Google+ Followers

Friday, March 31, 2017

Amalan-Amalan Pembuka Pintu Rezeki

Apa yang terpikir ketika mendengar kata *rezeki* ? uang yang berlimpah, rumah megah, perhiasan emas permata, sawah ladang dan kebun kurma atau kendaraan mewah?
Para ulama sependapat bahwa makna rezeki sebenarnya bukan hanya materi.
“Segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu, entah berupa pakaian, makanan, sampai pada istri. Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-laki atau anak perempuan termasuk rezeki. Termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran dan penglihatan.”

Rezeki setiap makhluk telah ditetapkan 50.000 tahun sebelum ia diturunkan menjadi manusia.
Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653) 

Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).
Namun bukan berarti manusia duduk diam dan berdoa berharap rezeki diturunkan kepadanya. Bekerja, mencari nafkah adalah kewajiban manusia sebagai salah satu bentuk ikhtiar menjemput rezeki yang telah ditetapkan kepadanya.
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya” (QS AL Qashash : 73)
Bagaimana cara menjemput rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah kepada makhlukNya sesuai takaran? Bagi manusia, makhluk berilmu dan berakal dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan pembuka pintu rezeki yaitu:
1.   Memperbanyak istighfar
a.   Minimal 3x seusai sholat
b.   Lebih baik lagi mencontoh Rasulullah yaitu minimal 100 kali dalam sehari
c.       Mengapa beristighfar menjadi salah satu amalan pembuka pintu rezeki? Sebab hal ini tersirat serta tersirat dalam Al Quran "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,  niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.  Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
(QS Nuh, 71 :10-13)
2.      Bertaqwa
“Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang,
“Mentaati Allah dan tidak mengingkari perintah-Nya, sentiasa mengingati Allah dan tidak melupainya, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri nikmat-Nya”. ( Riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas rha. )
3.      Bertawakal
Tawakal adalah menyandarkan harapan hanya kepada Allah setelah berikhtiar
4.      Lebih rajin beribadah
5.      Menunaikan ibadah haji dan umroh
6.      Meyambung tali silaturahim (diutamakan kepada sanak kerabat yang lama tak berjumpa atau putus komunikasi, bukan hanya pada orang-orang yang biasa ditemui setiap hari)
7.      Berinfaq di jalan Allah
8.      Berbuat baik kepada orang miskin
9.      Berhijrah di jalan Allah
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS AN Nisa : 100 )
10.  Memperbanyak rasa syukur
 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim :7)

Ada 4 Cara Allah Memberi Rezeki
Diterangkan dalam Al-Qur’an, ada 4 tingkatan Cara Allah Memberi Rezeki
Tingkat Rezeki Pertama, yaitu yang dijamin oleh Allah.
Dalam Al-Qur-an surah Hud (11) ayat 6 dijelaskan :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”
Artinya Allah akan memberikan kesehatan, makan, minum dan kebutuhan fisik lainnya kepada semua makhluk yang Allah ciptakan.
Kita bisa lihat bahwa cicak adalah memakan nyamuk dan serangga lainnya, namun cicak tidak memiliki sayap dan nyamuk memiliki sayap, bagaimana cicak menjemput nyamuk untuk menjadi makanannya kecuali atas karunia dan rahmat Allah.
Dan karena Allah telah tuliskan semua rezeki setiap makhluk, maka rezeki tidak akan tertukar antara setiap makhluk Allah dan tidak akan salah dalam rezeki itu sampai kepada setiap makhluk.
“Rezeki tidak akan tertukar antara setiap makhluk Allah”

Tingkat Rezeki Kedua, yaitu yag didapat sesuai dengan apa yang diusahakan
Al-Qur’an surah An-Najm (53) : 39
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”
Allah akan memberikan Rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakannya dan di usahakannya. Jika ia bekerja dua jam, akan mendapatkan hasil sebesar 2 jam yang diupayakannya. Jika bekerja lebih lama dan lebih dengan menggunakan segala upayanya yaitu lamanya, rajinnya, ilmunya, fokusnya dan kesungguhannya, maka itulah yang didapat atau diperolehnya. Tidak dipandang dia muslim atau bukan. Tidak pandang dia percaya pada Allah atau tidak.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”
Tingkat Rezeki Ketiga, yaitu rezeki lebih bagi orang-orang yang pandai bersyukur.
Al-Qu’an surah Ibrahim (14) : 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.”
Dalam ayat ini diterangkan bahwa ini merupakan tingkatan rezeki yang disayang oleh Allah, dan inilah Janji Allah!
Bagi orang yang pandai bersyukurlah yang akan mendapatkan kelebihan karunia akan lebih bahagia, sejahtera dan tentram dalam hidupnya karena dengan syukurnya Allah akan tambahkan selalu nikmat tersebut.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
Tingkat Rezeki Keempat, yaitu rezeki istimewa yang didapat dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah.
Dalam Al-Qur’an surah Ath-Thalaq (65) : 2-3
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا…
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”


Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Thursday, March 30, 2017

#Memesona itu Mengoptimalkan Energi Positif Diri Sendiri

Kenal dengan Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, mendiang Lady Diana dan Kate Middleton? Jika ditanyakan pada audiens, baik pria maupun wanita tentang kesamaan antara mereka kira-kira apa jawabnya? Mungkin ada yang menjawab wanita-wanita itu cantik, pintar, ramah, menginspirasi, berprestasi. Semua jawaban itu pada dasarnya merujuk pada satu kata yaitu memesona. #MemesonaItu adalah suatu akibat. Sebuah akibat tentu ada sebabnya. Christine Hakim misalnya memesona karena kepiawaiannya dalam berakting. Dian Sastrowardoyo memesona karena senyum dan kecantikan khas Asianya. Lady Diana memesona karena keanggunannya, tutur kata dan perilakunya yang membuat orang kagum dan terpesona. Kate Middleton memesona karena ia dianggap sebagai new Lady Di yang lebih smart, berkepribadian kuat dan bersahaja.
Sosok yang #MemesonaItu pastilah selalu membuat senang masyarakat akan kehadirannya. Seorang yang kasar, senang menimbulkan fitnah, perilakunya selalu menentang norma sosial tentu tak akan pernah berhasil memesona publik sampai kapan pun juga. Mereka yang memesona adalah sosok-sosok yang memancarkan energi positif. Ramah, pintar, berprestasi, sopan, berbudi luhur. Cantik? Tidak semua wanita cantik memesona. Tetapi sosok yang berbudi dan pandai menempatkan diri hampir selalu berhasil memesona lawan bicaranya.


Apakah memesona hanya bisa dimiliki seorang selebriti atau public figure? Tidak juga. Buktinya ketika berada di tengah masyarakat bisa saja si A memesona karena ia dikenal ringan tangan dan tak segan membantu orang lain. Sosok yang berbudi luhur dan ramah tentu memesona siapapun yang berada di dekatnya dan bergaul dengannya.
       Jadi bagaimana kriteria #MemesonaItu ? Kembali pada arti memesona. Memesona adalah membuat orang lain terpesona. Terpesona menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai terkagum-kagum, terkena daya tarik, sangat terpikat. Penyebab kekaguman bisa bermacam-macam tetapi semuanya berpusat pada energi positif yang terpancar dari dalam diri. Memesona bisa muncul karena seseorang mengoptimalkan segala kemampuan yang ada pada diri sehingga kehadirannya menimbulkan kekaguman. Pesona tersebut terpancar seiring kelebihan yang ditemukan pada dirinya. Pesona Christine Hakim misalnya, tidak hilang meski ia ditemui di luar jadwal syuting. Ketika ia menjadi diri sendiri - dalam artian bukan sedang memainkan peran - tetaplah memesona. Pesona ini timbul sebab Christine Hakim dikenal sebagai artis yang pandai berakting. Ia selalu total dalam menjiwai perannya. Aktingnya tidak pernah meniru siapapun dan ia ramah di luar perannya. Lady Diana, dengan segala kisah pilunya tetap dikenang sebagai orang yang memesona. Bahkan dengan kegagalannya dalam berumahtangga ia dianggap sebagai salah satu tokoh inspiratif sebab jiwa sosialnya timbul secara alami bukan karena tuntutan sebagai keluarga kerajaan. Kate Middleton hadir dengan pesona pribadi. Ia muncul sebagai sosok wanita “biasa” yang berkepribadian kuat. Ia tidak berkiblat pada Lady Diana sebagai mertua tetapi memiliki cara dan gaya hidupnya sendiri ketika harus memasuki keluarga besar ningrat. Dian Sastrowardoyo tidak hanya dikenal sebagai Cinta yang menggemaskan dalam AADC. Pesonanya tak luntur ketika ia tampil tanpa make up sambil menggendong sang buah hati sebab senyumnya terpancar begitu tulus menyapa penggemar dan wartawan yang menemuinya.

