ribu
Tempe dan tahu 3 ribu (tahu seribu. Tempe 2ribu)
Tepung beras bumbu 3ribu
Kelapa muda parut 2500
Total 35.500 (plus 500 rupiah parkir sepeda di pasar 😁) ini bisa untuk makan sekeluarga (tiga orang) tiga hari dng menu: ayam suwir, bothok tahu tempe, pepes 

Lalu teman-teman pada nanya kok bisa? nyatanya memang bisa. Karena tidak setiap hari kami mengkonsumsi sayur dan buah. Empat sehat lima sempurna? nggak tiap hari enggak apa-apa ...buat kami ...iyah, ngga bisa dibandingkan lah karena setiap orang punya gaya hidup dan menu makan yang berbeda. Kebetulan di rumah yang doyan buah kok ya cuman saya, anak-anak lebih suka dalam bentuk jus. Jadi kadang beli jus atau sop buah. Kalau pas pohon mangga depan rumah berbuah alhamdulillah ada tambahan gizi hihi. Kalau pas pengen buah beli saja yang sedang musim karena pasti harganya murah atau beli buah potong yang sepotongnya 2 ribu rupiah.

Minggu depannya ganti menu agak "mewah" sedikit seperti sambal goreng hati, daging seperempat kilo untuk dua hari dengan menu berbeda: empal dan rendang atau semur daging dan daging suwir. Saya sendiri selalu berusaha memaksimalkan yang ada. Ngga selalu ikut makan hasil masakan. Misalnya saat masak ayam panggang, saya mengalah tidak makan ayamnya tetapi menggunakan sisa bumbunya untuk nasi goreng tambah telur dadar. Seperti pas dulu masih kerja dan bawa bekal nasi goreng dadar dan bercerita pada teman saya kalau bumbunya berasal dari bumbu sisa ungkep ayam panggang si teman langsung berseru "mbak, kamu persis Mamaku, ga boleh ada makanan atau bumbu terbuang" hihihi emak-emak banget deh ya.

Saya memang hobi banget mengelola uang belanja atau uang saku sedemikian rupa. Kadang saya mikir, hemat atau pelit ya hahaha. Lha sudah biasa sejak kuliah dulu hanya berbekal uang saku 75 ribu sebulan, 25 ribunya buat bayar kost. Jadi biaya makan plus keperluan lain-lain ya harus cukup dengan 50 ribu sebulan. Uang saku itu saya atur dengan menu sehat sekali sehari, makan paginya nasi seharga 400 (empat ratus) rupiah sebungkus atau mie instan. Iyaa saya makan cuma sehari dua kali dengan menu agak mending buat makan sore. Pernah dulu pas pulang kuliah saya mampir warung nasi beli sebungkus nasi lauk ayam dan sayur buat makan sore sekaligus malam. Eh teman yang bareng nyeletuk "duh kalau aku makan menunya seperti itu ya nggak cukuplah uang sakuku" saya cuman senyum ajah, kan gak perlu dia tau bahwa itulah makan sebenarnya saya hari itu karena paginya makan mie instan. Dan itu berlaku setiap hari. Dari uang saku 50 ribu perbulan itu saya masih bisa menyisihkan lima sampai 10 ribu buat tabungan tergantung pengeluaran kadang kan perlu beli sabun, shampoo, fotokopi tugas kuliah, ongkos bis buat pulang. Kadang saya mikir kok bisa ya cukup uang segitu. Allah Maha Hebat beneran.

Alhamdulillah, perilaku super hemat itu terus berlanjut hingga saya jadi emak-emak. Suami ngasih uang belanja berapapun saya syukuri, saya terima dan kelola sebijak mungkin sepenuh hati. Target saya setiap bulan selalu harus bisa menabung karena tak ada yang bisa meramal masa depan. Tabungan yang bersumber dari uang belanja saya pernah memanfaatkannya untuk membeli tiket pesawat buat berempat saat mertua meninggal, uang simpanan itu juga pernah menjadi penolong menyambung hidup beberapa bulan ketika suami terPHK dan tak kunjung mendapatkan pekerjaan sementara mau buka usaha tak punya modal.

