catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

In The Time Of Corona

Tiba-tiba si Mas sudah mau ujian akhir semester saja. Sepertinya baru kemarin ia balik pondok di tengah pandemi corona. Dan kemungkinan besar, dari kabar-kabar yang beredar tahun ini tak ada perpulangan liburan 10 hari usai ujian lisan dan tulis seperti tahun-tahun sebelumnya.

In the time of corona, saya pilih judul itu saja, mewakili yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Ketika pondok tertutup untuk kunjungan wali santri. Yang biasanya setiap hari Jumat membuat parkiran di Bapenta di Gedung Satelit tak pernah sunyi. 

Ah jadi teringat, penduduk sekitar juga pasti terkena imbasnya. Para tukang ojek yang biasa stand by mengantarkan wali santri ke terminal, ke kota atau kemana saja. Penjual roti bakar, toko-toko di dekat Satelit yang kadang untuk bayar pembeliannya harus melalui antrian bagai antri sembako gratis karena ramainya.

Teringat wajah-wajah sumringah para santri saat mendapat undangan makan bersama, celoteh riang dan kegembiraan terpancar dari wajah mereka. Terkadang meminjam handphone untuk berkomunikasi dengan orang tua nun jauh di sana.

Tetapi saat ini kita semua memang harus puasa, in the time of Corona...

Kini grup-grup wali santri di medsos ramai oleh curahan hati, dari para wali santri yang sekadar ingin mengungkapkan kerinduan. Terutama para wali santri baru, atau para wali santri yang terbiasa setiap bulan berkunjung ke pondok.

Kalau untuk mereka yang memang jarang berkunjung mungkin tak ada bedanya. Yang penting komunikasi tetap terjaga, karena santrinya rajin memberikan kabar melalui wartel pondok.

Kami, tergolong yang mana? dibilang sering berkunjung juga enggak, dibilang santrinya sering telpon juga enggak hehehe. 

Biasanya kami berkunjung ke pondok dalam satu semesternya 1-2 kali, terutama menjelang ujian seperti sekarang. Sekadar memberikan dukungan moril, doa secara langsung dan tentu juga amunisi gizi dan camilan.

Biasanya, saya sempatkan mencium ubun-ubunnya, membisikkan dzikir hauqallah La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim, sholawat dan ucapan doa barokallahu laka"

Tapi, in the time of corona, biarlah saya tumpahkan doa itu di atas sajadah. Ketika bersujud, saya titipkan doa itu kepada Sang Maha Kuasa, saat menyentuh wangi sajadah seolah seperti sedang mencium ubun-ubunnya....



Melihat curhatan melow para wali santri, menjadi ide bagi saya menuliskan catatan singkat seperti ini:

"Tiga bulan tak terasa..

Dan mungkin hingga beberapa masa..

Tanpa foto-foto, tanpa video call yang menampakkan raut wajah

Hanya suara..

Itupun belum tentu sebulan sekali, sesempatnya Ananda..

Namun yang tak pernah lupa

Adalah doa...

Sebab doa merekatkan yang renggang karena waktu dan ruang

Melapangkan yang menyesakkan.

Toh masih di Indonesia.

Belum Madinah, Cairo, Turki atau Yaman nun jauh di sana..

Atau entah di sudut hamparan bumi yang mana..

Demi memperjuangkan menegakkan syiar kalam Allah Yang Maha Mulia..

Perjuangan masih panjang, wahai...

Bukan saatnya terbuai rindu dendam dan berandai-andai.

Sedikit saja lengah, anyaman mimpi dan cita-cita akan terburai..

Satu nasihat dari kyai kita, yang membuat wali santri berlapang dada , adalah: jika ingin anaknya kuat, orang tuanya harus lebih kuat. ..

Semoga kita selalu ingat

Bahwa..

Mereka dititipkan untuk mendapat pendidikan terbaik.

Lillahi ta'ala

Demi menggapai kemuliaan dunia dan akhirat.."

Sejak memutuskan menitipkan pendidikan anak di pondok pesantren, kami harus siap dengan segala konsekuensinya. Berupaya patuh sepenuhnya pada peraturan pondok. Seperti saat pondok mengeluarkan maklumat melarang kunjungan, kami tak mau ambil risiko mencuri-curi kesempatan dengan berkunjung. Entah ketemuan di Rabithoh atau di mana, meski tidak di Satelit. 

Adalah manusiawi ketika ada santri yang curhat, galau jika tak ada perpulangan semester ini. Terutama santri baru atau sebagian kelas lima yang tahun depan jatahnya mukim di pondok.

