Google+ Followers

Friday, December 23, 2016

Surat Rindu Ibu Untuk Sang Santri Baru

Tak terasa sepuluh hari terhitung sejak hari libur santri Gontor semester awal tahun telah berlalu. Banyak cerita-cerita yang saya dapat tentang kehidupan santri hasil mengorek keterangan dari santrinya sendiri hehee. Kapan-kapan insyaAllah ingin menuliskannya dalam postingan tersendiri. Kali ini surat yang tak pernah terkirimkan saya tuliskan, kelak akan menjadi kenangan:

Nak, kutulis surat ini ketika rindu di hati Mama tak tertahankan. Padahal baru beberapa hari lalu mengunjungimu di tempat belajar yang baru. Persis seperti kau pernah katakan “Nanti pasti Mama merindukan aku, menangis jika aku berangkat mondhok” lalu dengan gagah aku menjawab “Enggaklah, untuk apa menangisi anak yang sedang berjuang menemukan hidayah di jalan Allah. Santri adalah barisan pejuang fisabilillah. Seorang pejuang harusnya didoakan bukan dilepas dengan tangisan”Ternyata yang kau katakan menjadi kenyataan. Ada yang hilang dari hati seiring kepergianmu menuntut ilmu.
Mengisi liburan santri dengan menulis kembali mahfudzot, yang bukunya telah pergi :D
Terulang kembali momen-momen yang menjadi alasan utama mengirimkanmu belajar di pondok pesantren usai lulus Sekolah Dasar. Tetangga silih berganti datang melabrak mengatakan kamu sering menganggu anak mereka hingga menangis meraung-raung (padahal tak ada yang terluka), tutur bahasamu yang tak sopan, perilakumu yang tidak hormat pada yang lebih tua, adikmu yang sering kau hajar semaumu jika tak menuruti perintah dan kau pun seringkali berkata dengan nada tinggi dan memelototkan mata pada kami jika sedang merasa benar sendiri. Hingga pernah kuseret engkau di depan tetangga untuk meminta maaf karena perilaku tak sopanmu pada mereka. Berhari-hari aku menangis. Merasa gagal mendidikmu. Gagal menjadi ibu. Bagaimana perilakumu saat-saat itu bukan kesalahanmu sepenuhnya. Namun ada jejak-jejak cara mendidik kami yang mungkin tidak pada tempatnya. Secercah harapan muncul ketika kau bersujud meminta ampun. Namun terulang kembali kemudian hari. Kupinta pada Illahi solusi yang terbaik untuk masa depanmu nanti.
"Mondhok aja ya Nak, menjemput hidayah" pintaku suatu ketika.Penolakan demi penolakan muncul darimu yang bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di sekolah umum. Engkau merasa dibuang karena dikirim ke pondok pesantren padahal bukan dari kemauanmu sendiri. Hey hey hey ayolah kalau ingin membuangmu kami pasti mengirimmu ke penjara anak-anak, gurauku ketika itu. Nak, hidayah itu mahal harganya. Kami menyekolahkanmu ke pondok pesantren dengan harapan engkau lebih mengenal dekat Allah. Agar muncul rasa syukurmu memiliki keluarga lengkap dan para sahabat. Maka dengan sabar kami memotivasimu tiada henti. Doa-doa pun tiada henti kulantunkan. Agar Allah membukakan mata hatimu. Supaya engkau tak merasa terpaksa mempersiapkan diri demi menghadapi test ujian masuk pondok pesantren pilihan. Dan meski kadang dengan sedikit enggan kau tetap rajin mengikuti kursus bahasa Arab untuk memperkuat persiapan seleksi calon santri dan bekal menuntut ilmu di pondok pesantren.
Maka keajaiban-keajaiban kecil mulai muncul. Ketika semangat Ramadhan menggema. Saat-saat menjelang ujian lisan tiba. Engkau dengan ikhlas belajar di guru mengaji baru untuk memperbaiki ilmu tajwidmu. Kau pun rajin mengikuti program takmir masjid di perumahan kita yaitu tilawah untuk anak dan remaja setiap sore menjelang berbuka puasa. Nak, biarlah kusimpan sendiri air mata haru ini, ketika mendengar suara parau khas remajamu menggema dari speaker masjid, melantunkan ayat-ayat Allah dengan tartil dan penuh penghayatan. Berbeda sekali dengan kebiasaanmu yang semaunya, cengengesan cenderung urakan. Lalu ketika dengan senyum terukir bangga kau menunjukkan hasil test akhir di kursus bahasa Arabmu. “aku dapat A- dan A+ Ma, aku siap menempuh ujian tulisan bulan depan!” serumu saat itu.