Mudah-mudahan saja cara hidup yang demikian tetap bisa istiqomah saya terapkan tanpa merugikan dan merusak kesehatan hehe



Monday, January 16, 2017

Imajinasi Wah Bersama Bakmi Mewah

Emak-emak zaman sekarang dituntut irit. Ekonomi makin sulit, biaya hidup mampu membuat menjerit. Eits sudahlah. Sudahi epic dan mendramatisir suasana. Menangis darah pun tak membantu menambah anggaran bayar listrik (eia keluarga saya kan setia dengan 900VA jadi baru tahun 2017 ini bakal merasakan pencabutan subdisi), juga nggak bantu-bantu bayar sekolah. Anggaran makan di luar atau rekreasi? Wah itu memang tak pernah masuk dalam budget keluarga kami. Tapi tetap bersyukur dengan segala kondisi yang kami jalani. Toh kebahagiaan timbul karena kelapangan hati.
   Salah satu keribetan menjadi ibu rumah tangga adalah mengelola budget uang belanja dan menyajikan menu yang menggugah selera. Kadang suka bingung dengan budget sepuluh ribu rupiah sehari agar anggota keluarga bisa menikmati makan pagi, siang, sore tetap lahap dan saya sendiri tak butuh waktu lama untuk memasaknya. Saya biasanya memikirkan menu untuk seminggu dan pilih yang mudah dimasak pagi-pagi sekaligus untuk makan siang dan bekal suami. Makan malamnya? Kalau bisa ganti menu tapi nggak perlu mengeluarkan uang ekstra nah lo bagaimana caranya? Ya paling banter saya memanfaatkan bahan yang sudah ada di rumah seperti mengolah nasi menjadi nasi goreng. Membuat sambal bawang atau sajian instant. Yap! Apalagi kalau nasi sudah habis menjelang makan malam (biasanya terjadi di luar perkiraan, karena si kecil makannya nambah terus kalau pas menunya cocok dengan selera), makan di luar? Sayanglah, ingat budget pas-pasan. Solusi paling tepat adalah membuka lemari makan dan menemukan mie instant.
 
Kemasan Bakmi Mewah yang Wah


Bicara masalah mie instant, favorit kami saat ini adalah Bakmi Mewah. Terus terang saya baru tahu Bakmi Mewah karena di komen facebook salah seorang teman saya memuji Bakmi Mewah sebagai makanan instan lezat tanpa MSG. Si teman ini memang paling sensitif sama MSG. Makan menu mengandung MSG bisa membuatnya migrain sampai muntah-muntah. Konon setelah mencicipi Bakmi Mewah dia merasa OK OK saja.
Jadilah saya tergoda untuk mencoba membeli dan mengolahnya. Percobaan perdana alhamdulillah sukses. Membuatnya mudah dan sensasi rasanya benar-benar wah. Rasanya tidak tajam di tenggorokan, sepertinya feeling teman saya bahwa bakmie mewah itu ngga pakai MSG tepat ya. Karena biasanya rasa tajam di tenggorokan disebabkan penyedap rasa yang berlebihan. Istimewanya lagi Bakmi Mewah tidak membuat haus setelah memakannya dan serasa bukan mie instan sama sekali. Aromanya yang menggugah selera dan tentu saja topingnya: ayam dan jamur asli yang juicy dan yummy di lidah.
Bakmi Mewah yang biasa saya sajikan dengan irisan cabe rawit merah

