Google+ Followers

Saturday, December 31, 2016

Kaleidoskop Blogging 2016

Beberapa bulan belakangan saya termasuk rajin update blog baik untuk mengikuti lomba blog, Give Away maupun sekedar sharing sesuatu saja. Lebih konsisten menulis baik untuk blog sendiri maupun di blog rame-rame seperti Kompasiana (eh ini lebih banyak buat lomba hehe) dan Indoblognet. 

Pencapaian ngeblog 2016? Saya belum sejago suhu blogger yang langganan juara. Setidaknya beberapa momen berkesan ini bisa menjadi catatan membahagiakan;

1. Bulan Januari - Juara Ketiga Review Kripik Pisang Gobana

2.  Bulan Februari - Pemenang Hiburan Give Away                        SiswaWirausaha

3. Bulan Maret - Juara II Lomba Review Launching Brand Viody Fashion


 Bulan Maret juga - salah satu dari empat pemenang Lomba Menulis Berbagi Kasih Sayang di Indoblognet.
pemenang lomba blog berbagi kasih sayang
4. Bulan Mei - Blogger Terngehits Indoblognet Mei 2016

Bulan Mei juga - Pemenang Fast Blogging dan Live Tweet di acara Nangkring Kompasiana, Surabaya

4. Bulan Juni - Salah satu dari 20 Pemenang Lomba Blog Tabungan Haji BRI Syariah

5. Bulan Juli - Juara 1 Lomba Blog Road Show Pegadaian 2016

5. Bulan Agustus - Blogger Terngehits Indoblognet Agustus 2016
6.  Bulan September - Juara Lomba Blog Lactogrow "Happy Date with Legendaddy Winterland"

7. Bulan November - Juara 2 Lomba Blog (Give Away) B SKIN

8. Bulan Desember - Pemenang ke-9 lomba SEO Cerita Anak Sehat

Selain itu saya juga pernah tercatat sebagai 50 kontestan pertama dan share terbanyak di lomba blog Blibli.
Alhamdulillah, meski tak terlalu istimewa semoga kaleidoskop ini menumbuhkan rasa syukur yang lebih besar dan meyakinkan saya kembali bahwa pembagian rezeki tak pernah salah pintu.
Meski demikian perlu dicatat pula bahwa saya sempat menjadi korban lomba blog PHP yang diselenggarakan SCTV yaitu lomba review sinetron Para Pencari Tuhan. Hmm sampai sekarang kok ngga ada pengumuman. Sekedar pelajaran saja agar lain kali lebih hati-hati terhadap stasiun televisi yang satu ini :)

Alhamdulillah semoga 2016 berakhir dengan indah dan Tahun 2017 kehidupan kami bisa lebih berkah aamiin.

Monday, December 26, 2016

#15thAnniversary


Dua hari lalu dapat kiriman salad buah dari sahabat yang jauh di mata dekat di hati. Yang memperhatikan ada hiasan angka 15 ternyata pak suami. 
Barokallah untuk sahabatku ini, bahkan kami nyaris lupa sudah 15 tahun jadi suami istri. Terimakasih telah mengingatkan bahwa umur tak lagi muda, harus lebih banyak asupan buah pengganti nasi 😄😄😄😅😅😅😅😇😇 
Tak pandai merangkai kata dan puisi, hanya ingin mengingat kembali petuah Nabi dan sang istri:
** "Sebaik-baik kalian (adalah) yang sikap nya paling baik terhadap perempuan-perempuan mereka (sendiri) (HR. Tirmidzi) - tentu yang dimaksud perempuan mereka sendiri adalah ibu dan istri

** "Sebaik-baik wanita adalah yang tidak mengenal aibnya omongan, tidak berinisiatif untuk melakukan makar terhadap kaum pria, hatinya hanya ingin berhias untuk suaminya dan ingin senantiasa memelihara keluarganya" - qaul Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar.

** " tiada seorang pun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrah Islamnya. Kedua orangtuanya lah yang menjadikan nya Yahudi, Nasrani atau Majusi" (HR. Bukhari Muslim)

Sebagai pengingat bahwa tugas dan kewajiban suami, istri dan orang tua teramat berat dan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti.

#15thAnniversary
#HappyAnniversary
#HikmahPernikahan
#SweetMemory
#MuhasabahToday
#SaladBuah
#fruity
#fruitsalad

Friday, December 23, 2016

Surat Rindu Ibu Untuk Sang Santri Baru

Tak terasa sepuluh hari terhitung sejak hari libur santri Gontor semester awal tahun telah berlalu. Banyak cerita-cerita yang saya dapat tentang kehidupan santri hasil mengorek keterangan dari santrinya sendiri hehee. Kapan-kapan insyaAllah ingin menuliskannya dalam postingan tersendiri. Kali ini surat yang tak pernah terkirimkan saya tuliskan, kelak akan menjadi kenangan:

