Google+ Followers

Tuesday, February 18, 2014

#SaveRisma





Surat Terbuka untuk Ibu Risma,
Bu apa kabar Surabaya hari ini ?

Bu Risma, meski mungkin ibu gak punya twitter, FB, instagram, path, line tapi di dunia maya banyak yang menyayangkan jika Ibu mundur sebagai walikota Surabaya. 

Bu, saya bukan siapa-siapa, hanya kebetulan sebagai salah seorang yang lahir di Surabaya dan mencari nafkah di Surabaya selama hampir sepuluh tahun.

Bu, saat tak banyak media massa dan warga maya membicarakan prestasi Bu Risma, kami yang di Surabaya sekitarnya sudah merasakan kerja keras ibu secara nyata padahal saat itu ibu masih menjadi Kepala Dinas Pertamanan...taman-taman kota, SPBU yang berubah menjadi lahan hijau memberi harapan baru setiap kali saya harus megap-megap terjebak macet sepulang kerja, paru-paru saya seolah turut berharap oksigen dari taman-taman itu sekedar menyambung nafas, mata jadi lebih segar berharap cemas ada kupu-kupu yang melintas.

Bu, sejatinya saya ganti PP facebook , avatar twitter atau mengisi petisi #SaveRisma pun tak akan berpengaruh apapun pada keputusan ibu nanti tapi setidaknya memberi saya semangat untuk kuat melangkah tak mudah putus asa _ menghadapi kenyataan dua anak sakit bersamaan ditambah kerjaan yang diburu deadline dan masih harus keluar kota nantinya demi menyenangkan hati orang tua saja saya sudah stress setengah mati tak terbayang ibu harus mengurus orang satu Surabaya, menghadapi teror pasar Turi yang sengaja dibakar dan pembangunannya tak kunjung kelar, banjir yang tetap rajin sambang Surabaya karena sebagian salah tata ruang (eh saya masih ingat saat masih bekerja , di perjalanan sekitar jam 7 pagi ibu sudah mengudara diwawancarai radio lokal di lokasi pintu air memantau agar tidak terjadi banjir, ternyata bu Risma sudah keluar rumah pagi-pagiii sekali bahkan saat saya masih di kamar mandi..hmmm ibu bekerja diam-diam nyaris tanpa pemberitaan yang kata seorang teman berita-berita itu kadang cuma rekayasa, pesanan politisi lha emang bu Risma pas Pemilu milih partai mana, siapa tau nggak memilih seperti saya hehehe) ditambah teror KBS yang penuh misteri (tak hanya misteri tentang pohon yang berputar sendiri saat dini hari menurut kesaksian anak buah ibu yang diinstruksikan patroli menjaga KBS secara bergiliran) tapi misteri mengapa banyak hewan mati dan "bunuh diri" oh ternyata ada yang ingin menjadikan kebun binatang itu sebagai mall, kebun yang ibu pertahankan setengah mati sebagai hutan kota_ Padahal lo Bu, kebun binatang dan mall itu beda tipis, bedanya nafsu hewani di mall-mall dibungkus rapi dan berdasi sementara di Kebun Binatang Surabaya penghuninya tanpa busana  _ Dan eh teman saya ada yang bertanya mengapa lambat sekali menangani masalah ini, ada juga yang berpikir karena masalah hewan tak ada unsur politisnya...ah Bu, kalau saja mereka tahu kisah misteri yang ada di baliknya ya, bagaiman harus bertindak di luar wewenang ditambah begitu banyak rongrongan ?.

Bu, jutaan hashtag ‪#‎SaveRisma‬ atau tanda tangan yang terkumpul dalam petisi mungkin tak akan merubah keadaan karena saya percaya Ibu mengambil keputusan apapun itu atas petunjuk Tuhan seperti yang pernah ibu ucapkan, saat seperti dulu ibu menimbang lamaaa sekali memutuskan harus menerima atau menolak pinangan partai yang punya massa terbesar di Surabaya untuk menjadi walikota (yang akhirnya merasa ibu ternyata tak mudah taat pada instruksi partai itu begitu saja lalu berniat membuat ibu menyerah) tapi dukungan keluarga serta kecintaan pada Surabaya _tentunya juga perkenan Sang Maha Kuasa_ ibu memutuskan untuk melaju dan seperti yang saya duga sebelumnya ibu terpilih sebagai pemimpin atas amanah rakyat penuh harap dan cinta