Bakmi Mewah sering menjadi penolong saya di rumah. Selain untuk variasi menu juga siap saji di kondisi-kondisi “kritis” seperti kelaparan dan jatah nasi sudah habis hihihi. Seperti kali ini saat kami baru pulang dari menjenguk si sulung yang sedang nyantri di salah satu pondok pesantren di Banyuwangi. Badan pegal-pegal usai perjalanan jauh, ke pasar masih enggan padahal perut minta diisi buat santap siang. Walhasil saya membuat kreasi Bakmi Mewah.
Psst jangan disangka kreasi saya yang susah-susah. Badan lagi pegel saya juga nggak mood masak ribet. Saya hanya mengkreasikan cara menyajikan Bakmi Mewah yang terinspirasi Flying Noodle hahaha. Beneran nih, pernah dibuat berdecak kagum melihat posting teman di Instagram yang memamerkan Flying Noodle menu pilihannya di sebuah kafe. Saya tanyakan padanya ternyata rasanya seperti mie biasa tapi entah dikreasikan dengan alat apa hingga bisa tampak seperti mienya sedang melayang. Saya sih hanya menemukan batang penopang gelas yang bisa dicopot dari tempatnya dan garpu sebagai penahan.
Yuk simak cara membuatnya:
1.   Didihkan air dalam panci secukupnya. Masukkan Bakmi Mewah dan sayuran kering ke dalamnya selama kurang lebih 3 menit


2.   tiriskan

3.   tuangkan kecap dan minyak (serta saos sambal jika suka)

4.   aduk rata. Lalu tuangkan daging ayamnya.

5.   Sajikan
Kebetulan saya pecinta jamur maka sajian Bakmi Mewah saya tambahkan jamur kuping hitam yang ada di kulkas sekaligus berfungsi sebagai hiasan. Juga telur rebus untuk tambahan lauk (kan sajian istimewa ini dimakan bertiga) plus kripik melinjo hasil gorengan sendiri sebagai penambah sensasi

Cara menyajikannya butuh kesabaran karena mienya harus ditata sedemikian rupa hingga penopangnya tidak terlihat. Untung saja tekstur Bakmi Mewah yang kenyal, licin, tipis, lembut dan tidak mudah putus cocok sekali untuk kreasi Flying Noodle. Terakhir sematkan garpu sebagai penahan serta mengesankan garpunya ikut melayang. “Ma seperti gunung Mie yang meletus memuntahkan lahar” kata Raditya.
Flying Noodle ala Bakmi Mewah


Lumayan unik kok hasilnya ya (eaaa dipuji sendiri) Rasanya juga lezat lha wong Bakmi Mewah gitu lho. Cara membuatnya pun mudah, cukup 2,5 – 3 menit. Ngga bikin keringatan atau tangan dan baju berbau bumbu dapur. Hasilnya? serasa sedang makan Flying Noodle ala chef ternama tanpa harus keluar rumah. Tertarik untuk mencobanya kan? yuk praktekkan dan rasakan sensasi makan Bakmi Mewah dengan Imajinasi Wah!