Nak, kutulis surat ini ketika rindu di hati Mama tak tertahankan. Padahal baru beberapa hari lalu mengunjungimu di tempat belajar yang baru. Persis seperti kau pernah katakan “Nanti pasti Mama merindukan aku, menangis jika aku berangkat mondhok” lalu dengan gagah aku menjawab “Enggaklah, untuk apa menangisi anak yang sedang berjuang menemukan hidayah di jalan Allah. Santri adalah barisan pejuang fisabilillah. Seorang pejuang harusnya didoakan bukan dilepas dengan tangisan”Ternyata yang kau katakan menjadi kenyataan. Ada yang hilang dari hati seiring kepergianmu menuntut ilmu.
Mengisi liburan santri dengan menulis kembali mahfudzot, yang bukunya telah pergi :D
Terulang kembali momen-momen yang menjadi alasan utama mengirimkanmu belajar di pondok pesantren usai lulus Sekolah Dasar. Tetangga silih berganti datang melabrak mengatakan kamu sering menganggu anak mereka hingga menangis meraung-raung (padahal tak ada yang terluka), tutur bahasamu yang tak sopan, perilakumu yang tidak hormat pada yang lebih tua, adikmu yang sering kau hajar semaumu jika tak menuruti perintah dan kau pun seringkali berkata dengan nada tinggi dan memelototkan mata pada kami jika sedang merasa benar sendiri. Hingga pernah kuseret engkau di depan tetangga untuk meminta maaf karena perilaku tak sopanmu pada mereka. Berhari-hari aku menangis. Merasa gagal mendidikmu. Gagal menjadi ibu. Bagaimana perilakumu saat-saat itu bukan kesalahanmu sepenuhnya. Namun ada jejak-jejak cara mendidik kami yang mungkin tidak pada tempatnya. Secercah harapan muncul ketika kau bersujud meminta ampun. Namun terulang kembali kemudian hari. Kupinta pada Illahi solusi yang terbaik untuk masa depanmu nanti.
"Mondhok aja ya Nak, menjemput hidayah" pintaku suatu ketika.Penolakan demi penolakan muncul darimu yang bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di sekolah umum. Engkau merasa dibuang karena dikirim ke pondok pesantren padahal bukan dari kemauanmu sendiri. Hey hey hey ayolah kalau ingin membuangmu kami pasti mengirimmu ke penjara anak-anak, gurauku ketika itu. Nak, hidayah itu mahal harganya. Kami menyekolahkanmu ke pondok pesantren dengan harapan engkau lebih mengenal dekat Allah. Agar muncul rasa syukurmu memiliki keluarga lengkap dan para sahabat. Maka dengan sabar kami memotivasimu tiada henti. Doa-doa pun tiada henti kulantunkan. Agar Allah membukakan mata hatimu. Supaya engkau tak merasa terpaksa mempersiapkan diri demi menghadapi test ujian masuk pondok pesantren pilihan. Dan meski kadang dengan sedikit enggan kau tetap rajin mengikuti kursus bahasa Arab untuk memperkuat persiapan seleksi calon santri dan bekal menuntut ilmu di pondok pesantren.
Maka keajaiban-keajaiban kecil mulai muncul. Ketika semangat Ramadhan menggema. Saat-saat menjelang ujian lisan tiba. Engkau dengan ikhlas belajar di guru mengaji baru untuk memperbaiki ilmu tajwidmu. Kau pun rajin mengikuti program takmir masjid di perumahan kita yaitu tilawah untuk anak dan remaja setiap sore menjelang berbuka puasa. Nak, biarlah kusimpan sendiri air mata haru ini, ketika mendengar suara parau khas remajamu menggema dari speaker masjid, melantunkan ayat-ayat Allah dengan tartil dan penuh penghayatan. Berbeda sekali dengan kebiasaanmu yang semaunya, cengengesan cenderung urakan. Lalu ketika dengan senyum terukir bangga kau menunjukkan hasil test akhir di kursus bahasa Arabmu. “aku dapat A- dan A+ Ma, aku siap menempuh ujian tulisan bulan depan!” serumu saat itu.
Lalu tibalah hari H. Hari saat ujian lisan tiba. Momen mengharukan pun terjadi ketika engkau memasuki ruang untuk test lisan di hari yang ditentukan. Ibu menanti di luar dengan dzikir dan doa-doa yang terjalin bagai merapal mantra, tiada hentinya. Memandangmu yang tangkas mengangkat telunjuk saat nomor pesertamu dipanggil untuk memenuhi kewajiban test lisan menimbulkan harapan bahwa pada akhirnya engkau yakin bahwa belajar di pondok pesantren bukanlah sebuah siksaan. Tak sampai tiga puluh menit berlalu. Sungguh tak dinyana ternyata engkau mendapat giliran pertama di test lisan. Senyum yang terkembang di bibirku bersambut mendung di wajahmu. “Kenapa Nak kok sedih, sekarang kita sudah bisa pulang?”tanyaku ingin tahu. Mendadak mendung di wajahmu berubah menjadi tetes-tetes gerimis mengalir dari kedua pelupuk matamu. “Aku tadi gugup Ma. Ilmu-ilmu tajwid yang kupelajari hampir semuanya musnah tiba-tiba. Soal-soal kujawab keliru. Aku takut tidak lulus seleksi ini” Haru memenuhi hatiku seketika. Kau mulai berpikir ingin membahagian orang tua “Sudahlah Nak, seperti yang Mama katakan dahulu, andai kau tak lulus seleksi pondok pesantren ini tetap ada kesempatan mendaftar di tempat lain artinya rezekimu bukan di sini” hiburku “tapi aku ingin mondhok di sini, perjuangan kita sudah sedemikian besarnya” ujarmu tersedu. Kuambil tanganmu, kugenggam dalam haru “Kalau begitu hapus air matamu dulu, masih ada test tulis bulan depan yang layak diperjuangkan. Andai kita tersisih kita pulang dengan hormat karena telah berjuang hingga titik darah penghabisan. Terimakasih ya Nak telah berjuang bersama kami” Ucapku sambil kemudian menepuk bahu dan mengelus pipimu. Anakku, remaja belasan tahun lulus sekolah dasar, di balik perilakumu yang keras dan kadang beringas ternyata tersimpan hati yang lembut membuatku tak mampu menahan kristal bening ini agar tak meluncur satu-satu.