Bu, apapun yang ibu putuskan saya, kami ucapkan terimakasih atas yang ibu berikan untuk rakyat Surabaya pada khususnya, pada seluruh rakyat Indonesia yang kini terbuka mata hatinya bahwa masih ada pemimpin yang punya hati nurani, paham benar bahwa jabatan bukan sekedar kebanggaan tetapi kelak ada pertanggungjawaban di depan Tuhan_mudah-mudahan banyak yang tersadar ya bu, setidaknya generasi penerus bangsa punya role model bagaimana menjadi pemimpin yang amanah.

Bu, saya sudah kehabisan kata-kata tapi sekali lagi terimakasih atas semangat yang ibu kobarkan, jika dulu semangat rakyat Surabaya karena Bung Tomo kini semangat kami kembali berkobar karena ucapan ibu tempo hari yang kira-kira berbunyi "jangan menyerah anak-anakku seSurabaya, siapapun kalian, siapapun orang tua kalian, kuli, buruh, tukang becak jangan pernah merasa sumbangsihnya terlalu kecil teruslah berjuang mewujudkan mimpi karena Tuhan itu Maha Adil"

Apapun yang terjadi semoga Allah melindungi ibu sekeluarga, titip hormat saya juga pada suami yang ridho Ibu memimpin Surabaya tanpa takut berada di bawah bayang-bayang istrinya (rrrr jadi nggak semua wanita harus tinggal di rumah kan, pemimpin nggak mesti pria kan ^^), titip salam untuk ananda tercinta yang pastinya tak mudah menjalani hidup harus berbagi bunda dengan orang seSurabaya.

Sunday, February 9, 2014

Resensi Teatrikal Hati

Judul    : Teatrikal Hati
Penulis : Rantau Anggun dan Binta Al Mamba
Penerbit : Penerbit Quanta – PT Elex Media Komputindo
Genre : Novel Islami
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 342 halaman
ISBN : 978-602-02-2627-9


Sebuah Cerita tentang Empat Wanita

Pernah membaca novel yang mengisahkan perjalanan hidup empat wanita yang ditulis dua penulis wanita ? rasanya seperti menikmati hidangan aneka rasa, manis, asam, gurih, asin. Teatrikal Hati merupakan novel dalam format sedikit berbeda dengan yang beredar di dunia literasi selama ini. Dibuka dengan prolog tentang pemilihan setting dan tema, novel besutan Rantau Anggun dan Binta Al Mamba sempat membuat penasaran dan bertanya-tanya mengapa pembaca harus menelusuri kisah empat wanita yang berbeda, seperti membaca cerita pendek yang dirangkum dalam sebuah buku. Hingga akhirnya pelan-pelan benang merah mulai menyatukan satu persatu  jalinan kisah ketika Zahra Azkia mulai menjalankan misi memproduseri sinetron bergizi bagi para penikmat televisi terinspirasi dari catatan harian sang Mama dan novel Lelaki Hatiku sebagai sumber ide cerita.

Adalah Zahra Azkia, seorang wanita menjelang tiga puluh yang merintis karir dari seorang artis menjadi produser kreatif di Tropical Entertainment, sebuah production house yang hampir selalu menghasilkan sinetron berating tinggi. Linda Arum, dikisahkan sebagai penyiar radio dan penulis novel yang merindukan kehadiran anak dalam rumah tangganya yang berjalan monoton nyaris tanpa getar romantika cinta. Gwen Saputri, arsitek wanita yang melesat dengan karirnya namun memiliki trauma masa kecil yang membuatnya membenci lelaki sehingga menghindari pernikahan sepanjang hidupnya dan Setyani, kembang desa, putri seorang ulama yang dijodohkan dengan Harjun Notodiningrat, seseorang yang nyaris tak punya kebaikan sedikitpun dibandingkan kemuliaan seorang Setyani.

