Google+ Followers

Wednesday, March 23, 2016

8 Hari Menuju Kematian

dnamoraGA


Kullu nafsin dzaaiqatul maut. “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati”. Penggalan ayat tersebut tentu tak asing bagi kaum muslimin. Ayat yang selalu mengingatkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Peringatan tentang pentingnya menyiapkan bekal kematian semakin lengkap dengan cuplikan ayat berikutnya. Kemudian hanya kepada Kami sajalah kamu akan dikembalikan.

QS. Al Ankabut : 57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami sajalah kamu akan dikembalikan.

Jadi bekal apa yang telah disiapkan untuk menghadap Sang Pencipta sebab Allah telah berfirman “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah : 8)

Merencanakan untuk menghabiskan hari-hari menjelang ajal buat saya cukup membuat bulu roma merinding. Terbayang seperti apa wajah malaikat maut ketika menjemput, apakah ia berwajah teduh dan mengucap salam, mencabut nyawa dengan perlahan. Atau berwajah sadis dan mencabut nyawa dengan kasar? Semua berpulang kepada perilaku kita ketika hidup. Tentu seperti tuntunan Rasulullah saya selalu berdoa untuk dijemput dalam keadaan khusnul khotimah.
Postingan tentang kematian ini sengaja saya tulis 8 hari menjelang Deadline Give Away yang diadakan mbak Desi Namora. Hari ini, 23 Maret 2016 artinya 8 hari lagi 31 Maret 2016 adalah DL Giveaway “8 Hari Menjelang kematian”. Dengan tujuan sebagai pengingat bahwa saya sewaktu-waktu akan dijemput sang malaikat.
Apa yang harus saya lakukan jika delapan hari kemudian ternyata adalah hari terakhir saya mencicipi bakso dan es degan di dunia ini?. Teringat kembali akan 3 hal kebaikan yang tak terputus meski kita telah kembali kepada Sang Pencipta yaitu : amal jariyah, doa anak yang sholeh dan ilmu yang bermanfaat. Andai sang malaikat maut datang 8 hari sebagai peringatan sebelum ajal, saya harus melakukan beberapa hal berikut:
Day 1. Saya harus mempersiapkan tetek bengek pemakaman. Saya mendambakan makam yang sederhana, dengan rumput taman di atasnya dan bunga melati berada di dekat nisan berupa batu hitam. Maka saya ingin menyiapkan bibit bunga melati dan rumput teki dalam pot kecil yang bisa dipindahkan dengan mudah. Saya juga perlu menyiapkan keperluan memakamkan secara Islam, kain kafan dan tetek bengeknya karena saya tak ingin terlalu banyak merepotkan mereka yang saya tinggalkan.
 
Foto diambil dari posting facebook salah satu kerabat saya.

Day 2. Saya ingin mewujudkan impian menyaksikan indahnya kepulauan Derawan. Untuk keperluan itu mungkin saya harus mencairkan Jamsostek pribadi yang tak kunjung bisa diambil meski saya telah resign empat tahun lalu. Mudah-mudahan di hari kedua menjelang kematian ini saya berhasil mendapatkan dana yang nominalnya berlebih untuk dua hari berlibur di Derawan. Sepulang dari kantor BPJS ketenagakerjaan saya berencana mampir panti asuhan, menyerahkan sebagian hak anak-anak yatim dari hasil menabung di Jamsostek/BPJS ketenagakerjaan. Saya ingin menyisihkan sebagian dari uang tabungan itu untuk wakaf Al Quran. Sebagian lagi saya sisihkan untuk tabungan pendidikan anak-anak.
 
Foto milik AdmireIndonesia.com

Day 3 dan Day 4. Andai cita-cita saya untuk melihat Kepulauan Derawan dikabulkan. Saya bisa menghabiskan Day 3 dan Day 4 untuk berkeliling Derawan. Cukup dua hari karena masih banyak yang harus saya kerjakan. Oh iya, saya teringat pada koleksi buku-buku saya yang belum terbaca. Buku-buku ini akan saya bawa serta dalam travelling yang menyenangkan. Andai keinginan ini tak tergapai toh saya masih bisa membaca buku-buku koleksi untuk mengisi waktu. Mengapa harus segera saya baca? Sebab saya khawatir di depan Allah dimintai pertanggungjawaban : membeli dan mendapatkan buku hadiah tapi kok dibiarkan mubadzir? Kenapa menyempatkan ke Derawan? sebab mensyukuri nikmat Allah dengan menikmati pemandangan adalah salah satu cara tafakur alam dan bagian dari tafakur Al Quran.