Lalu tibalah hari H. Hari saat ujian lisan tiba. Momen mengharukan pun terjadi ketika engkau memasuki ruang untuk test lisan di hari yang ditentukan. Ibu menanti di luar dengan dzikir dan doa-doa yang terjalin bagai merapal mantra, tiada hentinya. Memandangmu yang tangkas mengangkat telunjuk saat nomor pesertamu dipanggil untuk memenuhi kewajiban test lisan menimbulkan harapan bahwa pada akhirnya engkau yakin bahwa belajar di pondok pesantren bukanlah sebuah siksaan. Tak sampai tiga puluh menit berlalu. Sungguh tak dinyana ternyata engkau mendapat giliran pertama di test lisan. Senyum yang terkembang di bibirku bersambut mendung di wajahmu. “Kenapa Nak kok sedih, sekarang kita sudah bisa pulang?”tanyaku ingin tahu. Mendadak mendung di wajahmu berubah menjadi tetes-tetes gerimis mengalir dari kedua pelupuk matamu. “Aku tadi gugup Ma. Ilmu-ilmu tajwid yang kupelajari hampir semuanya musnah tiba-tiba. Soal-soal kujawab keliru. Aku takut tidak lulus seleksi ini” Haru memenuhi hatiku seketika. Kau mulai berpikir ingin membahagian orang tua “Sudahlah Nak, seperti yang Mama katakan dahulu, andai kau tak lulus seleksi pondok pesantren ini tetap ada kesempatan mendaftar di tempat lain artinya rezekimu bukan di sini” hiburku “tapi aku ingin mondhok di sini, perjuangan kita sudah sedemikian besarnya” ujarmu tersedu. Kuambil tanganmu, kugenggam dalam haru “Kalau begitu hapus air matamu dulu, masih ada test tulis bulan depan yang layak diperjuangkan. Andai kita tersisih kita pulang dengan hormat karena telah berjuang hingga titik darah penghabisan. Terimakasih ya Nak telah berjuang bersama kami” Ucapku sambil kemudian menepuk bahu dan mengelus pipimu. Anakku, remaja belasan tahun lulus sekolah dasar, di balik perilakumu yang keras dan kadang beringas ternyata tersimpan hati yang lembut membuatku tak mampu menahan kristal bening ini agar tak meluncur satu-satu.
Ketika saat pengumuman tiba, kyai pimpinan Pondok Pesantren mengingatkan bahwa pengumuman itu tidaklah penting. Yang penting wali santri sudah bisa belajar tentang kehidupan pondok pesantren pada umumnya. Andaipun gagal dunia tak selebar daun kelor. Di luar masih banyak tempat menuntut ilmu yang tak kalah bagusnya. Dag dig dug rasa hati ini. Rapal doa tiada henti. Ketika Pondok Kampus 1, 2 hingga 3 tak menyebutkan nomor ujianmu, doaku berganti semoga kami ikhlas dengan apapun hasilnya. Semoga engkau tegar menerima kenyataan betapapun pahitnya. 
Alhamdulillah! Saat pembacaan pengumuman santri untuk Pondok Kampus 5 akhirnya nomor pendaftaranmu disebutkan. Aku bersujud syukur tanpa peduli sekitar. Terbayang kebahagiaan di wajahmu yang duduk di bawah tenda khusus calon santri. Benar saja kulihat wajah berbinarmu usai acara sujud bersama. Dan waktu seperti berlari. Hari itu juga engkau harus diberangkatkan bersama santri yang diterima di cabang pondok yang sama. Remaja ingusan yang sempat kuragukan dalam sekejap berubah menjadi pejuang tangguh. Engkau tak mengeluh atau merajuk meski kami tak bisa mengantarmu hingga pondok tujuan yang ratusan kilometer jauhnya di ujung timur pulau Jawa. Bukan karena kami tak sayang padamu tetapi jatah cuti Papa hanya tiga hari dan adikmu mulai tak sehat karena malam terakhir menunggu pengumuman harus kami habiskan begadang di dalam mobil sewaan. Antara bangga dan haru melepasmu naik bus untuk menempuh perjalanan jauh. Tersentak hatiku ketika tiba-tiba kau bersujud di kaki kami bergantian memohon restu. Nak, empat hari berharga yang merubah dirimu seketika semoga semakin banyak kebaikan yang engkau terima selama berjuang di perantauan hingga akhir waktu. Bagaimanapun Mama tetap berusaha gagah dan tak meneteskan air mata haru saat di depanmu. Sebab perjuanganmu adalah demi mengejar hidayah dan menuntut ilmu. Masih ingat apa petuah kami? “Belajarlah untuk istiqomah dan konsisten, tunjukkan pada teman-temanmu, para tetangga yang sering melabrak Mama karena keusilanmu bahwa kamu tidak seburuk yang mereka kira. Bahwa kamu tidak nakal hanya terlalu banyak akal. Bahwa kamu punya potensi tersembunyi”