      Contoh-contoh dari para selebritis tersebut membawa suatu kesimpulan bahwa #MemesonaItu muncul karena menjadi diri sendiri dan mengoptimalkan energi positif pribadi. Ketika hadir sebagai copy cat dari sosok lain mungkin orang akan terkesima. Seperti saat menyaksikan bintang panggung beraksi atau seorang aktris berakting. Tetapi ketika di luar panggung sosok tersebut ternyata tidak memancarkan energi positif. Hidupnya kacau, tergantung pada minuman keras dan narkoba, suka berbuat onar dan mencari sensasi belaka maka mereka yang mengenalnya pasti akan kecewa. Seorang pendakwah mungkin memesona sesaat ketika dari bibirnya meluncur kata-kata penuh hikmah dan menyitir ayat-ayat suci nan mulia. Namun jika dalam kehidupan sesungguhnya ia menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan ceramah dan khotbah yang ia sampaikan maka pesonanya pun hilang seketika.


      Ingin tampil memesona? Mari menggali energi positif dalam diri. Tampil sebagai diri sendiri yang menebarkan kebaikan terhadap sesama. Lakukan kebaikan tulus ikhlas tanpa pamrih maka niscaya orang lain pun akan menaruh hormat dan terpesona tanpa kita harus menjadi selebriti.

Belajar dari Kartini-Kartini Masa Kini

"Ntar brenti kerja saya ngapain aja di rumah ya ?" pikiran galau semacam itu menghantui saya berbulan-bulan sebelum memutuskan resign. Bagi saya memutuskan berhenti bekerja bukan hal mudah. Satu sisi harus siap kehilangan pekerjaan dan penghasilan untuk menopang kondisi finansial keluarga yang saat itu tidak bisa dibilang aman. Sisi lain si bungsu sering sakit-sakitan dan perlu perhatian lebih serius.

Saya berusaha keras mengatasi kegalauan dengan cara menemukan solusi. Maklum sebelumnya sudah pernah memutuskan break dari dunia kerja saat si sulung berusia kurang dari setahun. Ternyata saya hanya bisa bertahan dua tahun saja. Dan selama dua tahunan stay at home malah merasa stress. Sehari-hari ngurus rumah tanpa kesibukan lain. Ga bisa bantu ibu dengan penghasilan sendiri dan jadi merasa kurang percaya diri.

Artinya sebelum berhenti bekerja untuk kedua kali saya harus punya kesibukan sekaligus pintu yang bisa mendatangkan penghasilan. Pastinya Sang Maha Kuasa paham kegalauan ini hingga kemudian mempertemukan saya dengan Kartini-Kartini masa kini. Mereka adalah wanita-wanita bukan pekerja kantoran. Tetapi punya semangat dan energi untuk terus berkarya. Sambil lalu, saya pun mendapatkan berbagai inspirasi yang tercecap diam-diam ketika mengamati sepak terjang mereka sebagai perempuan. 


Wanita pertama yang menginspirasi saya untuk memutuskan berhenti bekerja dari dunia kantoran adalah mbak Murti Yuliastuti. Meski belum sempat bertemu di dunia maya, beliau telah menjadi sahabat dunia maya (ya buat saya sih demikian mudah-mudahan begitu juga bagi mbak Murti hihihi). Beliau mama dari Rangga dan Anggita. Dulu pernah bekerja dan punya jabatan tetapi beliau lepas untuk menemani putra-putri beliau yang sedang dalam masa pertumbuhan. Ternyata stay at home di mata beliau asyik-asyik aja kok. Saya amati beliau tak pernah mengeluh dengan keputusan resign dan mengisi waktu senggangnya dengan mengikuti passion: menulis. Wah jadi ingat beberapa tahun lalu pas jaya-jayanya antologi dan lomba menulis di note facebook kami sering saling tag untuk mengikuti lomba nulis A, sayembara nulis B dan sempat juga sebuku bersama...dua buku antologi malahan. Dari beliau saya belajar bahwa waktu tak perlu dibunuh agar segera berlalu tetapi diisi dengan hal bermanfaat akan lebih mewarnai hari-hari tanpa merasa sendu. Menekuni hobi, belajar tentang apa saja yang belum dipahami termasuk belajar mengaji kembali dan berusaha mengoptimalkan segala yang ada pada diri.


Ya! ketika memutuskan benar-benar off dari dunia kantoran saya mengikuti passion yang sama dengan mbak Murti: menulis. Bagaimana menulis tak hanya berfungsi sebagai pengisi waktu senggang tetapi sekaligus juga mendatangkan penghasilan? Mulailah saya berkenalan dengan penulis-penulis konten yang kemudian mengajak saya menekuni dunia menulis konten. Feenya memang hanya beberapa ribu rupiah untuk sekian kata. Tetapi bisa menjadi beebrapa ratus ribu rupiah untuk sekian artikel.