Day 5 Memasak menu istimewa. Selama ini saya terbilang paling malas bereksperimen dengan kegiatan masak memasak. Setidaknya sekali dalam hidup saya (itu pun menjelang mati ya hiks) ingin menyajikan menu istimewa yang belum pernah atau jarang dinikmati keluarga. Kalau biasanya hanya memasak sop dan tempe dan masakan-masakan lain yang bumbunya mudah ditemui penasaran pula ingin menyajikan yang beda seperti tom yam, dim sum, ikan gurami asam manis ..yah macam-macam menu yang biasa disajikan di restoran.

Day 6. Sudah makin dekat saja dengan kematian. Saya tak ingin kepergian saya menyisakan hal yang mengganjal. Bersilaturahim ke tetangga, teman-teman dekat dan kerabat, tulus meminta maaf karena mungkin saja selama hidup saya telah berbuat dzolim dan melakukan kesalahan yang menyakitkan hati mereka. Saya mungkin tak lagi membuka akun facebook dan twitter setelah postingan terakhir saya adalah tentang permintaan maaf kepada teman-teman dunia maya. Jujur saja kalau lagi asik bermedsos kadang suka lupa waktu, kadang tanpa disadari malah komen dan posting yang mungkin menyakiti akibatnya permintaan maaf saya tak lagi berarti. Lebih baik saya menghabiskan waktu untuk memeriksa hafalan Al Quran saya kembali. Alhamdulillah salah satu kegiatan saya bersama tetangga adalah pengajian tahfidz Quran. Belum seberapa yang kami hafalkan tetapi setidaknya menambah hafalan akan lebih bermanfaat daripada saya tergoda dunia yang penuh permainan.

Day 7. One more day to go, saya ingin mewariskan ilmu yang bermanfaat dan berharap mendapatkan kebaikan di akherat. Di hari terakhir ini saya ingin membuat tulisan di blog tentang apa saja yang sekiranya bermanfaat, tentang tata cara mencairkan BPJS, tips travelling ke Derawan, resep dari menu istimewa yang saya sajikan atau tips menghafalkan Al Quran. Saya juga merencanakan menulis “surat wasiat” untuk suami dan anak-anak mengingatkan kembali wasiat Rasulullah untuk selalu berpegang kepada Al Quran dan Al Hadits. Mengingatkan kembali bahwa betapapun saya mencintai mereka namun akan tiba saatnya berpisah sehingga masing-masing jiwa harus mempersiapkan diri bertemu dengan Sang Maha Segala.

Day. 8 This is it. Konon di saat-saat terakhir menjelang kematian badan terasa seperti tak berdaya, lemas dan kemampuan melihat, mendengar perlahan berkurang. Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dan memastikan lisan dan hati saya tak pernah lelah membisikkan dzikir. Sungguh kematian adalah guru terbaik bagi mereka yang mampu berpikir.

Saya paham bahwa berandai-andai adalah hal yang tidak diperkenankan oleh Allah. Namun salah satu tanda orang pandai adalah mereka yang sering mengingat kematian dan mempersiapkan bekal sebelum jiwa benar-benar dipisahkan. Maka postingan ini sekedar sebagai pengingat bahwa hal yang pasti datangnya dan paling dekat dengan setiap umat adalah kematian.


Sunday, March 20, 2016

Nestle Lactogrow Happy Date with Legendaddy


"Kebahagiaan keluarga, penentu karakter dan tumbuh kembang anak" tema pers conference Nestle Lactogrow Happy Date with Legendaddy di Mataram Room, Sheraton Hotel Surabaya mengingatkan kembali bahwa untuk tumbuh sehat jasmani dan rohani anak-anak tidak hanya memerlukan makanan sehat, mainan, rekreasi namun juga cinta sejati.

Hadir di pers conference Nestle Lactogrow Happy Date with Legendaddy pada 20 Maret 2016 menambah wawasan para orang tua tentang hakikat kebahagiaan sebenarnya. MBak Lani (Gusti Kattani Maulani) Brand Manager menyatakan bahwa survey yang dilakukan pihak Lactogrow terhadap keluarga Indonesia menunjukkan fakta mencengangkan : bahwa 53% responden mengatakan bahwa anak mereka merasa kurang bahagia akan hubungan dengan orang tuanya. Hal ini disebabkan bahwa di zaman serba canggih, menuntut kebutuhan hidup tinggi memaksa orang tua untuk bekerja lebih keras dan menyisakan sedikit waktu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Terlalu asyik dengan media sosial tanpa disadari bisa menjadi salah satu penyebab renggangnya interaksi dan ikatan emosional antara anak dan orang tua. Seperti fenomena yang terlihat akhir-akhir ini. Satu keluarga duduk di meja makan yang sama namun masing-masing memegang gadget dan asyik dengan dunia masing-masing.


