Google+ Followers

Monday, December 31, 2012

(R)evolusi Vs Resolusi

Tahun baru Islam atau Masehi atau ulangtahun memang tak pernah kurayakan secara khusus tetapi momen-momen tersebut buatku sekedar pengingat untuk tak mengabaikan waktu sebagai alarm yang berbunyi bahwa kian dekat aja dengan mati sehingga lebih berhati-hati menata langkah demi masa depan baru.

Apalagi tahun 2012 aku mengambil langkah besar : berhenti bekerja, padahal selama ini gajiku utuh untuk keluarga, sepuluh tahunan bekerja aku tak pernah membeli barang pribadi, jangankan perhiasan atau handphone bahkan untuk sekedar membeli buku pun nyaris tak pernah kulakukan (kecuali beberapa buku antologiku :D). Tas, sepatu aku hanya punya satu kan memang sudah cukup tu ? :) kalau sudah sangat butut tanpa kupinta suami membelikanku. Pernah suami sampai memaksaku memakai sepatu baru gara-gara sepatu yang sudah jebol jahitannya di sana sini tetap saja kupakai ngantor. Handphone ? cukup pakai milik suami kalau beliaunya lagi pengen ganti model terbaru pernah sih sekali beli handphone baru pakai duit hadiah lomba nulis tapi buat ngenet nyari kuis malah lola buanget jadi malah pakai HP suami yang udah pada ngelupas keypadnya karena lebih enak buat ngenet (tapi sekarang udah ngga lagi, pulsanya kok nyedotnya guede, dulu ada paket seribu). Kalau ada yang nanya : lha trus apa hasilmu bekerja ? jawabku ya rumah mungil type 36 bebas banjir yang kami huni sejak tahun 2010 beserta perabotan di dalamnya :D.

Wajar suamiku sempat keberatan atas niatku duh tapi aku sudah tak sanggup lagi bekerja di tempat yang atmosfernya membuat tak nyaman yang waktu kerjanya nggak fleksibel, kalau ingin cuti susah sekali dan resiko kerjanya pun tinggi.

Alhamdulillah ternyata Allah membukakan jalan melalui Rafi yang tiba-tiba harus segera dikhitan hihihi (terimakasih Allah, terimakasih Raf).

Disinilah proses (R)evolusi mulai berlangsung.. dari wanita pekerja kantoran menjadi ibu rumahan eits jangan salah beberapa tahun lalu saat baru melahirkan Rafi - anak pertama - aku udah sempat break dari dunia kantoran demi fokus momong anak...tetapi hanya diam di rumah tak ada kegiatan lain, tanpa mampu mandiri secara finansial dari suami membuatku tersiksa, kok bisa ? karena aku tak lagi bisa menafkahi Mama itu yang utama, nggak mungkin ah aku membebani suami di luar kemampuannya. Hasilnya banyak hal negatif tercipta yang salah satunya tertuang dalam antologi yang membuatku berbunga-bunga karena terpilih menjadi salah satu kontributornya : Asma Nadia Inspirasiku.



Jujur, sempat terbersit pikiran : wah udah ngga lagi punya gaji ntar bagaimana bisa menafkahi Mama, melanjutkan membayar infak sedekah atas nama diri sendiri, atas nama mama, atas nama almarhum papa, amarhumah mertua, almarhumah adinda serta membayar patungan premi asuransi jiwa suami ?  => itu semua selama ini pakai duit gajiku sodara - sodara...

Ini nih sepertinya sesuai bunyi surat Al Baqarah 268 setan lagi bisik bisik ke telinga "Syaitan menjanjikan (menakut nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas karuniaNya lagi Maha Mengetahui"

Tak ingin mengulangi situasi dan kondisi yang sama itulah mengapa harus kususun Resolusi.

Time and Financial Freedom harus kuwujudkan, caranya ?