Bagi santri baru, perpulangan adalah saat re-charge rindu. Bagi santri kelas lima, liburan perpulangan 10 hari adalah saat terakhir "menyenang-nyenangkan diri, bepergian, rekreasi" sebelum setahun  lebih nantinya akan bermukim di pondok hingga yudisium akhir KMI.

Si Mas juga begitu, telpon jarang-jarang, tetapi saat telpon ada nada galau karena tak bisa pulang. Dengarkan saja, hibur semampu kita. Ingatkan kembali perjuangannya telah sejauh ini. Agar ia bisa istiqomah dan tetap bersemangat hingga lulus berbekal ilmu yang barokah dan berhak atas ijazah.

Saya teringat pada kata mutiara Imam As-Syafi'i, yang biasa kita temui di pencarian google. Dan biasa dinukil para penuntut ilmu.


In the time of corona, menuntut ilmu di pondok pesantren, jauh dari orang tua ..perihnya mungkin berlipat-lipat. Tetapi semua itu insyaAllah akan membuat mereka menjadi lebih kuat.

Seperti syair-syair Imam As-Syafi'i tentang merantau dan menuntut ilmu. Saya pernah menemukan dalam bentuk tulisan bergambar, dari taklim seorang ustad, Lalu saya temukan di google search seperti ini

"Berdiam diri, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan)"

"Air yang tergenang dalam diamnya, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan"

"Merantaulah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha"

"Sekawanan singa, andai tidak meninggalkan sarangnya, niscaya insting berburunya tidak lagi terasah, ia pun akan mati karena lapar. Anak panah, andai tidak melesat meninggalkan busurnya, maka jangan pernah bermimpi akan mengenai sasaran"

"Dan bijih emas yang masih terkubur di bebatuan, hanyalah sebongkah batu tak berharga, yang terbengkalai di tempat asalnya. Demikian halnya dengan gaharu di belantara hutan, hanya sebatang kayu, sama seperti kayu biasa lainnya. Gaharu menjadi parfum bernilai tinggi jika keluar dari belantara hutan, Dan bijih yang keluar dari tempatnya akan menjadi emas yang berharga"



InsyaAllah apapun keputusan pondok adalah keputusan yang dipikirkan dengan bijak, dalam pertimbangan panjang. Saat-saat seperti ini sepertinya tak perlu berandai-andai ada libur perpulangan atau tidak. Tetapi perkuat doa, perhatian, support karena ujian akhir para santri KMI sudah di depan mata.

Saya masih ingat, ketika komentar-komentar miring berhamburan ketika link-link portal berita mengabarkan pondok-pondok yang terpapar corona. Menyalahkan pihak pondok, para santri dan keluarganya. Intinya "sudah tau musim corona, kok malah masuk pondok"

Dan kini berbagai klaster bermunculan, pabrik, kantor, tempat hiburan, restoran, supermarket. Sebagai pengingat, bahwa tak hanya pondok yang harus berisiko dan berjibaku melawan virus corona, tetapi semua tempat berkerumunnya banyak orang. Dan kita memang tidak pernah tahu kapan pandemi ini berakhir. Hanya bisa berdoa dan berikhtiar agar tidak tertular, namun sendi-sendi kehidupan, termasuk mencari nafkah dan menuntut ilmu tetap berputar.

Ketika mulai bermunculan keluhan-keluhan karena sekolah tak kunjung dibuka. Para siswa mulai bosan, orang tua mengeluh harus turut belajar dan meluangkan waktu lebih lama, ada yang anaknya malah keluyuran di jam sekolah, asal sudah absen wajah melalui zoom saja. Dan juga kabar-kabar duka tentang berbagai kekerasan dalam rumah tangga hingga hilangnya nyawa karena sekolah daring sebagai pemicunya saya hanya bisa mengelus dada. Saya tak bisa bersorak "nah, lebih terjamin di pondok pesantren 'kan? anak-anak bisa belajar tenang, tak terpapar godaan gadget yang mengerikan, orang tua ndak stress karena terpaksa sekolah lagi, nggak boros kuota dan berbagai cemoohan lainnya"

Jika saya mencemooh seperti itu, apa bedanya dengan mereka yang mencemooh pondok-pondok pesantren yang dahulu memutuskan untuk memulai proses belajar tatap muka?

Melihat fenomena yang mengerikan itu, saya merasakan perih yang berbeda. Entah di mana ujungnya. Di satu sisi dunia pendidikan dipaksa mengajarkan ilmu, akhlak dan budi pekerti. Sisi lainnya dituntut melindungi anak agar tidak terpapar virus corona.