Ketika saat pengumuman tiba, kyai pimpinan Pondok Pesantren mengingatkan bahwa pengumuman itu tidaklah penting. Yang penting wali santri sudah bisa belajar tentang kehidupan pondok pesantren pada umumnya. Andaipun gagal dunia tak selebar daun kelor. Di luar masih banyak tempat menuntut ilmu yang tak kalah bagusnya. Dag dig dug rasa hati ini. Rapal doa tiada henti. Ketika Pondok Kampus 1, 2 hingga 3 tak menyebutkan nomor ujianmu, doaku berganti semoga kami ikhlas dengan apapun hasilnya. Semoga engkau tegar menerima kenyataan betapapun pahitnya. 
Alhamdulillah! Saat pembacaan pengumuman santri untuk Pondok Kampus 5 akhirnya nomor pendaftaranmu disebutkan. Aku bersujud syukur tanpa peduli sekitar. Terbayang kebahagiaan di wajahmu yang duduk di bawah tenda khusus calon santri. Benar saja kulihat wajah berbinarmu usai acara sujud bersama. Dan waktu seperti berlari. Hari itu juga engkau harus diberangkatkan bersama santri yang diterima di cabang pondok yang sama. Remaja ingusan yang sempat kuragukan dalam sekejap berubah menjadi pejuang tangguh. Engkau tak mengeluh atau merajuk meski kami tak bisa mengantarmu hingga pondok tujuan yang ratusan kilometer jauhnya di ujung timur pulau Jawa. Bukan karena kami tak sayang padamu tetapi jatah cuti Papa hanya tiga hari dan adikmu mulai tak sehat karena malam terakhir menunggu pengumuman harus kami habiskan begadang di dalam mobil sewaan. Antara bangga dan haru melepasmu naik bus untuk menempuh perjalanan jauh. Tersentak hatiku ketika tiba-tiba kau bersujud di kaki kami bergantian memohon restu. Nak, empat hari berharga yang merubah dirimu seketika semoga semakin banyak kebaikan yang engkau terima selama berjuang di perantauan hingga akhir waktu. Bagaimanapun Mama tetap berusaha gagah dan tak meneteskan air mata haru saat di depanmu. Sebab perjuanganmu adalah demi mengejar hidayah dan menuntut ilmu. Masih ingat apa petuah kami? “Belajarlah untuk istiqomah dan konsisten, tunjukkan pada teman-temanmu, para tetangga yang sering melabrak Mama karena keusilanmu bahwa kamu tidak seburuk yang mereka kira. Bahwa kamu tidak nakal hanya terlalu banyak akal. Bahwa kamu punya potensi tersembunyi”
Bangga saat melihatmu di asrama senja itu. Betapa engkau bersikap santun terhadap ustadz dan para seniormu. Bersyukur melihatmu baik-baik saja dan bercanda ria bersama teman sebaya. Bangga kala mendengar hal-hal baik tentangmu. Papa yang melihatmu membagikan kue kiriman tanpa kami minta, cerita ustadzmu bahwa kamu tergolong santri yang sopan, rajin dan bersungguh-sungguh dan mudahnya menanyakan kamarmu di saat pertama berkunjung karena engkau dikenal sebagai anak yang ramah dan supel. Apalagi kau rajin berkabar lewat telepon meski hanya sebentar. "Aku suka belajar bahasa asing Ma, kelak aku ingin melanjutkan sekolah ke manca negara dengan beasiswa"ceritamu penuh semangat dari Sambungan Jarak Jauh, berkisah tentang suka duka bersama teman seasrama. Lalu meluncur beberapa kata-kata motivasi dalam bahasa Arab dari bibirmu padahal belajar enam bulan pun engkau belum genap. Nah Nak, benar kan di sini kau akan menemukan teman-teman baru, teman berbagi suka duka karena sama-sama jauh dari orang tua dan keluarga tercinta. Jejaka belasan tahunku tampaknya mulai beranjak dewasa, tak ada keluhan-keluhan untuk meminta pulang keluar dari bibirmu seperti yang kami khawatirkan. Di umur dua belas kau belajar mengalahkan ego dan mentaati permintaan orang tua. Di usia belasan kau telah belajar mandiri dan berdikari. Harapan baru mulai bersemi, perubahanmu menjadi pribadi yang lebih baik tumbuh perlahan namun pasti. Terimakasih telah membuatku bangga sebagai ibu, mengingatkan kembali pentingnya berpikir positif selalu.
Nak, terbanglah tinggi meraih mimpi untuk menjadi pejuang garda terdepan di jalan Illahi, semoga terwujud cita-citamu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Berharap impian kami untuk melihatmu menjadi anak shalih dan bermanfaat bagi umat beranjak nyata, kini hingga nanti. Tetaplah tak lupa berpijak pada bumi agar tak menjadi tinggi hati. Jadilah jiwa yang merdeka seperti petuah pak kyai bahwa santri adalah insan merdeka, merdeka dari politisasi, merdeka dari konspirasi yang mengedepankan duniawi. Jadilah santri yang patuh kepada Allah dan RasulNya, berbakti kepada orang tua dan berbuat kebaikan bagi sesama tanpa memendam iri dengki.
Nak, tahukah engkau curahan hati ini Mama kirimkan ke even lomba berharap ada rezeki kita. Mama hanya ingin berbagi cerita bahwa sebagai Bunda harus senantiasa mendukung langkah ananda, berhenti berpikir negatif yang pernah Mama lakukan. Andai pun gagal, Mama akan terus berupaya menjadikan mimpi menjadi nyata, bahwa kisah ini akan sampai pada hati para pembaca (nah karena tak kunjung berjodoh dengan lomba mana saja lebih baik Mama tuangkan di blog pribadi). Bahkan sehelai daun yang jatuh pun tak lepas dari takdirNya. Begitu pula halnya dengan setiap ikhtiar yang kita lakukan. Selalu ada kesempatan kedua bagi kita berdua, asal sungguh-sungguh berusaha.
Seperti halnya yang engkau jalani hari ini Mama pun sedang menata kembali hati yang pernah porak poranda karena ketidaksempurnaanku sebagai makhluk ciptaan Illahi. Genggam asamu jangan pernah berhenti. Doa kami senantiasa menyertai. Terimakasih telah mengajarkanku untuk tak pernah lelah berupaya menjadi lebih baik lagi agar tak menjadi insan merugi
 