Zahra Azkia adalah potret muslimah masa kini, cerdas, kreatif, mandiri hingga cukup menyiutkan nyali bagi pemuda yang berniat menyuntingya, adalah Fardan yang menjadi sosok yang sering dijodohkan dengan Zahra oleh rekan-rekan mereka, namun tanggapan dingin Zahra seolah membuat langkah Fardan surut ke belakang, adakah Fardan dan Zahra berhasil mewujudkan harapan teman, keluarga agar mereka bersatu dalam sebuah biduk rumah tangga bahagia ? . Linda yang nyaris putus asa atas tak kunjung hadirnya seorang anak yang begitu didambakan akankah menyerah pada takdir dan menghabiskan masa tua tanpa menikmati masa-masa menjadi ibu yang sangat berharga ?. Sementara itu akankah Gwen memutuskan tak kan pernah menikah akibat memendam luka masa kecil akibat perlakuan sang ayah hingga membuatnya membenci lelaki ? lalu siapakah sebenarnya Setyani, apa yang membuatnya memutuskan menjadi wanita pasrah tanpa ada kehendak untuk memperjuangkan kebebasan dari lelaki yang tak patut dipertahankan ? waktu yang akan menjawab semua pertanyaan pembaca seiring cerita demi cerita membingkai Teatrikal Hati tercipta tanpa jeda. 

Teatrikal Hati menarik untuk dibaca karena menyoroti tayangan sinetron dewasa ini yang terjebak dengan hedonisme dan tidak memberikan pesan moral yang bermanfaat bagi para pemirsa. Kedua penulis tampaknya sangat gelisah dengan trend tontonan televisi saat ini yang didominasi hal-hal vulgar, film-film pendek yang hanya menyajikan adegan percintaan, kekerasan hingga acara campur baur yang tak jelas ujung pangkalnya. Sayangnya dengan ide yang menyentil pentingnya suatu tontonan bermutu bagi pemirsa televisi, Teatrikal Hati nyaris terbawa pada tema cerita sinetron pada umumnya, dimana Harjun Notodiningrat digambarkan sangat sempurna sebagai sosok antagonis, pemabuk, kasar terhadap istri, playboy flamboyan yang suka main perempuan sementara Setyani begitu sempurna dan sangat berbakti kepada suami, taat, patuh luluh meski dihujani pukulan tetap bersabar tanpa niat meminta cerai meski berpuluh bahkan beratus wanita datang dan pergi dari kehidupan sang suami. Fenomena ini sering muncul sebagai tema sinetron tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, membuat gemas bagi yang menyaksikan sekaligus menyebabkan pembaca Teatrikal Hati bertanya-tanya apakah di zaman Setyani – Harjun, di desa sebuah kota santri perilaku asusila Harjun tak mendapat sangsi dari masyarakat ? namun justru dari ketidakwajaran hubungan inilah kisah Teatrikal Hati mengalir sempurna. Mungkin kita sendiri tak sadar bahwa hingga saat ini masih banyak istri yang mendapat perlakuan tak pantas dari suami tanpa mengerti harus mengadu kepada siapa. Namun Teatrikal Hati tetap memikat dalam menampilkan wanita dalam karakter serta perjalanan hidup di masa yang berbeda melalui alur cerita berselang-seling antara flashback dan masa kini.

Teatrikal Hati layaknya kisah kehidupan, ada tangis dalam hidup Setyani, miris akan trauma yang harus dialami Gwen, kehampaan dalam kehidupan Linda sekaligus tawa canda Zahra Azkia dan rekan-rekannya menyadarkan kembali akan kodrat seorang wanita betapa tinggi prestasi dan karir yang dicapainya selalu terbersit harapan untuk melabuhkan hati pada seorang pria, membangun mahligai rumah tangga impian dengan hadirnya anak-anak sebagai pelengkap kebahagiaan serta menuntut kesetiaan seperti kata hati Gwen di halaman 158 “Dan yang paling penting. Aku hanya ingin kesetiaan. Aku ingin menjadi satu-satunya dalam hidup seorang lelaki. Tanpa sambilan atau sampingan.