Seperti Gunung Mie yang memuntahkan lahar :D

Wednesday, January 11, 2017

5 Tips Menyiasati Kegagalan

Bangkit dari kegagalan bukan hal yang mudah teman. Saya sering merasakannya. Nah kalau blogger dan kuis hunter jempolan dan jagoan menang lomba, saya yang lebih sering kalah daripada menang hanya bisa berbagi tips menyiasati kegagalan. Ingatlah kata orang bijak, dalam hidup adakala yang kau perlukan bukanlah berapa kali kau memenangkan kompetisi tetapi bagaimana caramu bangkit dari kegagalan dengan cepat untuk kesekian kali wkakaka.
Menahan diri untuk tidak cemberut, sedih saat kalah lagi kalah lagi dalam kompetisi ini mungkin sama sulitnya bagi saya untuk menurunkan berat badan hahaha. Tapi saya sering menghibur diri dengan menulis. Ya termasuk menulis tips untuk menghibur saya sendiri, lalau dishare ke publik. Siapa tau artikel saya bermanfaat, membuat yang membaca terhibur sekaligus membukakan pintu rezeki aamiin
Ini tulisan yang pernah saya bagi di Indoblognet saya tulis ulang di sini:
sad
Pernah merasa kecewa berkepanjangan karena gagal meraih prestasi dalam sebuah kompetisi? Saya pernah, sering malahan. Tahun 2016 ini saya banyak mengikuti lomba blog, kontes foto plus quote dan aneka kuis tapi yang berhasil menorehkan prestasi dan mendatangkan rezeki tak genap dihitung sepuluh jari alias minim sekali. Bagi pekerja lepas seperti saya yang penghasilannya hanya diperoleh dari hasil berlomba dan kerja part time tanpa hitungan pasti layaknya gaji, kegagalan meraih prestasi rasa pahitnya lebih pahit dari empedu. Nah saat memasuki 2017 yang baru beberapa hari saya juga masih harus menelan kekecewaan karena berbagi kegagalan.
Pernah juga mentertawakan diri bareng sesama freelancer, saling menanyakan kabar ATM dan dompet yang menanggung rindu beban hihihi (cc temanku Afin di Banyuwangi hihihi) Apalagi kalau lagi sama-sama gagal dalam sebuah kompetisi. Pahit, kecewa, sedih, kesal bercampur khawatir kondisi finansial karena *kas negara* makin tidak aman.
Tapi terkurung dalam kekecewaan terus menerus juga tidaklah nyaman. Selain membuat dada terasa sesak, meratapi kegagalan berkepanjangan hanya akan menyurutkan kreativitas. Saya sendiri masih belajar mengelola hati untuk tetap tegar menghadapi kegagalan demi kegagalan.
Agar bisa bangkit dari kegagalan Saya biasa melakukan hal-hal berikut ini:
1. Yakin tentang pembagian rezeki yang tak salah pintu.
Sebagai umat Islam saya harus yakin benar bahwa setiap makhluk telah ditetapkan sesuai bagiannya masing-masing. Ada orang-orang yang rezekiNya dilebihkan dari yang lain. Nah menjaga hati dari iri dengki inilah yang harus diupayakan, sebagaimana sabda Nabi bahwa kita hanya boleh iri pada dua hal yaitu pada orang yang dianugerahkan harta berlimpah dan dipergunakannya di jalan Allah dan kepada orang yang dianugerahi ilmu yang ia gunakan untuk mengajarkan kebaikan. Tauladan paling sederhana adalah ketawakalan seekor burung yang pergi pagi dengan perut kosong kemudian pulang petang dengan perut kenyang.
2. Anggap kompetisi sebagai latihan.
Jika kompetisi dianggap seperti sedang berlatih, mencari sparring partner tentu tak sedang merasa bersaing dan lebih lapang dada ketika kalah. Sebenarnya bukan hal mudah menganggap kompetisi sebagai latihan belaka apalagi jika sedang sangat berharap hadiahnya. Kembali ke poin satu, rezeki tak pernah salah pintu. Mereka yang menang bisa jadi sedang lebih *membutuhkan* daripada kita. Tapi kan si A menang terus dari satu kompetisi ke kompetisi lainnya. Nah balik lagi masalah menjaga hati agar tak mudah iri.
3. Mengambil jeda
Gagal beruntun? Mungkin saatnya mengambil jeda. Hey Sob, dunia tak selebar daun kelor. Kalau pintu rezeki dari kompetisi tak kunjung terbuka mungkin harus mengupayakan pintu lainnya. Misal berbisnis kecil-kecilan, buka toko online, membuat kudapan untuk dijual atau bahkan bekerja sosial. Tujuannya cuma satu: melipur lara, melupakan pahitnya kegagalan yang nyaris tiada hentinya. Nggak masalah berhenti sejenak untuk mengatur siasat mengatur langkah selanjutnya.
4. Memilih kompetisi kelas ringan
Gagal beruntun tapi masih ingin terus berlatih berkompetisi? Sah sah saja. Namun agar tidak terpuruk dalam kekecewaan andai kembali menemui kegagalan bolehlah memilih kompetisi kelas ringan yang berpotensi memberikan hasil lebih menghibur. Misalnya kompetisi yang diadakan secara lokal (meski belum pasti menjanjikan kemenangan namun jumlah peserta alias sparring partnernya pasti lebih sedikit dibandingkan tingkat nasional), kompetisi dengan jumlah pemenang yang besar (lomba yang menjanjikan jumlah pemenang lebih banyak tentu menarik peserta lebih banyak dan lebih semangat pula) atau kompetisi yang memberikan penghargaan bagi beberapa peserta pendaftar pertama.
5. Yakin tak ada yang sia-sia
Ide atau naskah lomba mungkin gagal meraih prestasi dalam suatu kompetisi tetapi bisa jadi berjodoh dengan kompetisi lainnya. Ide dan konsep naskah bisa diolah lagi untuk kompetisi berikutnya. Andaipun bisa tetap gagal pasang saja di blog. Siapa tau pembaca mendapatkan pencerahan setelah membacanya dan kita dapat pahala. Atau siapa tahu blog jadi makin rame dan bertambah visitor plus menarik rezeki dari Google adsense plus plus tawaran kerjasama dari pembaca yang kesengsem dengan tulisan kita (yang sebenarnya gagal lomba) Eh ya yah ..who knows ? #Sambil rapal doa)
Sebagai antisipasi agar tak mudah kecewa ketika menghadapi kegagalan saya juga biasa berbekal doa: ya Allah jika lomba kali ini membuka pintu rezeki hamba mohon datangkanlah keberkahan dunia akhirat menyertai pencapaian hamba. Namun jika hamba gagal lagi mohon jadikanlah hati hamba lapang menerima kenyataan dan tolong bukakan pintu rezeki lain dari segala penjuru. Dijamin adhem hati ini. Yakin bahwa ada kisi-kisi rezeki lain sedang menanti.
Sebagai manusia kita tak pernah mengetahui ikhtiar mana yang mendatangkan prestasi dan rezeki. Tugas kita hanya berusaha kemudian bertawakal sesudahnya. Tak elok jika kegagalan dijadikan sebagai alasan untuk berhenti berkarya, malu dong sama burung liar yang tak lelah terbang dari pagi hingga petang demi menjemput rezeki.