Jika belajar di rumah orang tuanya marah-marah emosi, karena harus bekerja di rumah sekaligus menuntun anak belajar lebih lama, kira-kira apa yang terekam pada memori anak-anak itu?

Jika selama jam sekolah daring ternyata keluyuran di luar rumah, apa dijamin tidak akan terpapar virus corona?

Ah entahlah...

Berharap pandemi ini segera musnah dari muka bumi.

Semoga tulisan sekaligus doa di Jumat berkah ini, Allah ijabahi...



Share:

94 Tahun Gontor

Hari ini, 20 September 2020, genap 94 tahun usia Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pondok pesantren yang memiliki ciri khas kurikulum mandiri yaitu KMI
Pondok yang mewajibkan sarung pakaian sholat santrinya dilengkapi dengan sabuk sehingga aman dari tiba-tiba melorot dan rapi dipandang mata.
Pondok yang lika-liku sejarahnya begitu luar biasa.


Sejarah pondok saya copaskan dari gontor.ac.id seperti berikut:

Perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18. Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini. Saat pondok tersebut dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya. Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.

Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun bahkan pemabuk.

Dengan bekal awal 40 santri, Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Anom Besari. Ketika Kyai Anom Besari wafat, Pondok diteruskan oleh generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari.

Setelah perjalanan panjang tersebut, tibalah masa bagi generasi keempat. Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, dan kemudian kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor. Mereka adalah;

  • KH. Ahmad Sahal (1901-1977)
  • KH. Zainuddin Fanani (1908-1967)
  • KH. Imam Zarkasyi (1910-1985)

Mereka memperbaharui sistem pendidikan di Gontor dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi. Pada saat itu, jenjang pendidikan dasar dimulai dengan nama Tarbiyatul Athfal. Kemudian, pada 19 Desember 1936 yang bertepatan dengan 5 Syawwal 1355, didirikanlah Kulliyatu-l-Muallimin al-Islamiyah, yang program pendidikannya diselenggarakan selama enam tahun, setingkat dengan jenjang pendidikan menengah.

Dalam perjalanannya, sebuah perguruan tinggi bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) didirikan pada 17 November 1963 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1383. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Saat ini ISID memiliki tiga Fakultas: Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab, FakultasUshuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama, dan Akidah dan Filsafat, dan Fakultas Syariah dengan jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, dan jurusan Manajemen Lembaga Keuangan Islam. Sejak tahun 1996 ISID telah memiliki kampus sendiri di Demangan, Siman, Ponorogo.

Dari beberapa kampusnya yang ada di pulau Jawa, kami pernah beberapa kali berkunjung ke Darul Muttaqien, Gontor 4 Banyuwangi, pernah mampir ke Gontor 2 Siman. Pernah singgah di Darul Makrifat Gontor 3 waktu berkelana ke Gunung Kelud lewat Kediri. Dan beberapa kali ke Universitas Darussalam.

Foto kenangannya sebagian saya rekam di postingan ini.

Saat menunggu santri istirahat di halaman Rabithoh. 


Saat jalan-jalan ke kampus Gontor 2 di Siman


Waktu singgah sejenak ke kampus Gontor 3 Kediri dalam perjalanan pulang dari Gunung Kelud.



Saat berkunjung di Gontor 4 Banyuwangi (dahulu masih bernama Gontor 5) waktu si Mas masih kelas satu.




Share:

Ulama dan Nilai Kehidupan yang Ditanamkannya

September 13, 2020 Masyarakat Indonesia diguncang berita : Syaikh Ali Jaber ditikam saat berdakwah. Prihatin, penikaman ulama kembali terjadi di negeri ini, untuk kesekian kali. Entah apa motif para pelaku. Namun akhir-akhir ini kejadian tragis ini sering terjadi.

Jika disebut muatan politis, sepengetahuan saya Syaikh Ali Jaber tak pernah bersinggungan dengan politisasi. Aktivitas beliau berkisar di dunia Islam pada umumnya. Pesan-pesan beliau adalah tentang menjadi muslim yang baik, jangan pernah meninggalkan sholat, cintai Al Qur'an dan berbagai tausiyah yang sangat mendasar.

Berharap tindak kekerasan terhadap ulama tak akan pernah terulang lagi.

Tugas ulama, kyai, pemuka agama memang tidak mudah. Mendidik akhlak, menegakkan tauhid di muka bumi. Lalu ingatan saya tertuju pada sosok-sosok ulama, para kyai di kawah candradimuka tempat putra sulung saya ditempa. Beribu pondok pesantren berdiri di nusantara, namun hanya beberapa yang mampu bertahan dalam usia lebih dari 90 tahun. 

