catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Teras Dipa 678

Beberapa kali perjalanan lewat tol panjang Surabaya-Madiun, kami selalu bertanya-tanya apaan sih bangunan berbentuk lingkaran di tol yang masuk rest area daerah Jombang ini. Mau bikin mall? siapa yang bakal mampir lah di jalan toll kan orang butuh perjalanan cepat, bukan mampir untuk shopping. Dilihat dari arsitektur gedungnya sepertinya bakalan jadi bagus dan instagramable deh.
Dulu sempat mampir di lahan parkir rest area untuk makan bekal, tapi gedungnya masih dalam proses pengerjaan.

Nah barulah pertanyaan kami terjawab saat perjalanan mengunjungi santri 16 Agustus lalu. 
Ternyata bangunan ini difungsikan sebagai rest area one stop service. Di sini, rest area yang dinamai Teras Dipa 678, karena terletak pada KM 678 Tol Trans Jawa. Tersedia mushola yang bisa disebut masjid kecil karena begitu luasnya. Ada toilet yang representatif, minimart 24 jam dan foodcourt. 

Waktu kami mampir untuk menunaikan sholat subuh, foodcourtnya belum buka, tapi minimartnya tetap beroperasi dan ada bangku bermeja untuk tempat duduk di depan minimart jika ingin menikmati mie instan seduh.

Tempat wudhunya bagus. Wanita dan pria terpisah. Tempat wudhu untuk wanita dilengkapi tirai sehingga yang berhijab ngga perlu khawatir buka kerudung untuk berwudhu. Tetapi toiletnya terpisah jauh dari lokasi masjid dan tempat wudhu. Untuk ke toilet harus naik melalui tangga yang tampak dari luar bangunan. Bagi yang sudah sepuh cukup menguras tenaga, untung kita-kita kehitung masih muda hehehe.

Mushola (atau masjid) masyaAllah bagus sekali. Sangat indah dan bersih. Pencahayaan dan sirkulasi udaranya keren, sholat di sini terasa sejuk seperti berada di tanah lapang. Hanya sayangnya saya tidak menemukan petunjuk arah kiblat seperti yang terpasang di kamar penginapan atau masjid besar yang mudah ditandai dengan adanya ruang/ceruk untuk imam sholat. 

Setelah bertanya ke salah satu musafir yang juga mampir untuk sholat subuh, barulah dibantu aplikasi kompas di Hpnya ketemu arah kiblat. Ternyata ornamen dari kayu yang menjulang seperti pagar itu bisa jadi dimaksudkan sebagai penanda arah barat/kiblat. 

Jadi rak lemari berisi mukena itu berada di belakang jamaah. Jamaah wanita berada di sisi kiri jamaah pria, dimana ruang sholatnya dibatasi tirai panjang. Kalau nggak berusaha tanya atau mencari arah kiblat bisa salah ambil posisi sholat, sebab jamaah wanita bisa saja berada di belakang pria.

Alhamdulillah, perjalanan yang dimulai dari pukul 03.10 dini hari dari Sidoarjo, pas tiba di Teras Dipa 678 jam 04.15. Kami masuk tol melalui gerbang Warugunung yang terdekat dengan Sukodono. Pas banget menjelang adzan subuh berkumandang.Qodarullah ada dua rombongan yang mampir dan kamipun bisa sholat berjamaah subuh sebelum melanjutkan perjalanan.

Jika teman-teman sedang travelling melintas tol Surabaya-Madiun, silahkan mampir di Teras Dipa 678. Jangan lupa foto-foto ya (seperti saya)

Share:

Dirgahayu Indonesiaku, Aku Akan Selalu Mencintaimu



Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Pekik Merdeka kembali menggema
di setiap jengkal nusantara ketika 17 Agustus tiba

Narasi-narasi perjuangan kembali mengangkasa
menggelorakan cinta pada tanah air, nusa dan bangsa.
Di pagi yang hening dan sisa embun menghias dedaunan
Aku menatap cermin dan melontarkan pertanyaan
"apa arti kemerdekaan?"
Masihkah kita perlu berteriak di media-media sosial
 "NKRI harga mati!, Kami Indonesia Kami Pancasila"
jika sesama saudara sebangsa tak kunjung berhenti bertikai karena berbeda pilihan.
Jika kebanggaan akan Indonesia hanya berupa kata-kata yang tersimpan rapi penuh hiasan
tapi tak ada yang bisa kita berikan kecuali berebut kekuasaan
Jika bibir berkata cinta
tetapi lebih bangga mengenakan produk-produk mancanegara karena lebih murah harganya
atau demi gengsi belaka
Jika diminta sedikit berkorban tetapi berhari-hari keluhan dilampiaskan.

