Google+ Followers

Saturday, January 20, 2018

Sauh: Tentang Cinta yang Berlabuh

Penulis:  Shabrina Ws
Editor : PraditaSeti Rahayu
Penyelaras aksara: Idha Umamah
Penerbit: PT Elexmedia Komputindo
Cetakan: Pertama, 2018
Jumlah hal.: 221 halaman
ISBN: 978-602-04-5206-7

"Untuk mereka yang bertanya sejauh apa cinta harus diperjuangkan"
Quote manis ini diletakkan mbak Shabrina di bagian awal novel. Quote yang seolah memilin benang merah dengan caption di sampul bukunya "bagaimana aku bisa berlabuh pada hati yang bukan dermagaku?"

Dari dua quote ini ditambah blurb yang menyinggung tentang Rosita, Danu dan Firman memberikan bayangan bahwa novel ini bercerita tentang cinta. Tepatnya cinta antara tiga sosok manusia. Cinta yang membuat sosok Rosita harus memilih di antara dua. Adakah Danu, lelaki yang terlebih dahulu mengisi hidupnya ataukah Firman yang datang belakangan.
     Membaca Sauh mengingatkan pada banyak hal. Tentang arti cinta itu sendiri, tentang makna pernikahan, tentang obyek-obyek wisata nan indah di seputar Jawa Timur. Anda seorang yang sebal karena dituntut orang tua untuk segera menikah? novel ini adalah bahan renungan yang tepat agar tak buru-buru menjatuhkan pilihan pada orang yang salah hanya karena dikejar target usia dan dianggap bisa menyelesaikan masalah.
     Anda sedang menaruh harapan pada seseorang lalu datang figur lain yang menjanjikan masa depan? kira-kira siapa yang akan Anda pilih? nikmati bagaimana Sauh menyajikan lika-liku perasaan Rosita, mungkin akan membantu menetapkan pilihan agar tak menyesal kemudian.
Jodoh memang telah ditetapkan sebelum manusia diturunkan, tetapi ikhtiar insan adalah faktor yang tak kalah menentukan. Sauh adalah novel yang mampu menggugah pembaca untuk berikhtiar semaksimal mungkin sebelum berpasrah kepada takdir Tuhan. "Kita nggak pernah tahu di doa kita yang keberapa Tuhan mengabulkan keinginan kita, bukan?" (Sauh; halaman 126)
    Novel ini mampu mengaduk-aduk perasaan. Alurnya manis dan setiap epsiodenya meninggalkan kesan. Quote-quote indah bertebaran. Menikmatinya dari awal hingga akhir tidak menimbulkan bosan. Awalnya saya sempat salah duga. Membaca blurbnya menimbulkan prasangka "duh ini pasti Rosita mudah sekali pindah ke lain hati. Pasti dia bakal memilih lelaki yang lebih mapan, entah itu yang bernama Danu atau Firman" Ternyata deng dong, i'm wrong.  Datanglah ke toko buku atau pesan Sauh melalui mbak Shabrina berbonus tanda tangan agar tak penasaran.
     Satu hal yang membuat novel ini tidak membosankan adalah karena tokoh-tokohnya sangat berkarakter. Inilah kepiawaian mbak Shabrina dalam meramu novel. Dari cara beliau bertutur pembaca bisa membayangkan sosok tokoh utama melalui perilaku, kebiasaan, gestur dan gambaran ciri tubuhnya.
Adalah Rosita, wanita berusia matang, hobinya berlari - tetapi bukan lari dari kenyataan. Rosita berasal dari Ponorogo. Ia perempuan yang mandiri, bahkan kuliah pun dijalani sambil bekerja. 
Tokoh utama berikutnya adalah Danu. Lelaki yang dikenal Rosita di tempat kerjanya. Lelaki yang sangat bertanggungjawab terhadap keluarga. Ketika ayahnya meninggal pria asli Sidoarjo ini pun terpaksa mengambil alih tanggung jawab terhadap keluarga, menjaga ibu dan kedua adik perempuannya serta mencukupi dari segi finansial.
Tokoh yang tak kalah menawan adalah Firman. Sosok yang tak sepenuhnya hidup dengan masa lalu, tetapi juga masih gamang menatap masa depan. Hidupnya tiba-tiba berubah ketika Kalila, calon istrinya meninggal sebulan sebelum tanggal pernikahan yang telah ditetapkan.