Fenomena yang menimbulkan miris ini menjadi salah satu hal yang menginspirasi Nestle Lactogrow untuk mengingatkan kembali pentingnya bonding moment dalam sebuah keluarga melalui event khusus. Event tahunan Legendaddy yang diselenggarakan oleh Nestle Lactogrow kali ini mengusung tema Happy Winter. Tahun 2015 Legendaddy Nestle Lactogrow mengangkat tema Happy Beach. Keseruan tema Legendaddy merupakan salah satu upaya yang dilakukan Nestle Lactogrow untuk memotivasi keluarga Indonesia lebih mampu menemukan waktu untuk bersama dan mewujudkan kebahagiaan orang tua beserta anak-anak mereka.

Sebagai keynote speaker di Pers Conference kali ini, selain mbak Lani mewakili Nestle Lactogrow adalah Dr.dr. Ahmad Suryawan SpAK, Psikolog Rini Hildayani M.Si dan public figure Oka Antara sebagai sosok Legendaddy.

Sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa hadir dalam Pers Conference Nestle Lactogrow Happy Date with Legendaddy kali ini. Hadirin yang didominasi blogger dan awak media dan sebagian besar telah menjadi orang tua (beberapa di antaranya, termasuk saya membawa serta anak-anak mereka) jadi lebih aware bagaimana mewujudkan kebahagiaan anak yang tentunya menjadi kebahagiaan orang tua juga.

Dr. Ahmad Suryawan misalnya mengupas tuntas tentang sangkut paut kesehatan sistem pencernaan dengan tumbuh kembang anak dan secara langsung berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan sang anak.Ketika sang anak jatuh sakit karena asupan nutrisinya kurang terpenuhi maka kebahagiaan sang anak secara otomatis akan berkurang, ia tak bisa menikmati masa bermain dan bereksplorasi secara maksimal. Namun manakala melihat orang tuanya penuh perhatian dan kasih sayang merawatnya ketika sakit maka alam bawah sadarnya menggugah semangatnya untuk segera sembuh agar bisa bermain dengan orang tuanya seperti sediakala.


Psikolog Rini Hildayani menyoroti peran ayah yang tak dapat tergantikan dalam proses mengasuh anak-anak dan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian mereka. Pengaruh sang ayah terhadap perkembangan psikologis anak-anaknya tampak pada caranya mengambil keputusan, menemukan solusi dari sebuah permasalahan atau caranya bersosialisasi.

Oka Antara berbagi pengalaman tentang hubungan emosi dan psikologisnya dengan ketiga anaknya yang memiliki jarak usia dua tahun antara satu anak ke anak berikutnya.

Kebersamaan keluarga berpengaruh pada karakter dan tumbuh kembang sang anak. Namun kebersamaan tidak sekedar menghabiskan waktu bersama tetapi masing-masing sibuk dengan urusannya, misalnya bermain gadget atau membaca koran. Para keynote speaker menekankan kembali pentingnya kualitas dari kebersamaan agar interaksi antara orang tua dan anak mampu menjembatani dua generasi sehingga tercipta suasana penuh kasih sayang dan berbagi cinta sejati.

Banyak ilmu dan pengetahuan baru yang saya peroleh dengan menghadiri pers conference ini. Kisah lebih lengkap insyaAllah saya tuliskan di postingan berikutnya.