Aku mungkin seperti mereka, yang...
mengaku merah darah dan putih tulang
tetapi ketika diminta berjuang malah lari lintang pukang
yang
meneriakkan merdeka tetapi masih merasa terjajah hutang
Padahal dalam hati tersimpan ribuan hujan kata-kata menghujam dada
yang tak bisa kulampiaskan dengan segenap rasa
betapa perasaanku bercampur baur antara cinta dan nestapa
Di negeri yang konon tongkat dilempar jadi tanaman,
bahan pangan harus diimpor dari luar
namun tak ada sumbangsih yang bisa aku berikan 
sebagai penawar
Di negara yang masyarakatnya dikenal ramah tamah
 kini kulihat mudah melontarkan sumpah serapah,
tanpa aku bisa berbuat apa-apa selain jengah.
Hutan-hutan tropis terbakar
tetapi aku hanya peduli bagaimana bendera merah putih tetap berkibar
Sampah-sampah berserakan 
dan aku tak tergerak membuat perubahan
yang penting Merdeka! kuteriakkan paling lantang di tengah kerumunan.

Namun 
sampai kapanpun
Aku akan selalu mencintai Indonesia
negeri elok zamrud khatulistiwa
negeri tempat aku berkarya
dengan segenap kemampuan dan sebatas ilmu pengetahuan
negeri yang namanya selalu kutitipkan dalam doa-doa kepada Tuhan
agar kelak terwujud kemakmuran dan 
senantiasa aman sentosa penuh kedamaian
di sini aku tetap merasa merdeka
meski baru sebatas merdeka menuliskan kata-kata
renungan Revu Indonesia 17an



Share:

Interaksi Vertikal dan Horisontal Manusia


Usai subuh suatu hari, saya terkesan dengan lukisan alam yang terbentang di langit yang mulai merona. Membentuk garis-garis horisontal di cakrawala. Pengen mengabadikan sendiri dengan kamera Hp seperti biasa tetapi waktu pagi adalah saat sibuk-sibuknya emak rumahan seperti saya. Walhasil si bungsu jadi andalan. Qodarullah, mungkin ia sudah paham bakal diminta emaknya motret lukisan langit seperti saat memotret awan berbentuk kapas kecil-kecil alias Cumulus tertimpa sinar mentari yang baru terbit temp hari. Maka sebelum keluar perintah eeh dia sudah melakukan isi hati si emak.
Bagus kan?

Garis-garis horisontal di cakrawala ini bagi saya adalah pengingat bahwa kelak yang dihisab bukan hanya kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Sang Pencipta, tetapi juga dengan lingkungan di sekitar dan sesama manusia.

Apa jadinya jika kita menyakiti perasaan, berkomentar tentang sesuatu yang tak berkenan di qalbu seseorang yang akan diingatnya sepanjang masa. Padahal kita lupa, tak merasa bahwa kita telah melukai hati bahkan tak sempat meminta maaf kepadanya?

Jungkir balik sholat wajib tepat waktu ditambah sunnah-sunnah, rajin tilawah dan menghafalkan Al Quran, tetapi sedekah infaq zakat dan qurban susaaahnya karena eman-eman, bukan karena nggak punya duit simpanan.
Sebaliknya, rajin membantu sesama, ringan tangan dan nggak kehitung kalau bersedekah. Tetapi ibadah sesuai syariat diabaikan begitu saja. Sayang sekali bukan?

Begitulah, Islam mengingatkan bahwa manusia hidup berinteraksi secara vertikal dan horisontal. Ada interaksi dengan Sang Pencipta, tetapi tak boleh abaikan interaksi dengan lingkungan dan sesama manusia.
Semoga kita tak pernah lupa.....