Bisnis ?, waduh gak punya modal, gerai teh poci dan kios kecil kami tempo hari bangkrut dan menghabiskan modal jutaan rupiah (padahal modalnya dari sisa penjualan rumah lama)

Menulis ? lah ini salah satu cita citaku, duluuuuu sekali aku pernah bercita-cita jadi penulis dapat royalti, itulah mengapa banyak kuikuti event antologi dengan anggapan tak mengapa belum bisa menerbitkan buku solo tetapi semakin banyak antologi makin banyak royalti terkumpul dari masing-masing buku...ternyata tak sesederhana itu, banyak antologi karyaku yang hanya terbit indie tanpa royalti dan aku malah harus beli tetapi tetep hepi karena aku berharap meski tak menjadi ladang nafkah setidaknya tulisanku (semoga) menjadi ladang amal jariyah. Bosan mengikuti event antologi (alaaaah bilang aja udah sering gak lolos lagi :p) pindah haluan ke menulis ala blogger, berharap banget bisa dapat duit dari ngeblog gara-gara pernah sekali menang lomba blog di akhir 2011 dan dapat hadiah 1 juta rupiah



 (etapi sampai sekarang belom menang lagi). Pengen sekali dari blogging bisa dapat proyek job review atau tempat pasang iklan (terinspirasi kisah blogger siapa namanya ya lupa...sampai meninggalkan dunia kerja dan enjoy jadi blogger karena dengan menjadi blogger dan review restoran. cafe dia bisa jjs hingga keluar negeri gratis).

Kuis ? nah ini satu pintu yang alhamdulillah terbuka sejak lama dari kuis mini mini berhadiah pulsa 5 ribu dan merchandise hingga paling gede voucher belanja 500ribu hasil ngekuis bulan Ramadhan dan duit 500 ribu dari kontes foto (ngarep banget bisa berkembang ni hadiah jadi gadget, atau hadiah jutaan rupiah hihihi #kalap).





Dan resolusi hanya tinggal mimpi sekedar meninggalkan obsesi jika tak ada amunisi, kini saatnya mengasah pisau dapur eh ya maksudnya selesai urusan domestik rumah tangga ngadepnya ke laptop (yang baru aja lunas angsuran ke sekian kalinya) kalau dulu selesai urusan dapur acaranya mengejar bus kota. Demi mewujudkan cita-cita Blog sampai punya 4 biji >_< belum keitung fb dan twitter, lalu nyoba mendaftar program afiliasi untuk terima pemasangan iklan (kan sesuai banget dengan hobiku yang sering berselancar di dunia maya demi berburu kuis dan lomba) dan terus menyemangati diri untuk keep on writing, keep on blogging, satu tulisan sehari untuk mengisi blog, belajar sering-sering walk blogging, share di social media sembari terus berlomba baik di dunia kuis, kontes foto dan menulis di sana sini...masa sih Allah ngga akan membuka pintu rezeki ?.

"...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberi rezeki yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupkan keperluannya (At. Thalaaq 2-3)

Sunday, December 30, 2012

Pengantin Sunat

Melanjutkan posting tempo hari tentang keputusanku yang "tiba-tiba" untuk mengundurkan diri 
karena sudah tak sanggup bertahan lebih lama lagi ...sebenarnya ada penyebab lebih penting
lagi yaitu menemani dua jagoan ku Rafif Danu Pramatya dan Raditya Damar Pradipta dikhitan.
Duh khitan aja sampe resign, begitu komentar para juragan....kenapa tidak cuti aja kata mereka. Welhadalah kalau boleh cuti seminggu gitu yak pak tanyaku..hhm tapi kalaupun dengan keajaiban tiba2 bisa cuti 1-2 minggu gegara nunggguin anak2 khitan hingga sembuh sempurna tetap saja kuperkirakan tak kan membuatku tinggal lebih lama hihihi. Dunia kerja yang penuh intrik dan politik sudah seharusnya tak peru diusik..kerja yang harus melayani dua divisi sekaligus : F/A dan Operasion yang masing2 merasa paling penting membuat kepalaku pening...Wis Cukup...lha wong aku cuma ingin cerita tentang proses khitan.

Rafif usianya baru 8 tahun meski pada umumnya anak lelaki dikhitan saat duduk di kelas 5-6 SD alias usia 10-12 tahun karena dokter menyarankan ia harus segera dikhitan saat kami memeriksakan gara2 Rafi mengeluh pas pipis. Menurut dokter ada banyak kotoran di bagian dalam kulit "burung"nya. Kondisi ini berbahaya lo dari beberapa cerita yang kudengar si penderita bisa mengalami infeksi, pembengkakan jika tak segera dikhitan. Nah si bungsu Raditya ikut-ikutan padahal usia masih 4 tahun di Januari tahun depan tapi PD tinggi minta sunatan. OK deh di acc saja. Tiba hari H Rafi sempat berkata kok aku "ndredheg ya Ma". "Ya mas Rafi baca Al Fatehah aja terus" pintaku. Khitannya sih ngga jauh dari rumah, di klinik Nurani tak sampai 10 menit naik sepeda motor. Nunggu perawat yang bertugas agak lamaan dikit, si perawat (jaman dulu namanya mantri sunat) datang Rafi percaya diri tinggi langsung menuju TKP (Tempat Kejadian Pengkhitanan). Alhamdulillah aku senang sekali sampai kuabadikan kejadian ini

