Google+ Followers

Tuesday, July 30, 2013

My Mom - The Greatest Warrior Princess I Ever Met


Me and My Mom

Kalau ada yang bertanya padaku siapa pahlawan wanita terhebat sepanjang masa ? jawabku sudah pasti Mama, bagiku Mama bahkan lebih hebat daripada Xena. Bagaimana nggak hebat jika mengurus empat anak dan rumahtangga diselesaikan beliau sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Sebagai pejuang wanita Mama ternyata tak luput dari kisah rahasia yang mungkin membuat orang lain tertawa (eh sebenarnya anaknya juga ikut tertawa) namun jika ditelusuri lebih jauh kisah rahasia Mama yang satu ini mengandung hikmah di dalamnya (selain hikmah : tertawalah sebatas kewajaran demi kesehatan tentunya)

Kisah unik Mama ini bertahun-tahun lalu lamanya, saat aku masih duduk di Sekolah Dasar, Mama sendiri entah masih ingat atau tidak. Pagi itu aku menemani Mama pergi ke pasar "krempyeng" pasar kecil di dekat rumah, sebenarnya tak cukup besar disebut pasar karena tempat berjualan para pedagang itu di tepi jalan desa di belakang markas tentara dan menempati sebagian halaman rumah orang juga, tapi pasarnya rameee banget. Beriringan naik sepeda ke pasar adalah hal yang paling aku sukai karena Mama tak pelit membelikanku jajan pasar :D. 

Tak sampai lima menit bersepeda sampailah kami di pasar yang ramai jaya, sepeda diletakkan di tempat penitipan dan marilah kita berperang #eh. Keliling sana kunjungi sini tak terasa belanjaan Mama sudah cukup banyak..waktunya pulang nih tapiiii terjadi sesuatu yang tak disangka...serombongan "banyak" (bahasa Indonesianya apaan sih, angsa ya ?) yang dipiara sang pemilik halaman lepas dari kandang, unggas yang satu ini entah kenapa kok hobinya mengejar manusia sambil menyorongkan paruhnya yang panjang dan keras, kalau sampai tertangkap paruhnya lumayan sakit juga tuh, lha kok ya yang menjadi target kawanan angsa itu ndilalah si Mama...bisa dibayangkan kan Mama jadi panik berlarian sambil membawa belanjaan buru-buru menuju tempat penitipan sepeda, orang-orang di pasar berteriak-teriak menambah riuh suasana, tapi pada kebingungan tak mengerti cara menolong Mama. Aku cuma bisa bengong menyaksikan keributan itu. Hap hap hap.. tak kukira Mama lumayan tangkas menghindar dan berlari...sebentar lagi mencapai garis finish tapiiii lagi terjadi sesuatu yang mencengangkan, under rok Mama (rok dalaman agar baju tidak tampak menerawang) tiba-tiba meluncur dari tempatnya...OMG! Mama jadi kehilangan keseimbangan dan terjatuh menjelang tempat sepeda. Untungnya _ masih untung saja ya ? ada bapak-bapak tentara yang sedang latihan rutin membantu mengusir kawanan angsa dan membantu Mama berdiri. Sambil tersipu-sipu Mama mengucapkan terimakasih. Duh, tak dapat kubayangkan betapa rikuh Mama berusaha mengembalikan under rok itu pada tempatnya, lebih bersyukur lagi Mama tak mengalami cedera. Ah Mama...under rok itu memang sudah waktunya dipensiunkan, tali kolornya sudah aus tapi Mama memaksa mengenakan, memilih tak membeli yang baru demi penghematan.

Kini kusadari pengorbanan Mama begitu besarnya, demi anak-anaknya Mama rela tak membeli baju, meski sudah waktunya diganti yang baru sekalipun....

Moral Of The Story : pastikan tali kolor anda masih cukup layak untuk dikenakan #haiiissh bukaaan lebih tepatnya Kasih Ibu memang Sepanjang Jalan...

I Love you Mom, the greatest warrior princess i ever met :)


Posting for remembering the day, sekaligus memeriahkan Give Away mbak Fardelyn Hacky..warrior princess masa kini

Monday, July 29, 2013

Anggrek yang Membuatku Termehek-mehek

"Yaaaa mati lagi untuk kesekian kali", begitu kata hati saya mendapati pohon anggrek yang saya dapat dari kakak ipar saya di Bali saat berkunjung lebaran dua tahun lalu, meranggas begitu pilu.
Alamak...ada apa dengan saya dan anggrek, satu-satunya anggrek yang sukses hidup di tangan hanya anggrek ungu yang saya beli dengan harga cukup murah = tujuh belas ribu rupiah setelah itu ? semua berakhir sendu...