Bisa dibayangkan, betapa kuatnya doktrin yang melekat pada para santri, yang ditanamkan sebuah pondok pesantren yang tetap berdiri tegak hingga beberapa generasi.

Salah seorang alumninya, Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc adalah pemuka agama di perumahan kami. Beliau adalah pengasuh sebuah pondok pesantren, pendidik di Sekolah Tinggi Dakwah, juga aktif memberikan ceramah di berbagai kota terutama di Jawa Timur, baik secara langsung maupun di radio dan televisi. Di masjid perumahan, setiap ba'da subuh hari Sabtu diadakan kajian Fiqih yang diasuh beliau. Pernah suatu hari beliau bercerita tentang kehati-hatian kyainya saat masih mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

"Kyai saya dulu, para Trimurti sangat berhati-hati dengan uang yang disimpan di bank. Dahulu belum ada bank berdasarkan syariah seperti sekarang. Padahal menyimpan uang di bank bisa jatuh ke dalam riba karena bunganya. Sementara uang perputaran aset pondok dari berbagai unit usahanya harus disimpan di tempat yang aman. Maka beliau menyisihkan "bunga" dari simpanan itu dan digunakan untuk keperluan lain, selain makan bagi para santri dan keluarga pondok. Uang itu digunakan untuk membayar tagihan listrik, pembangunan, perbaikan lain-lain"

Saya tertegun. Begitu kuatnya para kyai Gontor menanamkan doktrin syariah hingga santrinya, yang telah menjadi pengasuh pondok pesantren, menjadi pemuka agama selalu ingat dengan ilmu dan pendidikan yang diberikan selama dahulu menimba ilmu di pondok pesantren. Betapa bijak Trimurti, mencari jalan keluar terbaik yang insyaAllah membawa kebaikan bagi pondok pesantren agar tetap berada di jalan yang Allah ridhoi.



Lain hari, saya mendengarkan ceramah seorang ustadz, saya lupa namanya. Beliau mengisi khotbah di malam bulan Ramadhan. Di antara waktu jeda sholat Isya' dan sholat Tarawih/Witir di masjid Al Ukhuwwah di perumahan kami.

"Mendidik anak yang baik bukan dengan memanjakan mereka dengan berbagai fasilitas. Tetapi biarkan mereka menjalani hidup dengan berbagai tugas. Kyai Imam Zarkasyi, pendiri pondok Gontor selalu menugaskan putranya untuk memanjat pohon kelapa, mengambil buahnya yang sudah waktu dipetik dan menjualnya ke pasar. Padahal beliau seorang kyai besar. Bisa saja menyuruh orang atau mengupah orang lain untuk melakukan. Tetapi tidak. Beliau menugaskan sang putra bukan tanpa sebab. Namun sedang mengajarkan arti bekerja keras, tanggung jawab dan kesungguhan. Dan putranya kemudian melanjutkan perjuangan beliau, mengasuh pondok pesantren yang termasuk terbesar di Indonesia"

Saya kemudian membaca kisahnya tentang "pohon kelapa" ini di buku Ajaran Kyai Gontor 72 Prinsip Hidup KH Imam Zarkasyi.

Di kesempatan lain, saya mendengar tausyiah Kyai Hasan Abdulah Sahal. Saya agak lupa, apakah saya mendengarnya langsung saat acara pengumuman seleksi santri baru atau saya melihat potongan videonya di media sosial yang dikelola para alumni di Instagram.

Kira-kira narasinya berbunyi begini "tidak ada barokah kyai karena kalian sowan setelah menjadi alumni, namun kebarokahan itu datang karena kalian menjalin silaturahim. Tidak ada namanya barokahnya pondok, namun kebarokahan itu timbul karena niat kalian yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, keluar dari kenyamanan rumah"



Sebuah tausyiah yang syarat makna. Betapa kadang kita bisa terpeleset dengan kurang tepat dalam memaknai "barokahnya pondok dan kyai" Teringat ustadz di kelas tarjim pernah bertanya "Apakah di masa sekarang umat muslim sudah benar-benar menegakkan tauhid?" Kami menjawab "sudaah, kan nggak ada yang menyembah pohon dan berhala" Beliau berkata lagi "tapi kenapa masih ada yang sowan ke kyai, bawa air untuk disuwuk, didoakan untuk berbagai keperluan" lalu kami pun terdiam.