Tertarik membaca novel ini ? silahkan berburu ke toko buku jangan lupa ikut lomba resensinya sebab Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks


Saturday, February 8, 2014

INFO LOMBA RESENSI BAW COMMUNITY


Be a writer Indonesia adalah sebuah komunitas penulis yang beranggotakan penulis-penulis produktif dan para blogger di seluruh Indonesia dan sebagian anggotanya berada di luar negeri. Buku-buku yang sudah terbit dari tangan-tangan penulis Be a Writer Indonesia tersebar di berbagai penerbit, salah satunya di penerbit Quanta-Elexmedia, yang merupakan lini islami imprint dari Elexmedia, grup dari Gramedia.

               Awal tahun ini Be a Writer Indonesia bekerja sama dengan Quanta-Elexmedia mengadakan lomba resensi buku-buku penulis Be a Writer Indonesia yang khusus diterbitkan oleh Quanta-Elexmedia.
Berikut list buku-buku penulis Be a Writer Indonesia yang diterbitkan oleh Quanta-Elexmedia.
1.            GADO-GADO POLYGAMI, Leyla Hana dkk.
2.            YA ALLAH BERI AKU KEKUATAN, Aida MA.
3.            KETIKA CINTA HARUS PERGI, Elita Duatnofa dan Aida MA
4.            YANG TERSIMPAN DI SUDUT HATI, Ade Anita.
5.            BETANG, CINTA YANG TUMBUH DALAM DIAM, Shabrina,Ws.
6.            TEATRIKAL HATI, Binta Al Mamba dan Rantau Anggun.
7.            PERJANJIAN YANG KUAT, Leyla Hana.
8.            KUSEBUT NAMAMU DALAM IJAB DAN QABUL, Aida MA dan Elita Duatnofa.
9.            PROMISE, LOVE, and LIFE, Nyi Penengah Dewanti.
10.        TEMUI AKU DI SURGA, Ella Sofa.
11.        FRIENDSHIP NEVER ENDS, Santi Artanti.

Nantinya kami akan memilih LIMA (5) ORANG PEMENANG UTAMA. Yang akan mendapatkan hadiah yang banyak sekali. silahkan diintip di sini ya.

Paket buku dari penerbit Elexmedia-Gramedia senilai @350.000.
Sajadah Eksklusif dari penerbit Quanta-Elexmedia.
Merchandise eksklusif dari Leyla Hana
Goodie bag seru (Pashmina + Dompet Kulit) dari Ella Sofa, Binta Al Mamba, Ade Anita, dan Shabrina Ws.
Paket Menarik (handbag ethnic) dari Aida MA
Chocolieta, Homemade Chocolate by Elita Duatnofa.
Souvenir cantik dari Santi Artanti.
Jam table dari Nyi Penengah Dewanti.
Bagaimana cara untuk mengikuti lomba?  Berikut teknisnya ya.


1. Setiap resensi buku diposting di blog masing-masing, atau bisa di note FB Goodreads, Kompasiana, sangat diperbolehkan jika ingin posting di semua akun tersebut. Di akhir resensi, sebutkan: Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks, yang dilinkan ke postingan lomba ini.
2. Setiap peserta diperbolehkan meresensi lebih dari satu judul buku dari list yang disebutkan di atas, semakin banyak jumlah buku yang diresensi semakin baik.
3. Setiap peserta menginformasikan link materi lomba ini di akun linimassanya masing-masing (FB,Twitter, Blog dan lain-lain) dengan menyertakan link dari info lomba.
 4. Setiap resensi dishare pada akun twitter peserta, follow dan mention @BAWCommunity dan @Quantabooks dengan hastag #ResensiBAW.
5.  Bagi peserta yang resensinya sudah ditayangkan di blog pribadi atau di media online, termasuk resensi yang sudah lama ditayangkan (blog atau media cetak/online) juga dipersilahkan mengikuti lomba ini, jangan lupa share link-nya sesuai dengan ketentuan pada point 4.
6. Silahkan join blog Be a Writer Indonesia, www.bawindonesia.blogspot.com dan like Fanpage-nya Quantabooks di FB untuk informasi selama lomba berlangsung.
7. Bagi anggota komunitas Be a Writer Indonesia, diperbolehkan untuk mengikuti lomba resensi ini. Kecuali penulis yang namanya tercantum dalam list buku-buku yang diresensi tidak diperbolehkan mengikuti lomba ini.
8. Lomba berlangsung mulai tanggal 05 Februari sampai dengan 05 Mei 2014. (DEADLINE 05 MEI 2014).
9. Pengumuman Lomba 05 JUNI 2014.
10. Link postingan lomba didaftarkan di kolom komentar di bawah postingan ini dengan format: Nama, Resensi Buku (judul buku yang diresensi), URL resensi, akun twitter.