Tuesday, March 15, 2016

My Life Story : A Mother is A Transformer




Mother is A Transformer, rasanya ungkapan itu paling cocok buat saya. Setelah menjadi ibu saya merasa mengalami perubahan signifikan termasuk perubahan berat badan. Tidak hanya mengalami transformasi finansial tetapi juga semangat spiritual. Orang-orang yang pernah mengenal masa kecil saya pasti kaget melihat saya sekarang : kok bisa gemuk, kok jadi ceriwis? Ya iyalah lha saya dulu lebih dikenal sebagai anak ceking, pendiam cenderung kuper sekarang menjadi emak beranak dua dengan berat badan naudzubillah dan cerewetnya “Oh My God” punya. Apakah saya menyesal dengan perubahan ini. Tidak, hidup adalah proses dan perubahan yang mungkin tak terpikir sebelumnya. Semua yang terjadi nikmati saja.
Transformasi yang saya alami mungkin adalah bagian dari proses agar saya lebih memahami hakekat hidup ini. Perubahan yang saya alami tidak terjadi seperti main sulap, baca mantra hap hap lalu berubah dalam sekejap namun melalui tahapan yang setiap prosesnya saya nikmati sepenuhnya. Senangnya berpartisipasi dalam #Bundafinaufara1stGiveaway adalah saya bisa bernostalgia tentang masa kecil, remaja hingga menjadi bunda.
Masa Kecil
     Saya lahir 9 April 1976, insyaAllah tahun ini genap 40 tahun usia. Terlahir di tengah keluarga sederhana tidak menyebabkan kami, empat bersaudara kehilangan masa kecil yang bahagia. Meski lahir dengan berat badan 3,6 kilogram tetapi menginjak usia kanak-kanak saya dikenal sebagai si ceking. Masih teringat Papa sering memarahi saya karena pilih-pilih makanan dan memilih mogok makan jika masakan Mama tak sesuai selera. Bisa ditebak kemudian selama bertahun-tahun saya menderita penyakit maag dan sering kambuh hingga bolos sekolah.
      Dalam benak kembali terbayang masa kecil yang cukup menyenangkan namun saya tergolong anak yang kuper dan minder. Hanya beberapa teman dekat yang bisa bergaul erat dan saya sering grogi, tak mampu berkata-kata di depan orang yang belum saya kenal. Hiks bahkan saya tak berani meminta kembali gelang monel hadiah dari kakek ketika terjatuh di halaman sekolah dan dipungut orang lain tepat di depan mata.


Masa Remaja
      Meski dikenal sebagai sosok pendiam dan kutu buku tetapi keluwesan saya dalam bergaul lebih baik dibandingkan masa kecil. Ketika duduk di bangku sekolah SMP dan SMA saya memiliki beberapa sahabat yang terkadang masih saling sapa dan mengunjungi hingga saat ini. Rasa syukur tersemat dalam hati mengingat masa remaja yang cukup berprestasi. Selama duduk di bangku SMP saya mampu meraih rangking satu dan ketika menginjak kelas dua sempat mencicipi hadiah bebas uang SPP sesuai kebijakan sekolah saat itu bagi peraih prestasi.
      Kurus, pendiam, kutu buku seolah menjadi trade mark saya saat itu. Meskipun demikian bukan berarti menjadi sosok introvert yang penakut. Sekolah SD dan SMP yang 5 kilometer jauhnya dari rumah saya tempuh dengan bersepeda. Bahkan saat duduk di kelas 5 SD saya sempat mengalami kecelakaan dan menderita gegar otak ringan dan menyebabkan sering menderita sakit kepala hingga sekarang.
      Selama SD hingga SMP hampir selalu meraih rangking satu tentu kenangan yang membahagiakan apalagi ketika DANEM saya sempat menjadi nomor empat sekotamadya ketika lulus SMP dan masuk 10 besar di SMA favorit. Meski demikian saya tetaplah Yeni – panggilan buat saya dari orang rumah - yang pemalu dan tidak banyak bicara. SMA favorit di kota kecil kami saya tempuh dengan berjalan kaki, menyusuri pematang sawah dan selalu gemetaran ketika bertemu ular sawah atau harus berlari-lari untuk menyingkir dari rel ketika peluit tanda bahwa kereta segera melintas terdengar dari kejauhan.
      Masa SMA inipulah saya mengenangnya sebagai masa duka. Ayah meninggal dunia ketika saya duduk di kelas dua. Sejak saat itu kondisi keluarga kami berubah drastis. Dari keluarga sederhana yang pas-pasan menjadi kekurangan karena ibu adalah ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan. Untuk biaya sekolah ibu menjual separuh pekarangan rumah dan terpaksa meminta bantuan seikhlasnya pada kerabat yang bersedia memberikan bantuan. Bertahun-tahun ibu menerima sumbangan ala kadarnya dari sepupu dari pihak ayah dan paman adik kandung ibu.
      Hidup dalam keterbatasan tidak membuat kami patah semangat dalam menempuh pendidikan. Adik lelaki saya diterima di pendidikan kedinasan, adik perempuan saya menuntut ilmu di Sekolah Menengah Farmasi di Surabaya dan saya berhasil lolos UMPTN di sebuah universitas terkemuka di kota Malang. Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan beasiswa sejak duduk di tingkat II hingga lulus di tahun keempat kuliah. Kost-kostan saya lumayan jauh dari kampus demi mencari tarif murah. Saat itu sekitar tahun 1994 tarifnya sekitar 20 ribu rupiah setiap bulan. Uang saku saya berasal dari hasil penjualan pekarangan rumah yang dibayarkan secara bertahap oleh pembelinya. Berbekal 75 ribu sebulan padahal 20 ribu untuk membayar sewa kamar artinya saya harus mampu bertahan hidup dengan 55 ribu. Nasi bungkus 400 rupiah atau mi instan adalah menu saya sehari-hari. Bagi saya makan cukup dua kali sehari asal tetap bisa hidup saja dan sesegera mungkin meraih gelar sarjana.
      Hidup jauh dari Ibunda, keterbatasan biaya mungkin menjadi salah satu faktor penguat motivasi bagi saya untuk berubah menjadi semakin lebih baik. Di dunia perkuliahan saya mengenal lebih banyak teman dari berbagai kalangan. Saya juga dituntut aktif dalam organisasi kampus atau kegiatan kemahasiswaan demi syarat mendapatkan beasiswa. Kemungkinan aktivitas di kampus ini pula yang perlahan mengubah saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dan lebih supel dalam bergaul.
Tebak, manakah saya?