      Rosita dan Danu bekerja di Hotel Kaliandra Surabaya. Hotel budget yang hampir selalu ramai dan sibuk hingga tak jarang karyawannya harus bekerja overtime. Hubungan Rosita dan Danu sangat dekat, tetapi tak pernah ada kata cinta yang terucap. Mungkin anak zaman sekarang menyebut hubungan mereka dengan istilah TTM - Teman Tapi Mesra tapi jangan membayangkan "kemesraan" ala berpegangan tangan atau yang lebih dari itu. Sebab Danu memegang teguh nasihat ayahnya untuk memperlakukan dan menghormati wanita dengan cara tidak menyentuhnya. Dan Rosita berpegang kuat pada pesan ibunya untuk tidak terlalu dekat dengan pria sebagai cara menjaga kehormatannya. 
      Kedekatan Rosita dan Danu berakhir tiba-tiba ketika Rosita mendapatkan promosi jabatan dan pindah ke Joglo Homestay sebagai anak perusahaan Hotel Kaliandra di Pacitan. Sedangkan Danu meninggalkan karirnya di hotel Kaliandra untuk kembali ke Sidoarjo mengurus tambak udang milik almarhum ayahnya. Masalah mulai timbul ketika Firman, putra dari pemilik Hotel Kaliandra mengungkapkan bahwa mutasi Rosita ke Pacitan sebenarnya adalah bagian dari skenario perjodohan yang dirancang kedua orang tua Firman dan Rosita (yang ternyata telah saling mengenal sebelumnya) Akankah Rosita menerima perjodohan ini atau ia berusaha mencari kepastian dari Danu yang sempat hilang kontak karena Handphonenya rusak tercebur tambak? 
     Selain penokohan yang kuat, Sauh diperkaya pemaparan deskripsi setting yang memikat. Khas mbak Shabrina dalam mendeskripsikan ruang, latar belakang, setting dengan sangat detail. Contohnya saat beliau menggambarkan salah satu kamar untuk pasangan pengantin baru yang hendak berbulan madu di Joglo Homestay:
Ada satu sofa panjang di ruang tamu dengan meja kopi kecil berlapis kaca, memantulkan sinar matahari terbit yang menerobos lewat pintu yang terbuka. Pemandangan ini tak akan lama. Saat matahari naik, sinarnya akan terhalang rimbunan pohon yang dahan-dahannya sengaja dipangkas sejajar dengan tinggi pintu. Sehingga ruangan tak akan terasa panas. Pemandangan selanjutnya adalah lengkung garis pantai di bawah sana yang berakhir pada pegunungan hijau. Kamar tidur berjendela lebar satu sisi menghadap ke laut biru gelap, sementara sisi lain menghadap ke hutan hijau tempat matahari tenggelam. (Sauh halaman 95)
Sebagai pembaca saya sampai menahan napas membayangkan keindahan Pantai Teleng Ria, dan mencari gambarnya di internet. Hello mbak Shabrina, karena novelmu aku jadi ingin pergi ke sana.
Sauh mungkin bisa membuat "sebal" pembacanya. Duuh kenapa sih bapak ibunya Rosita ini kok masih percaya tahayul tentang: perempuan tidak boleh "dilangkahi" (= didahului menikah) adiknya. Ini zaman digital gitu loh, masa iya percaya yang begitu? Saaabaaar jangan terburu emosi, baca dan sesap pelan-pelan, Mbak Shabrina akan menjelaskan tentang alasan si bapak sampai memaksakan perjodohan agar Rosita tidak dilangkahi.
      Tapiii saya juga masih gemassss. Kenapa di zaman internet kok ya masih SMS-an, padahal Rosita dan Danu punya akun facebook, wooy kan bisa punya whats app messenger, line atau apalah kan, iya kan? (maksa). Mungkin saja SMS diangkat kembali dalam novel ini sebagai pengingat bahwa dahulu pengguna handphone menikmati proses mengetik dengan jempol dan tekun menghitung karakter agar hemat pulsa (ah itu kan dugaan saya sebagai manusia yang seringkali terjebak dalam kenangan *nyengir)
       Ah bicara tentang kenangan, saya sukaaa sekali dengan quote-quote yang menghias novel ini. "Gambar-gambar bisa menyampaikan pesan lebih dari sekadar mengingat kenangan" uhuk, langsung buka instagram. "Sebagian orang berpedih-pedih atas nama kenangan, sebagian lagi meluas-luaskan hatinya sebagai bentuk penerimaan" jadi kalian termasuk sebagian orang yang mana?
      Terimakasih mbak Shabrina, telah meluangkan waktu berbulan-bulan menulis novel yang indah dan tak kalah indah dengan novel-novelmu sebelumnya. Barokallah, semoga istiqomah dalam menebar hikmah dalam jalinan aksara.


Monday, January 8, 2018

Berkunjung Ke Gontor Menginap Di Mana?