Bangga saat melihatmu di asrama senja itu. Betapa engkau bersikap santun terhadap ustadz dan para seniormu. Bersyukur melihatmu baik-baik saja dan bercanda ria bersama teman sebaya. Bangga kala mendengar hal-hal baik tentangmu. Papa yang melihatmu membagikan kue kiriman tanpa kami minta, cerita ustadzmu bahwa kamu tergolong santri yang sopan, rajin dan bersungguh-sungguh dan mudahnya menanyakan kamarmu di saat pertama berkunjung karena engkau dikenal sebagai anak yang ramah dan supel. Apalagi kau rajin berkabar lewat telepon meski hanya sebentar. "Aku suka belajar bahasa asing Ma, kelak aku ingin melanjutkan sekolah ke manca negara dengan beasiswa"ceritamu penuh semangat dari Sambungan Jarak Jauh, berkisah tentang suka duka bersama teman seasrama. Lalu meluncur beberapa kata-kata motivasi dalam bahasa Arab dari bibirmu padahal belajar enam bulan pun engkau belum genap. Nah Nak, benar kan di sini kau akan menemukan teman-teman baru, teman berbagi suka duka karena sama-sama jauh dari orang tua dan keluarga tercinta. Jejaka belasan tahunku tampaknya mulai beranjak dewasa, tak ada keluhan-keluhan untuk meminta pulang keluar dari bibirmu seperti yang kami khawatirkan. Di umur dua belas kau belajar mengalahkan ego dan mentaati permintaan orang tua. Di usia belasan kau telah belajar mandiri dan berdikari. Harapan baru mulai bersemi, perubahanmu menjadi pribadi yang lebih baik tumbuh perlahan namun pasti. Terimakasih telah membuatku bangga sebagai ibu, mengingatkan kembali pentingnya berpikir positif selalu.
Nak, terbanglah tinggi meraih mimpi untuk menjadi pejuang garda terdepan di jalan Illahi, semoga terwujud cita-citamu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Berharap impian kami untuk melihatmu menjadi anak shalih dan bermanfaat bagi umat beranjak nyata, kini hingga nanti. Tetaplah tak lupa berpijak pada bumi agar tak menjadi tinggi hati. Jadilah jiwa yang merdeka seperti petuah pak kyai bahwa santri adalah insan merdeka, merdeka dari politisasi, merdeka dari konspirasi yang mengedepankan duniawi. Jadilah santri yang patuh kepada Allah dan RasulNya, berbakti kepada orang tua dan berbuat kebaikan bagi sesama tanpa memendam iri dengki.
Nak, tahukah engkau curahan hati ini Mama kirimkan ke even lomba berharap ada rezeki kita. Mama hanya ingin berbagi cerita bahwa sebagai Bunda harus senantiasa mendukung langkah ananda, berhenti berpikir negatif yang pernah Mama lakukan. Andai pun gagal, Mama akan terus berupaya menjadikan mimpi menjadi nyata, bahwa kisah ini akan sampai pada hati para pembaca (nah karena tak kunjung berjodoh dengan lomba mana saja lebih baik Mama tuangkan di blog pribadi). Bahkan sehelai daun yang jatuh pun tak lepas dari takdirNya. Begitu pula halnya dengan setiap ikhtiar yang kita lakukan. Selalu ada kesempatan kedua bagi kita berdua, asal sungguh-sungguh berusaha.
Seperti halnya yang engkau jalani hari ini Mama pun sedang menata kembali hati yang pernah porak poranda karena ketidaksempurnaanku sebagai makhluk ciptaan Illahi. Genggam asamu jangan pernah berhenti. Doa kami senantiasa menyertai. Terimakasih telah mengajarkanku untuk tak pernah lelah berupaya menjadi lebih baik lagi agar tak menjadi insan merugi
 

1 comment:

  1. aduh aku nangis, ngebayangin anakku. Hampir sama, anakku suka ngusilin anak tetangga smpe nangis, dan aq berpikir mau kirim dia ke pesantren supaya ketemu guru yg bisa membimbing

    ReplyDelete