Friday, December 16, 2016

Hafalan Juz 29: Mumtaz! #Resolusiku2017


Facebook, akun media sosial yang paling sering saya kunjungi. Facebooker fanatik? enggak juga, karena saya juga punya Instagram dan Twitter. Entahlah emak-emak macam apa saya ini maunya eksis di sana sini. Tapi saya suka facebook terutama karena adanya fitur pengingat memori. 

Detak jantung saya seolah sedetik berhenti ketika facebook mengingatkan saya tentang kenangan dua tahun lalu.
Curhat berhashtag #TestimoniIndahnyaAlQuran #KitabRomantisSepanjangZaman ini muncul merobek-robek memori. Memori tentang susah payahnya belajar memperbaiki bacaan Al Quran di saat umur sudah menua. Saat ketajaman mata sudah seringkali tidak bisa berkompromi tetapi semangat membara karena berjuang bersama teman-teman sebaya.

Usai resign di bulan Desember tahun 2012 saya berusaha untuk tak mati kutu mengisi waktu. Mulai dari mencari seluk beluk mencari nafkah sebagai penulis konten part time dan berburu lomba hingga upaya untuk menambah wawasan dan pengetahuan agama. Belajar tahsin salah satunya.

Saya bersyukur diberikan umur untuk memperbaiki kualitas ibadah. Teringat masa kecil dulu, sering bolos ngaji, sudah tua baru terpikir untuk belajar lagi. Belajarnya bareng ibu-ibu sebaya di masjid Al Ukhuwwah dekat rumah. Mulai dari kitab dasar Tilawati 3. Kalau dulu sering berdoa hujan cepat turun pas sore hari waktu ngaji. Saat sudah tua belajar lagi hujan-hujan berpayung pun dilakoni.

Kemudian pak ustadznya memotivasi ibu-ibu untuk lebih maju. Kelas yang saya ikuti diwajibkan mengikuti kelas tahfidz, kelasnya ibu-ibu yang kemampuan membaca Al Quran sudah tingkat mahir. Wuaak ? appah? belajar Al Quran pun harus pakai akselerasi. Gugup, cemas, maju mundur itu yang saya rasakan. Sempat ingin berhenti belajar. Tetapi pak ustadz tak putus asa memotivasi kami. 

Akhirnya, bismillah ....kelas tahsin yang saya ikuti nekad ikut akselerasi ke kelas tahfidz. Seperti kelas tahfidz pada umumnya hafalan dimulai dari juz 30. Waktu setoran hafalan deg-degan sampai mau pingsan. Suara yang keluar pakai nada gemetaran. Tapi alhamdulillah setengah tahun hafalan kami tuntas. Dada terasa seperti ada ledakan kembang api, meletup dan menari-nari. 

Pak ustadz mengingatkan tidak larut dalam euforia. Ini baru juz 30 saudara. Mau diteruskan juz 29 atau dari juz 1 sekalian belajar tarjim (menterjemahkan ayat Al Quran). Sayangnya program tarjim dan tahfidz juz satu tidak berjalan selancar tahfidz juz 30. Padahal saat itu saya sudah menggenggam asa ingin melanjutkan hafalan ke Juz 29.

Hingga suatu hari facebook mengingatkan memori tentang rasa gemuruh penuh syukur kala menuntaskan hafalan juz 30 dan cita-cita saya untuk melanjutkan hafalan Quran juz 29. Ternyata sekian lama waktu terentang terlalu banyak waktu saya sia-siakan. Namun tak ada kata terlambat bukan? selama hayat masih dikandung badan. 

Baiklah, semangat yang sempat hilang setahun ini harus saya pompa kembali. Hafalan Juz 29 saya tanamkan sebagai resolusi. Berat badan masih sama #eh, ibu-ibu kelas mengaji tak berubah, guru mengaji masih seperti yang dulu mengapa semangat luruh satu per satu? harus diupayakan kembali menggapai ridho Illahi.

Mengapa saya memilih menghafalkan Al Quran sebagai resolusi? salah satunya untuk menjaga interaksi saya dengan kitab paling romantis sepanjang jalan. Tilawah saja nggak cukup, karena saya pernah mengalami romantisme ketika menghafal juz 30 jadi ingin mengulanginya terus dan terus (sayangnya semangat kok naik turun hehe) Kadang timbul rasa nyaris putus asa, sudah hafal beberapa ayat trus kok ilang lagi. Saat-saat itulah timbul rasa untuk memohon kemudahan dari Sang Pemiliknya. Indah, tak terungkapkan dengan kata-kata. Terasa sekali betapa lemah manusia.

Terus terang, selain diingatkan memori fb yang muncul kembali resolusi saya juga dipicu pencapaian si sulung yang kini menjadi santri. Ketika saya iseng menanyakan hafalan Qurannya meski dia menuntut ilmu bukan di pondok pesantren hafidzul Quran ternyata dia hafal beberapa ayat Al Mulk, juz 29. Hmm saya sendiri cuma hafal ayat pertama, sudah memprint out Al Mulk untuk dibaca setiap malam dan dihafalkan tetapi hasilnya masih nol besar. Mengapa? karena saya terlalu banyak berencana tetapi tidak berikhtiar.