Berkunjung ke Gontor itu seperti wisata hati. Perjalanan menuju ke sana sangat menyenangkan dan tak terasa melelahkan. Coba deh tanya ke wali-wali santri. Hehehe ya kalau mau ketemu anak tercinta pastinya gak bakal terasa lelah. 
Sudah bukan rahasia lagi jika santri Gontor berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yang jauh-jauh pula, dari Aceh hingga Papua. Bahkan ada santri asli Malaysia, Thailand dan UAE. Nah kalau mau berkunjung ke Gontor untuk beberapa hari menginap di mana?
Pihak pondok sebenarnya menyediakan bangunan khusus untuk tempat menginap wali santri, disebut Bapenta (Balai Penerimaan Tamu) Di Gontor Ponorogo Kampus Pusat Bapentanya berada di Gedung Al Azhar (tapi kabarnya segera pindah ke Gedung Satelit Baru). Tak perlu keluar biaya sewa kamar hanya perlu sewa kasur busa saja, kamar mandi di luar dan sistemnya seperti ruang tidur anak pondok, bareng-bareng dengan sesama wali santri lain. Dipisahkan ruangan pria dan wanita.
Saya sendiri belum pernah menginap di Bapenta karena lebih senang menginap di Wisma Darussalam. Penginapan ini adalah salah satu badan usaha milik pondok Gontor. Biaya sewanya terbilang cukup murah. Ada tiga pilihan kelas, A,B dan C. kelas A dan B sewanya 150 ribu per malam dengan fasilitas dua bed, AC dan kamar mandi dalam. 

Kalau saya, karena type emak hemat lebih suka menginap di kelas C, 80 ribu rupiah per malam. Ranjang susun bisa untuk berempat tapi kai lebih suka meletakkan kasur busanya di bawah, tidur ala santri hehehe.


Fasilitas di kamar C apa saja sih? Ini dia: kipas angin, sepasang kursi dan meja, kaca rias, beberapa hanger baju dan kapstock. Juga ada pembasmi serangga (baygon), dua mushaf Al Quran dan sajadah. Eh ada welcome drink juga, untuk kelas C akan menerima empat gelas 250 mL air dalam kemasan La Tansa (nah ini juga milik pondok Gontor) Kalau untuk yang kelas A dan B dapatnya dua botol 600 mL karena saya juga pernah menginap di sana. Fasilitas lain-lainnya sama (meja kursi) . Tapi kamar mandi untuk kelas C ya antri, di luar kamar.

Nah yang paling keren, baik yang menginap di kelas A, B maupun C sama-sama dapat fasilitas sarapan gratis untuk dua orang dengan sistem prasmanan. Menunya sederhana seperti mie goreng, tempe, dadar, pecel. Minumnya teh hangat, Ada krupuk atau rempeyek. MasyaAllah ...tapi menimbulkan rasa syukur yang luar biasa.

Di selasar dan setiap kamar ada informasi penting mengenai peraturan check in dan check out. Serta jam berkunjung ke pondok. Ya kan mayoritas pelanggan tetap Wisma Darussalam walisantri Gontor.
Bosan di kamar? bisa duduk di lorong penginapan Tersedia jaringan WiFi Gratis. Informasi username dan password ditempel di meja atau dinding di dalam kamar. Sambil santai pengen bikin kopi panas atau pop mie? bisa, ada dispenser disediakan gratis. Kopi atau pop mie bisa bawa sendiri atau beli di kantor Wisma Darussalam.


Perlu dicatat, Di semua kamar Wisma Darussalam tidak tersedia hiburan berupa pesawat televisi. Tapi ada televisi sederhana di ruang makan yang hanya menyala saat jam sarapan gratis tadi. Wah ga ada hiburan dong? ya hiburan paling bagus adalah membaca Al Quran. Kalau lupa ga bawa, atau mata lelah baca AL Quran dari gadget kan lebih enak baca mushaf yang sudah disediakan. Tapi mushaf Gontor ini teknik penulisannya ada sedikit perbeda dari Al Quran yang biasa saya baca. Apa ya namanya..nantilah saya cari informasi lagi. 

Atau pengen sesuatu yang beda ya dengeri Suara gontor FM 100,9 FM. Bisa didonload playstore atau pakai head set dah kalau lokasinya dekat gitu, pemancarnya kan ada di dallam pondok.

Dan yang paling saya sukai dari Wisma Darussalam adalah mushola mungilnya. Bisa sholat berjamaah dengan ditemani hembusan angin subuh atau sepoi-sepoinya kala Maghrib dan Isya'.

Eh ya, kalau favorit Radit dari Wisma Darussalam adalah...abang tukang bakso yang lewat di ba'da dhuhur atau malam hari hehehe...sebutir bakso 500 rupiah, seporsi 6 ribu sudah mengenyangkan sekali.