Yuk ah coba lagi coba lagi....jatuh bangkit lagi, gitu terus sampai bisa melangkah gagah dengan apsti

Saturday, January 7, 2017

"Maaf Bu, Rangkingnya Turun"


Hari ini Raditya terima raport. Lucunya wali kelasnya minta maaf berkali-kali "maaf Bu nilai dan rangking Radit turun satu peringkat. Itu tadi yang rangking satu ibunya baru ambil raport" lalu berbagai cerita meluncur tentang dia sudah cek perhitungan raport berkali-kali, tentang Radit yang bisa menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan di kelas tetapi tidak teliti saat menyelesaikan ujian. Saya harus bersabar menunggu beliau berhenti bercerita sebelum akhir nya menjawab "nggak apa-apa Bu, saya memang tidak biasa mentargetkan anak-anak untuk meraih rangking tertentu. Asal mereka punya adab yang baik, ibadahnya baik, jujur dan naik kelas itu sudah lebih dari cukup. Kalau mereka meraih prestasi saya syukuri Alhamdulillah" Saya melanjutkan dalam hati lha wong jawaban-jawaban ujian Radit yang benar Anda salahkan saja saya nggak protes yang penting saya mengajarkan hal yang benar pada anak-anak. Haha iya memang sering sekali saya lihat di lembar jawaban yang dibagikan ibu yang satu ini kurang tepat dalam mengoreksi lembar hasil ujian pilihan ganda (ulangan harian, UTS maupun UAS). Tapi saya ngga pernah protes, cuma mengingatkan Radit "Mungkin bu guru capek Dik, tapi yang benar jawabannya ini" (Lha ya toh, misalnya ada pilihan ganda bumi itu bulat, rata atau persegi lalu Radit sudah memilih bulat tapi masih disalahkan apa ya saya harus protes. Anggap saja bu guru capek atau menurut beliau yang benar jawaban lain. PS: soal dan jawaban ini cuma contoh loh ya, sekedar contoh saja.