Pekerjaan sebagai penulis konten ini berjalan bareng dengan aktivitas saya di dunia blogging. Uhuks tapi blog saya isinya curhat-curhat melulu. Namun alhamdulillah bisa mendatangkan penghasilan juga karena menang beberapa lomba blog dan review produk. Kadangkala sebagai blogger mendapat undangan untuk hadir di suatu acara atau saya sendiri yang berkunjung ke suatu acara demi mengikuti lomba menulisnya hahaha (dasar ya ga jauh-jauh dari usaha)

Tak dinyana karena saya hobi banget ikut lomba menulis meski prestasinya masih hitungan jari menjadi jalan inspirasi lain lagi. Berkat berkunjung ke Pameran Produksi Indonesia Tahun 2015 saya berkenalan dengan wanita inspiratif berikutnya yaitu mbak Kartina Ika Sari. Beliau ini dulunya saya kenal sebagai blogger. Kemudian naik tahta menjadi writerpreneur ~ begitu biasanya beliau menyebut profesinya. mbak Ika ini founder dari Indoblognet.com dan pemilik dari MB Communication. Sepak terjang MB Communication dan Indoblognet ini patut diacungi jempol. Indoblognet adalah semacam situs untuk komunitas blogger dan penulis. Kita boleh menulis tentang apa saja sesuai kategori. Bagusnya lagi MB Communication dan Indoblognet ini bekerjasama dengan UKM-UKM yang bertindak sebagai sponsor dan seringkali mengadakan acara coaching seperti fotografi, decoupage dan cara menyajikan video yang extraordinary. Keren banget deh mbak Ika. Beliau pernah dalam suatu chit chat dengan saya berkata "saya ingin mengangkat produksi dalam negeri agar lebih berdaya jual dan memberdayakan blogger agar lebih punya nama sekaligus penghasilan lebih baik" Alhamdulillah berkat bergabung menjadi salah satu penulis di Indoblognet saya pun jadi ikut kebanjiran rezeki. Beberapa kali dinobatkan sebagai blogger terngehits, mendapat kesempatan mereview produk, meliput acara khusus dan proyek-proyek lainnya. Semua itu nggak cuma memberi saya fee dan honor yang lumayan tetapi juga pengetahuan dan hikmah kehidupan.


Duo wanita inspiratif dalam hidupku


Dari mbak Murti dan mbak Ika, Kartini-Kartini masa kini saya mendapat inspirasi penting bahwa kebahagiaan itu diperoleh dengan cara bersyukur, mengoptimalkan diri dan aktualisasi. Menjadi emak rumahan bukan berarti dunia tamat dan hilang semua keceriaan. Kerahkan semua kemampuan, lambungkan impian, hadapi kenyataan dan jangan pernah lelah untuk belajar dan berbagi. Ngga masalah mau pakai daster atau gamis syari tapi yang terpenting bagaimana mengoptimalkan karunia Illahi.

Di luar sana mungkin banyak wanita inspiratif berprestasi tetapi kebetulan saya mengenal mbak Murti dan mbak Ika dari kacamata yang cukup dekat (sok dekat ajalah hahaha). Temukan mereka, dapatkan pelajaran dari kehidupannya lalu jadikan diri sendiri sebagai wanita yang juga menginspirasi, minimal menginspirasi keluarga sendiri. 

Wednesday, March 22, 2017

Apa Kabar Tabungan Ramadhan dan Lebaran?

Tak terasa bulan Ramadhan dan Lebaran sudah tinggal hitungan hari. What? Hari? Ya kurleb 3 bulan kan sama dengan kurleb 90 hari. Dulu, pas masih kerja, punya gaji, terima THR dengan pasti saya nggak terlalu ribut mikirin tetek bengek Ramadhan dan Lebaran. Dua bulan khusus ini selalu membutuhkan dana ekstra lebih dari biasanya. Bukan  ...bukan....anggaran ekstra saat Ramadhan dan Lebaran bukan berarti timbul gegara sikap konsumtif yang digedein. Misalnya mentang-mentang puasa trus laper mata, segala macam jenis makanan dan minuman yang dijajakan menjelang buka puasa diborong semua dan siap menemani di meja makan setelah adzan magrib berkumandang. Bukan juga disebabkan gegara menjelang lebaran butuh duit buat belanja baju baru, asesoris plus sepatu (saya mah beli baju setahun sekali aja kagak mesti, kalau dah bulukan baru beli lagi. Lha koleksi gamis aja cuma 5 biji hihihi). 