Sebagai penutup saya sekedar menginformasikan bahwa selain Wisma Darussalam ada pula penginapan milik IKPM, letaknya tak jauh dari gapura masuk area Pondok Gontor. Kalau dibandingkan Wisma Darussalam letaknya dari pondok lebih jauh lagi. Tarifnya paling murah 175 ribu rupiah per malam. Dan ada beberapa pilihan. Dari Wisma Darussalam ke pondok kalau jalan kaki santai sekitar 10-15 menit. Kalau ogah capek ya menyewa motor saja dari penduduk sekitar, tarifnya perhari 30-40 ribu rupiah. Kalau kami biasanya sudah menyewa mobil harga teman dari Sidoarjo hehehe, jadi bisa mobile kalau pas berkunjung ke pondok (maklum belum punya mobil sendiri). 

Semoga sedikit informasi ini berguna terutama bagi para calon pendaftar di Pondok Gontor yang biasanya dibuka di bulan Syawal.










Tuesday, January 2, 2018

Bukan Ayah Bunda Biasa

latepost nih.

Tanggal 16 Desember 2017 di Masjid AL Ukhuwwah diadakan kajian umum. Keren abis dah temanya. Saya pengen share di sini poin2 penting. Baik yang dalam ingatan saya maupun share dari takmir via WA




Kalau diajukan pertanyaan kepada para Ayah, “anak yang seperti apa yang diinginkan?” Tentu banyak sekali harapan tertumpah kepada setumpuk kriteria: anak shalih, pintar, rajin, mandiri, berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Tidak ada yang salah dengan sederet harapan itu, namun apa yang ingin dicatat adalah bahwa umumnya seorang ayah tidak tahu bagaimana piawai menjadi ayah, bukan hanya ayah biologis, tetapi juga ayah spiritual, ayah yang mampu melahirkan generasi penerus kepemimpinannya, a father as a leader.

Fenomena yang terjadi justru jauh panggang dari api, banyak sosok Ayah yang abai terhadap pendidikan dan kehidupan anaknya. Bahkan di cibubur ada seorang ayah Utomo Permono (46), dosen di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Muhammadiyah Cileungsi  yang rela  menelantarkan 5 anak kandungnya selama sebulan hingga nyaris sekarat. 

Elly Risman Musa Spi, dosen UI pemerhati kenakalan anak, menemukan fakta bahwa ternyata sangat banyak anak-anak kita yang ber-ayah ada, ber-ayah tiada. Maksudnya, Sang Ayah ada di rumah, hadir secara fisik namun tidak hadir secara emosional dan spiritual di hadapan anak.

Mengapa?, karena ternyata banyak anak-anak yang bertemu ayahnya sebentar di pagi hari atau bahkan tidak bertemu sama sekali, dan baru bertemu lagi di malam hari. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Benry Biller menunjukkan bahwa waktu efektif antara anak dan ayahnya adalah 19 menit sehari atau hanya di akhir pekan saja. Lalu apa yang bisa diharapkan dari nineteen minutes fathertersebut?

Kenyataan inilah yang yang banyak dihadapi oleh anak-anak kita, sehingga tidak berlebihan jika Ely Risman berkesimpulan, bahwa mengapa anak-anak sekarang nakalnya sudah kelewatan?. Menurut Ely, karena Indonesia is the fatherless country. Artinya Indonesia bukanlah negara janda, tetapi ayah hadir hanya secara fisik tetapi mereka tidak hadir  secara emosional dan spiritual dalam waktu dan jumlah yang cukup dihadapan anak.


PERAN PENTING AYAH

Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar magister di Fakultas Pendidikan, Universitas Umm al-Quro, Mekah, bisa menyemangati para ayah untuk lebih peduli dengan anak-anaknya. Judul tulisan ilmiah tersebut adalah: “Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat, Ke-17 dialog tersebut dengan rincian: Dialog antara ayah dengan anaknya  terdapat 14 kali, Dialog antara ibu dan anaknya sebanyak 2 kali, dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya ada 1 kali. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya jauh lebih banyak ketimbang dialog antara ibu dengan anaknya, 14 dibanding 2.

Kisah Al qur’an tentang dialog ayah dengan anak yang dominan, tentu bukan karena kebetulam, tetapi sekaligus memberikan pesan kuat bahwa pendidikan anak versi Al Qur’an adalah berpusat pada sang Ayah.  Ayah bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan dan akhlaq anak, bukan ibu apalagi guru atau diserahkan pembantu.