Anggrek Murah Meriah Namun Indah


Khusus yang satu ini punya kenangan tersendiri, sebuah perjuangan lumayan berat membawa anggrek hidup dari Bali ke Sidoarjo lewat jalan darat, apa ya harus berakhir dengan "sekarat" ? belum lagi kalau suatu hari kakak ipar saya nanyain "gimana kabar anggreknya ?" ...yaelaa padahal duluuu kakak ipar yang tinggal di Demak pernah memberi kami kenang-kenangan burung perkutut , ternyata kami tak sanggup mengemban amanah : satu mati, satunya pergi.

Namun meski tak nampak tanda kehidupan sama sekali, saya enggan membuang anggrek itu, saya hanya memindahkannya ke tempat yang lebih terlindungi dari sinar matahari, kemudian musim pun berganti, hujan turun berhari-hari...

Dan...

terjadi keajaiban yang tak pernah saya duga sebelumnya, satu per satu daunnya tumbuh..hingga ketika musim hujan hampir berlalu ia berbunga untuk pertamakalinya (sayang saya tak sempat mengabadikan sang anggrek ketika ia "koma")
Anggrek si penitip pesan dari Tuhan

Allah seperti sedang menghibur saya dengan kejadian ini, mengusir galau hati yang tengah dirundung kesempitan rezeki. Sejak berhenti bekerja enam bulan lalu saya memang mengais sana sini untuk menunaikan kewajiban-kewajiban saya kepada orangtua dan untuk urusan akherat. Biasanya ada saja rezeki yang saya terima meski tak cetar membahana, dari hadiah kuis berupa voucher belanja, uang tunai atau gadget yang bisa saya jual, namun saat itu saya terus menerus gagal tak seperti biasanya....saya sempat berpikir ini "hukuman" atas dosa-dosa saya dan nyaris putus asa untuk terus berlomba...Ah, sejak menyaksikan anggrek "koma" yang ternyata tidak berakhir " titik", semangat saya kembali tumbuh, selagi masih ada nyawa rasanya tak pantas mengeluh, saya berusaha sekuat tenaga meningkatkan kualitas ibadah, dan rezeki saya kembali mengalir meski kecil-kecil, kalau soal ikhtiar rasanya sudah semaksimal mungkin tapi memang sepertinya saya belum ditakdirkan mendapat rezeki dari lomba blog, tapi setidaknya menang kuis berhadiah yang bisa dihitung nominalnya dalam rupiah membuat saya merasa lega....




Terimakasih wahai Sang Pemilik Kehidupan, lewat anggrek Engkau titipkan pesan agar hamba tak mudah terjerumus dalam keputusasaan....

Tentang Anggrek :
Suku anggrek-anggrekan atau Orchidaceae merupakan satu suku tumbuhan berbunga dengan anggota jenis terbanyak. Jenis-jenisnya tersebar luas dari daerah tropika basah hingga wilayah sirkumpolar, meskipun sebagian besar anggotanya ditemukan di daerah tropika. Kebanyakan anggota suku ini hidup sebagai epifit, terutama yang berasal dari daerah tropika.
 Anggrek menyukai cahaya matahari tetapi tidak langsung sehingga ia biasa ditemukan di alam sebagai tumbuhan lantai hutan atau di bawah naungan. Sebagai tanaman hias, anggrek tahan di dalam ruang.
Akar serabut, tidak dalam. Jenis-jenis epifit yaitu mengembangkan akar sukulen dan melekat pada batang pohon tempatnya tumbuh,namun tidak merugikan pohon inang. Ada pula yang tumbuh geofitis,dengan istilah lain terrestria artinya tumbuh di tanah dengan akar-akar di dalam tanah. Ada pula yang bersifat saprofit, tumbuh pada media daun-daun kering dan kayu-kayu lapuk yang telah membusuk menjadi humus. Pada permukaan akar seringkali ditemukan jamur akar (mikoriza) yang bersimbiosis dengan anggrek.
Batang anggrek beruas-ruas. Anggrek yang hidup di tanah ("anggrek tanah") batangnya pendek dan cenderung menyerupai umbi. Sementara itu, anggrek epifit batangnya tumbuh baik, seringkali menebal dan terlindungi lapisan lilin untuk mencegah penguapan berlebihan. Pertumbuhan batang dapat bersifat "memanjang" (monopodial) atau "melebar" (simpodial), tergantung genusnya.
Daun anggrek biasanya oval memanjang dengan tulang daun memanjang pula, khas daun monokotil. Daun dapat pula menebal dan berfungsi sebagai penyimpan air. (Sumber Wikipedia)