Metode apa yang dipilih kami pasrah pada pak mantri, kalau ada yang tanpa sakit dan sehari sembuh sih ayoook ajah, ternyata pak mantri pilih metode laser. Lhadalah pas suntik bius dilakukan Rafi menangis kencang dan selama setengah jam proses menangis terus menerus, aku sibuk melarikan Radit agar tidak down semangatnya untuk dikhitan. Sampai keluar ruangan Rafi masih meraung berkepanjangan waah ini membuat Radit jadi keder sodara. Sempat menunjukkan perlawanan tapi Radit akhirnya tiba juga di pembaringan, mungkin begini perasaan nabi Ibrahim saat harus mengkurbankan Ismail, aku harus menguatkan diri mengelus dahinya, sesekali membujuknya dan terus berdzikir sementara si Papa menghiburnya dengan meninggalkan HP yang tengah memperdengarkan lagu kesayangan Radit : Cakra Khan. Hebatnya nangisnya si Radit cuma sebentar, saat kuhalangi pandangannya untuk melihat proses khitan tanganku malah ditepisnya. si Raditnya ini menurut pak mantri cocok pakai metode smart clamp, kami nurut aja....kan pak mantri paling mengerti.

Intermezzo : acara sunatan ditutup dengan funny ending pula, berangkat berempat naik motor pas pulang kebingungan bagaimana cara membawa dua pasien yang meraung raung ya. mana taxi lewat di stop pun ngga mau brenti, mo cari bentor kok khawatir mogok di jalan akhirnya..naik ambulance klinik hihihi jadi perhatian para tetangga deh.

Kalau ditanya metode khitan mana yang paling baik aku juga ga bisa menjawab, yang jelas si Rafi yang sempat meraung di ruang tunggu "Aduuuuh Ma suaaakitnya kayak gini kok ya diwajibkan sama Allah ya sunat itu" dalam 3 hari sudah bisa jalan-jalan keluar rumah ke sana kemari meski masih pakai sarung, metode smart clamp ternyata membuat Radit merasa tidak nyaman untuk pipis di kamar mandi mungkin takut melihat benda asing melekat dan baru bisa dilepas 5 hari kemudian.


Alhamdulillah meski dalam beberapa hari pasca khitan aku terpaksa bekerja ekstra dalam merawat dan sering begadang karena para pasien mengeluh bergantian hatiku legaaa. Bisa menemani jagoan yang meski belum sembuh sempurna sudah jejingkrakan.

Huffft nggak ngerti apa si perawat ini sempat masuk angin dan tepar berat ...

Lah nih duo pasien yang tiba-tiba banjir hadiah dan angpau ^_^







Selingan Usir Penat: NONTON LIVE IDOLA CILIK

Selingan Usir Penat: NONTON LIVE IDOLA CILIK: Kamis sore dapat tawaran nonton idola cilik dari sahabat dumay Dwi Aprily yang menang kuis RCTI berhadiah tiket nonton live idola cilik ...

Sunday, December 23, 2012

I am Free


Kemarin, 22 Desember 2012 resmi menjadi hari terakhir aku bekerja salah satu perusahaan Ekspedisi Muatan Kapal Laut di grup Sinar Mas. Jangan silau dengan Sinar Mas yak karena bekerja di sana bukan sesuatu yang istimewa hihihi malah aku sempat kebingungan dengan atmosfer kerja yang tak sehat, ah tapi bekerja “ikut” orang mayoritas begitu adanya jarang sekali terwujud kepuasan dan simbiosis mutualisme antara buruh dan penguasa. Tak hanya itu hubungan antar teman, antar divisi sering sekali terjadi benturan yang tak perlu. Memutar balik fakta, syak wasangka, ghibah, fitnah dan iri hati serta dengki menjadi pemicu suasana tak nyaman. Lima tahun enam bulan aku terpaksa bertahan dalam suasana kerja tak nyaman tak jarang aku terseret ke dalam arus, turut berghibah dan eh jangan-jangan juga mengipas kiri kanan ^_^ sayangnya aku tak bisa segera mengundurkan diri, terhalang hutang KPR yang harus dipotong gaji dari kantor ini. 