Masa Dewasa
      Saya berhasil meraih gelar sarjana setelah 4 tahun menuntut ilmu. IP (Indeks Prestasi) 3,21 untuk lulusan Fakultas MIPA, Jurusan Kimia saya pikir menjadi bekal yang berharga bersaing di dunia kerja. Ternyata perkiraan ini salah. Cita-cita sebagai karyawan tak kunjung kesampaian. Saya pun sempat bekerja serabutan di tambak ikan. Selain membantu pekerjaan mengurus tambak saya juga memberikan les bahasa Inggris bagi anak sulung ekspatriat Taiwan sebagai pengelola tambak ikan. Setahun kemudian barulah saya diterima bekerja di perusahaan pelayaran internasional dengan gaji 500 ribu sebulan. Pernah terlintas pikiran: ternyata ilmu Kimia yang saya dapatkan di bangku kuliah terbuang percuma karena yang dibutuhkan dalam pekerjaan saya adalah kemampuan berbahasa asing dan keterampilan komputer. Namun lebih baik menghibur diri sendiri dengan memahami bahwa jalan hidup adalah takdir yang tak bisa dipungkiri dan harus disyukuri.
      Saya menikah di usia 25 tahun. Suami saya adalah teman di lokasi Kuliah Kerja Nyata saat masih kuliah (eh iya ini juga salah satu hal yang membuat saya tak perlu merasa kuliah yang sia-sia karena dengan menuntut ilmu di bangku kuliah saya jadi ketemu jodoh hehehe). Kondisi keuangan kami sebagai pasangan muda tak dapat dikatakan sempurna meski juga tidak kekurangan. Suami saya bahkan sempat terPHK di usia dua tahun pernikahan kami. Sepanjang 14 tahun pernikahan sang suami mengalami Pemutusan Hubungan Kerja sebanyak 7 kali. Sungguh kehidupan berumahtangga yang lengkap pasang surutnya tapi berat badan tak kunjung surut juaaa.
      Oh iya, tentang berat badan. Saya juga heran nih, semasa kuliah berat badan saya paling bangter 44 kilogram dengan tinggi 160 cm, kini sebagai ibu dari dua anak berat badan saya mencapai 68 kilogram padahal tinggi badan tidak berubah. Sebuah “prestasi” tersendiri hihihi. 
         Masa dewasa alias masa-masa menjadi ibu juga merupakan masa titik balik yang sangat berarti sebab saya merasa lebih dekat dengan Illahi. Dengan sedikit malu-malu saya mengakui bahwa saya baru mengenakan jilbab sekitar 5-6 tahun lalu ketika kami baru menempati rumah baru setelah 8 tahun bertahan di rumah yang langganan kebanjiran. Saya memutuskan mengenakan jilbab saat menyadari bahwa karunia Allah begitu besar namun perintahNya yang mewajibkan untuk menutup aurat tak kunjung saya jalani dengan benar. Semoga saya bisa istiqomah mentaati perintahNya dan menjadi insan yang lebih baik lagi dari hari ke hari.


      Kita mungkin tak dapat kembali ke masa lalu, memperbaiki yang keliru menjadi yang benar seperti seharusnya, mencegah perbuatan salah menjadi lebih lurus dan barokah namun setiap tahapan kehidupan pasti membawa hikmah dan pelajaran agar kesalahan yang sama tak pernah terulang.

"Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway"


Tuesday, March 8, 2016

Do and Don't : Solar Eclipse, Indonesia 2016

Saya sengaja menulis tentang fenomena gerhana matahari total yang melintasi sebagian bumi Indonesia, sehari sebelumnya. Sekedar mengingatkan diri sendiri tentang "Do and Don't" yang seharusnya saya perhatikan saat terjadi fenomena alam yang dahsyat dan jarang terjadi.