Teringat cerita tetangga saya, kalau putra/putrinya yang sedang mondhok di sebuah boarding school milik seorang kyai, jika usai liburan merasa enggan kembali ke pondok, langsung dibawa menghadap kyainya untuk di"suwuk" Sementara di pondok Gontor, jika ada kasus yang sama, yang dilakukan pihak pondok adalah pendekatan persuasif. Ustadz pengasuhan atau alumni yang kebetulan dikenal pasti akan memberikan pendekatan persuasif, bicara dari hati ke hati pada santri yang berniat ingin "melarikan diri" Saya sendiri pernah mengalami, ketika putra saya sakit parah dan minta izin pengobatan di pengasuhan santri. 

Ketika ustadz memberikan izin hanya lima hari, putra saya mulai menangis, terbaca bahwa dia seakan tak berniat untuk kembali ke pondok. Ustadz menghiburnya dan menguatkan mentalnya. Beliau juga rajin memantau perkembangan pengobatan melalui WA. Sebuah pendekatan persuasif untuk mengarahkan agar santri bertekad menuntaskan menuntut ilmu di pondok, tidak putus di tengah jalan.

Tentang keutamaan menuntut ilmu, bukankan Allah yang menjanjikan bahwa ketika seseorang keluar dari pintu rumahnya dengan niat menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang. Inilah letak kebarokahan itu.

Sebagai orang awam dalam dunia pendidikan pondok pesantren, saya menarik kesimpulan jika minat wali santri/ santri untuk memilih pondok pesantren sebagai sarana menuntut ilmu didasarkan pada 3 hal :

1. Karomah kyai dan sejarah pondok

Pondok-pondok pesantren besar dan berusia lebih dari puluhan tahun sebagian besar bisa bertahan karena nama besar kyai pendiri dan pengasuhnya. Namun Gontor mampu membuktikan bahwa nama pondoknya lebih dikenal dari pada nama kyai pengasuhnya. Di Gontor juga jarang terdengar kisah-kisah "karomah kyai" yang mengandung mistis. Justru yang menggema adalah pesan-pesan singkat, tausiyah para kyai, mulai dari Trimurti sebagai pendiri hingga generasi kedua sebagai pengasuh pondok. Pesan-pesan yang sarat makna dan mengandung nilai-nilai kehidupan yang begitu berharga.


2. Visi dan misi pondok pesantren

Kesamaan visi dan misi wali santri/santri dengan pondok pesantren sangat menentukan ketika hendak menjatuhkan pilihan. Kami bersyukur, Panca Jiwa PMDG (keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwwah islamiyah dan kebebasan berpikir) adalah visi yang sangat tepat untuk mendidik putra kami.



3. Fasilitas

Saat ini terjadi pergeseran nilai. Bisa jadi memilih pondok pesantren sebagai tempat menimba ilmu berdasar pada fasilitas yang diberikan, dengan alasan agar santrinya krasan dan bisa menuntut ilmu dengan nyaman.


Tak ada yang salah dengan alasan terkuat dalam penentuan memilih pondok pesantren. Namun yang salah adalah jika sebagai wali santri bersimpangan jalan dengan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan pondok pesantren. Di pondok dididik mandiri, saat berlibur di rumah dimanjakan berlebihan. Di pondok diajarkan sholat tepat waktu, di rumah dibiarkan lalai sholat subuh dengan alasan kasihan.

Semoga sebagai umat muslim kita mampu berupaya menjadi sebaik-baik insan. Dan semoga nilai-nilai Islami yang diajarkan Rasulullah, para ulama bisa kita terapkan dalam kehidupan.



Share:

Dunia yang Menipu

 "Dunia yang menipu"

Sholat dhuha dan berinfak sedekah demi harapan diganjar rezeki harta  berlipat ganda.

Berziarah ke tanah suci berharap ongkosnya diganti...

..sah-sah aja..

Hanya...

Kita nggak bisa protes jika nanti di akhirat..zonk.. tabungan amalan kita kosong. Saat kita bertanya, "Mana hasil amalanku di dunia dahulu? Aku rajin melaksanakan semua perintahMu"

Lalu Allah menjawab, "Bukankah sudah kukembalikan, kontan di dunia, berlipat ganda, sesuai janjiKu..seperti harapanmu?



Apakah dilarang berharap sesuatu kepada Allah? Tentu tidak..bahkan Allah yang berseru " mintalah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan".

Hanya saja..sudah sepatutnya niat utama kita adalah berharap Allah ridho' dan menghujani kita dengan rahmatNya..hingga kita selamat dunia dan akhirat..

Bahkan dalam dunia tasawuf, beribadah karena berharap pahala tanda keikhlasannya kurang..sulit dong ya.

Maka..lebih aman ambil yang pertengahan..

Melakukan kebaikan itu tujuannya Allah dulu..luruskan niat nomor satu..masalah lain-lain anggaplah bonus, bisa kita "tagih" kalau perlu.  Kalau ngga perlu-perlu banget ya biarlah menjadi tabungan di akhirat.