Bertahun-tahun aku bertahan demi kewajibanku mencari nafkah selama itu pula aku harus terbiasa menghadapi gerutuan kanan kiri, keluhan dari atas bawah (karena kantornya berlantai tiga) satu orang menghibah yang lain (eh khawatir ternyata tiba-tiba juga menjadi hobiku). Perlakukan istimewa terhadap seseorang di divisi lain menjadi bahan gunjingan suburnya iri hati, cuti bersama yang tidak sama antar divisi karena kebijakan satu pihak saja menyulut dengki, satu orang ditegur karena berkali-kali ijin tidak masuk kerja dan cuti sementara aku cuti karena adik meninggal pun jadi sumber  dengki duh duh duh padahal saat aku cuti pas mertua meninggal sudah terjadi keributan, belum lagi masalah gaji aduuuuh kadang aku capek hati terpaksa mendengar hal tak penting itu. Maksudku toh selama ini aku juga tidak merasa diperlakukan istimewa lah hari-hari pertama kerja aku bahkan tak punya meja, computer dan printer saja tiga bulan berikutnya baru kuterima setelah sebelumnya aku harus nomaden pinjam kanan kiri naik hingga ke lantai tiga, belum lagi gaji pertamaku yang terlambat karena ternyata aku belum tercatat sebagai pegawai (aneh ya tapi nyata), Jamsostekku selama 15 bulan selalu disunat dari gaji tapi tak kunjung disetorkan dan baru disetor setelah aku protes dan bertanya langsung ke kantor pusat serta THR pertamaku yang juga terlambat ..kalau saja aku tidak protes lagi pasti tak ada THR tahun itu. Belum lagi saat pembatalan bonus tahunan oleh kantor pusat yang telah diumumkan oleh Presiden Direktur di depan seluruh karyawan Surabaya (aneh ya tapi nyata katanya Presdirnya salah informasi hihihihi),

Eh saat mengundurkan diri karena aku memperjuangkan hak uang penghargaan masa kerja sesuai perundang-undangan (mungkin aku mirip Marsinah almarhumah di mata pengusaha, selalu bikin pusing karena memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak) menjadi bahan gunjingan, bahan iri karena orang lain yang mengundrukan diri tidak berpikir hal yang sama padahal perjuanganku TIDAK BERHASIL, perusahaan ajaib ini lebih memilih memberi  penghargaan berupa pesangon bagi mereka yang DIPAKSA mengundurkan diri karena tidak berprestasi atau KORUPSI (aneh ya tapi nyata) lhadalah dengan dalih tidak ada peraturan di perusahaan untuk memberi sekedar penghargaan masa kerja lalu para petinggi memutuskan memberikan cenderamata (katanya handphone android yang harganya nggak lebih dari dua juta padahal aku sempat melirik memonya harganya pun tak lebih dari satu juta hihihihi) kok ya hingga aku sudah keluar dari pintu dan tak berharap untuk kembali eh cenderamata itu tak kunjung kuterima. Jujur, sempat aku bersuudzon ini pasti karena aroma iri hati hingga memo Vice General Manager yang telah ditulis jelas, bukti permintaan yang ditandatangani branch manager  tak berfungsi sebagaimana mestinya (alasannya sih nggak ada uang di perusahaan, pihak F/A tidak merasa dihubungi – lha ya kasir F/A yang mengundurkan diri bareng 2 tidak mendapat hadiah yang sama aku jadi punya pikiran : “kan hal ini bisa jadi sumber iri dengki baru belum lagi prosedurnya yang harus berbelit-belit - aneh ya tapi nyata hihihi).