Baiklah, itu tadi teknis lombanya, silahkan kirim resensi terbaikmu untuk buku-buku Quanta-Elexmedia dari penulis-penulis be a writer Indonesia dan menangkan hadiah-hadiah menarik dari event ini.

Salam,
        BAW Community dan Quantabooks

Note.
Sebagian buku sudah tidak beredar di TB.Gramedia. Namun bisa dipesan di toko buku-toko buku online.

UPDATE!
10 peserta pertama akan mendapatkan hadiah pulsa @10.000 dari Shabrina Ws. Peserta pertama adalah yang pertama kali mendaftar

Resensi Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Judul    : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis : Shabrina WS
Penerbit : Penerbit Quanta - Elex Media Komputindo
Genre : Novel Islami
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 175 Halaman.
ISBN : 978-602-02-2389-6



Tak Masalah Haluan atau Buritan Asal Tiba di Tujuan

          Berbeda dengan sepakbola atau bulutangkis, senada dengan judul novel Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam dayung merupakan cabang olahraga yang kurang popular di Indonesia namun tanpa gegap gempita sorak sorai membahana justru dayung berkarya dalam sepi, mencetak berbagai prestasi, menorehkan nama harum bangsa di posisi tertinggi lewat peraihan berbagai medali. Fenomena ini rupanya menginspirasi Shabrina WS menuliskannya dalam bentuk novel yang mengisahkan perjalanan hidup atlet dayung dari pedalaman Borneo, berjuang hingga meraih posisi atlet pilihan di Pelatnas.

             Apa menariknya membaca novel tentang perjuangan atlet dayung ? begitu mungkin kesan yang tertangkap di sebagian calon pembaca sesaat setelah membaca sinopsisnya namun pemikiran tersebut pasti sirna kala menikmati novel ini kalimat demi kalimat nan puitis, berhias quote-quote manis di setiap babnya. Deskripsi alam Borneo, rumah Betang sebagai rumah adat suku Dayak begitu nyata membawa pembaca seolah sedang menyaksikan sendiri hamparan sungai Barito dan Kahayan, indahnya anggrek hitam sebagai bunga khas belantara Kalimantan serta kokohnya kayu ulin sekaligus merasakan nyeri di hati mengingat pembalakan liar yang telah mencerabut anggrek hitam dan kayu ulin dari habitat asli, menjadikannya langka kini.

             Sosok Danum sebagai perempuan asli Buntok, menggugah kesadaran penikmat novel bahwa wanita Dayak tidak hanya digambarkan sebagai seseorang dengan lubang telinga sangat lebar berhias anting-anting besar, tetapi ia lebih mencerminkan wanita modern meski tetap mengenakan gelang simpai di lengan sebagai perhiasan khas suku Dayak. Modernisasi di pedalaman Borneo juga ditunjukkan oleh sang kakak Arba, yang tiba-tiba saja masuk di dalam hidupnya setelah sekian lama tak bertemu ketika ayah mereka meninggalkan Danum dan ibu untuk hidup terpisah. Arba dikisahkan sebagai kakak yang sangat perhatian dan mengikuti perkembangan zaman dengan memiliki akun facebook dan twitter. Gambaran kecil ini sedikit mengusik pembaca apakah di kawasan Buntok sekitar rumah Betang yang notabene harus ditempuh melalui perjalanan panjang dari kota, mengharuskan menyewa perahu motor atau jukung untuk tiba di tempat tersebut ternyata memiliki infrastruktur BTS dan listrik secara sempurna tanpa gangguan sinyal untuk mengakses internet, berbeda dengan kabar yang selama ini beredar bahwa Kalimantan merupakan salah satu pulau yang mengalami krisis listrik sehingga perlu dilakukan pemadaman secara bergiliran. Namun menikmati bagaimana sang penulis begitu detail menggambarkan tahap demi tahap menanam pohon ulin, perjalanan Danum dari Buntok menuju asrama Pelatda di Palangkaraya serta betapa rinci Shabrina mendeskripsikan angkutan umum, jalan raya menuju Tugu Soekarno di bab-bab terakhir menunjukkan bahwa novel ini ditulis melalui riset yang cukup mendalam menjawab keraguan pembaca tentang masalah sinyal operator dan listrik yang sama sekali tidak mempengaruhi jalinan cerita.