2013-07-29 05.14.18

Saturday, July 27, 2013

Multitasking Wanita, Work at Home Mama

Huaah rasanya lama sekali nggak update blog ini, terakhir update 20 Juni, banyak yang terjadi dalam kurun waktu sebulan ini...kalau nggak ingin ikut Give Awaynya Semut Pelari sekaligus mencurahkan isi hati entah kapan blog tercinta ini kusambangi.

Maklum, peran sebagai multitasking wanita selalu setia kujalani, meski tanpa R*X*N* yang setia setiap saat, tapi mampu melakukan beberapa tugas dengan baik dalam waktu nyaris bersamaan itu membuat hidup terasa nikmat. Meski sudah berhenti bekerja sejak enam bulan lalu, me time buat saya bukan berarti tak terbatas waktunya, tapi memang lebih leluasa dibandingkan masih kerja kantoran yang lokasinya pun harus ditempuh dalam 1-2 jam dari rumah. Apalagi setahun terakhir di masa kerjaku yang tanpa Asisten Rumah Tangga, kepala serasa mau pecah karena dipenuhi jadwal mengejar waktu : jam sekian harus memasak sambil sholat subuh (loh gimana caranya ?, maksudnya sambil nunggu ayam diungkep atau sayur dimatangin bisa ditinggal sholat/tilawah sebentar), berangkat kerja mesti ngantar si bungsu yang usianya 3 tahun ke Tempat Penitipan Anak (kasian ya, anak kok mirip sepeda, pakai dititipin segala), di tempat kerja udah mikirin kapan jadwal menyetrika. Huffft, sementara kalau harus berhenti kerja saat itu juga, bingung mikir siapa yang bayar hutang KPR yang dipotong dari gaji saya sedangkan suami terus terang nggak punya uang simpanan untuk melunasi sekaligus. 

Sebenarnya terjun kembali ke dunia kerja setelah berhenti kurang lebih 2 tahun itu pilihan saya sendiri, waktu itu si sulung baru berusia 3 tahun, alasan saya simple : ingin beli rumah baru, udah nggak tahan 8 tahun kebanjiran sementara penghasilan suami memang pas untuk hidup keseharian jadi ya saya mesti nyari pekerjaan. Jadilah selama lebih dari lima tahun itu saya menjelma menjadi multitasking wanita. gonta-ganti pengasuh anak (bener-bener cuma ngurus anak, nggak ngurus rumah) beberapa kali, nitipin anak ke tetangga sempat juga dan selama itu pula pekerjaan rumah tangga saya juga yang ngerjain (dibantu suami yang kebagian masak nasi pakai rice cooker dan mencuci dengan mesin cuci). 

Alhamdulillah, kerja keras saya menuaikan hasil, mesti sempat pontang-panting dan menjuluki diri sendiri sebagai Mom F1 (Emak pembalap Formula 1) akhirnya cicilan rumah ini lunas sudah....sujud syukur berkali-kali. Pas angsuran terakhir utang itu saya mengundurkan diri di bulan Desember 2012, sisa KPRnya ditutup dengan hasil menjual motor kami satu-satunya (trus kredit lagi => murni ide suami) dan rezeki dadakan, pembagian warisan dari eyang buyut.

Berhenti kerja trus leha-leha ?, ya enggak lah...saya punya kewajiban terhadap orang tua dan "urusan akherat" yang selama ini diambil dari gaji saya, hanya saja sekarang meski tetap berperan sebagai multitasking wanita saya bekerja dari rumah saja. Beberapa bulan pertama sejak tak lagi bekerja, saya mendapat penghasilan sedikit demi sedikit dari hadiah ikut lomba dan kuis di dunia maya (seperti hobi saya yang sudah-sudah), lumayan tuh bisa dapat voucher belanja, pulsa, uang beberapa ratus ribu rupiah..nah kalau nggak kunjung menang hati jadi deg-degan, bagaimana caranya menunaikan kewajiban bulan depan ?. 

