Google+ Followers

Tuesday, December 18, 2012

Dia Bernama Dyah (GA Ya Allah Beri Aku Kekuatan)


Wanita pekerja sudah biasa, wanita pekerja tulang punggung keluarga tak asing lagi bagi kita namun wanita pekerja tulang punggung keluarga dan selalu dijadikan bahan bulan-bulanan suami aku hampir tak bisa mengerti.

Sebutlah dia Dyah, seorang teman kerja ku hampir empat tahun lamanya, aku bahkan hadir di pesta pernikahannya dan menyaksikan dia tersenyum bahagia. Siapa yang mengira kebahagiaan itu tak lama menyapanya. Suami yang dicintainya menoreh luka yang tak kentara.
Luka lebam mulai tercipta pasca kelahiran anak pertama. Dyah mulai terjerat hutang yang disebabkan ulah suami, hampir dua tahun terakhir Dyah terbiasa berhutang kepadaku yang notabene berposisi sebagai kasir di perusahaan bahkan untuk biaya melahirkan anak kedua ia berani berhutang jutaan rupiah dan sempat membuatku tak tidur semalaman gara-gara janjinya membayar hutang meleset dari waktu yang dijanjikan.
Salah seorang teman dekatnya mengungkap rahasia Dyah selama ini bahwa sang suami telah dikeluarkan dari tempat bekerja karena manipulasi yang telah dilakukan dan terpaksa harus membayar kerugian beberapa juta, Dyahlah yang membayarnya.

Awalnya aku menuruti permintaannya untuk tak bercerita kepada teman-teman tentang "hobinya" berhutang, akibat keterlambatannya itu aku melanggar janjiku, aku mulai bertanya kanan kiri ternyata bukan hanya aku yang menjadi "korbannya" hampir semua teman wanita di kantor pernah memberikan piutang bahkan ada dua orang yang terpaksa merelakan piutangnya tak terbayar. Kudengar ia bahkan memohon "pemutihan hutang" pada bank yang memberikan pinjaman melalui kantor kami, hutang sebesar limabelas juta rupiah akhirnya dikabulkan untuk diangsur dalam waktu tak terbatas dengan alasan tak mampu untuk membayar dalam waktu dekat sedangkan setelah Pemutusan Hubungan Kerja sang suami bekerja serabutan dan setiap bulan Dyah tetap "berlangganan" untuk berhutang ratusan ribu rupiah kepadaku, menurutnya penghasilan suami tak cukup untuk menghidupi dua anaknya.
Aku tak mampu membayangkan menghidupi dua anak balita dengan gaji tak lebih dari dua juta perbulannya sementara suami tak mampu memberikan perlindungan apalagi nafkah bagi kehidupan mereka malah membebani dengan kelakuan jahatnya.

Beberapa bulan lalu, teman dekatnya yang telah berkorban handphone demi membantu Dyah dan piutang satu juta rupiah yang tak pernah kembali bercerita bahwa suami Dyah kabur dari rumah dan tidak memberikan sepeserpun nafkah selama lebih dari dua bulan, Dyah pun didesak keluarganya untuk mengurus perceraian dengan suami yang tak bertanggungjawab, saat berhutang kesekian kalinya kepadaku Dyah sempat bercerita bahwa suaminya kabur tetapi ia tak mampu membayar biaya perceraian yang begitu mahalnya di Surabaya. Aku menyemangatinya untuk bersabar menanti uang Tunjangan Hari Raya (THR) yang bisa dimanfaatkan sebagai modal mengurus perceraian (ah teringat kembali cerita sang teman bahwa selama pernikahan ATM dan gaji Dyah selalu dalam penguasaan suami bahkan THR tahun lalu pun Dyah tak sempat merasakannya).
Tak dinyana sang suami kembali ke rumah (Dyah, suami dan kedua anaknya tinggal bersama orangtua Dyah, mereka sempat mengontrak rumah selam setahun namun tak mampu untuk membayar biaya kontrakan tahun berikutnya). Sempat tinggal bersama dan empat bulan bekerja serabutan seminggu lalu kudengar berita dari teman dekatnya bahwa suami Dyah kembali berulah, kabur dari rumah sembari membawa lari sepeda motor warisan almarhum kakaknya yang baru meninggal setahun lalu sementara debt collector dari berbagai BPR datang dan pergi ke rumah orangtuanya mencari sang suami.
Betapa gemas aku mendengarnya, setiap pagi aku menyaksikan wajah sembab dan mata panda yang menghias wajahnya, teman dekatnya bercerita bahwa ayah Dyah murka dan memarahinya habis-habisan sementara mertua Dyah tak mau tahu ulah sang anak.
Aku tak tau bagaimana kisah Dyah akan berakhir, bulan Desember ini aku telah mengundurkan diri dari kantor ini hanya status Facebooknya mengisyaratkan jalan terbaik yang dipilihnya

".bulatkan tekad, mantapkan hati....

bismillah,mungkin sdh saatnya di akhiri.....
SEMANGAT..... semoga dilancarkan jalannya..."

6 comments:

  1. Ya Allah, kasihan sekali mba dyah. Iiih gemes sama suaminya. Semoga mba dyah diberi kekuatan ya mba, dan semoga mba dwi diberi imbalan dari Allah krn telah ringan tangan membantunya, aamiin

    ReplyDelete
  2. Hiks hiks .. pingin nangis baca ini. Pingin menyumpahi laki2 itu .... duh Dyah, semoga dirimu kuat.

    Mbak Dwi ini keren lho, bikin hati tersayat2 bacanya .... duh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Niar makasih udah mampir, kalau ketemu sendiri pasti ngga cuma ingin nyumpahin mbak, tapi nyakar wajahnya (saya menahan diri pernah beberapa kali bertemu dengannya)...semoga keluarga kita lebih bahagia ya mbak dan berharap yang terbaik untuk Dyah sekeluarga ..:)

      Delete
    2. Oh Mein Gott....cemen banget laki2 kayak gitu ya...aku mampirrrrr :)

      Delete
  3. Aiiih ada mbak Aiiida makasiiih udah mampiiiir duh jadi malu ngga ada jamuan ada tamu istimewa mampir :)

    ReplyDelete