OK, saya catat kelemahan dalam mewujudkan cita-cita agar resolusi tidak tertinggal sekedar kata belaka. Tak cukup hanya bermimpi namun harus giat membangun harapan sejak dini.

Maka untuk mewujudkan #resolusiku2017 saya memulainya lagi dengan Bismillah....
1. Menetapkan waktu untuk khusus menghafal. Murojaah juz 30 saya lakukan saat sholat sunnah, memilih surat-surat juz 30 yang panjang untuk mengisi rokaat sholat dhuha dan tahajjud. Maka saya punya waktu senggang setelah dhuha dan setelah ashar untuk hafalan juz 29. Sejenak sebelum tidur masih bisa menambah beberapa ayat
2.  Mengurangi hal-hal yang membawa mudharat. Kelemahan saya yang lain konsentrasi sering terpecah. Sering tergoda larut dalam media sosial, padahal jika tidak hati-hati bisa benar-benar sial. Sial sebab seharian waktu terbuang percuma. OK! harus dibatasi.
3.  Memantapkan hati bersama sang buah hati. Ya! salah satu faktor yang memudahkan saya menyelesaikan hafalan Juz 30 adalah karena saya menghafal bersama si bungsu, 7 tahun. Januari tahun depan usianya sudah 8 tahun, saya ingin memantapkan hati untuk menghafal juz 29 bersamanya lagi.

ya Allah, saya tak ingin melupakan janji saya sendiri. Semoga niat Lillahi ta'ala ini dimudahkan jalannya. Bagi yang membaca postingan ini tolong doakan saya ya agar bisa mewujudkan impian menjadi nyata.

"ya Allah sayangilah aku karena Al Qur'an dan jadikanlah Al Qur'an sebagai pemimpin cahaya petunjuk dan Rahmat bagiku
ya Allah ingatkanlah aku terhadap apa yang telah aku lupakan dari Al Qur'an.
 Ajarilah aku apa-apa yang belum aku ketahui dari Al Qur'an. 
Anugerahilah aku kemampuan untuk senantiasa membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikanlah Al Qur'an sebagai hujah (yang dapat menyelamatkan) bagiku wahai Tuhan Semesta Alam.

Doa khatmil Quran yang sering terlewatkan. Jika kita baca, resapi dan nikmati akan merasa ada yang meleleh dalam hati pelan pelan... 

Semoga Allah menjadikan tingkah laku kita mulia sebagaimana yang Dia perintahkan dalam Al Quran.




Info Lomba di SINI
www.hidayah-art.com

Monday, December 12, 2016

Subuh Raya 12.12.2016

Sholat Subuh Raya 12,12.2016 di Masjid Al Ukhuwwah.

Alhamdulillah sholat subuh berjamaah di masjid mungkin kadang perlu undangan. Undangan yang disebar takmir masjid Al Ukhuwwah mungkin ratusan jumlahnya, jamaah yang datang belum sampai ratusan tapi cukup berlimpah, lebih besar jumlahnya dari biasanya. Usai sholat mendengarkan tausyiah.

Teriring sholawat dan salam pada Nabi kita, Rasulullah SAW, Imam merangkap khatib mengulas tentang sifat dan ciri Nabi Muhammad (dan umatnya) yang dipaparkan dalam Al Quran.
Ciri khas Rasulullah (dan umatnya) menurut QS Al Fath ayat 29:

1. Keras terhadap orang kafir tetapi berkasih sayang pada mereka. Keras, keras dalam menegakkan syariat Islam, ketauhidan, menegakkan aturan Allah di muka bumi. Tetapi tetap lemah lembut, kasih sayang. Pasti sudah pada hafal dan terharu jika mengenang kelemahlembutan Rasulullah tentang pengemis Yahudi buta yang selalu mencacinya tetapi Rasulullah membalasnya dengan senantiasa menyuapi setiap hari hingga sang pengemis masuk Islam ketika beliau tiada. Kisah tentang betapa mulia Rasulullah kita yang tak dendam pada orang yang meludahinya ketika berdakwah, beliau membalasnya dengan doa agar si pencela mendapatkan hidayah.
2. Ruku' dan sujud. Sholat adalah tiang agama. Kalau ada yang mencaci: buat apa ruku sujud jungkir balik kalau sama orang lain nggak baik, mending ga sholat tapi baik sama sesama. Kata pak khotib itu bukan umat Nabi Muhammad, tapi orang kurang waras :D yang benar adalah sholat dijalankan dengan baik, dengan sesama juga berbuat baik. Hablum minallah dan hablum minannaas.
3. Terdapat tanda-tanda pada muka mereka dari bekas sujud. Maksud dari ruku, sujud dan sholatnya umat Nabi Muhammad itu menampakkan bekas adalah bekas pada perilaku, bukan bekas *kapalan* tetapi membekas dalam hati karena kekhusyuan dan keikhlasannya. Bekas pada wajahnya yang selalu tampak cerah dan ramah, Sholatnya membekas pada perilakunya yang menjaga Hablum minallah dan hablum minannaas.
Tak terasa di sudut mata pelan-pelan ada kristal menggenang ketika mengenang sosok mulia sepanjang zaman. Begitu mulianya hingga namanya tercantum sebagai nama surat dalam Al Quran. Semoga sependek atau sepanjang apapun umur kita, mampu meneladani kemuliaan Rasulullah membawa semangat Islam rahmatan lil alamiin mencerahkan dunia...aamiin
Allahumma shalli alaa Muhammad...

Usai sholat subuh dilanjutkan diskusi tentang pemberdayaan masjid bagi umat. Ada jamaah yang mengusulkan belajar pada Masjid Jogokariyan (masih menjadi favorit keteladanan). Ada yang mengingatkan pentingnya menumbuhkan kecintaan pada masjid agar rajin mendatangi majelis ilmu, sholat berjamaah dan kegiatan yang dilaksanakan.