Lah kado tas berupa tas dari teman satu divisiku pun ternyata memercikkan iri di teman dekatku ini, merasa dia tak dihargai karena teman satu divisinya tidak memberikan perhatian yang sama. Kaget aku mendengar pengakuannya padahal dia teman baiiiik, orangnya pun baiiiiiik, sering bagi-bagi rezeki.
Aku tidak ingin mengalami putus tali silaturahmi karena dia bener teman baik kalaupun ada masalah itu kuanggap biasa tetapi pengakuannya membuatku sedih…semoga saja setelah sama-sama terbebas dari kantor aneh tapi nyata ini rezekinya semakin berlimpah dan tak mudah "iri" atas kebahagiaan orang di sekitarnya, mungkin saja iri dengki itu timbul karena suasana kerja yang tak nyaman.

Sebagai penghargaan kepada teman-teman yang tulus menghadiahkan.. yippi ini dia penampakan tasnya (pengennya juga upload cenderamata berupa Android murah meriah itu tapi sampai saat ini belum kuterima juga eh kalau rezekiku insyaallah bisa segera kuterima , mudah-mudahan ya…)


Berkaca pada pengalaman ini teringat kembali hadits Rasulullah

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Aku sangat bersyukur bukan tergolong orang yang mudah iri hati meski di mantan tempat kerja orang-orang sering ribut masalah gaji orang lain yang jauh lebih tinggi padahal beban kerjanya tak seberapa, atau gaji orang yang baru masuk tapi sudah melebihi gaji pegawai lama bagiku apa yang seharusnya menjadi hakku itulah yang perlu kupikirkan maka aku tak lelah memperjuangkan, masalah gaji itu rezeki dari yang Di Atas tak bisa digugat.

Berbeda sekali dengan pertemanan di dunia maya, dunia pemburu lomba mereka yang saling mengenal mengucapkan selamat bagi yang menang padahal sama-sama ikutan lombanya ..fair dan tulus, Asal lombanya berlangsung adil, karya tulis, komen, tweet bener-bener keren bukan hasil plagiat (karena pernah sebal pas kuis komen ada yang meniru komenku ditambah-tambahin dikit eh malah si plagiat yang menang tapi dipikir-pikir bukankah rezeki sudah ditulis di Lauhul Mahfuzh ?). Aku juga gak ambil pusing kalau harus kalah (hanya kadang mikir wah kok aku gak dapat hadiah ya padahal lagi butuh => hihihi sama aja dengan protes pada Sang Pemberi Rezeki).). Seperti saat aku turut bahagia banyak teman yang kukenal di dunia maya seperti mbak Murti Yuliastuti menang lomba yang guuueede hadiahnya juga teman-teman di grup FB Be A Write banyak yang menang di lomba nulisnya MODENA (ada mbak Leyla Hana, Mbak Windi Teguh – dua jagoan neon ini plus Zukhruf dan Rini Bee…takjub dengan cara Allah membagi rezeki yang begitu rapi:)

Jadi kenapa aku nulis ini hanya sebagai pengingat buat diriku sendiri agar tak tercemar penyakit hati. Ngeri dengan akibat yang ditimbulkan…semoga saja bisa istiqomah.

Bersyukur aku telah meninggalkan "neraka dunia" itu...tinggal berikhtiar kemana dan bagaimana aku harus mencari nafkah berikutnya.
Dan kututup tulisan sederhana ini dengan doa : semoga gaji terakhirku diberikan tanpa pemotongan jangan seperti teman yang lebih dulu resign gajinya dihanguskan (perusahaan aneh ya tapi nyata padahal kami mengikuti aturan surat pengunduran diri 30 hari sebelum hari terakhir kerja tetapi gaji terakhir tak diterima) lalu doa aneh tapi nyata agar kenang-kenangan Android murah meriah yang seharusnya menjadi hakku segera kuterima plus doa paling akhir semoga rezekiku di dunia lomba, event kuis dan menulis semakin lancar dengan manissss

Aamiiin semoga terkabul doa yang memaksa ini

Tuesday, December 18, 2012

Dia Bernama Dyah (GA Ya Allah Beri Aku Kekuatan)


Wanita pekerja sudah biasa, wanita pekerja tulang punggung keluarga tak asing lagi bagi kita namun wanita pekerja tulang punggung keluarga dan selalu dijadikan bahan bulan-bulanan suami aku hampir tak bisa mengerti.