Perhatikanlah, bagaimana Nabi Adam dibimbing oleh Allah untuk menyelesaikan konflik anak-anaknya Qabil vs Habil. Bagaimana Ibrahim as membesarkan Ismail dalam ketaatan dengan model pendidikan dialogis, bukan hanya perintah dan larangan. Juga bagaimana Nabi Ayyub menjelang ajalnya berwasiat tentang tauhid pada anak-anaknya; Tak ketinggalan, bagaimana kisah Lukmanul Hakim mendidik anaknya tentang syukur, tentang aqidah dan akhlak, tentang menegakkan ibadah terutama sholat juga tentang kesederhanaan (QS 31:12-19).

Naifnya, kini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu penyebab munculnya banyak masalah masalah kenakalan anak muda, yang melampaui usianya. Sebagian ayah sering kehabisan tema untuk bicara dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara uring-uringan dengan intonasi tinggi alias marah-marah.

Ada lagi yang diam saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sakit gigi atau sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi, pelit bicara, kalaupun bicara hanya monoton dan seperlunya saja. Maka pantas hasil generasi penerus ini memprihatinkan, jauh dari yang diharapkan peradaban Islam.

Dengan kajian di atas menegaskan pesan bahwa keluarga khususnya Ayah, menjadi penanggung jawab utama dalam mempersiapkan generasi penerus. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya, apalagi banyak tradisi yang tidak bisa dipungkiri bahwa intensitas pengasuhan ibu kepada anak jauh lebih dominan ketimbang ayah.

Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: Wahai Ayah bicaralah, kalian harus lebih rajin berdialog dengan anak, lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian. Jadilah Ayah istimewa, yang selalu hadir secara emosional dan spiritual yang cukup dalam pengasuhan anak.

Bagaimana membentuk generasi "Yang Tidak Biasa?"

1. Orientasi visi
Visi ayah bunda adalah membangun kehidupan. Tdk sekedar meneruskan keturunan
Visi ayah bunda adalah agar anak2 menjadi qurrota ayun dan muttaqin
Yang bisa menentukan kesuksesan anak adalah jujur, mandiri, disiplin, kreatif dll yg tdk diajarkan di sekolah ( akademis menduduki urutan di atas 10)
2. Reaktualisasi potensi
Laqad holaqnal fii ahsani taqwim
Setiap anak memiliki potensi unik ..fii ahsani taqwim
Bantu anak menemukan passion. Passion adalah ketika belajar dan mengerjakan sesuatu tidak ada keluhan dan tidak ada cacatnya
3. Reposisi dimana ayah, dimana bunda
17 dialog ayah-anak dalam Al Quran dan hanya 2 dialog ibu-anak dalam Al Quran
Maka Ayah lah yg seharusnya memegang peran penting dlm mendidik anak
Ayah harus lbh banyak berdialog dng anak.

Agar anak2 tdk salah pergaulan Pastikan bgmn pergaulan anak2 di luar rumah, serahkan pada Allah setelah ikhtiar mendidik dan membimbing



Wednesday, December 27, 2017

Mamaku Bukan Malaikat Tak Bersayap


Setiap kali 22 Desember tiba mendadak time line media sosial saya riuh dengan ucapan hari ibu. Ada juga satu dua yang kontra. Entah karena alasan: tidak diajarkan agama atau juga dengan ucapan sarkas "disuruh Ibu beli bawang ke pasar aja ga mau, giliran Hari Ibu bikin ucapan paling seru" 
Ga perlu buru-buru naik darah dengan yang kontra. Resapi dengan hati dan pikiran yang jernih maka kita pun mendapatkan hikmah bahwa yang mereka katakan ada benarnya.

Dalam agama Islam, perintah Allah telah jelas: berbaktilah kepada kedua orang tua. Jadi tak ada perintah untuk sekedar mengucapkan selamat Hari Ibu tapi malah enggan berbakti, misalnya enggan membantu beliau yang meminta bantuan pergi ke pasar ..nah loh.

Sebenarnya muhasabah saya tentang kewajiban berbakti tak hanya di hari Ibu saja. Seringkali saya berpikir apakah saya sudah benar-benar maksimal berbakti, ikhlas mengabdi pada Mama. Apalagi Mama memilih tinggal sendiri di rumah beliau di luar kota. Alasannya tak ingin merepotkan anak-anaknya. Padahal ya.. beliau memang tak pernah bisa kerasan tinggal di tempat yang bukan rumah sendiri.

Dengan alasan itulah saya tak punya cukup keberanian mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada Mama. Ucapan dan ungkapan yang paling sering kudengar adalah "Selamat Hari Ibu, malaikat tak bersayapku" wow indah sekali ya...tetapi bagiku malah terdengar kurang manusiawi. Karena sosok malaikat berarti tak punya nafsu duniawi.