Tapi memang Ramadhan dan lebaran butuh anggaran khusus. Kenapa? 
Pertama, karena Ramadhan, bulan yang paling ditunggu umat Islam sedunia menjanjikan kemuliaan di alam baka (S & K berlaku tentunya). Puasa Ramadhan sebulan penuh insyaAllah mampu meluruhkan dosa asal bersungguh-sungguh bertaubat memohon ampunanNya. Berbagai amalan pahalanya berlipat ganda. Nah ini nih kadang amalannya butuh duit juga kan seperti mengajak berbuka puasa anak-anak yatim atau menjamu buka puasa bersama, berinfaq sedekah hingga zakat fitrah dan zakat maal. Kedua pas (menjelang) lebaran. Saya sudah biasa memberikan sekedar tali asih pada Mama setiap lebaran. Maklum Mama kan ngga ada penghasilan atau pensiunan. Padahal pas lebaran mesti dikunjungi tetangga dengan anak kecil-kecilnya, sanak saudara. Butuh suguhan dan sedikit “angpau” sekedar buat nyenengin anak-anak kecil. Belum lagi transportasi untuk mudik dan bersilaturahim ke sanak saudara, butuh anggaran khusus juga kan? 
Dulu pas masih ada gaji dan THR gak terlalu mikir “berat”. Etapi meski sudah empat tahun menjalani hidup sebagai freelance saya juga ga terlalu berat mikirin segala anggaran itu dicukupi darimana. Saya hanya perlu tekun dan konsisten menabung saja. Tabungan khusus buat Ramadhan dan Lebaran hehehe. Nggak perlu buka rekening bank lagi sih, tetapi dari salah satu rekening yang saya miliki.Saya lebih suka menyimpan tabungan di rekening bank syariah. Tanpa bunga, tanpa bea admin. Karena tujuan saya menyimpan uang di bank memang untuk sekedar menyimpan sebagai tabungan, enggak berharap bunga. Tapi saya juga ogah simpanan uang tergerus bea admin. Bersyukur banget bisa menemukan rekening bank yang tidak membebani bea admin sehingga uang saya utuh dan insyaAllah aman. 
 Amanlah, kan nggak saya pakai buat belanjaaa. Aman karena tabungan yang gak sampai 2M itu dijamin LPS jika terjadi sesuatu (misalnya likuidasi) pada bank syariah tempat saya menyimpan uang. Udah pada tau kan simpanan dalam bentuk apa saja yang dijamin LPS?
Eia tabungan di bank syariah ini pernah berjasa banget buat qurban tahun 2016. Kebetulan ...alhamdulillah ....kebutuhan untuk lebaran dan Ramadhan dicukupi Allah dari pintu lain maka saya nggak ambil tabungan. Tapi sebagian dari tabungan tersebut kepakai buat qurban, patungan sama suami. Sama halnya seperti bak mandi yang kosong harus segera diisi kembali. Meski tabungan ngga sampai melompong usai diambil buat qurban saya teteup rajin nabung. 
Bagaimana sih freelance bisa nabung buat keperluan Ramadhan dan Lebaran? Mau tahu rahasianya? Saya mau bisikin rahasia nih. Selama ini saya punya dua rekening. Satu di bank konvensional yang berfungsi sebagai rekening "aktif" keluar masuk, untuk PPOB, untuk pos biaya-biaya yang kebetulan menjadi tanggung jawab saya untuk membayarnya. Saya biasa membuat anggaran sekian rupiah untuk bayar ini, sekian lagi untuk yang itu dan lain-lainnya. Jadi ketahuan kan kebutuhan tiap bulan? Nah Satu rekening lagi adalah bank syariah yang murni berfungsi sebagai tabungan baik itu tabungan untuk keperluan Ramadhan, Lebaran dan *masa depan*. Jadi sebisanya ngga diutak-atik buat keperluan yang ga penting-penting banget. Hehehe cukup dua aja, gak perlu banyak rekening dah buat saya mah. Nah kalau pas dapat fee dari order menulis, fee sebagai buzzer, hadiah lomba atau kuis saya pisahin sendiri mana yang nomor rekeningnya diajukan ke klien untuk masuk rekening bank konvensional dan mana yang masuk rekening bank syariah. Saya juga ga perlu jauh-jauh pergi ke bank untuk setor uang tabungan. Eits tapi perlu diperhatikan bahwa secara berkala buku tabungan sebaiknya di print out loh. Karena catatan rekening (pembukuan) di bank kan salah satu syarat dijaminnya tabungan kita oleh LPS.