Seperti itu nikmatnya khouf dan roja'

Berharap-harap cemas..

Seperti saat berharap turun hujan di musim kemarau atau saat memandang langit kelabu, hembusan angin yang mulai dingin usai terpapar hari-hari dalam teriknya matahari..

Share:

Asyiknya Bermain Bersama Canva

Canva itu siapa kok diajak bermain segala? ehehe ya...Canva itu aplikasi. Sebenarnya dulu sudah sering nguplek Canva. Sebab aplikasi sangat mudah digunakan sebagai penunjang di dunia blogging dan internet marketing. 

Dulu, waktu masih jadi kontributor di salah satu portal online untuk mengisi akun penulis inspiratif, Canva dan picsart sangat membantu untuk membuat gambar disertai quote cantik.

Lalu pas sempat kerja mengelola akun olshop di IG, saya biasa menggunakan Canva untuk menulis quote atau tulisan inspiratif serta memasang foto produk sebagai isi feed.

Sekarang Canva tiba-tiba ngehits di kalangan kawan blogger dan influencer. Takjub melihat mbak Tuty Queen pertama kali memasang gambar bercerita yang ia buat dari Canva. Keren, ternyata bisa dibuat semacam komik. Senaang banget lihat FB Mbak Tuty Queen yang berhias karya uplek Canva, tepat sekali jika beliau membuka kelas berbayar untuk belajar Canva. Cuakep-cakeep karyanya. Terimakasih pula buat Wulan Kenanga yang sempat membuat tutorial dasarnya di youtube.

Saya coba menuliskan sedikit yang saya ketahui dari teknik dasar mengolah Canva. Paling sederhana seperti ini, sekalian buat promo produk dagangan kami hehehe, Tisu See-U.


Caranya:
1. Buat akun di Canva.com
Bagi yagn belum punya, ikuti step by step registernya

2. Klik create a design
Isi kolom customs dimensionnya, terserah lah mau isi angka berapa, nanti biar bisa lihat sendiri hasilnya hehehe

3. Klik simbol warna pada page kosong
Setelah klik create design di langkah 2 tadi maka akan muncul tayangan seperti di bawah. Klik simbol papan warna warni untuk memilih warna background yang dikehendaki.
maka akan muncul begini

4. Upload foto untuk tambahan "elemen"
Kalau ingin memasukkan foto produk manfaatkan fitur upload. 
5. Bermain dengan fitur elemen
Di sinilah pusatnya "tempat bermain" bersama Canva. Untuk memilih kategori silahkan ketik sesuai keywordnya. Misal ingin memasukkan gambar meja, maka ketik kata "table" . Ingin gambar orang bekerja, ketik "desk" atau "office"
Ukuran dan rotasi "elemen" termasuk hasil unggahan kita tadi bisa disesuaikan. Klik di obyek yang tampil di "media gambar" pasti akan muncul ikon untuk menyesuaikan ukuran dan rotasi, putar-putar atau tarik-tarik aja...ini sebabnya saya menyebutnya: bermain bersama Canva hehehe

Manfaatkan fitur klik kanan pada obyek, lalu pilih "send to back" untuk memberikan kesan tiga dimensi, hasil tampilan tidak datar, misalnya ada ikon-ikon yang berada di bagian belakang.


Kalau sudah dirasa selesai, sesuai selera dan keinginan klik tombol download di pojok kanan atas itu. Cari hasilnya di folder download di laptop/komputer. Atau di copas dengan cara tekan keyboard alt dan printscreen bersamaan lalu copas di paint. Crop yang perlu dipaaakai. Hasilnya seolah berada dalam ruangan kantor kan?

Masih sedikit yang saya ketahui, tapi senang aja ngulik Canva dan jadi gambar cantik-cantik seperti ini. Yuk kita belajar lagi. Tapi jangan sampai lupa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yaa..


Tapi bermain bersama Canva memang menyenangkan. Bisa digunakan untuk mengisi konten positif di akun medsos, bisa juga untuk alat promosi seperti yang saya lakukan tadi, meskipun tekniknya masih sangat sederhana. 










Share:

Begini Caraku Mengisi Waktu Sebagai Pengangguran

Sejak kehilangan pekerjaan sebagai penulis tetap di sebuah website yang pendanaannya terimbas krisis ekonomi akibat pandemi, praktis saya tak punya kesibukan. Menganggur sangat tak nyaman. Padahal sebelumnya saya memang tak punya pekerjaan tetap, alias freelancer, bekerja lepas, kadang menerima order menulis artikel, kadang sebagai influencer. Asal ada kegiatan yang memberi saya pendapatan.