Kalaupun ada kesempatan mengucapkan Selamat Hari Ibu, dengan jujur saya akan mengatakan bahwa Mamaku bukan malaikat tak bersayap. Beliau juga bukan manusia tanpa cela. Namun dari kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia saya banyak belajar tentang bagaimana menempatkan diri sebagai wanita, istri, ibu dan hamba Allah.

Saya tak ingin membuat list kekurangan Mama. Tapi ada hal-hal yang menjadi perhatian agar membuat saya berhati-hati dalam melangkah. Belajar dari pengalaman dan pengamatan, itulah yang coba saya lakukan.

Banyak yang saya pelajari dari mengamati bagaimana mama bersikap. Karena Mama pula saya mewajibkan diri untuk memilliki tabungan sebab Mama tak pernah punya tabungan dan kelimpungan saat butuh dana talangan untuk suatu hal.
Di satu sisi jiwa berbagi Mama sangat tinggi. Jika ada saudara, anggota keluarga, tetangga punya hajatan ...nominal angpau dari Mama..cukup besar lah di mata saya. Saat ada kerabat yang sakit dan membutuhkan biaya, Mama mengharuskan putra-putrinya patungan sebagai tanda empati. Suatu hari, ketika kondisi finansial sedang payah, uang tabungan tergerus untuk biaya hidup, saya pun menjual anting peninggalan almarhum Papa demi sedikit sumbangan untuk biaya berobat kerabat yang sedang sakit. 

Di hari tuanya Mama berupaya menyiapkan bekal menghadap Allah semaksimal mungkin. Beliau berangsur membayar hutang puasa saat remajanya karena keterbatasan ilmu agama di masa muda. Mama juga istiqomah mengakhiri setiap dini hari dengan sholat taubat. Hal inilah yang menjadi inspirasi bagi saya untuk lebih rajin menuntut ilmu agama dan membekali anak-anak dengan ilmu yang bermanfaat dunia-akhirat.

Kurang dan lebihnya kebiasaan hidup Mama selalu menjadi sumber inspirasi saya. Tentang bagaimana berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta dan juga dengan sesama manusia. Agar kelak saat kembali ke haribaanNya, jiwa ini berpulang dalam keadaan minim dosa.




Terimakasih Mama..
Telah mengajarkanku hidup lebih bermakna 
Tentang bagaimana menjadi wanita
..bagaimana bersikap dewasa 
Tentang makna bijaksana
Terimakasih telah menginspirasi di setiap langkah
Bahwa ilmu tak perlu terburai dalam ribuan kata maupun sumpah.
Meski bibir diam seribu bahasa pun mampu menghujamkan hikmah.
Empat puluh satu tahun, tujuh bulan empat belas hari sudah...
Aku telah menjadi bagian dari kehidupanmu dalam suka maupun susah.

Terimakasih Mama...
Mengajarkanku tentang arti istiqomah 
Mengingatkanku ketika salah 
Mendoakanku tiada kenal lelah 
Karena Mama pula aku belajar bahwa kegelapan tak bisa dihindari...
tetapi butuh cahaya untuk menyinari.
Sebab Mama pula aku paham bahwa harapan akan selalu ada...
hingga menemukan takdir Sang Kuasa.

Semoga Sang Maha mengizinkanku untuk tak lelah berbakti hingga akhir masa...




Sunday, December 24, 2017

Donasi Mesin Apheresis dari Prudential

Kanker, penyakit yang dikenal sebagai pencabut nyawa nomor wahid di Indonesia tak mengenal usia. Bahkan anak-anak yang tanpa dosa pun bisa meninggalkan dunia fana karena tak lagi mampu bertahan akibat serangannya. Sangat menyedihkan jika yang menderita penyakit kanker adalah anak-anak terutama dari golongan dhuafa. Biaya perawatan dan pengobatan kanker tidak bisa dibilang murah. Kesehatan memang mahal harganya

Saya sendiri pernah berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk anak-anak penderita kanker melalui dunia maya. Saat itu dari kontes foto dan cerita di sebuah fanpage bisa terkumpul bantuan untuk anak-anak penderita kanker yang membutuhkan donasi biaya pengobatan dan perawatan. Memperhatikan, membantu dan mengupayakan pengobatan bagi penderita kanker adalah salah satu cara berbagi. Saya sangat mengapresiasi individu, instansi dan perusahaan yang menaruh perhatian secara khusus untuk membantu pengobatan kanker terutama pasien usia dini.

Prudential, penyedia jasa asuransi jiwa terkemuka di Indonesia adalah salah satu perusahaan yang peduli terhadap perawatan dan pengobatan bagi anak-anak penderita kanker di Indonesia. Kepedulian Prudential ditunjukkan melalui komitmen pemberian bantuan fasilitas penunjang pengobatan yang disalurkan lewat rumah sakit bagi penderita kanker. Salah satu bentuk donasi Prudential adalah mesin Apheresis. 