               Kisah dibuka dengan prolog tentang rumah Betang yang begitu kuat mengikat hati Danum membuat pembaca maklum mengapa Danum bimbang untuk meninggalkan rumah kenangan demi meraih cita-citanya sebagai atlet dayung nasional. Tiga kali kegagalan menembus Pelatda hingga kemudian datang kesempatan berikutnya menimbulkan konflik bagi Danum apakah ia harus memenuhi panggilan tersebut, meninggalkan rumah Betang beserta seluruh kenangan, berpisah dengan kakek dan Arba, harta paling berharga baginya setelah kepergian ibunda serta sang nenek atau menggapai cita serta cinta terpendam terhadap teman masa kecilnya, Dehen yang telah melejit sebagai atlet nasional berprestasi seperti cita-citanya selama ini.
Ketika Danum memutuskan memenuhi panggilan, kenyataan tentang kehadiran Sallie di kehidupan Dehen membuatnya teringat kata-kata Arba “Roman klasik. Teman masa kecil, bertemu kembali, jatuh cinta lalu bahagia selama-lamanya. Kamu hidup di alam nyata bukan seperti cerita-cerita novel” (halaman 105) sempat menorehkan luka, apalagi ketika ia harus satu tim dengan Sallie dalam sebuah pertandingan, apakah Danum berhasil menggapai cita-citanya meraih gelar dalam kejuaraan Dayung atau terpuruk karena harapan berbalut roman terhadap Dehen layaknya menggantang asap dan membuatnya gagal untuk kesekian kali? Adakah perhatian Dehen terhadap Danum melalui surat dan sms meski mereka tinggal berjauhan hanya sekedar uluran persahabatan ?. Konflik yang tercipta dalam Betang bukan konflik antara dua sosok yang berhadapan namun lebih pada konflik pada diri Danum pribadi, selain ragu ketika mengambil keputusan pergi memenuhi panggilan atau menemani kakek di hari tua juga konflik yang muncul apakah harus memaafkan sang ayah atau memilih tak pernah berurusan lagi dengannya.

             Betang tidak sekedar mengisahkan romantika antara pria dan wanita namun juga tentang kecintaan suku Dayak terhadap alam seperti ucapan kakek Danum “kita harus mengganti apa yang kita ambil dari alam” ketika ditanya mengapa bersedia susah payah mengembangkan bibit ulin sekaligus menanamnya di lahan-lahan gersang akibat penebangan hutan dan pertambangan (halaman 31). Betang menanamkan filosofi tentang makna dayung itu sendiri bahwa untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan hidup tak masalah harus duduk di haluan atau buritan asal dayung tetap digerakkan, tentang kalah atau menang itu soal belakangan karena kita tak pernah punya apa-apa bahkan diri kita bukan milik kita. Ada Dia yang menggenggam hati, yang tak akan pergi jika kita bersandar, yang akan menguatkan jika kita lemah.