Share:

Idul Adha 1440 H

Rasa-rasanya waktu berjalan cepat sekali. Tiba-tiba sudah Idul Adha lagi. Idul Adha kali ini saya cuti sholat Ied, kebetulan pas libur sholat, ngga dapat puasa Arofah juga. Sedih gimana, hla kita tinggal menjalani takdirNya saja. Tapi saya titip fotoin matahari 10 Dzulhijjah ke anak dan suami pas mereka berangkat ke masjid. Biasalah demi konten blog heheehe.


Banyak juga quiz-quiz bertema Idul Adha, tetapi saya cuma bisa ikutan satu doang karena persyaratannya mudah sekali, hanya perlu upload foto masakan olahan daging qurban atau pas makan-makan masakan hasil olahan daging qurban.


Kebetulan hampir tiap tahun saya ikut membantu tim konsumsi panitia penyembelihan qurban di masjid AL Ukhuwwah. 

Bahan fotonya mudah didapatkan, perkara menang atau kalah itu urusan takdir yang telah ditetapkan.

Beberapa hasil dokumentasi saya, simpan di sini aja ah, buat kenang-kenangan sekaligus agar memori Hp nggak kepenuhan.


Ada juga quiz alias lomba foto bareng hewan qurban. Hahaha aduh saya nggak pede mau ikutan ini, lagipula kalau qurbannya titip via filantropi kan nggak bisa diajak foto bareng hehehehe. 
Ngomong-ngomong biasanya kawan-kawan kalau qurban lebih suka pakai cara bagaimana? disembelih dan didistribusikan sendiri, titip ke panitia qurban di masjid/kantor atau via filantropi? Semua pasti punya preferensi sendiri-sendiri. Ada yang pilih titip panitia di masjid atau kantor agar teman dan tetangga kebagian, ada yang titip filantropi dengan tujuan agar hewan qurban diserahkan ke daerah-daerah minus yang sangat membutuhkan. Ada juga yang sangat berusaha meneladani sunnah Rasulullah dengan menyembelih dan mendistribusikan sendiri.
Semua sah-sah saja asal niatnya Lillahi ta'ala. Apakah  "kewajiban" berqurban bagi yang mampu saja? ukuran mampu itu bagaimana? Kalau dikatakan mampu berqurban itu yang punya penghasilan sekian-sekian nyatanya ada pemulung di Lombok yang menabung bertahun-tahun untuk bisa membeli seekor sapi qurban seharga 10 juta rupiah. Jika ukuran mampu itu usis dewasa dan punya penghasilan, nyatanya ada 7 anak SD yang menyisihkan uang jajan selama setahun untuk patungan beli satu sapi. 
Maka ukuran mampu itu menurut saya dimampukan Allah secara ekonomi maupun niat yang tertanam dalam hati.
Ada baiknya kita mendawamkan doa agar mampu berqurban setiap tahun, dilapangkan rezeki dan juga hati. Karena jika hanya lapang rezeki saja tetapi niat dalam hati nggak ada ya nggak bakal bisa berqurban. Sebaliknya jika hanya mohon kelapangan hati tapi rezekinya seret dan terlalu banyak kebutuhan untuk dicukupi bisa jadi berqurban malah menjadi beban.
Bismillah, semoga kita senantiasa dimampukan Allah untuk mentaati perintahNya dan menjauhi larangannya sebagai bentuk kesabaran dan kesetiaan kepada Sang Kuasa.

Share:

Syair-syair dan Pesan Bagi Para (Santri) Pejuang

"Anak di pesantren, ayah ibunya nggak repot-repot mendidik,nggak pusing anak lagi ngapain, ngga butuh ilmu parenting" waduh anggapan ini tidak benar sepenuhnya. Bagaimanapun kelak yang dimintai pertanggungjawaban mengenai sang anak di hadapan Allah itu ayah ibu, bukan kyai, ustadz atau guru.

Jika ditinjau dari kuantitas, interaksi fisik dengan anak yang dititipkan di pesantren tentu berbeda dengan kuantitas interaksi dengan anak yang tinggal bersama orang tua hampir 24 jam sehari. Namun interaksi, hubungan batin ayah-ibu dan anak tidak bisa terputus hanya karena perbedaan jarak.
Toh menuntut ilmu di pondok juga tidak seumur hidup, ada saat berlibur, ada saat lulus dan kembali ke rumah meski kelak ada waktunya untuk melanjutkan kuliah. Pada momen inilah peran orang tua dalam mengaplikasikan gaya parenting sangat menentukan. Bagaimana agar bersinergi dengan pendidikan pondok, bagaimana mensupport agar sang anak tidak terbuai "kebebasan" ketika berada di luar pagar pondok, bagaimana meyakinkan sang anak untuk kembali ke pondok usai libur panjang dan mengingatkan bahwa orang tua mengirim mereka menuntut ilmu di tempat yang jauh bukan karena dibuang, melainkan untuk berjuang.

"Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang. Hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang"
~ Buya Hamka.


Anak-anak yang tumbuh di pesantren memang terlihat jauh lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan. Mereka terbiasa mandiri dalam menghadapi masalah. Namun tidak serta merta orang tua melepaskan sepenuhnya tanggung jawab mendidik putra-putrinya.
Pesantren hanyalah miniatur kehidupan bermasyarakat. Bukan lembaga yang menjanjikan tiket surga. Sebab masuk surga adalah rahmat Allah semata, bukan karena kehebatan kita dalam beribadah. Namun bisa jadi jika niatan kita menyekolahkan putra-putri kita agar lebih memahami firman-firmanNya, ayat qauliyah dan kauniyah dengan mengirim mereka menuntut ilmu di pondok pesantren, akan menjadi salah satu sarana jalan menuju jannah.
Maka bagi para santri dan wali santri yang berjuang, berjuang agar tak ada yang patah arang, berjuang hingga bibit yang ditanam benar-benar baik tumbuh dan berkembang, syair Imam As-Syafi'i ini adalah salah satu pemantik api semangat, agar tetap istiqomah dan taat, meski ruang dan waktu menjadi sekat:
Saya copas dari Al Hujjah.com
Al-Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:
ما في المُقامِ لذي عقلٍ وذي أدبٍ
مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب
“Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan)
سافرْ تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ
وانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.
إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ
إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
Sungguh aku melihat, air yang tergenang dalam diamnya, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan. Tidak demikian jika ia tidak bergerak mengalir.
والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب
Sekawanan singa, andai tidak meninggalkan sarangnya, niscaya kebuasannya tidak lagi terasah, ia pun akan mati karena lapar. Anak panah, andai tidak melesat meninggalkan busurnya, maka jangan pernah bermimpi akan mengenai sasaran.
والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة
لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ
Sang surya, andai selalu terpaku di ufuk, niscaya ia akan dicela oleh segenap ras manusia, dari ras arabia, tidak terkecuali selain mereka.
والتبر كالترب ملقى في أماكنه
والعودُ في أرضه نوعاً من الحطب
Dan bijih emas yang masih terkubur di bebatuan, hanyalah sebongkah batu tak berharga, yang terbengkalai di tempat asalnya. Demikian halnya dengan gaharu di belantara hutan, hanya sebatang kayu, sama seperti kayu biasa lainnya.
إن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ
وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَب
Andai saja gaharu tersebut keluar dari belantara hutan, ia adalah parfum yang bernilai tinggi. Dan andaikata bijih itu keluar dari tempatnya, ia akan menjadi emas yang berharga.
*dinukil dan diterjemahkan secara bebas berdasarkan Syarh Diwan asy-Syafi’i (hal. 25-27), Muhammad Ibrahim Salim, Cet. Maktabah Ibn. Sina – Mesir.
***


Share:

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Ikatlah ilmu dengan mencatat. Maka meski sedikit terlambat izinkan saya menuliskan kembali tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan amalan-amalan unggulan yang dianjurkan selama bulan Dzulhijjah.

Alhamdulillah, tahun ini insyaAllah tidak ada perbedaan mengenai jatuhnya tanggal 1 Dzulhijjah, karena metode rukyat dan hisab sama-sama menetapkan tanggal 2 Agustus 2019 bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1440H.

Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari bahwa keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah sangat istimewa, hingga Allah menyebutkannya dalam surat Al Fajr ayat 1-2: Demi Fajar dan Malam yang kesepuluh. Menurut tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan malam kesepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah. Keempat bulan tersebut adalah Dzulqoidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Maka dalam bulan-bulan ini seyogyanya ibadah dan amalan lebih ditingkatkan, berharap mendapat ampunan dan memperberat timbangan amal kebaikan di hari penghitungan.
Keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah disabdakan Rasulullah dalam hadits:

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah)” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid)” (HR. Al Bukhari)
Amalan-amalan utama dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah:


1. Berhaji (dan umroh)
Berhaji wajib hukumnya bagi muslim. Berbeda dengan umroh yang bisa dilakukan setiap waktu, berhaji hanya bisa dilaksanakan di bulan Dzulhijjah dan puncak haji adalah Wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah.

