Google+ Followers

Friday, December 2, 2016

Catatan Sebuah Rasa Tentang Aksi 212


Hari ini 2 Desember 2016.

Jakarta mungkin mendunia karena aksi 212.
Berduyun-duyun, jutaan manusia dengan semangat Islam di dada bersatu dengan niat: membela agama.
Lalu saya pun tergerak menulis di status FB saya: "bela dan pertahankan keyakinanmu tanpa merendahkan yang lainnya karena akan menjadikan yang kau junjung tinggi lebih mulia. Nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake.


Teman-temanku di FB dari segala madzhab, bahkan lintas agama. Ada yang santun tutur bahasanya. Ada yang terlalu radikal dan menganggap keyakinannya di atas segalanya. Saya, Islam sejak lahir tetapi sekedar ritual dan itupun penuh cacat cela. Yang saya yakini adalah Islam yang damai. Maka jika di beranda saya muncul status-status yang memojokkan Islam jika terjadi kekerasan diatasnamakan Islam, dikatakan Islam agama terorislah, mengajarkan kekejamanlah saya turut merasakan sakit. Apalagi jika di lain kesempatan ganti Islam yang "menjadi korban" maka si oknum hanya berkata: ini murni kriminalitas. 

Tetapi saya juga enggan membaca postingan dari sesama saudara Islam yang merendahkan sesama Islam lainnya dan menganggap mereka yang di luar Islam adalah musuh yang harus dibunuh. Ngeri aja membayangkan kata "bunuh" karena sepengetahuan ceteknya ilmu agama saya, saling bunuh itu hanya terjadi di sebuah pertempuran yang fair. 

Maka ketika Aksi Super Damai 212 dituntun untuk sebuah aksi doa bersama, saya turut berharap malaikat menaungkan sayapnya bagi mereka yang berada di majelis ilmu, entah itu di Lapangan Monas, Bundaran BI, Masjid Istiqlal atau di kediaman masing-masing namun khusyu berdoa dan berdzikir mengetuk pintu langit.

Izinkan saya menuliskan kembali curahan hatiku tempo hari di FB:

Pernah baca artikel singkat tentang memutuskan rantai keburukan? Tentang orang tua yang diuji dengan perilaku anak yang tidak pada tempatnya, nakal, durhaka dan sebagainya. Padahal ridho Allah itu ada pada ridho orang tua. Maka putuskan rantainya, berhenti mengatai anak nakal, durhaka dan sebagainya. Gantilah dengan ucapan baik, doa dan harapan-harapan indah.
Saya berpikir, adakah hal tersebut juga terjadi pada sebuah negara?, korelasi antara rakyat dan pemerintah. Apakah compang-campingnya negeri ini juga karena rakyat tidak ridho pada pemerintahnya? Jika ya, berarti saya turut andil di dalamnya karena sudah bertahun-tahun berpikir: halah siapa saja presidennya, siapapun yang duduk di pemerintahan pasti gak ada perbedaan, paling ya gitu-gitu aja.
Maka hanya bisa memperbanyak istighfar dan berupaya memutus rantai keburukan yang pernah saya lakukan.

Niat baik semoga berlangsung baik hingga akhir. Tak setuju tak perlu mencibir. 
Semoga Allah meridhoi setiap langkah kaki. Hanya kecintaan yang menjadi penyemangat apa yang terjadi hari ini. Kecintaan kepada Illahi, cinta atas nama NKRI.
Foto dari Berbagai Sumber

7 comments:

  1. aku memantau live streamnya dr yutube...
    alhamdulillah lancar dan damai
    dan gak nahan untuk gak berurai air mata di beberapa bagiannya saat menonton terutama saat tausiyah dr aa gym.
    cara yang baik jauh lebih baik untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran.
    tunjukkan bahwa Islam itu damai dan rahmat utk seluruh alam itu jauh lebih penting

    ReplyDelete
  2. Aku sampai nangis, Mbak. Speechless

    ReplyDelete
  3. Semoga yang benar ditunjukan benar dan yang salah ditunjukan salah. :( Aku sedih banget soal masalah ini. Tapi hanya bisa mendoakan.

    ReplyDelete
  4. Setuju, Mbak. Lebih baik diam daripada menghujat. :( Semoga segala niat baik diridhoi oleh Allah

    ReplyDelete
  5. Aku gak bisa ngomong apa-apa sih. Hanya ikut membantu doa saja. :') Takut salah

    ReplyDelete
  6. Aku percaya dan yakin. Islam akan selalu berada pada jalan kedamaian. :)

    ReplyDelete
  7. saya cuma komat kamit aja dr rumah berdoa semoga aksinya beneran super damai dan walau hujan tetap semangat..

    ReplyDelete