Ini lo syarat Kriteria Simpanan Layak Bayar di Bank Syariah dan BPRS




Nah klo buat bank syariah, karena ngga mengenal "bunga " khusus buat bank syariah jadinya gini nih:


Bismillah semoga selalu dimudahkan langkah kita untuk berbagi, hidup hemat dan rajin menabung. Menabung bukan sekedar berpatokan pada pangkal kaya tetapi menabung mengajarkan menjadi manusia bijak dalam memanage waktu dan penghasilan. Psst semua pada ingat kan kalau boros itu sifat yang dibisikkan setan. Ngga mau dong jadi teman setan. Yuk ah nabung mulai sekarang. 
Pintu rezeki itu beribu-ribu, saya berusaha mengetuknya satu persatu. Jadi freelance itu bekalnya sabar. Kalau pas orderan datang bareng harus sabar membagi waktu agar ngga ada yang dianaktirikan dan selesai on time dengan kualitas jempolan. Andai memang tak mampu mengerjakan ya harus dibicarakan terus terang pada yang ngasih orderan, apakah perlu dikembalikan atau waktu penyelesaian bisa dinegosiasikan. Sabar juga kalau pas sepi orderan. Coba-coba alih profesi bisnis kecil-kecilan (macam saya yang jualan mukena hahaha) Dan tetep sabar kalau pas fee orderan berlimpah, sabar untuk tidak seperti orang kesetanan buat belanja ini itu yang kadang gak perlu. Ingat..ingat ada kewajiban infaq sedekah dan MENABUNG tentunya.




Tuesday, March 14, 2017

Etika Kerja (Renungan 'ITQAN dan IHSAN Tausyiah Ustadz Salim A Fillah)

Saat menemani suami kontrol ke RSI Siti Hajar tempo hari saya terpana membaca tulisan ini di pintu masuk menuju selasar ruang rawat inap dan gedung utama. (Padahal sudah lama terpampang tapi baru kali ini menelan maknanya)

Di pintu masuk lorong yang dingin ini terdapat papan yang mengutip QS At Taubah : 105
"Bekerjalah kamu maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu"

Sungguh, keberadaan kita di dunia ini hanya karena menjalani takdirNya. Bekerjalah, bukan berarti sekedar bekerja mencari nafkah, mengais materi. Tetapi bekerja mengandung hikmah mengoptimalkan segenap karuniaNya dengan landasan cinta, ibadah, perwujudan rasa syukur kepadaNya.


Jadi teringat dengan tulisan ustadz @salimafillah di facebook tempo hari:
Di antara yang menakjubkan dari Bangsa Turki adalah kesungguhan dan standar tinggi dalam mengerjakan sesuatu. Lihatlah tukang semir di dekat Yeni Camii di tepi Bosphorus ini. Sebuah singgasana untuk pelanggan, karena pemakai jasa adalah raja baginya. Sebuah landasan dengan tatakan-tatakan berukir berwarna keemasan. Semir berbagai jenis dan warna tersedia, peralatan gosok dari bermacam sikat hingga aneka kain pengilap pun ada. Dan bahkan jika sepatu kita kurang kelengkapannya, dia sediakan hingga alas lembut maupun kaos kaki yang sesuai.
Sepasang sepatu saya ini, pengerjaannya hampir sepuluh menit, dengan 4 macam semir, dan 5 teknik gosokan. Masyaallah.
Ah, memang, justru sebab rizqi kita telah dijaminkan, maka makna kerja kita adalah pengabdian seutuhnya kepada Allah. Justru sebab kita tahu bahwa bekerjanya kita maupun karunia yang dilimpahkan melaluinya keduanya sama-sama anugerah, maka bekerja sudah seharusnya ditunaikan dalam gembira. Justru sebab kita tahu bahwa kerja kita bukanlah penentu dari apa yang kita nikmati, maka bekerja sudah seharusnya merupakan bentuk luapan syukur kita pada Dzat Yang Maha Bijaksana.
Bekerja adalah ibadah sehingga sudah semestinya ditekunkan dengan ‘itqan, bahkan seyogyanya diperjuangkan sampai ihsan.
“Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba yang berkarya dengan ‘itqan, -tekun dan terampil-. Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang yang berjuang di jalan Allah.” (HR Ath Thabrani dan Al Baihaqi)
Penting untuk kita pahami bahwa lapis-lapis keberkahan bukan hanya terdapat pada rizqi yang Allah karuniakan pada kita. Lebih dari itu, ia justru teranugerahkan dalam kesungguhan kita menekuni pekerjaan hingga berketerampilan. Ialah berkah, sebab cinta Allah terjanji pada hamba yang demikian. Ialah berkah, sebab mencari nafkah adalah sebentuk ibadah. Ialah berkah, sebab susah payahnya bernilai jihad fi sabilillah.
“Wahai Hakim,” demikian Sang Nabi bersabda dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, ”sesungguhnya harta benda ini kelihatan hijau dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan cara yang baik, maka ia akan diberkahi. Dan barang siapa mengambilnya dengan berlebihan, maka ia tidak akan diberkahi, yaitu seperti orang yang makan dan tak pernah kenyang.”
Semoga Allah karuniai kita kekuatan untuk menjadi seorang Muslim yang ‘itqan dalam kerjanya. Hingga tangan yang kasar dan berkapal, terperisai dari sentuhan api neraka. Hingga dosa-dosa yang menghitamkan hati, luruh bersama tiap butir keringat yang mengucur.
Dan semoga kita dikaruniai kekuatan untuk menjadi seorang mukmin yang ihsan dalam kerjanya. Yang menjadikan Allah sebagai sumber semua tenaganya. Yang menjadikan Allah sebagai yang paling diharapi ganjaran dariNya. Dengannya, semoga kita mampu bekerja melampaui apa yang diharapkan manusia, baik atasan, rekan, maupun bawahan.
Sebab kita yakin, andaipun mata ini tak melihat Allah, sungguh dia senantiasa menyaksamai kita. Sebab kita yakin, andaipun tak ada manusia yang mengawasi kita mengerahkan daya dan mencurahkan tenaga, ada Allah yang lengkap catatanNya dan teliti perhitunganNya. Sebab kita yakin, andaipun ada jam kerja yang tak terhitung dalam gaji dan penghargaan manusia, balasan di sisi Allah jauh lebih kita harap dan kita suka.