Bantuan tersebut diserahkan kepada pihak Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) pada tanggal 13 Oktober 2107 untuk kemudian digunakan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Makassar. Mesin Apheresis merupakan mesin yang berfungsi membuang sel-sel kanker yang berada di dalam tubuh penderita dan membantu mempertahankan sel darah yang sehat dalam waktu cepat yaitu sekitar 2-3 jam. Tanpa menggunakan mesin apheresis pengobatan pasien kanker lewat jalan kemoterapi dilakukan dengan cara menekan jumlah sel darah putih secara konvensional yaitu menggunakan infus dan perawatan khusus di ICU selama seminggu.
 
Pengadaan mesin Apheresis merupakan donasi Prudential Indonesia yang kesekian kalinya melalui kerja sama dengan YOAI. Sebelumnya Prudential Indonesia telah memberikan bantuan mesin Apheresis untuk digunakan di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, RSUD Dr. Soetomo Surabaya, RSUP Sanglah Denpasar, RS dr.Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Program tanggung jawab sosial Prudential Indonesia berfokus pada tiga pilar yaitu kesehatan, pendidikan serta kesiapsiagaan dan bantuan bencana.

Di bidang pendidikan bentuk kepedulian Prudential Indonesia diwujudkan salah satunya dengan donasi sebesar 1,85 Miliar rupiah untuk pengembangan sekolah ramah anak di Papua yang diserahkan pada 28 Agustus 2017 juga pembangunan gedung baru sekolah Yayasan Pembinaan Anak Cacat di Jakarta.

Di bidang kesiapsiagaan dan bantuan bencana wujud nyata kepedulian Prudential Indonesia ditunjukkan dengan berbagai bentuk donasi bagi para korban bencana alam seperti saat terjadi bencana gempa bumi Padang tahun 2010, meletusnya Gunung Kelud dan Gunung Sinabung tahun 2015 dan gempa bumi Aceh tahun 2016.

Di bidang kesehatan, Prudential telah menjalin kerja sama dengan YOAI sejak tahun 2003. Bentuk kerja samanya mencakup antara lain bantuan pengobatan anak-anak dan renovasi bangsal khusus bagi anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.


Dalam sebuah kesempatan, Rahmi Adi Putra Tahir ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) menyatakan bahwa YOAI sangat beruntung bermitra dengan Prudential Indonesia. Donasi berupa mesin Apheresis merupakan komitmen Prudential Indonesia untuk menciptakan pengalaman berobat yang lebih nyaman melalui tersedianya fasilitas yang lengkap dan berkualitas bagi para pasien kanker terutama dari kalangan usia kanak-kanak.


Dunia anak-anak penuh warna. Semoga dengan bantuan mesin Apheresis ini membantu kanak-kanak penderita kanker mendapatkan kesembuhan agar mereka pun kembali ceria dan bahagia.

Friday, December 15, 2017

Pendekar 212 Tanpa Kapak Naga Geni

Beberapa minggu belakangan laptop saya ngadat. Awalnya cuma keyboardnya doang. Satu baris yang segaris dengan huruf QWERTY ga bisa diketik. Ihik sampai buat nulis kudu kopas huruf dari artikel-artikel sebelumnya. bayangin kalau mau ngetik WERTYQ maka saya harus kopas huruf itu satu satu dari artikel dan stok tulisan yang lama.

Ya udah bawa ke tukang servis katanya kena sekitar minimal 50 ribu. walah ya dah ga jadi.Mending beli baru yang standard 80 ribu aja. Ok lanjut ngekuis dan nulisnya. 

Ngga bertahan lama eh lha kok gagal start ya. Tiap kali muncul logo Windows lalu pettt mati. Pernah muncul peringatan ada file yang dicurigai sebagai malware. Saya coba delet dengan sistem virus ga mempan. Besoknya makin susah untuk nyala.

Kata si Papa coba baterainya dibuka, lepas, tutup lagi. Lalu saya praktekin eh bisa. Besoknya lagi cara itu sudah ga bisa dipakai. Maka laptop Dell Inspiron N 4010 andalan kesayangan sejak 7 tahun lalu ini dibawa ke bengkel laptop. Lucunya sampai sana si lepi bisa nyala dengan hepi. Dua kali dicoba tetap bisa nyala tanpa gangguan. Bikin keki. 
Lah cuma dua hari saja bisa nyala dengan lancar sekarang kopyor lagi. Mogok nyala. Sedih rasanya. Mau perbaiki kudu nunggu si Papa yg sekarang kerjanya di luar kota. berangkat sendiri kudu ngojek online ...trus nantinya siapa yang nemenin si kecil.Ya wis nrimo aja nunggu si Pa datang.