Semua usulan bermuara pada satu hal: indahnya Ukhuwwah, betapa kecintaan kepada agama Allah menjadi ghirah. Mari mencintai masjid di sekitar kita dengan memakmurkannya, menjadikannya tidak sekedar tempat beribadah tetapi juga tempat bersosialisasi, memperkuat ukhuwwah dan memberdayakannya secara ekonomi. Dan terpenting, tumbuhkanlah kecintaan pada masjid sejak dini

Thursday, December 8, 2016

"Mungkin"

Dulu saat pak SBY menjabat sebagai presiden dua kali periode pemerintahan serentetan bencana, kecelakaan massal memakan korban. Saya pernah berpikir: apakah Allah tak ridho' dengan kepemimpinannya. Maka "dikutuklah" negeri ini. Ternyata saya suudzon dan berburuk sangka. Ganti presiden bencana tetap melanda. 
Kekerasan di atas namakan agama: ricuh pembubaran sholat Ied di Papua, kasus Tolikara, pembubaran KKR di Bandung dan masih banyak lagi....masih banyak lagi.
Kecelakaan massal tak terhitung. Kemacetan panjang mudik lebaran yang memakan korban. Kapal tenggelam. Dan paling memilukan gempa bumi Pidie Aceh saat subuh menyapa.

Insiden dan bencana yang datang silih berganti di negeri ini *mungkin* cara Allah memperingatkan hati dan kemanusiaan kita yang pelan-pelan mati tanpa kita sadari.
*mungkin* kita pandai memilih ayat-ayat suci yang sekiranya cocok dengan kemauan kita sendiri, mengabaikan ayat-ayatNya yang lain yang terasa sulit kita jalani. Seolah memandang kitab suci hanya sebagai diktat berisi opini.
*Mungkin* kita hanya mahir cara membenci, lupa bagaimana mencintai
*Mungkin* kita paham bagaimana mencaci lupa bagaimana cara menghormati
*Mungkin* kita selalu mau menang sendiri lupa bahwa hidup harus berbagi
*Mungkin* sebenarnya kita adalah wajah-wajah kalah, lelah... tersembunyi di balik topeng-topeng pongah.
Aku katakan *mungkin* seperti halnya aku tak pernah benar-benar paham keinginan Dzat Yang Maha Suci.
Tak pernah sungguh-sungguh yakin amalan mana yang Dia ridhoi.
Hanya satu yang ku yakini bahwa sekedar belas kasihNya saja aku hidup hari ini dan masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.


#DukaUntukPidie
#KesedihanUntukSegalaBentukKekerasanDiatasNamakanAgama

Wednesday, December 7, 2016

Kisah Dalam Sepotong Roti


PS: Postingan ini bukan review film tandingan Cinta Dalam Sepotong Roti yang sempat ngehits beberapa waktu lalu. Hanya secuplik kisah yang teringat kembali karena ribut-ribut masalah Boikot Sari Roti gara-gara maklumat perusahaannya berkaitan dengan aksi 212.


Sebutlah namanya pak X, tukang roti keliling di perumahan kami. Rotinya bukan merk ternama, hanya Produksi home industry. Murah, teksturnya lembut. Kalau sudah langganan bayar bisa belakangan. Jam jam tertentu dia bisa ditemui di masjid perumahan untuk sholat dhuha kadang sore hari saat sholat Ashar. Maka jadilah roti ini idola emak-emak perumahan. 


Penjualnya juga ramah. Pernah ngobrol sama suami cerita-cerita tentang pabrik roti tempatnya bekerja. Suami saya pernah mengamati saat si bapak mengisi bensin sepeda motor tuanya. Dia harus menurunkan boncengan berisi dagangan, membuka kap motor lalu menuangkan bensin dalam botol. Susah ya, nggak kebayang pas bensinnya habis pas dagangannya masih penuh. Pasti gerobak yang diboncengnya itu berat sekali.


Suatu hari pak penjual roti (((mengeluarkan maklumat ))) bahwa Minggu depan dia jual roti merk berbeda karena perusahaan roti tempatnya bekerja tutup. Pabrik nya dijual dan pemiliknya balik ke desa. Saya mendadak baper. Mikir berapa orang harus kehilangan pekerjaan tiba-tiba tapi saya juga berpikir mungkin si pemilik pabrik di desa juga membuka lapangan kerja. Dan bumi Allah ini luas, yang kehilangan pekerjaan di sini mungkin akan mendapatkan rezeki di tempat lainnya.
Cloud, Clouds, Sky, Blue Sky, Space, Rays Of Sunshine
Sumber: Pixabay

Hingga suatu hari suami kebetulan lewat di pusat pabrik roti tempatnya pak X bekerja dulu. Lo kan katanya sudah tutup? Mampir. Beli rotinya. Ketemu sama pemiliknya langsung.
"Lo Bu, kata pak X pabrik rotinya dijual dan pemiliknya balik ke desa?"
"pak X yang biasa keliling di Sidoarjo daerah ini ini ya? Yang orangnya ciri-cirinya begini"
"Ya. Bu. Dia sudah jual merk lain"
"Oh. Dia saya berhentikan Pak. Uang setoran nya sering telat. Kalau ditagih marah-marah"
Suami saya menceritakan hal ini dengan nada datar. Tanpa ada maksud menghakimi atau berburuk sangka.
Saya tercenung sendiri. Selalu ada dua sudut pandang dalam sebongkah roti #eh.