Alhamdulillah lagi-lagi Allah menunjukkan jalan, seorang teman yang saya kenal di dunia kepenulisan dan kuis dunia maya memberikan informasi adanya proyek kepenulisan lepas di sebuah agency naskah, pilihannya bisa menulis buku atau artikel yang tersebar di portal-portal online atau keduanya. Karena saya belum mampu menulis buku, saya mendaftar di kepenulisan artikel, komisinya dihitung per karakter artikel yang ditulis. Meski "hanya" menulis artikel yang kelak tersebar tanpa nama atau inisial bukan berarti saya seenaknya menuangkan pemikiran, saya tak ingin memberikan informasi tidak relevan, ngawur bagi pembacanya, studi literatur tetap saya lakukan. Dibanding gaji, mungkin komisi menulis saya tak terlalu tinggi tapi disinilah terasa nikmat sekali menjadi multitasking wanita sebagai work at home Mama, capek nulis bisa tidur siang dulu bareng anak-anak, usai nemenin anak-anak main sebentar atau belajar bisa nyicil nulis lagi. Nulis juga bisa dilakukan sambil masak tanpa tergesa-gesa, seperti saya nulis untuk Give Away Semut Pelari ini, saya habis ngupas bawang (tapi tulisannya ngga bau kan ?). Kendalanya hanya kalau pas dapat keyword (tema yang ditetapkan dari pihak agency) yang tergolong susah, dan hampir tak ada literatur penunjangnya, tapi syukurlah so far masih bisa diatasi meski sesekali saya harus tidur larut malam dan bangun lebih pagi. Karena sistem menulisnya kalau pas ada proyek, sering masih ada waktu luang dan sisa kuota modem, nah saya tetap bisa menyalurkan hobi ikut kuis di sana sini, lumayanlah kalau pas ada rezeki seperti yang saya alami selama Ramadhan kali ini, alhamdulillah bisa dapat hadiah modem pas saat modem lama udah mati segan hidup tak mau, juga uang tunai beberapa ratus ribu rupiah


Berkat tulisan saya yang ini : 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3200763354978&set=o.285013448265838&type=1&theater

Mungkin sebagian orang berpendapat : duh kok susah-susah mengais nafkah, "memaksakan diri" menjadi multitasking wanita, bukannya menghidupi keluarga itu tugas suami ?. Hmm pendapat itu nggak salah sih, hanya saja tak semua orang berada dalam situasi dan kondisi yang sama. Selain pos-pos yang memang telah menjadi tanggung jawab saya selama ini,kami pernah mengalami suami ter PHK dua kali, saat itu saya masih bekerja dan terima gaji, jadi nggak kebingungan soal menyambung hidup meski suami mengganggur berbulan-bulan. Bicara soal PHK, saya geleng-geleng kepala, bulan ini suami saya untuk ketigakalinya terPHK, kali ini saya agak was-was meski suami pasti menerima pesangon setelah 10 tahun bekerja namun pesangonnya tak sampai 50 juta ditambah lagi mengingat susahnya mencari kerja apalagi usia menjelang 40 tahun, padahal anak sudah dua dan saya tak lagi bekerja. Ketika mendengar ada lowongan di pabrik dekat rumah, meski sebenarnya enggan untuk kembali bekerja kantoran, saya mencoba mengirim lamaran tapi tak ada jawaban, jadi meski di rumah saya tak tinggal diam dan tetap berusaha mencari nafkah. Alhamdulillah untuk kesekian kali, di balik kesulitan ada hikmah, setelah datang musibah insyaallah ada berkah. Suami saya diterima bekerja di tempat baru yang sesuai keinginannya, berharap kali ini jalan yang ditempuhnya lebih mudah meraih berkah sehingga keberkahan pula yang mengiringi kehidupan keluarga kami.


Ketika banyak wanita yang bingung memilih karir dan keluarga, Allah telah memilihkan jalan terbaik buat saya...sebagai multitasking wanita dan work at home Mama...

Bahagianya, sekarang saya menjadi ibu sepenuhnya...menyaksikan anak berangkat sekolah, menjadi orang pertama yang mereka temui sepulang sekolah dan mendengarkan salam yang diucap di gerbang rumah serta menghabiskan Ramadhan bersama anak-anak hampir 24 jam, mengajak mereka berbuka on the road seperti di Masjid Al Akbar Surabaya dan berbuka bersama anak-anak yatim...Ramadhan kali ini saya mungkin tak lagi menerima Tunjangan Hari Raya sebagai bonus bekerja namun ada yang lebih raya mengisi hati saya, bahagia itu sederhana...
Ngabuburit di Masjid Al Akbar Surabaya

Berbuka puasa bersama anak yatim asuhan Yatim Mandiri, Sidoarjo