Apa itu gerhana matahari?
Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan berada tepat di antara bumi dan matahari. Jika direnungkan fenomena ini sangat menakjubkan. Bagaimana tidak, tiga benda langit yang memiliki masing-masing memiliki garis orbit bisa berada dalam posisi sejajar pada hitungan waktu tertentu, dan dapat disaksikan pada belahan bumi tertentu pula.


Apa yang harus dilakukan ketika terjadi gerhana matahari?
1. Bagi umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan sholat kusuf, sholat gerhana. Dengan tata cara : berwudhu', tanpa adzan dan iqamat namun salah seorang jamaah akan mengucapkan assholatul jami'ah untuk menandakan sholat gerhana akan segera dilaksanakan (itu sebabnya masjid dan tempat tertentu yang mengadakan sholat gerhana biasanya menginformasikan waktu diselenggarakan sholat gerhana minimal beberapa jam atau sehari sebelumnya dengan harapan jamaah sholat berkumpul sesegera mungkin). Sholat gerhana merupakan sholat sunnah 2 rokaat dengan empat ruku dan empat sujud, ruku dan sujudnya lebih panjang daripada sholat-sholat lainnya. Urutan sholat kusuf adalah : takbiratul ikhram sambil mengucapkan niat sholat sunnah gerhana dua rakaat dalam hati, membaca doa iftitah, membaca Al Fatihah, membaca surat-surat panjang (saya pernah mengikuti sholat gerhana bulan dan sang imam membaca Al Baqarah sepanjang sholat), ruku' dengan membaca doa ruku', bangun dari ruku sambil membaca sami 'allahu liman hamidah. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat panjang namun durasinya lebih pendek dari surat yang dibaca pertama. Kemudian ruku' lagi, bangkit dari ruku' ('itidal) lalu sujud, duduk di antara dua sujud lalu sujud lagi. Rokaat kedua dilakukan sama seperti rokaat pertama. Tasyahud lalu salam. Kemudian dengarkan khotbah dengan tenang agar mendapatkan hikmah.

2. Selain sholat kusuf, sebagai umat Islam saat terjadi gerhana disunnahkan untuk memperbanyak dzikir, bertaubat, berbuat lebih banyak kebaikan dan bersedekah.

3. Nonton gerhana. Boleh, nggak dilarang kok tapi harus paham benar cara melihat gerhana matahari demi keamanan dan kesehatan mata. Jika gerhana bulan bisa dilihat secara langsung oleh mata telanjang tidak demikian halnya dengan gerhana matahari. Sebab matahari memancarkan sinar ultraviolet dan pancaran radiasinya berbahaya pada saat-saat tertentu.

Apa yang tidak boleh dilakukan ketika terjadi gerhana matahari

Saat terjadi gerhana matahari jangan korupsi, mencuri, mencaci, memendam iri hati ...iiih meski nggak sedang gerhana sebaiknya memang tidak melakukan kemaksiatan. Apalagi saat terjadi gerhana disunnahkan lebih banyak bertaubat. Tetapi bukan berarti taubatnya nunggu terjadi gerhana. Gerhana matahari merupakan salah satu fenomena bahwa matahari, bumi dan bulan pun tunduk pada perintah Allah. Gerhana adalah salah satu bentuk dzikir ciptaanNya atas segala kehendakNya, nah masa manusia yang diberikan banyak nikmat dan rezeki nggak tobat-tobat juga?

Apalagi yang tidak boleh dilakukan saat terjadi gerhana matahari? yap, jangan melihat langsung, mengamati proses terjadinya matahari dengan mata telanjang. Intensitas cahaya yang sangat tinggi dari matahari berpotensi merusak retina mata jika mata dipaksakan langsung mengamati proses terjadinya gerhana matahari. Kebayang kan seperti perubahan tiba-tiba seperti saat kita baru dari keliling lapangan di bawah terik matahari lalu masuk ke ruangan gelap atau sebaliknya pasti mata terasa tak nyaman. Jadi boleh nonton gerhana melalui live streaming, kacamata berfilter untuk menahan radiasi matahari atau melalui bayangan di baskom air.

