Google+ Followers

Tuesday, March 15, 2016

My Life Story : A Mother is A Transformer




Mother is A Transformer, rasanya ungkapan itu paling cocok buat saya. Setelah menjadi ibu saya merasa mengalami perubahan signifikan termasuk perubahan berat badan. Tidak hanya mengalami transformasi finansial tetapi juga semangat spiritual. Orang-orang yang pernah mengenal masa kecil saya pasti kaget melihat saya sekarang : kok bisa gemuk, kok jadi ceriwis? Ya iyalah lha saya dulu lebih dikenal sebagai anak ceking, pendiam cenderung kuper sekarang menjadi emak beranak dua dengan berat badan naudzubillah dan cerewetnya “Oh My God” punya. Apakah saya menyesal dengan perubahan ini. Tidak, hidup adalah proses dan perubahan yang mungkin tak terpikir sebelumnya. Semua yang terjadi nikmati saja.
Transformasi yang saya alami mungkin adalah bagian dari proses agar saya lebih memahami hakekat hidup ini. Perubahan yang saya alami tidak terjadi seperti main sulap, baca mantra hap hap lalu berubah dalam sekejap namun melalui tahapan yang setiap prosesnya saya nikmati sepenuhnya. Senangnya berpartisipasi dalam #Bundafinaufara1stGiveaway adalah saya bisa bernostalgia tentang masa kecil, remaja hingga menjadi bunda.
Masa Kecil
     Saya lahir 9 April 1976, insyaAllah tahun ini genap 40 tahun usia. Terlahir di tengah keluarga sederhana tidak menyebabkan kami, empat bersaudara kehilangan masa kecil yang bahagia. Meski lahir dengan berat badan 3,6 kilogram tetapi menginjak usia kanak-kanak saya dikenal sebagai si ceking. Masih teringat Papa sering memarahi saya karena pilih-pilih makanan dan memilih mogok makan jika masakan Mama tak sesuai selera. Bisa ditebak kemudian selama bertahun-tahun saya menderita penyakit maag dan sering kambuh hingga bolos sekolah.
      Dalam benak kembali terbayang masa kecil yang cukup menyenangkan namun saya tergolong anak yang kuper dan minder. Hanya beberapa teman dekat yang bisa bergaul erat dan saya sering grogi, tak mampu berkata-kata di depan orang yang belum saya kenal. Hiks bahkan saya tak berani meminta kembali gelang monel hadiah dari kakek ketika terjatuh di halaman sekolah dan dipungut orang lain tepat di depan mata.


Masa Remaja
      Meski dikenal sebagai sosok pendiam dan kutu buku tetapi keluwesan saya dalam bergaul lebih baik dibandingkan masa kecil. Ketika duduk di bangku sekolah SMP dan SMA saya memiliki beberapa sahabat yang terkadang masih saling sapa dan mengunjungi hingga saat ini. Rasa syukur tersemat dalam hati mengingat masa remaja yang cukup berprestasi. Selama duduk di bangku SMP saya mampu meraih rangking satu dan ketika menginjak kelas dua sempat mencicipi hadiah bebas uang SPP sesuai kebijakan sekolah saat itu bagi peraih prestasi.
      Kurus, pendiam, kutu buku seolah menjadi trade mark saya saat itu. Meskipun demikian bukan berarti menjadi sosok introvert yang penakut. Sekolah SD dan SMP yang 5 kilometer jauhnya dari rumah saya tempuh dengan bersepeda. Bahkan saat duduk di kelas 5 SD saya sempat mengalami kecelakaan dan menderita gegar otak ringan dan menyebabkan sering menderita sakit kepala hingga sekarang.
      Selama SD hingga SMP hampir selalu meraih rangking satu tentu kenangan yang membahagiakan apalagi ketika DANEM saya sempat menjadi nomor empat sekotamadya ketika lulus SMP dan masuk 10 besar di SMA favorit. Meski demikian saya tetaplah Yeni – panggilan buat saya dari orang rumah - yang pemalu dan tidak banyak bicara. SMA favorit di kota kecil kami saya tempuh dengan berjalan kaki, menyusuri pematang sawah dan selalu gemetaran ketika bertemu ular sawah atau harus berlari-lari untuk menyingkir dari rel ketika peluit tanda bahwa kereta segera melintas terdengar dari kejauhan.
      Masa SMA inipulah saya mengenangnya sebagai masa duka. Ayah meninggal dunia ketika saya duduk di kelas dua. Sejak saat itu kondisi keluarga kami berubah drastis. Dari keluarga sederhana yang pas-pasan menjadi kekurangan karena ibu adalah ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan. Untuk biaya sekolah ibu menjual separuh pekarangan rumah dan terpaksa meminta bantuan seikhlasnya pada kerabat yang bersedia memberikan bantuan. Bertahun-tahun ibu menerima sumbangan ala kadarnya dari sepupu dari pihak ayah dan paman adik kandung ibu.
      Hidup dalam keterbatasan tidak membuat kami patah semangat dalam menempuh pendidikan. Adik lelaki saya diterima di pendidikan kedinasan, adik perempuan saya menuntut ilmu di Sekolah Menengah Farmasi di Surabaya dan saya berhasil lolos UMPTN di sebuah universitas terkemuka di kota Malang. Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan beasiswa sejak duduk di tingkat II hingga lulus di tahun keempat kuliah. Kost-kostan saya lumayan jauh dari kampus demi mencari tarif murah. Saat itu sekitar tahun 1994 tarifnya sekitar 20 ribu rupiah setiap bulan. Uang saku saya berasal dari hasil penjualan pekarangan rumah yang dibayarkan secara bertahap oleh pembelinya. Berbekal 75 ribu sebulan padahal 20 ribu untuk membayar sewa kamar artinya saya harus mampu bertahan hidup dengan 55 ribu. Nasi bungkus 400 rupiah atau mi instan adalah menu saya sehari-hari. Bagi saya makan cukup dua kali sehari asal tetap bisa hidup saja dan sesegera mungkin meraih gelar sarjana.
      Hidup jauh dari Ibunda, keterbatasan biaya mungkin menjadi salah satu faktor penguat motivasi bagi saya untuk berubah menjadi semakin lebih baik. Di dunia perkuliahan saya mengenal lebih banyak teman dari berbagai kalangan. Saya juga dituntut aktif dalam organisasi kampus atau kegiatan kemahasiswaan demi syarat mendapatkan beasiswa. Kemungkinan aktivitas di kampus ini pula yang perlahan mengubah saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dan lebih supel dalam bergaul.
Tebak, manakah saya?