"Sekarang anak-anak yang dulu rangkingnya di bawah bisa berkompetisi Bu, ini urutan 1-14 banyak perubahan" kata bu guru lagi. Kembali saya menjawab dengan tenang "Lha bagus kan Bu, memang menuntut ilmu seharusnya begitu. Ngga usah mikir kompetisi berebut rangking tetapi semua siswa harus pintar dan berilmu. Masa yang pintar lima orang saja lainnya tinggal kelas kan nggak lucu"

Masalah rangking-rangkingan ada yang lucu nih. Dulu kakaknya juga sempat meraih rangking satu. Saya malah nggak tahu karena di raportnya memang tidak dicantumkan. Juga tidak diumumkan di depan kelas. Hanya gurunya yang memberitahukan secara pribadi. Anehnya para tetangga yang anak-anaknya sekelas dengan si Mas bisa tahu karena mereka KEPO urutan rangking kelas dan bertanya langsung pada sang guru. Saya cuma menyeringai saja saat mendengar komen tetangga "Rafi, nakal-nakal pintar ya" Nah saat semester berikutnya rangkingnya turun dan bu guru bertanya pada Papanya yang kebetulan bertugas ambil raport "Pak, kok rangking Rafi turun" eh si Papa menjawab dengan enteng "ya Bu, masa rangking satu terus, kasihan yang lain lah biar pernah merasakan rangking satu" hihihi kita berdua ternyata sama ya, nggak terlalu peduli sama rangking kelas. Si anak naik kelas saja syukur alhamdulillah.

Saya cukup bersyukur mendapat laporan bahwa perilaku Raditya cukup sopan selama di sekolah. Kalau tingkah lakunya buruk mungkin saya bakal enggan ambil raportnya lagi. Maluuu. Haaa jadi ingat sering deg-degan kalau ambil raport si Mas dulu karena dia terkenal sebagai siswa yang usil dan bengal. (Doa kami membersamaimu yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren nun jauh di sana Nak)❤❤❤❤

Saya memang tak terlalu peduli dengan rangking meski dulu saat masih sekolah prestasi saya tak pernah lepas dari tiga besar di kelas. Kini Yang saya khawatirkan adalah peringkat anak-anak (dan orang tuanya juga) di mata Sang Kuasa. Khawatir buku raport kami kelak diserahkan dari arah kiri...naudzubillah mindzalik (sambil merapal doa, ini tidak terjadi). 

Saya jadi teringat pertanyaan ustadzah di suatu kesempatan pengajian "Ibu-ibu kalau menerima raport anak biasa melihat nilai tertinggi atau terendah. Ayo Bu jangan dibiasakan melihat kekurangan tapi juga apresiasi kelebihannya" Eh kalau saya mah ngga terlalu perhatian juga (atau karena raport anak-anak saya biasa di atas rata-rata kelas ya hahaha) Paling saya lihat perbandingan nilai mereka dengan nilai batas KKm atau rata-rata kelas. Kalau di bawah ketentuan berarti harus ada upaya perbaikan agar tidak tinggal kelas. Kedua anak saya mirip saya saat sekolah dulu, nilai yang paling rendah adalah Pendidikan Jasmani dan Keterampilan hahaha. Alhamdulillah pencapaian Raditya saya yakini adalah hasil kerja kerasnya, ia termasuk anak mandiri. Seringnya emaknya malah sibuk NULIS daripada mendampinginya belajar membuatkan soal-soal. Pencapaiannya tergolong luar biasa karena belajar sendiri dan satu semester ini dihabiskan tanpa buku. Benar-benar tanpa text book karena tidak dipinjami dari sekolah dan tidak ada informasi pakai buku mana hahaha. Murni hanya dari hasil penyerapan ilmu dari bu guru saat duduk di kelas ditunjang Lembar Kegiatan Siswa.