Well, money it's not everything, but it takes money to keep it all work. Uang bukan segalanya, tetapi hampir seluruh hal di dunia ini butuh biaya. Mulai dari makan, minum, listrik, hingga kuota internet. Internet udah jadi bahan pokok aja ya. Apalagi kerjaan saya sebagai pekerja lepas tergantung pada internet untuk mencari bahan tulisan, menulis dan jaringan media sosial.

Untuk mengisi waktu yang kian senggang, begini caraku beraktivitas positif agar tak terlalu bengong seperti sapi ompong:

1. Belajar fotografi


Qodarullah, pas ada yang promo kelas gratis fotografi, saya juga coba ikutan. Tapi karena saya juga masih angot-angotan nggak jadi ikut kelas berbayar. Satu hari kelas promo mengajarkan tentang teknik frog eye. Teknik ini bertujuan menimbulkan kesan "besar" bagi obyek kecil atau "megah" pada obyek besar. Dilakukan dengan cara teknik mengambil fotonya dari titik tiarap, lensa kamera berada di bawah, lalu dimiringkan sekitar 45 derajat.

Ini karya saya, tapi kata pengajarnya masih kurang optimal hehehe..Ngga apalah



2. Nguplek Canva

Lagi booming nguplekin Canva. Dan tutorialnya bertebaran, gratis. Ternyata Canva yang gratisan bisa jadi karya yang keren-keren. Dulu saya biasa pakai Canva untuk bikin Quote aja, eh bisa buat semacam cerita bergambar.


3. Isi survey online
Yang ini rutin deh, jangan sampai dilupakan. Mayan, dari tukar poin hasil isi survey bisa buat beli kuota internet. Biasanya saya kumpulin sampai cukup buat saldo GoPay atau E Vcr Tokopedia. 

https://id.toluna.com/referral/DwiAprily

4. Praktik bikin herbal ala-ala
Haha ini mah nggak sengaja. Karena sahabat saya ngirimin kunyit buanyaak sekali, akhirnya bikin sirup kunyit seperti resep yang diberikannya.
Kunyit (saya pakai lima ruas kunyit) dibersihkan, potong-potong blender dengan tiga gelas air. Saring filtrat. Pada hasil saringan tambahkan madu dan air perasan jeruk nipis. Panaskan, tambahkan gula pasir sesuai selera. Didihkan. Diamkan


Ya begitulah cara saya mengisi waktu senggang yang kian renggang aja di masa krisis. Yang penting gak cuma melulu maen-maen di medsos dan ga dapat apa-apa selain (misalnya) berdebat atau bikin orang sakit hati. 

Mudah-mudahan krisis ekonomi ini segera berlalu. Bisa dapat job-job yang penuh keberkahan. Bisa lebih sering menang lomba dan kuis lagi untuk menambah saldo tabungan. Sembari menunggu, semoga tak bosan untuk berbuat kebajikan.
Share:

1 Juta dari Emak Merdeka PKS Bahagia

Alhamdulillah di saat saya terdampak finansial karena pandemi corona, Allah menganugerahkan rezeki dari arah yang tak terduga. Kebayang nggak sih harus kehilangan penghasilan dan pekerjaan, padahal pekerjaannya serabutan alias part time. Trus Hape android memori pas-pasan yang biasa dipakai kerja (serabutan) mulai rewel, bahkan sempat ngga nyala karena mogok dicharge? Itulah yang saya alami beberapa pekan terakhir. 

Sejak sebulan belakangan, saya nyaris jadi pengangguran. Pekerjaan sebagai penulis artikel pengisi website ditangguhkan untuk waktu yang tak bisa dipastikan. Sebab pendanaannya kian tersendat akibat krisis ekonomi. Sedih, pasti. Bukan hanya penghasilan yang melayang, tapi rutinitas menulis artikel bertema tentang tips, life style, kabar berbagi kebaikan ikut menghilang. 

Jadilah hidup saya semakin serabutan hehehe ...kembali lebih tekun mengais rezeki melalui aneka quiz dan lomba. Dan tetap berupaya berbagi konten positif di dunia maya. Alhamdulillah, yakinlah jika satu pintu rezeki tertutup, masih ada kisi-kisi dan jendela yang terbuka. Sungguh saya bersyukur, selama kehilangan penghasilan dari menulis tercatat beberapa kali menang quiz berhadiah voucher belanja dan saldo dompet elektronik. Daan yang paling membahagiakan tentunya menang cash 1 juta rupiah dari PKS. Yaa. Partai Keadilan Sosial.