Masa Dewasa
      Saya berhasil meraih gelar sarjana setelah 4 tahun menuntut ilmu. IP (Indeks Prestasi) 3,21 untuk lulusan Fakultas MIPA, Jurusan Kimia saya pikir menjadi bekal yang berharga bersaing di dunia kerja. Ternyata perkiraan ini salah. Cita-cita sebagai karyawan tak kunjung kesampaian. Saya pun sempat bekerja serabutan di tambak ikan. Selain membantu pekerjaan mengurus tambak saya juga memberikan les bahasa Inggris bagi anak sulung ekspatriat Taiwan sebagai pengelola tambak ikan. Setahun kemudian barulah saya diterima bekerja di perusahaan pelayaran internasional dengan gaji 500 ribu sebulan. Pernah terlintas pikiran: ternyata ilmu Kimia yang saya dapatkan di bangku kuliah terbuang percuma karena yang dibutuhkan dalam pekerjaan saya adalah kemampuan berbahasa asing dan keterampilan komputer. Namun lebih baik menghibur diri sendiri dengan memahami bahwa jalan hidup adalah takdir yang tak bisa dipungkiri dan harus disyukuri.
      Saya menikah di usia 25 tahun. Suami saya adalah teman di lokasi Kuliah Kerja Nyata saat masih kuliah (eh iya ini juga salah satu hal yang membuat saya tak perlu merasa kuliah yang sia-sia karena dengan menuntut ilmu di bangku kuliah saya jadi ketemu jodoh hehehe). Kondisi keuangan kami sebagai pasangan muda tak dapat dikatakan sempurna meski juga tidak kekurangan. Suami saya bahkan sempat terPHK di usia dua tahun pernikahan kami. Sepanjang 14 tahun pernikahan sang suami mengalami Pemutusan Hubungan Kerja sebanyak 7 kali. Sungguh kehidupan berumahtangga yang lengkap pasang surutnya tapi berat badan tak kunjung surut juaaa.
      Oh iya, tentang berat badan. Saya juga heran nih, semasa kuliah berat badan saya paling bangter 44 kilogram dengan tinggi 160 cm, kini sebagai ibu dari dua anak berat badan saya mencapai 68 kilogram padahal tinggi badan tidak berubah. Sebuah “prestasi” tersendiri hihihi. 
         Masa dewasa alias masa-masa menjadi ibu juga merupakan masa titik balik yang sangat berarti sebab saya merasa lebih dekat dengan Illahi. Dengan sedikit malu-malu saya mengakui bahwa saya baru mengenakan jilbab sekitar 5-6 tahun lalu ketika kami baru menempati rumah baru setelah 8 tahun bertahan di rumah yang langganan kebanjiran. Saya memutuskan mengenakan jilbab saat menyadari bahwa karunia Allah begitu besar namun perintahNya yang mewajibkan untuk menutup aurat tak kunjung saya jalani dengan benar. Semoga saya bisa istiqomah mentaati perintahNya dan menjadi insan yang lebih baik lagi dari hari ke hari.


      Kita mungkin tak dapat kembali ke masa lalu, memperbaiki yang keliru menjadi yang benar seperti seharusnya, mencegah perbuatan salah menjadi lebih lurus dan barokah namun setiap tahapan kehidupan pasti membawa hikmah dan pelajaran agar kesalahan yang sama tak pernah terulang.

"Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway"


4 comments:

  1. masih mending mba 44 kg waktu kuliah, saya malah cuma 39 kg hihi... saya emang ceking :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahay saya juga terlihat super ceking dengan tinggi 160 cm berat 44 kg mbak Santi :)

      Delete
  2. Hihi..prestasi kita sama kalo soal berat badan mbak..dulu saya cuma 42 kg, sekarang 70 kg..wkwkwk
    makasih sudah ikutan GA saya ;)

    ReplyDelete