Saya membayangkan mungkin pak X juga sedang kebingungan ketika ditagih uang setoran padahal masih banyak yang belum membayar sebab fasilitas bayar belakangan.
Merk roti yang dijualnya kini juga jauh lebih mahal. Variasinya kurang, hanya berupa berbagai jenis roti beda dengan variasi produk sebelumnya ada model pastry atau taart mini. Padahal dulu saya suka beli bolen atau taart mini kesukaan anak-anak. Tetapi perilaku kami terhadap nya tidak berubah. Beli kalau pas lagi pengen atau butuh saja. Juga tidak fanatik harus merk apa.

Biarlah kisah tentang rahasia di balik roti itu kami simpan. Eh tapi sekarang bisa dibaca siapa saja, buat nambah blogpost juga. Hanya sebagai pengingat bahwa dalam plot cerita selalu ada sudut pandang berbeda. Masing-masing punya alasan dan pilihan serta cara bagaimana menentukan hal yang membuatnya nyaman.

Endingnya? Tetap hak prerogatif Sang Sutradara

Tuesday, December 6, 2016

Tiga Poin Keteladanan Rasulullah

Pengajian Memperingati Maulid Nabi
Masjid Al Ukhuwwah, Perumahan Permata Sukodono Raya, Sidoarjo
4 Desember 2016
Pembicara Prof. Dr. KH Ahmad Zahro,M A
 (Guru besar Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya, Rektor Universitas Darul Ulum Jombang, Imam besar Masjid Al Akbar)


☺ Ukhuwwah dalam Islam itu indah "Ingin tau wujud ukhuwwah? Salah satu contohnya adalah momentum 212 kemarin. Kunci ukhuwwah adalah saling menghormati, tak perlu saling mencela, menghujat jika terdapat perbedaan"
☺ Momentum 212 tidak sekedar menunjukkan kuatnya Ukhuwwah tapi mengingatkan kembali larangan memilih pemimpin dari kalangan non muslim. Dalam Al Quran setidaknya ada 12 ayat melarang memilih pemimpin dari non muslim.
❤ "Islam tidak toleran? Benarkah? Mari belajar sejarah tentang Piagam Jakarta. Para ulama mengalah dengan memilih kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa bagi sila pertama, tidak ngotot : Ketuhanan yang menjalankan syariat Islam
❤ Ukhuwwah itu indah jika setiap muslimin kembali kepada ciri khas umat Nabi Muhammad yaitu tidak saling mencela. Inilah salah satu alasan memperingati maulid nabi untuk kembali mengingat shirah, mengoreksi diri adakah kita sudah meneladani kemuliaannya?"

❤Secara garis besar keteladanan pada diri Rasullah terdapat 3 poin penting:

1. Keteladanan ritual. Lakukan ibadah ritual sesuai yang dicontohkan nabi, jangan dikurangi atau ditambahi tapi Jangan mudah mencap bid'ah. Contohnya Doa sujud dalam sholat saja ada 15 rujukan hadits.

2. Keteladanan interaksi dengan masyarakat.
Bagaimana nabi memperlakukan mereka yang berbeda keyakinan. Betapa santun beliau menempatkan diri sebagai pemimpin

3. Keteladanan budaya
Naik unta, makan kurma itu contoh budaya, jika tidak bisa melakukan tidak perlu dipaksakan misalnya mengenakan jubah itu juga budaya. Boleh diaplikasikan semampunya.

Sedikit catatan tersebut semoga berkenan. Ada sesi tanya jawab yang menarik, antara lain ada yang menanyakan tentang amalan menghafal surat tertentu, shalawat-shalawat khusus apakah diperbolehkan. 

❤Jawaban pak Kyai: amalan apapun asal niatnya Lillahi Ta'ala tak mengapa silahkan menghafal Yaasiin, Ar Rahman, Al Waqiah dll tapi jangan menyepelekan surat yang lainnya, malu ah sama Rasulullah nanti di akherat. 
❤Sholawat khusus? silahkan tetapi yang diamalkan di dalam sholat harus/ wajib shalawat yang diajarkan Rasulullah yaitu sholawat Ibrahimiyah. Baca sholawat khusus apapun bentuknya boleh, sebagai pujian asal tidak di dalam ritual sholat. Tetapi jangan mengaburkan makna hingga menyatakan sholawat A, B,C lebih utama sekian ratus kali. Janganlah mengabaikan keutamaan sholawat yang diajarkan Rasulullah jadi terlihat lebih kecil maknanya dibandingkan sholawat karya manusia biasa.
❤Menambahkan kata "Sayyidina" bolehkah? Pak Kyai mencontohkan yang biasa beliau lakukan: di dalam bacaan sholat beliau tidak membaca Sayyidina, persis seperti yang Rasulullah ajarkan. Tetapi saat menyebut nama Rasulullah di luar sholat, dalam kajian atau dakwah beliau biasa menambahkan Sayyidina sebagai penghormatan.

Monday, December 5, 2016

Menjaga Hati Agar Tak Mudah mati

#Latepost

Pengajian Rutin MT. Maratus Shalihah
Pembicara: Ustadzah Yayuk
1 Desember 2016

❤Tema: Menjaga Hati Agar Tidak Mati❤

☺Rasulullah diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia yang saat itu berada dalam kesesatan yang nyata.

☺Tugas Rasulullah tercantum antara lain pada QS Al Jumuah ayat 2:
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

☺Ayat tersebut dapat ditafsirkan bahwa Allah menugaskan Rasulullah SAW untuk:
1. Membacakan ayat-ayatNya (menyampaikan firmanNya)
2. Mensucikan jiwa dan hati mereka (tazkiyatun nafs)
3. Mengajarkan kitab dan hikmah

☺“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

☺Ibarat sebuah kerajaan, hati memiliki fungsi yang paling menentukan pada sikap dan aklhak manusia. Akal sebagai panglima perangnya, tubuh sebagai pasukan dan hati adalah rajanya. 