Btw yang jadi perhatian saya di raport Radit adalah nilai bahasa Indonesia nya 87 tapi bahasa Arabnya 93 dan bahasa Inggris nya 92. (Piye ya, padahal WNI asli, sweaar!) Mudah-mudahan tidak ada yang meragukan loyalitasmu pada NKRI di zaman gonjang-ganjing ini ya hihihi. ☺☺☺ Mudah-mudahan kemampuan berbahasa Arabmu membantumu lebih mendalami dan mengaplikasikan Al Qur'an dalam kehidupan aamiin... 

Thursday, January 5, 2017

Tips Hemat Listrik

Tahun baru, berbagai harga dan tarif turut baru alias ganti harga yang notabene artinya tarif naik, gitu aja kok repot. Satu eh dua hal yang sangat terasa adalah naiknya tarif listrik, bbm dan biaya pengurusan surat-surat kendaraan. Lho kok bukannya dua tapi jadi tiga #eh.

Tapi yang akan saya bahas saat ini adalah tentang kenaikan tarif listrik. Kenapa? karena rumah kami adalah golongan rumah tangga 900 VA yang subsidinya di tahun 2017 ini dicabut secara bertahap. Artinya kami harus bersiap dengan tarif baru. Gaji suami insyaAllah naik entah prosentasenya berapa yang penting disyukuri. Nah kalau "gaji" saya? haha sejak jadi freelance saya gak punya gaji, penghasilan dapat dari menang hadiah lomba atau fee nulis (yang gak ikutan naik)

Sheep, Animal, Electric, Light, Switch, Eating, Grass
Sumber: Pixabay
Jadi karena sebagian sudah ganti harga tapi fee menulis masih tetap saja ada baiknya mencari cara untuk lebih hemat listrik demi menekan biaya-biaya. Nggak muluk-muluk, paling tips saya ya cuman begini:
  1. Mencuci manual. Mesin cuci dipakai seminggu sekali saja terutama buat nyuci yang berat-berat macam sprei dan celana jeans. Listrik lumayan irit sekalian olah raga.
  2. Mengganti alat elektronik dengan piranti serupa yang hemat penggunaan daya listrik. Lampu-lampu sudah pada ganti LED. Televisi juga, hematnya bisa 50% dari biaya semula
  3. Kurangi waktu pemakaian alat elektronik. Misalnya pemakaian AC dan jam nonton televisi. Televisi biasa nyala kalau Radit pulang sekolah saja karena saya nggak hobi nonton tivi. Mending baca buku atau melototin info lomba menulis, kuis, kontes foto siapa tau bisa jadi sarana pembuka pintu rezeki. Meski listrik 900 VA di rumah kami ada satu AC watt kecil dan nyalanya cuma beberapa jam tiap malam. Ini perlu dibatasi lagi, cukuplah AC menyala mulai jam 9 malam sampai jam 4 pagi. Mudah-mudahan nantinya bisa dikurangi lagi.
  4. Ubah gaya hidup. Kebiasaan buruk suami sering sekali membiarkan kipas angin atau lampu kamar, kamar mandi tetap menyala meski tak lagi digunakan. Eh ya lah belajar gak ngomel untuk mematikan semua yang dia nyalakan tanpa sebab. Kalau ngomel malah tensi ikutan naik dong hihi.
Kalian punya tips lain menghemat listrik? bagi dong di sini.