Mudah-mudahan besok 9 Maret 2016 berkesempatan untuk menjalankan  "Do" dan benar-benar menghindari "Don't"


Wednesday, March 2, 2016

Bangkrut Tak Membuat Surut

Wirausaha, Secercah Cahaya      

       Berwirausaha, seberkas rencana yang seringkali singgah di benak  ketika mulai merasa lelah bekerja jauh dari rumah. Kehati-hatian dalam mengasuh anak pertama menjadi alasan utama saya sempat break dari dunia kerja karena tak kunjung mendapatkan pengasuh yang cocok untuk si kecil. Akhirnya tinggal di rumah tanpa kegiatan lain membuat saya bosan. Iseng baca-baca iklan peluang bisnis di koran eh ada peluang menjadi agen pulsa. Waktu itu, sepuluh tahun lalu agen pulsa belum menjamur seperti sekarang. Lumayanlah buat sambilan. Ketika anak saya sudah memasuki usia balita dan kondisi finansial keluarga memaksa saya kembali bekerja kantoran, sambilan sebagai agen pulsa tetap berjalan. 
    Enak yah, sudah terima gaji bulanan masih dapat sambilan. Sepintas jika dilihat sisi positif memang terasa nikmat. Tapi jangan ditanya bagaimana kondisi psikis saya, lelahnya lahir batin. Tempat kerja jauhnya 30 kilometer dari rumah dan setahun terakhir sebelum resign saya harus berjibaku dengan keruwetan mengatur waktu karena memilih tanpa Asisten Rumah Tangga. 
    Kelelahan ditambah dengan kehadiran anak kedua membuat saya kembali berpikir untuk berwirausaha yang mampu memberikan hasil setara gaji saat itu. Ada nggak sih wirausaha yang modal kecil hasil maksi tapi ngga perlu susah payah hehey. Euy, maruk banget ya pengennya leha-leha di rumah lalu terima pendapatan seperti biasa. 
       Cari info kesana kemari saya kemudian menetapkan hati membuka waralaba teh seduh dalam gelas packaging. Lokasi kios pilihan suami cukup strategis, di teras minimarket perempatan jalan yang ramai dan padat penduduk. Mengikuti saran pakar keuangan untuk "tidak meletakkan telur dalam satu keranjang" kami pun merintis usaha lain yaitu membuka kios busana anak-anak sekaligus berjualan teh seduh dalam kemasan, lokasinya dekat rumah. Pikir saya saat itu jika satu jenis bisnis sepi, bisnis yang lain masih menghasilkan sesuai harapan. Tabungan saya sejumlah 10 juta rupiah ludes sebagai modal dua jenis wirausaha tersebut.
      Dua bulan pertama saya dan suami sangat puas dengan hasil penjualan teh seduh dalam kemasan dari gerai di teras minimarket. Setelah dipotong sewa tempat, biaya operasional dan gaji pegawai kami masih mengantongi keuntungan bersih sembilan ratus ribu rupiah per bulan. Nominal yang lumayan untuk seorang pemula, pikir saya. Toh jika penjualan stabil dalam setahun bisa cepat balik modal.

Bangkrut Tak Bersisa

        Ketika gerai teh seduh menyemai harapan, usaha kios pakaian tak terlalu menggembirakan hingga akhirnya kami memutuskan berbagi tempat dengan penjual lontong kikil yang biasa mangkal di depan perumahan dengan sistem patungan sewa tempat. Lumayan lah, penjualan teh kami lebih stabil karena dikonsumsi pelanggan lontong kikil yang makan di tempat. Selain baju anak-anak yang mulai sepi dilirik konsumen suami menambahkan barang dagangan parfum botolan.
     Ternyata kebahagiaan kecil tersebut tak berlangsung lama. Seiring dengan tekanan di dunia kerja suami yang menuntut totalitas pegawai dan berhentinya pekerja kami yang rajin maka kontrol terhadap wirausaha waralaba teh seduh menjadi tak menentu. Penjualan teh semakin menurun, saya sendiri tak mengerti penyebabnya apakah faktor penjaga kios yang berganti turut berpengaruh atau ramainya penjualan di awal usaha hanya sekedar dampak dari rasa penasaran masyarakat terhadap produk baru. Hingga akhirnya kami tak lagi mampu membayar sewa tempat dan fee waralaba, gerobak kami pun disita. 
    Kebangkrutan di satu sisi ternyata diikuti dengan kerugian di kios yang kami sewa secara patungan bersama pedagang lontong kikil. Penghasilan dari penjualan parfum dan teh dalam kemasan di kios ini tak lagi mampu menutup sewa tempat yang mendadak naik signifikan setelah berganti tahun.
       Wirausaha kami bangkrut tak bersisa. Sisa stock baju anak yang dahulu saya beli seharga 2,5 juta rupiah ditawar orang 500 ribu rupiah. Tapi saya memilih menyumbangkannya untuk anak-anak panti asuhan dalam sebuah event amal. Entahlah saya berpikir daripada sakit hati dengan kebangkrutan ini lebih baik berharap berkah Illahi dengan belajar berbagi. Penjaga kios kami sempat mewanti-wanti sebelumnya bahwa diperlukan "syarat dari orang pintar" agar bisnis kami tidak bangkrut dan tetap ramai pembeli. Saya menolak halus, bagi saya kerugian di dunia tak seberapa dibandingkan saya harus menanggung kerugian di akherat karena telah menduakan Tuhan dengan "sesuatu" yang diharapkan sebagian orang bisa memberikan kesuksesan dan kekayaan.
    