Sebutlah dia Dyah, seorang teman kerja ku hampir empat tahun lamanya, aku bahkan hadir di pesta pernikahannya dan menyaksikan dia tersenyum bahagia. Siapa yang mengira kebahagiaan itu tak lama menyapanya. Suami yang dicintainya menoreh luka yang tak kentara.
Luka lebam mulai tercipta pasca kelahiran anak pertama. Dyah mulai terjerat hutang yang disebabkan ulah suami, hampir dua tahun terakhir Dyah terbiasa berhutang kepadaku yang notabene berposisi sebagai kasir di perusahaan bahkan untuk biaya melahirkan anak kedua ia berani berhutang jutaan rupiah dan sempat membuatku tak tidur semalaman gara-gara janjinya membayar hutang meleset dari waktu yang dijanjikan.
Salah seorang teman dekatnya mengungkap rahasia Dyah selama ini bahwa sang suami telah dikeluarkan dari tempat bekerja karena manipulasi yang telah dilakukan dan terpaksa harus membayar kerugian beberapa juta, Dyahlah yang membayarnya.

Awalnya aku menuruti permintaannya untuk tak bercerita kepada teman-teman tentang "hobinya" berhutang, akibat keterlambatannya itu aku melanggar janjiku, aku mulai bertanya kanan kiri ternyata bukan hanya aku yang menjadi "korbannya" hampir semua teman wanita di kantor pernah memberikan piutang bahkan ada dua orang yang terpaksa merelakan piutangnya tak terbayar. Kudengar ia bahkan memohon "pemutihan hutang" pada bank yang memberikan pinjaman melalui kantor kami, hutang sebesar limabelas juta rupiah akhirnya dikabulkan untuk diangsur dalam waktu tak terbatas dengan alasan tak mampu untuk membayar dalam waktu dekat sedangkan setelah Pemutusan Hubungan Kerja sang suami bekerja serabutan dan setiap bulan Dyah tetap "berlangganan" untuk berhutang ratusan ribu rupiah kepadaku, menurutnya penghasilan suami tak cukup untuk menghidupi dua anaknya.
Aku tak mampu membayangkan menghidupi dua anak balita dengan gaji tak lebih dari dua juta perbulannya sementara suami tak mampu memberikan perlindungan apalagi nafkah bagi kehidupan mereka malah membebani dengan kelakuan jahatnya.

Beberapa bulan lalu, teman dekatnya yang telah berkorban handphone demi membantu Dyah dan piutang satu juta rupiah yang tak pernah kembali bercerita bahwa suami Dyah kabur dari rumah dan tidak memberikan sepeserpun nafkah selama lebih dari dua bulan, Dyah pun didesak keluarganya untuk mengurus perceraian dengan suami yang tak bertanggungjawab, saat berhutang kesekian kalinya kepadaku Dyah sempat bercerita bahwa suaminya kabur tetapi ia tak mampu membayar biaya perceraian yang begitu mahalnya di Surabaya. Aku menyemangatinya untuk bersabar menanti uang Tunjangan Hari Raya (THR) yang bisa dimanfaatkan sebagai modal mengurus perceraian (ah teringat kembali cerita sang teman bahwa selama pernikahan ATM dan gaji Dyah selalu dalam penguasaan suami bahkan THR tahun lalu pun Dyah tak sempat merasakannya).
Tak dinyana sang suami kembali ke rumah (Dyah, suami dan kedua anaknya tinggal bersama orangtua Dyah, mereka sempat mengontrak rumah selam setahun namun tak mampu untuk membayar biaya kontrakan tahun berikutnya). Sempat tinggal bersama dan empat bulan bekerja serabutan seminggu lalu kudengar berita dari teman dekatnya bahwa suami Dyah kembali berulah, kabur dari rumah sembari membawa lari sepeda motor warisan almarhum kakaknya yang baru meninggal setahun lalu sementara debt collector dari berbagai BPR datang dan pergi ke rumah orangtuanya mencari sang suami.
Betapa gemas aku mendengarnya, setiap pagi aku menyaksikan wajah sembab dan mata panda yang menghias wajahnya, teman dekatnya bercerita bahwa ayah Dyah murka dan memarahinya habis-habisan sementara mertua Dyah tak mau tahu ulah sang anak.
Aku tak tau bagaimana kisah Dyah akan berakhir, bulan Desember ini aku telah mengundurkan diri dari kantor ini hanya status Facebooknya mengisyaratkan jalan terbaik yang dipilihnya

".bulatkan tekad, mantapkan hati....

bismillah,mungkin sdh saatnya di akhiri.....
SEMANGAT..... semoga dilancarkan jalannya..."