Qodarullah, waktu itu tak sengaja saya melihat flyer kontes #videoEmakMerdekaPKS #EmakMerdekaPKSBahagia di beranda FB. Temanya tentang arti kemerdekaan bagi emak-emak di masa pandemi. Girang banget dapat info ini karena hadiahnya senilai 75 juta rupiah untuk 75 pemenang. Kans menang gede kan ya? Pikir saya begitu. Padahal nih, saya paling nggak pede disuruh ngomong di depan kamera. Vlog gtu pasti ancurlah. Tapi namanya usaha yee kan?

Konsep yang mau diomongin ditulis sampai dua lembar. Take action nunggu rumah sepilah, kalau ada si bungsu dan suami pasti dibully hihihi. 



Baru aja opening curhatan kok udah lewat dari satu menit, lebih dari batas persyaratan lomba yang maksimal 1 menit dong. Duuh sampai tiga kali take. Lalu tetep aja akhirnya dipotong-potong, baru dijadiin satu lewat aplikasi Viva Video. Alhamdulillahnya, suami malah ikutan bantu motong scene video biar pas 1 menit hehehe.

Pas upload di 17 Agustus seneeng deh, pesertanya ngga sampai 75 orang. InsyaAllah dapat semua doong. Eeh iseng pas mendekati DL ceki ceki hashtag..masyaAllah sudah lebih dari 200 peserta aja, itu pun dari hasil search di IG doang. Belum di FB, Twitter dan Youtube. Daaan video mereka pada bagus-bagus, mirip film pendek gitu deh, Aduuh jadi minder sama lihat video sederhana saya.

Jadilah yang semula optimis berubah senin - kamis. Yaudahlah kalaupun ngga menang tetep harus ridho atas ketentuan Allah. Toh sudah berusaha dan senang tetap bisa berbagi konten positif di dunia maya. Teman-teman di grup pengajian pada terhibur semua kok heheh dan turut mendoakan pula (barokallah fii kum untuk anggota MT. Maratus Shalihah) dan terimakasih pula pada teman-teman yang mampir, memberi like dan komen secara suka rela.

videonya bisa dilihat di  sini 

Dengan caption seperti ini:

75 Tahun usia negeri Indonesia tercinta. Jika bagi manusia, 75 adalah umur yang lazimnya untuk bersantai menikmati usia senja, tidak demikian bagi suatu bangsa . Tetap harus berjuang hingga titik darah penghabisan.
.
Demikian juga bagi Indonesia, apalagi bangsa kita sedang berjibaku melawan virus Corona.
.
Kemerdekaan di masa pandemi menurut saya adalah:
1. Merdeka secara finansial. Sebisa mungkin hindari berhutang. Emak-emak harus lebih bijak mengelola anggaran. Berharap pasar murah yang diadakan pemerintah bisa terdistribusi lebih merata ke seluruh daerah
2. Merdeka dalam beribadah.
Karena physical distancing, beribadah di rumah Allah tak bisa leluasa, tapi kita tetap bebas beribadah di rumah
3. Merdeka dalam berkarya
Kita bisa mengunggah konten positif, menulis, membagikan kisah inspiratif melalui dunia maya. Seperti melalui 
#VideoEmakMerdekaPKS
.
Untuk PKS saya berharap tetap istiqomah berkhidmat untuk umat. Terimakasih atas konsistensinya mengedukasi umat, membantu korban bencana dan mendirikan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) . Berharap RKI tak hanya mengedukasi, tetapi juga membantu IRT mampu produktif secara ekonomi di masa krisis akibat pandemi. Sebab 
#EmakMerdekaPKSbahagia
.
Mari mbakmbak-mbak 
@murti_ya
@ranisvinren @lina_ariani8 meriahkan lomba video dari PKS sekaligus berbagi konten tentang kebaikan.
.
Bagi yang mau ikutan bisa cek di IG 
@pk_sejahtera dan akun-akun medsos PKS lainnya

Alhamdulillah .. tsumma Alhamdulillah ..pas pengumuman 28 Agustus, yang saya baru lihat keeseokan harinya ternyata Allah menitipkan rezeki saya di sini. 1 Juta rupiah ..MasyaAllah...dan salutnya lagi, hadiah ditransfer ga pakai lama. Tanggal 29 Agustus kirim data, tanggal 2 September hadiah sudah mendarat mulus tanpa potongan apapun juga. Barokallah..



Kalau rezeki tak kemana, jika bukan rezeki meski sudah di tangan bisa hilang juga (teringat hadiah voucher belanja yang keselip lalu ketemu pas sudah kadaluwarsa).

Sungguh Allah Maha Segala...


Share:

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.