☺Agar hati senantiasa dalam kondisi baik, tidak mudah mati maka keempat hal berikut ini hendaklah menjadi perhatian dan agar dihindari yaitu:

1. Fudhulul Tho’am: berlebihan dalam hal makanan
Dari Miqdam bin Ma’dikarib, beliau berkata “aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada bejana yang diisi oleh anak keturunan adam yang lebih buruk daripada perutnya, cukuplah untuk anak adam suapan-suapan yang menguatkan tulang punggungnya. Kalau tidak memungkinkan, maka ini adalah batas tolerir yaitu sepertiga untuk makanan, sepertiga perutnya untuk minuman, sepertiganya untuk udara atau nafasnya.” (HR Tirmidzi)
Maka hendaklah makan tidak berlebihan sesuai anjuran Rasulullah. Perlu diperhatikan kehalalan (halal zat dan sumber atau prosesnya) dan kebaikan/manfaat makanan (thayyib)

2. Fudhulul Kalam/Lisan: Jagalah lisan agar tidak banyak bicara terutama yang tidak ada manfaatnya. Ingat selalu bahwa lisan adalah salah satu karunia Allah yang bisa menyeret ke dalam dosa jika tidak dijaga. Dari lisanlah timbul dosa karena ghibah, fitnah, namimah/adu domba
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

3. Fudhulul Bashar. jagalah mata agar tidak berlebihan dalam memandang. Hal ini bukan hanya tentang memandang lawan jenis tetapi juga pada hal-hal duniawi lainnya misalnya window shopping model gadget, baju dan aksesoris terbaru yang membawa dalam sifat boros atau berlebihan dalam gaya hidup.

4. Fudhulul Ikhtilat/ mukhalathah. Jagalah pergaulan. Perhatikan teman-teman pilihan ketika terjun ke masyarakat. 
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”
 (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot), dan mengajak meninggalkan maksiat/hal-hal buruk. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak. Memberimu manfaat dengan mendoakan diam-diam.

Tips Menjaga Hati Agar Tidak Mudah Mati
1. Perbanyak dzikir 
2. Istiqomah sholat malam
3. Rutinkan tilawah
4. Perbanyak hadir di majelis ilmu
5. Dan lain-lain hal yang mengingatkan diri kepada Allah, memperbanyak rasa syukur kepadaNya


Friday, December 2, 2016

Catatan Sebuah Rasa Tentang Aksi 212


Hari ini 2 Desember 2016.

Jakarta mungkin mendunia karena aksi 212.
Berduyun-duyun, jutaan manusia dengan semangat Islam di dada bersatu dengan niat: membela agama.
Lalu saya pun tergerak menulis di status FB saya: "bela dan pertahankan keyakinanmu tanpa merendahkan yang lainnya karena akan menjadikan yang kau junjung tinggi lebih mulia. Nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake.


Teman-temanku di FB dari segala madzhab, bahkan lintas agama. Ada yang santun tutur bahasanya. Ada yang terlalu radikal dan menganggap keyakinannya di atas segalanya. Saya, Islam sejak lahir tetapi sekedar ritual dan itupun penuh cacat cela. Yang saya yakini adalah Islam yang damai. Maka jika di beranda saya muncul status-status yang memojokkan Islam jika terjadi kekerasan diatasnamakan Islam, dikatakan Islam agama terorislah, mengajarkan kekejamanlah saya turut merasakan sakit. Apalagi jika di lain kesempatan ganti Islam yang "menjadi korban" maka si oknum hanya berkata: ini murni kriminalitas. 

Tetapi saya juga enggan membaca postingan dari sesama saudara Islam yang merendahkan sesama Islam lainnya dan menganggap mereka yang di luar Islam adalah musuh yang harus dibunuh. Ngeri aja membayangkan kata "bunuh" karena sepengetahuan ceteknya ilmu agama saya, saling bunuh itu hanya terjadi di sebuah pertempuran yang fair. 

Maka ketika Aksi Super Damai 212 dituntun untuk sebuah aksi doa bersama, saya turut berharap malaikat menaungkan sayapnya bagi mereka yang berada di majelis ilmu, entah itu di Lapangan Monas, Bundaran BI, Masjid Istiqlal atau di kediaman masing-masing namun khusyu berdoa dan berdzikir mengetuk pintu langit.

Izinkan saya menuliskan kembali curahan hatiku tempo hari di FB:

Pernah baca artikel singkat tentang memutuskan rantai keburukan? Tentang orang tua yang diuji dengan perilaku anak yang tidak pada tempatnya, nakal, durhaka dan sebagainya. Padahal ridho Allah itu ada pada ridho orang tua. Maka putuskan rantainya, berhenti mengatai anak nakal, durhaka dan sebagainya. Gantilah dengan ucapan baik, doa dan harapan-harapan indah.
Saya berpikir, adakah hal tersebut juga terjadi pada sebuah negara?, korelasi antara rakyat dan pemerintah. Apakah compang-campingnya negeri ini juga karena rakyat tidak ridho pada pemerintahnya? Jika ya, berarti saya turut andil di dalamnya karena sudah bertahun-tahun berpikir: halah siapa saja presidennya, siapapun yang duduk di pemerintahan pasti gak ada perbedaan, paling ya gitu-gitu aja.
Maka hanya bisa memperbanyak istighfar dan berupaya memutus rantai keburukan yang pernah saya lakukan.

Niat baik semoga berlangsung baik hingga akhir. Tak setuju tak perlu mencibir. 
Semoga Allah meridhoi setiap langkah kaki. Hanya kecintaan yang menjadi penyemangat apa yang terjadi hari ini. Kecintaan kepada Illahi, cinta atas nama NKRI.
Foto dari Berbagai Sumber