Google+ Followers

Saturday, February 8, 2014

Resensi Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Judul    : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis : Shabrina WS
Penerbit : Penerbit Quanta - Elex Media Komputindo
Genre : Novel Islami
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 175 Halaman.
ISBN : 978-602-02-2389-6



Tak Masalah Haluan atau Buritan Asal Tiba di Tujuan

          Berbeda dengan sepakbola atau bulutangkis, senada dengan judul novel Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam dayung merupakan cabang olahraga yang kurang popular di Indonesia namun tanpa gegap gempita sorak sorai membahana justru dayung berkarya dalam sepi, mencetak berbagai prestasi, menorehkan nama harum bangsa di posisi tertinggi lewat peraihan berbagai medali. Fenomena ini rupanya menginspirasi Shabrina WS menuliskannya dalam bentuk novel yang mengisahkan perjalanan hidup atlet dayung dari pedalaman Borneo, berjuang hingga meraih posisi atlet pilihan di Pelatnas.

             Apa menariknya membaca novel tentang perjuangan atlet dayung ? begitu mungkin kesan yang tertangkap di sebagian calon pembaca sesaat setelah membaca sinopsisnya namun pemikiran tersebut pasti sirna kala menikmati novel ini kalimat demi kalimat nan puitis, berhias quote-quote manis di setiap babnya. Deskripsi alam Borneo, rumah Betang sebagai rumah adat suku Dayak begitu nyata membawa pembaca seolah sedang menyaksikan sendiri hamparan sungai Barito dan Kahayan, indahnya anggrek hitam sebagai bunga khas belantara Kalimantan serta kokohnya kayu ulin sekaligus merasakan nyeri di hati mengingat pembalakan liar yang telah mencerabut anggrek hitam dan kayu ulin dari habitat asli, menjadikannya langka kini.

             Sosok Danum sebagai perempuan asli Buntok, menggugah kesadaran penikmat novel bahwa wanita Dayak tidak hanya digambarkan sebagai seseorang dengan lubang telinga sangat lebar berhias anting-anting besar, tetapi ia lebih mencerminkan wanita modern meski tetap mengenakan gelang simpai di lengan sebagai perhiasan khas suku Dayak. Modernisasi di pedalaman Borneo juga ditunjukkan oleh sang kakak Arba, yang tiba-tiba saja masuk di dalam hidupnya setelah sekian lama tak bertemu ketika ayah mereka meninggalkan Danum dan ibu untuk hidup terpisah. Arba dikisahkan sebagai kakak yang sangat perhatian dan mengikuti perkembangan zaman dengan memiliki akun facebook dan twitter. Gambaran kecil ini sedikit mengusik pembaca apakah di kawasan Buntok sekitar rumah Betang yang notabene harus ditempuh melalui perjalanan panjang dari kota, mengharuskan menyewa perahu motor atau jukung untuk tiba di tempat tersebut ternyata memiliki infrastruktur BTS dan listrik secara sempurna tanpa gangguan sinyal untuk mengakses internet, berbeda dengan kabar yang selama ini beredar bahwa Kalimantan merupakan salah satu pulau yang mengalami krisis listrik sehingga perlu dilakukan pemadaman secara bergiliran. Namun menikmati bagaimana sang penulis begitu detail menggambarkan tahap demi tahap menanam pohon ulin, perjalanan Danum dari Buntok menuju asrama Pelatda di Palangkaraya serta betapa rinci Shabrina mendeskripsikan angkutan umum, jalan raya menuju Tugu Soekarno di bab-bab terakhir menunjukkan bahwa novel ini ditulis melalui riset yang cukup mendalam menjawab keraguan pembaca tentang masalah sinyal operator dan listrik yang sama sekali tidak mempengaruhi jalinan cerita.

               Kisah dibuka dengan prolog tentang rumah Betang yang begitu kuat mengikat hati Danum membuat pembaca maklum mengapa Danum bimbang untuk meninggalkan rumah kenangan demi meraih cita-citanya sebagai atlet dayung nasional. Tiga kali kegagalan menembus Pelatda hingga kemudian datang kesempatan berikutnya menimbulkan konflik bagi Danum apakah ia harus memenuhi panggilan tersebut, meninggalkan rumah Betang beserta seluruh kenangan, berpisah dengan kakek dan Arba, harta paling berharga baginya setelah kepergian ibunda serta sang nenek atau menggapai cita serta cinta terpendam terhadap teman masa kecilnya, Dehen yang telah melejit sebagai atlet nasional berprestasi seperti cita-citanya selama ini.
Ketika Danum memutuskan memenuhi panggilan, kenyataan tentang kehadiran Sallie di kehidupan Dehen membuatnya teringat kata-kata Arba “Roman klasik. Teman masa kecil, bertemu kembali, jatuh cinta lalu bahagia selama-lamanya. Kamu hidup di alam nyata bukan seperti cerita-cerita novel” (halaman 105) sempat menorehkan luka, apalagi ketika ia harus satu tim dengan Sallie dalam sebuah pertandingan, apakah Danum berhasil menggapai cita-citanya meraih gelar dalam kejuaraan Dayung atau terpuruk karena harapan berbalut roman terhadap Dehen layaknya menggantang asap dan membuatnya gagal untuk kesekian kali? Adakah perhatian Dehen terhadap Danum melalui surat dan sms meski mereka tinggal berjauhan hanya sekedar uluran persahabatan ?. Konflik yang tercipta dalam Betang bukan konflik antara dua sosok yang berhadapan namun lebih pada konflik pada diri Danum pribadi, selain ragu ketika mengambil keputusan pergi memenuhi panggilan atau menemani kakek di hari tua juga konflik yang muncul apakah harus memaafkan sang ayah atau memilih tak pernah berurusan lagi dengannya.

             Betang tidak sekedar mengisahkan romantika antara pria dan wanita namun juga tentang kecintaan suku Dayak terhadap alam seperti ucapan kakek Danum “kita harus mengganti apa yang kita ambil dari alam” ketika ditanya mengapa bersedia susah payah mengembangkan bibit ulin sekaligus menanamnya di lahan-lahan gersang akibat penebangan hutan dan pertambangan (halaman 31). Betang menanamkan filosofi tentang makna dayung itu sendiri bahwa untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan hidup tak masalah harus duduk di haluan atau buritan asal dayung tetap digerakkan, tentang kalah atau menang itu soal belakangan karena kita tak pernah punya apa-apa bahkan diri kita bukan milik kita. Ada Dia yang menggenggam hati, yang tak akan pergi jika kita bersandar, yang akan menguatkan jika kita lemah.

Tertarik membaca novel ini ? cuplikannya bisa diklik di cover buku yang link ke blog sang penulis. Lalu silahkan berburu ke toko buku jangan lupa ikut lomba resensinya sebab Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

2 comments:

  1. Wohhoo mantep. kayaknya saya pernah liat bukunya di gramed dan sempat baca sinopsisnya. Bukunya menarik tapi sayang belum sempat beli :D

    ReplyDelete