Tulisan ini membuka mata (hati) saya. Seringkali saya memandang sesuatu dari besarnya "materi" misalnya fee kerjaan yang lebih gede otomatis semangat ngerjainnya lebih gede. Fee kerjaan yang kecil saya pun memandangnya sebelah mata dan seperti ogah-ogahan (padahal butuh juga hehe). Mungkin cara pandang saya salah dalam menyikapi etika bekerja. Harusnya semua pintu dianggap sebagai karunia Allah, bekerja haruslah dianggap sebagai bagian dari ibadah. Bukankah Allah memerintah kita untuk *BEKERJA* nah bekerja mencari nafkah adalah bentuk dari karya dan cara kita mengoptimalkan karunia Sang Pencipta berupa kesehatan dan panca indera.

Namun di sisi lain saya sering merasa "marah" ketika dibayar terlalu murah padahal yang membayar bisa beli mobil, rumah, umroh dan lain-lainnya. Tapi salah sendiri kenapa tak kunjung mandiri, meski freelance tapi tetep aja ngandelin dapat fee orderan hahaha. Sungguh, penuturan Ustadz Salim A Fillah tentang penyemir sepatu Turki yang full service seperti itu. 

Duh jadi malu, mudah-mudahan masih bisa memperbaiki diri. Mengoptimalkan segala pemberianNya dengan memanfaatkan sebaik-baiknya di jalan kebaikan. Apapun itu. Entah itu menulis, mengurus rumah, merawat suami yang butuh perhatian ekstra di masa recovery, menemani si kecil belajar, memompa semangat si sulung nun jauh di sana. Banyak lagi dan masih banyak lagi...
Semoga Allah memudahkan ...aamiin

Tuesday, March 7, 2017

Hikmah di balik "Musibah"

Musibah, Ujian, Azab, tiga hal ini terlintas di pikiran saya ketika mendapatkan sesuatu yang di luar perkiraan, sesuatu yang sangat menyedihkan, situasi yang paling tidak diinginkan. Apakah ini musibah, ujian atau azab?
Saya pernah mendengar ceramah (atau membaca artikel religi, lupa lupa ingat) bahwa sesuatu yang tidak diinginkan menimpa kita bisa berupa musibah, ujian atau azab. 

Ujian, jika ditujukan pada mereka yang tekun dan ikhlas dalam beribadah, melaksanakan perintah Allah, menjauhi laranganNya tetapi tetap tertimpa sesuatu yang tak diinginkan. Ujian, seperti halnya ujian di sekolah ditujukan untuk mengukur kemampuan apakah sudah pantas untuk naik tingkat?

Musibah atau teguran, ditujukan pada orang yang beriman yang sedang atau telah melakukan kesalahan, khilaf tetapi tidak segera menyadari apalagi beristighfar. Ditegur Allah dengan cobaan yang tidak disukai agar kembali ke jalan Allah dan bertaubat nasuha.

Adzab atau hukuman ditujukan pada orang yang ingkar terhadap Allah, terhadap keesaanNya, terhadap nikmatNya. Wis lah pokoknya mirip anak bandel dan bikin sebel. Jadinya kena hukum deh.