Bangkit dari Kebangkrutan

    Akhirnya kedua bisnis tersebut benar-benar tutup padahal keduanya saya impikan menjadi sumber penghasilan ketika berhenti menjadi karyawan. Kelelahan yang menerpa memaksa saya memilih apakah kembali menjadi ibu rumahan atau tetap bekerja di luar rumah dan berjibaku dengan waktu. Saya lelah dan memilih kembali ke rumah meski belum punya sumber penghasilan lain selain sebagai agen pulsa. Bahkan penghasilan sebagai agen pulsa yang sempat mencapai 700 ribu per bulan bisa turun drastis hingga 150 ribu rupiah saja. 
      Uniknya kegagalan saya ini malah menjadi ide menulis kisah untuk antologi Curhat Bisnis yang diterbitkan Penerbit Calista. Tema usaha bangkrut berhasil meloloskan naskah saya dalam seleksi antologi dan berharap menjadi inspirasi. 

     Dua wirausaha saya tersebut bangkrut sudah. Tapi saya tak mau menyerah. Bangkrut tak membuat surut. Belajar dari pengalaman kebangkrutan kami menganalisa sebab-sebab kerugian. Antara lain kurang serius dalam mengelola usaha dan biaya operasional jauh lebih besar daripada pendapatan. 
     Berbekal sisa tabungan saya yang hanya dua juta rupiah kami merintis wirausaha baru yaitu membuka loket PPOB (Payment Point Online Bank) di rumah, setidaknya kami tidak mengeluarkan biaya sewa tempat. Laptop dan printer tidak perlu membeli karena memanfaatkan milik pribadi. Gaji pegawai? nggak perlu karena saya menjaganya sendiri. Sebagai bagian dari promosi mengenalkan layanan loket , kami menyebarkan brosur yang diperoleh dari Bank penyedia layanan ini, lengkap dengan banner untuk dipasang di teras rumah. Langkah promosi yang murah dan mudah.
     Kini kami sedang merintis wirausaha baru sebagai agen makanan ringan produk UKM. Awalnya hanya kebetulan, ketika saya menghadiri undangan sebagai blogger dalam acara launching produk dari UKM ternama di kota kami. Eh keterusan, jatuh cinta pada produk dan program CSRnya untuk membantu anak yatim dan ibu melahirkan dari kaum dhuafa saya malah menjadi salah satu agen dari produk camilan andalannya. Modalnya jauh lebih murah daripada modal saat saya memulai wirausaha teh seduh dan baju anak-anak beberapa tahun lalu. Saya memanfaatkan produk dalam goodie bag pada acara launching produk tersebut sebagai tester untuk menarik minat konsumen. Hasilnya tak terduga, hampir seratus pack produk terjual dalam waktu seminggu. Konsumennya sebagian besar rekan kerja suami. 
                                                                                                                                                                                    Sebagai Agen Kripik Pisang Gobana dan makaroni Rendam Produksi UKM Mekarsari

      Saya belajar sesuatu yang baru dari wirausaha yang sedang kami jalani bahwa dalam memasarkan produk perlu membidik pasar konsumen tertentu. Misalnya memasarkan snack dengan rasa dan kemasan premium yang sedang kami jalani kurang mendapat sambutan jika ditawarkan untuk lingkungan rumah tangga. Namun di lingkungan pegawai kantoran hasil penjualannya cukup signifikan. Produk snack unik tersebut juga lebih laku jika ditawarkan sebagai gift sebab jika instansi tempat suami bekerja kedatangan tamu, produk tersebut laku dibeli manager HRD sebagai cendera mata.

    Kita tak pernah tahu dari arah mana pintu rezeki terbuka. Kewajiban sebagai insan manusia hanya tak lelah berikhtiar dan melantunkan doa. Dalam antologi Curhat Bisnis tentang kegagalan kami saya sempat mempertanyakan pada diri sendiri benarkah ada Faktor X dalam berbisnis seperti bakat dan garis tangan. Kini saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut bahwa selalu ada hikmah di balik musibah, bahkan bangkrut pun mengajarkan sesuatu yang patut dan pantang membuat kita surut.

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Semua Tentang Wirausaha yang diselenggarakan oleh Suzie Icus dan Siswa Wirausaha
ga