2. Berpuasa Arofah
Bagi yang tidak menunaikan ibadah haji, disunnahkan untuk berpuasa Arofah pada 9 Dzulhijjah. Namun di riwayat hadits yang lain disebutkan bahwa disunnahkan untuk memperbanyak puasa pada tanggal sebelumnya yaitu 1-8 Dzulhijjah. Jika tidak mampu, setidaknya tanggal 8-9 Dzulhijjah yaitu puasa Tarwiyah dan Arofah. Jika masih belum mampu setidaknya puasa Arofah pada 9 Dzulhijjah, sayang jika dilewatkan sebab keutamaan puasa Arofah adalah menghapus dosa satu tahun yang lalu dan setahun yang akan datang? what ampunan untuk setahun yang akan datang? belum berbuat dosa sudah diganjar ampunan, yuk dosa yang banyak >> Ya kalee ngartiin seenak kita sendiri. Dari ceramah ustadz yang pernah saya baca, ampunan untuk dosa setahun yang akan datang itu bermakna bahwa puasa tersebut menjadi perisai agar kita tidak melakukan dosa. Bukan kita bebas bermaksiat selama setahun ke depan karena sudah yakin dosa kita langsung diampuni sebagai ganjaran berpuasa Arofah di tanggal 9 Dzulhijjah.


3. Berqurban
Hewan qurban yang disyariatkan adalah unta, sapi, kerbau, domba, kambing. Berjenis kelamin jantan, tidak cacat dan sehat.
·       Waktu berqurban adalah pada 10 Dzulhijjah usai sholat Ied hingga sebelum matahari terbenam di 13 Dzulhijjah.
·        Berqurban bisa dilakukan dengan niat untuk qurban satu keluarga baik itu berupa satu ekor sapi atau kambing, atau qurban dalam bentuk patungan sapi untuk tujuh orang
· Istri boleh berqurban dengan uangnya sendiri dan diniatkan untuk satu keluarga atau dititipkan kepada suami agar berniat untuk qurban satu keluarga

·      Bagi yang berniat berqurban hendaknya tidak memotong kuku dan rambut sejak awal Dzulhijjah hingga binatang qurbannya disembelih

4. Memperbanyak dzikir
Membaca takbir, memperbanyak dzikir adalah amalan yang dianjurkan dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Jika tak mampu menghafal banyak bacaan dzikir, setidaknya lafadzkan dua kalimat ringan diucapkan namun memberatkan timbangan kebaikan, yaitu:
Subhanallah wabihamdihi subhanallahiladzim

Semoga Allah mengizinkan kita mengisi 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan berbagai amal kebaikan. Dan istiqomah kita lakukan sepanjang kehidupan.

Share:

Besali, Kisah Tentang Buku-buku dan Besi

Judul buku  : Besali
Penulis       : Shabrina WS
Penerbit     : Laksana
Halaman    : 292 halaman
Cetakan pertama 2019

Jika kita dihadapkan pada dua pilihan: mewujudkan impian sendiri atau mentaati permintaan orang tua sebagai wujud taat kepada Illahi, jalan mana yang akan kita lalui?
Gamang, gundah, ragu, khawatir, berkecamuk di dada Lohita Sasi, ketika membaca surat wasiat sang ayah yang berpesan agar Besali (bengkel pandai besi) sebagai warisan keluarga secara turun temurun harus terus hidup dan menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Tanggung jawab Lohita, seorang wanita pecinta buku, anak bungsu yang memiliki tiga kakak laki-laki. Mengapa bukan Soma, Sakti atau Bagas yang mendapat tugas melanjutkan Besali? Pada akhirnya Lohita bisa memahami, bahwa ketiga kakaknya tidak pernah tertarik menjadi pandai besi. Dan memilih merantau demi menghindar dari kewajiban melanjutkan warisan keluarga, mengelola Besali. 