Tertarik membaca novel ini ? cuplikannya bisa diklik di cover buku yang link ke blog sang penulis. Lalu silahkan berburu ke toko buku jangan lupa ikut lomba resensinya sebab Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

Wednesday, February 5, 2014

Berkat Palm Sugar, Cookies pun Jadi Lebih "Segar"

Menonton tayangan televisi tentang bahaya penyakit diabetes mengingatkan saya kembali pada Mama, penderita diabetes selama bertahun-tahun. Diabetes Mellitus yang diderita Mama merupakan penyakit genetis yang diturunkan dari almarhum kakek, adik lelaki Mama juga menderita penyakit yang sama. Dalam keseharian, Mama sangat tergantung pada obat-obatan penurun kadar gula dalam darah, tanpa mengkonsumsi obat khusus penderita diabetes kadar gula Mama bisa mencapai 300 – 400 mg/100 mL padahal kadar normalnya adalah 125 mg/100mL untuk orang dewasa seusia Mama. Jika kadar gula Mama sudah jauh di atas normal beliau akan merasa letih berlebihan, lemas dan hal tersebut berpengaruh pada aktivitas Mama. Selain mengkonsumsi obat tersebut setiap pagi sebelum makan pagi Mama menjaga pola makan agar tidak mengkonsumsi gula berlebihan namun salah satu kesulitan bagi penderita diabetes dalam melakukan diet ketat adalah masalah cemilan. Normalnya di sela makan pagi dan makan siang serta di sore hari tubuh manusia secara alami akan membutuhkan makanan ringan sebagai selingan, begitupula bagi penderita diabetes apalagi penderita diabetes lebih mudah merasa lapar daripada mereka yang bermetabolisme normal. 

Buah dan sayur relatif merupakan pilihan yang relatif lebih baik daripada makanan ringan buatan pabrik namun tidak semua buah ternyata boleh dikonsumsi penderita diabetes lagipula Mama juga memiliki masalah pada pencernaan sehingga salah makan buah maka kadar asam lambung Mama tiba-tiba meningkat tajam dan menyebabkan Mama menderita sakit perut berat hingga muntah terus menerus dalam beberapa jam. Mama pernah mencoba ngemil kentang rebus namun menurut dr. Ryan di sebuah acara TV dr.Oz kentang rebus memiliki indeks glikemik lebih tinggi dibandingkan kentang goreng, otomatis kadar glukosa Mama lebih cepat naik dan lebih mudah lapar, pantas saja setiap kali check up gula darah yang biasa dilakukan rutin setiap bulan hampir tidak ada perubahan yang berarti, kadar gula Mama tetap tinggi meski obat dikonsumsi teratur setiap hari. Dan Mama memutuskan untuk mengurangi ngemil, makan malam sebelum jam lima sore dan tidur cepat setiap harinya. Dan sarapan Mama tergolong pagi sekali karena lambung dalam keadaan kosong dalam waktu lama (kecuali saat berpuasa) tentu sangat berbahaya. Rasanya rikuh kalau harus ngemil di depan Mama sementara beliau tidak bisa turut menikmati.

Hingga suatu saat saya punya kesempatan mengikuti lomba foto hasil praktek resep di sebuah fans page margarine ternama. Sebenarnya tema lomba adalah cookies candy pop,kue-kue, biscuit yang dihias dengan gula-gula..tetapi anak-anak saya nggak ada yang suka kue model begitu apalagi Mama, meski dulunya beliau sukaa sekali makanan manis-manis kini Mama harus rela meringis memandang kue-kue semacam itu, apa ya saya tega ?. Berhubung saya naksir berat dengan hadiah bagi para pemenang maka saya nekad mengikuti lombanya yang mewajibkan memotret hasil kreasi dengan kemasan margarine tersebut. Hey tapi tunggu dulu,di balik kemasan margarine saya menemukan resep cookies yang lebih mudah dipraktekkan dan uniknya gula yang digunakan dalam resep adalah palm sugar, jujur baru kali ini saya menggunakannya dalam resep kue-kue untung saja di toko bahan kue di dekat rumah tersedia dalam bentuk bubuk dan dijual kiloan. “Ooo gula aren,” begitu jawab sang pemilik toko saat saya menanyakan tentang palm sugar.