Nah saya lagi mikir nih lagi kena adzab, musibah atau ujian saat suami harus diopname untuk kedua kali di bulan yang sama? Ini alasan saya vacuum hampir dua minggu nggak nulis. Karena suami harus masuk rumah sakit dan rawat inap sejak 25 februari - 1 maret. Kali ini pakai biaya sendiri, nggak pakai BPJS sebab opname tempo hari pulang paksa dari RSUD hehe. Peraturan BPJS ternyata buanyaak dan rumit ya. Saya aja baru tau kalau kartu kepesertaan BPJS bisa diblok jika pulang paksa dari rumah sakit sehingga tidak bisa digunakan untuk klaim rawat inap dengan keluhan dan diagnosa yang sama.

Kondisi suami saat itu sangat mengkhawatirkan. Makin lemah, nafas susah, diare hebat, perut nyeri tak tertahankan. jam 2 dini hari saya nekad ngayuh sepeda ke apotek K24 untuk beli obat diare. Paginya saya paksa suami memeriksakan diri ke rumah sakit, langsung masuk IGD. Dan ternyata HBnya drop sampai 3,2.

Kira-kira ini ujiankah? tapi rasanya saya bukan tergolong orang yang taat banget gitu, apa ya sudah pantas naik tingkat? Musibah? bisa jadi banyak dosa yang tak saya sadari. Jangan-jangan adzab karena saya seringkali kufur nikmat. Duh!

Ya sudahlah daripada bingung mikir "kategori" lebih baik saya mawas diri dan memperbanyak istighfar saja. Terbukti istighfar memang membuka lebih banyak jalan keluar. 

Meski tabungan terkuras (yang sedianya untuk keperluan daftar ulang si sulung), badan remek karena 5 hari staycation di RS sendirian tanpa ada yang gantiin dan emosi labil melihat kondisi suami yang mengenaskan, saya mendapatkan banyak hikmah. Hikmahnya antara lain:
1. Anak bungsu saya lebih mandiri. Dia sempat ikut menginap sehari semalam di rumah sakit. Bantuannya sangat besar karena rela naik turun untuk membelikan diapers dewasa buat si ayah yang harus bedrest. Dia juga akhirnya bersedia dititipkan, nginap di rumah tetangga (sehari di bu RT, 2 hari di guru ngajinya) Senang terima kabar kemandiriannya dari bu ustadzah. Tiap adzan subuh dan ashar dia bisa terbangun dari bobo pulas dan bergegas ambil wudhu untuk sholat jamaah di masjid (biasanya subuh dan ashar dia sholat di rumah karena susah bangun tepat waktu hehe) 
2. Merasa "kaya"
Terus terang, musibah ini membuat saya merasa kaya. Bukan karena kaya materi dan bisa bayar biaya rumah sakit sendiri. Tetapi merasa kaya karena perhatian, support, doa dan dukungan dari tetangga, teman, kerabat tiada henti
3. Menyadari indah silaturahim
Salah satu sahabat yang datang adalah teman akrab saya sejak saya baru memasuki dunia kerja di tahun 1999. Rumah kami berdekatan di kota yang sama tetapi ketemu setahun sekali belum tentu juga. Uniknya kami dipertemukan saat saya tertimpa musibah karena beliau butuh bertandang ke rumah dan mengambil struk pembayaran listrik yang biasanya tidak pernah diperlukan. Waduh akhirnya saya terpaksa mengabari kalau lagi menjaga suami di rumah sakit.

Selalu ada hikmah di balik musibah. Masih banyak hal lagi yang saya dapatkan sebagai pelajaran. Tentang masjid rumah sakit yang tak pernah sepi dari jamaah sholat lima waktu, tentang perawat dan dokter di RS Siti Hajar Sidoarjo yang ramah dan tangkas, tentang kemudahan yang kami peroleh dengan semakin membaiknya kondisi suami setelah transfusi darah (satu kantong darah transfusi biasanya hanya bisa mengangkat satu angka HB tetapi dua kantong transfusi yang dijalani suami bisa mengangkat hingga 2,5 alhamdulillah)

Biidznillah...
Memperbanyak istighfar itu membuka jàlan kemudahan, insyaAllàh menuntun ke jalan yang benar.
Kaya yang sesungguhnya adalah ketika doa dan dukungan dari sahabat, sanak kerabat, tetangga dan teman-teman dekat datang silih berganti menguatkan hati.
Tak mampu membalas kebaikan mereka satu persatu hanya bisa menyebut mereka dalam doa agar orang-orang baik ini senantiasa berlimpah kebarokahan hidup, kelapangan rezeki dan kemudahan-kemudahan tiada henti....
Aamiin