Google+ Followers

Tuesday, June 10, 2014

Debat Capres-Cawapres #1 (9 Juni 2014)

Uhhhm rumah mayaku sudah waktunya dibenahi.

Lama gak cerita itu ini sekalinya nulis tentang dinamika politik RI
Ingin mencatat tentang Debat Capres-Cawapres semalam. Debat pertama yang berlangsung 9 Juni 2014 ini berawal sedikit membosankan, mirip ujian kompre karena kontestan hanya diwajibkan menjawab pertanyaan.

Tapi setidaknya ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran
1.     Pentingnya belajar (dan berdoa). 
Sebelum debat saya baca di beberapa media bahwa mas Joko mempersiapkan diri dengan belajar. Sedangkan dari kubu Pak Bowo berkata : pak Bowo sudah terbiasa debat jadi tak perlu mempersiapkan diri. Hasilnya mas Joko dan pak Jusuf tampil lebih percaya diri, jawabannya cukup terstruktur rapi, nyaris tanpa emosi berlebihan. Bahkan beberapa jawaban saya catat kok “dicontek pak Bowo”. Contohnya saat pertanyaan masalah perlindungan HAM dan masalah minoritas, mas Joko bicara tentang lurah Susan, eh pak Bowo memberi contoh Koh Ahok. Mas Joko menjawab pertanyaan “bagaimana cara memberantas korupsi” dengan santai mas Joko menjawab hal ini harus dilakukan melalui pengawasan ketat dari pemerintah pusat, detik ke detik hari ke hari, lalu harus dilakukan recruitment terhadap orang yang tepat, E-procurement terbuka dsb dsb. Lah pak Bowo kok ya mengamini, jawaban yang sama (kalau saya sih berharap pak Bowo cari jawaban yang lebih eksploratif mengenai masalah pengawasan efektif demi menghindari masalah korupsi Bus Trans Jakarta agar tidak terulang lagi).
Konon mas Joko juga mengucapkan doa 'Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii. Terlepas dari para haters berkat itu mah kertas contekan atau sekedar pencitraan agar pemirsa yakin beliau Islam

2.      Pentingnya menahan emosi
Rasulullah pernah bersabda  
“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” Hadits al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609).
Semalam pak Bowo mampu menahan emosi setidaknya tidak melempar handphone ketika pak Jusuf bertanya bagaimana cara pak Bowo menyelesaikan permasalahan pelanggaran HAM di masa lalu jika terpilih
Dan pak Joko kali ini tampil tenang, tidak grogi, kaku karena menahan amarah akibat sebelumnya ia terus menerus dibully.

3.      Pentingnya mencatat perkataan para kontestan
Baik mas Joko maupun pak Bowo berjanji semua golongan akan dilindungi karena HAM paling utama adalah hak hidup, jadi tidak ada itu yang namanya penertiban atau pembantaian terhadap kelompok minoritas …cateeet Hiduplah Indonesia Raya (saya paling ngeri kalau terjadi perang saudara). 
Lalu saya menunggu pula action siapapun presidennya nanti untuk menegakkan hukum agar tidak tumpul ke atas dan hanya tajam ke bawah

Saya bukan mas Joko atau Pak Bowo lovers or haters. Saya hanya cinta Indonesia. Saya hanya selalu berdoa agar Allah menetapkan orang yang tepat sebagai presiden RI 2014 – 2019 (eh bener kan ya masa periodenya) dan rakyat pun sejahtera aman sentosa