Ketika Laptop Ngadat maka Freelancer Bagai Pendekar 212 Tanpa Kapak Naga Geni.
Smoga ada rezeki untuk perbaiki, biar ga ubek2 tabungan buat beli laptop baru
Sekian artikel curhat kali ini (ditulis dengan laptop yang rewel)

Monday, December 4, 2017

Cerita #LiburanSantri (Gontor)

Posting kali ini khusus untuk mencatat "hikmah" yang dicatat emak selama masa libur si santri. Yup. Santri Gontor (kecuali kelas 6 dan yang mukim) berlibur semester awal sejak tanggal 28 November hingga tanggal 7 Desember. Gontor punya kurikulum sendiri - KMI, sehingga tidak berada di bawah program Diknas termasuk penyelenggaraan pengajaran dan masa libur

Catatan #1
Santri yang baru menginjak lantai rumah beberapa jam mencoret-coret buku adiknya.
Emak Kepo pingin tau apa yang dia gambar.
Ternyata ia bisa menulis ini tanpa melihat Al Quran. Padahal emaknya bisa apa.

Haru biru..
Semoga Istiqomah ya Nak


Catatan #2
Masih teringat*cubitan santri di liburan kenaikan kelas yang baru lalu: "pegang Al Qur'an itu diangkat Ma, jangan dipangku..adabnya mana..baca kitab suci kok tempatnya direndahkan"
"Berdoa itu adabnya mengangkat tangan Ma.. minta-minta kok Ga niat πŸ˜‚πŸ˜‚"

Liburan kali ini Emaknya belajar adab yang baru lagi:
#Ma, aku tadi disapa tetangga: mas Rafif kok tambah bagi kurus..
Aku agak gimana gitu ya..
#Ya jawab aja saya bukan tambah kurus Bu tapi makin tinggi atau karena saya banyak olahraga (ya maklum kalau orang luar Ga bakal tahu bagaimana full activity di pondok si Mas dan jeda dari satu kegiatan ke kegiatan lain harus diisi dengan berlari'
#Ma.. adabnya kalau ngga suka dengan omongan atau teguran orang itu ya diam saja... khawatir nanti jawaban kita malah membuatnya tak suka karena kita sebal menjawabnya ( oolala..catet)

Dan Emak juga takjub bahwa santri pun punya adab "berdandan
"aku pakai baju yang ini saja biar matching dengan sarung dan sajadah..warna yang bertabrakan itu kan gak enak dilihatnya"
"Ma...belikan aku Pomade biar rambut ku rapi dan wangi kan enak ngelihatnya (yaelah rambut cepak model tentara itu pun masih butuh minyak rambut jugaπŸ˜‰)

Catet...mondhok itu Ga berarti Ga stylish karena diajarkan cara mematut diri tanpa berlebihan. Mondhok itu Ga cuma baca kitab kuning atau hafalan hadits dan Al Quran karena diajarkan bagaimana mendahulukan adab daripada ilmu pengetahuan.
Coba tengok orang yang berilmu tinggi tapi Ga punya adab..pasti menyebalkan bukan? Sementara orang yang ilmunya biasa-biasa saja tapi beradab..jadi enak dipandang dan diajak berbincang-bincang😎
Dan makin takjub waktu usai periksa ke dokter pamitan pakai cium tangan (bu dokter yang sudah sepuh sampai melongo) - kok pakai cium tangan segala sih fiiii ini kan sekedar interaΔ·si dokter dan pasien. Ma...ini adab menghormati yang lebih tua *alamaaak
Maturmuwun Gusti Allah...saya.. emak-emak yang kurang beradab dan fakir ilmu masih diberikan kesempatan belajar dari anak-anak yang masa depannya masih terbentang lebar ...berharap ridhaMu. Semoga mereka dan kami bisa Istiqomah dan kelak berakhir Husnul khotimah..

Catatan #3


Kebersamaan itu: membelanjakan voucher makan hadiah kompetisi Instagram Tempo hari pun menunggu santri liburan. Meski kalau pas bisa kumpul berempat pun tetap makan bareng tanpa perlu ke restoran😘😎
Di pondok si santri diajarkan panca jiwa yang salah satunya adalah 'kesederhanaan" meski gak ikut mondhok tapi yang menjadi menu kami sehari-hari mirip-mirip lah dengan menu santri πŸ˜˜πŸ˜‹
Sebab "lezat' itu bukan karena seberapa mahal makanan yang dinikmati melainkan bagaimana bisa menggemakan rasa syukur di dalam hati .πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