Penasaran dengan palm sugar saya mencari keterangan tentang seluk-beluk gula bubuk nan cantik ini. Ternyata gula yang biasa disebut sebagai gula semut dan sering saya nikmati dalam bumbu rujak manis adalah salah satu bentuk gula aren. Gula aren merupakan pemanis yang dihasilkan dari air nira tandan bunga jantan pohon aren yang masih muda, diendapkan dalam bumbung bambu dan tidak menggunakan pengawet buatan dalam proses produksinya, berbeda dengan gula tebu yang melalui proses pemurnian, penambahan zat kimia tertentu (itulah mengapa ada sebutan brown sugar/raw sugar dan gula rafinasi) sebelum dikonsumsi masyarakat.  Brown sugar adalah gula pasir yang tidak diolah hingga finishing dan dibubuhi tetes tebu (mollases) untuk menimbulkan kesan organik. Gula rafinasi merupakan gula pasir yang diolah dari raw sugar dan melalui proses remelting (pelarutan kembali), klarifikasi, dekolonisasi, kristalisasi, fugalisasi sebelum dikeringkan dan dikemas dalam kemasan ekonomis. Hal ini sangat berbeda dengan cara membuat gula aren yang relatif lebih sederhana dan tidak mengandung zat berbahaya. Intip-intip you tube ada beberapa video dokumentasi pembuatan gula aren yang dijual di pasar-pasar dalam bentuk padatan, ini salah satunya :


Pengolahan gula aren yang tidak melalui proses pemurnian dan zat tambahan menjadi alasan bagi para ahli nutrisi untuk merekomendasikan gula aren sebagai pemanis sehat dibandingkan gula pasir. Ditinjau dari indeks glikemik(IG) gula aren memiliki angka GI cukup rendah yaitu sekitar 35 GI daripada dibandingkan batas yang disarankan dalam konsumsi harian, yaitu 55 GI, sementara GI gula pasir mencapai 58. Nilai GI gula aren yang tergolong rendah ini berdampak positif bagi metabolisme tubuh manusia, sebab mengkonsumsi makanan atau minuman ber GI rendah tidak menyebabkan terjadinya lonjakan gula darah secara drastis sehingga aman bagi penderita diabetes.

Wow, mengingat manfaat gula aren yang begitu hebat saya tak pikir panjang untuk mempraktekkan resep tersebut, tentunya dengan meniadakan topping gula-gula di atasnya, dan saya modifikasi menjadi taburan kacang tanah dan keju sebagai penambah cita rasa. Membuatnya mudah saja hanya dari campuran gula palm bubuk, margarine dan telur kemudian dimixer dan dioven selama dua puluh menit (resep lengkapnya ada di balik kemasan margarine yang dalam foto ini telah saya samarkan dengan foto produk arenga agar tidak mengandung pesan sponsor tanpa ada kaitan dengan palm sugar :) 


Awalnya saya ragu apakah anak, suami, Mama menyukai kue kecil buatan saya tersebut, oolalaa ternyata mereka tak hanya suka tapi jatuh cinta, buktinya tak ada komplain yang terlontar dan menanyakan kapan saya membuat kue yang sama ketika isi toples tandas. Sayangnya saya tidak menang dalam kontes tersebut tapi setidaknya saya mendapat pelajaran berharga dari sang gula hasil produksi famili pohon Palma, gula yang selama ini saya kenal hanya sebagai bahan isi kue klepon dan berbagai kue tradisional lain serta bumbu rujak manis ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat cookies. Berkat gula aren cookies tampil lebih segar, rasanya lebih crispy (renyah) dan lebih tahan lama alias tidak mudah "melempem" tapi soal tahan lama cookies buatan saya ini hanya bertahan tiga hari di dalam toples karena segera pindah tempat ke perut kami sekeluarga :) yang membuat saya lebih bahagia ternyata gula darah Mama normal-normal saja meski ngemil cookies berbahan sederhana tersebut. Hmm seiring kecanggihan teknologi yang membantu mengemas gula aren dalam berbagai bentuk pasti kehadiran gula aren kristal dalam bentuk kemasan 225 Gram serta gula aren cair dalam kemasan botol atau gelas higienis, dilengkapi "fakta nutrisi" serta tanggal kadaluwarsa seperti dalam foto-foto berikut ini akan sangat membantu konsumen menyajikan pemanis sehat demi kehidupan keluarga yang bernas dan berkualitas.


Foto

Foto

Foto

palm sugar