Sedangkan Lohita meski seorang wanita dan tidak paham pekerjaan pandai besi, sang ayah meyakini bahwa Sapta, orang kepercayaannya akan membantu menjaga, merawat, melanjutkan aktivitas Besali setelah ia pergi.
Masalah timbul, ketika Lohita menyadari bahwa sejak lama ia telah menjaga jarak dengan Sapta, sosok yang telah bertahun-tahun menjadi anak buah kepercayaan Pak Pande, ayahnya dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di Besali. Ya, sejak Lohita mendengar kasak-kusuk tetangga bahwa ayahnya berniat menjodohkannya dengan Sapta, ia merasa tak nyaman lagi berada di dekatnya dan memilih membangun tembok, merenggangkan jarak sehingga Sapta pun merasa jengah. 

Hingga akhirnya Lohita menemukan Rey, seorang pegawai bank yang berjiwa sastrawan. Bekerja dengan angka-angka tetapi menulis puisi semahir begawan asmara. Rey yang selalu penuh perhatian, Rey yang mencintai buku seperti Lohita menggandrungi buku dan memiliki toko buku sebagai bagian dari jalan hidupnya. Rey yang menemaninya menyusuri tempat-tempat wisata nan indah di Pacitan dan menulis puisi-puisi menawan.

Berkat saran Rey pula, Lohita memasang iklan yang menyatakan Besali membuka lowongan kerja demi mewujudkan wasiat ayahnya, tanpa berharap kepada Sapta, setelah sekian lama ia menutup Besali sementara. Bagaimana perasaan Sapta ketika mendengar iklan tersebut disiarkan di radio sedangkan ia telah berjanji kepada Pak Pande untuk menjaga Besali (dan Lohita) dan Soma selalu mewanti-wanti untuk merawat Besali dan adik perempuan satu-satunya.

Shabrina WS, mampu mengolah konflik batin Lohita dengan manis. Buku atau besi? Rey atau Sapta? Hidup selalu dihadapkan kepada pilihan dan pertanyaan. Kita selalu punya mimpi, tetapi pesan orang tua sudah sepatutunya kita taati. Hidup seringkali menyajikan kejutan, menghadirkan sesuatu yang terkadang tidak kita inginkan. Lalu kita anggap sebagai pengusik kebahagiaan. Sebagaimana yang dirasakan Lohita, tepat di saat paling membahagiakan dan membuatnya serasa terbang di angkasa. Ketika toko buku miliknya dipinang Rey sebagai tempat peluncuran buku karyanya "Perayaan Musim" di kala musim hujan mulai menyapa. 

Tak ada dalam benak Lohita bahwa musim semi akan tiba-tiba berganti menjadi penghujan baginya, ketika di saat paling membahagiakan, nama Venus hadir tiba-tiba. Maka, siapa yang akan dipilih Rey? Bagaimana dengan Besali? akankah kisahnya berakhir ketika polisi mencurigai bengkel pandai besi ini sebagai penadah besi-besi yang telah dicuri?

Besali bukan novel picisan, yang berisi kata-kata rayuan memabukkan. Besali mengajarkan bahwa kehilangan akan membuka peluang baru bertemu ruang-ruang.


Ciri khas Shabrina WS adalah diksinya yang luar biasa, bahkan kehilangan karena kematian dilukiskannya dengan saat indah. 
...hidup dan mati seperti musim yang datang dan pergi, bisa lebih lambat atau lebih cepat. Tidak ada yang tahu, tak bisa diramalkan tetapi sudah menjadi kepastian. ~ Besali hal. 18, Shabrina WS 
Satu hal lagi yang suka dari karya Shabrina WS, dalam novel-novel terbarunya ia selalu berupaya mengangkat kearifan lokal Pacitan, tanah kelahirannya. Imajinasi dan syaraf sensori pembaca pasti bergetar karena lapar membayangkan ubi yang direbus dengan gula aren dan ditaburi parutan kelapa atau gurihnya kacang goreng wingko buatan sang nenek Sapta. Pembaca juga tergelitik untuk berkunjung ke Pantai Pidakan yang aksesnya melewati kebun kelapa, atau ke Pantai Klayar yang kian terkenal atau Pantai Banyu Tibo nan fenomenal.
Mbak Shabrina - Eni, terimakasih telah menulis Besali. Membacanya seperti meneguk air segar ketika dahaga. Menuntaskannya dalam satu kali baca, mengantarkanku bermimpi indah sekali. 
Share:

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.