Google+ Followers

Wednesday, December 7, 2016

Kisah Dalam Sepotong Roti


PS: Postingan ini bukan review film tandingan Cinta Dalam Sepotong Roti yang sempat ngehits beberapa waktu lalu. Hanya secuplik kisah yang teringat kembali karena ribut-ribut masalah Boikot Sari Roti gara-gara maklumat perusahaannya berkaitan dengan aksi 212.


Sebutlah namanya pak X, tukang roti keliling di perumahan kami. Rotinya bukan merk ternama, hanya Produksi home industry. Murah, teksturnya lembut. Kalau sudah langganan bayar bisa belakangan. Jam jam tertentu dia bisa ditemui di masjid perumahan untuk sholat dhuha kadang sore hari saat sholat Ashar. Maka jadilah roti ini idola emak-emak perumahan. 


Penjualnya juga ramah. Pernah ngobrol sama suami cerita-cerita tentang pabrik roti tempatnya bekerja. Suami saya pernah mengamati saat si bapak mengisi bensin sepeda motor tuanya. Dia harus menurunkan boncengan berisi dagangan, membuka kap motor lalu menuangkan bensin dalam botol. Susah ya, nggak kebayang pas bensinnya habis pas dagangannya masih penuh. Pasti gerobak yang diboncengnya itu berat sekali.


Suatu hari pak penjual roti (((mengeluarkan maklumat ))) bahwa Minggu depan dia jual roti merk berbeda karena perusahaan roti tempatnya bekerja tutup. Pabrik nya dijual dan pemiliknya balik ke desa. Saya mendadak baper. Mikir berapa orang harus kehilangan pekerjaan tiba-tiba tapi saya juga berpikir mungkin si pemilik pabrik di desa juga membuka lapangan kerja. Dan bumi Allah ini luas, yang kehilangan pekerjaan di sini mungkin akan mendapatkan rezeki di tempat lainnya.
Cloud, Clouds, Sky, Blue Sky, Space, Rays Of Sunshine
Sumber: Pixabay

Hingga suatu hari suami kebetulan lewat di pusat pabrik roti tempatnya pak X bekerja dulu. Lo kan katanya sudah tutup? Mampir. Beli rotinya. Ketemu sama pemiliknya langsung.
"Lo Bu, kata pak X pabrik rotinya dijual dan pemiliknya balik ke desa?"
"pak X yang biasa keliling di Sidoarjo daerah ini ini ya? Yang orangnya ciri-cirinya begini"
"Ya. Bu. Dia sudah jual merk lain"
"Oh. Dia saya berhentikan Pak. Uang setoran nya sering telat. Kalau ditagih marah-marah"
Suami saya menceritakan hal ini dengan nada datar. Tanpa ada maksud menghakimi atau berburuk sangka.
Saya tercenung sendiri. Selalu ada dua sudut pandang dalam sebongkah roti #eh.

Saya membayangkan mungkin pak X juga sedang kebingungan ketika ditagih uang setoran padahal masih banyak yang belum membayar sebab fasilitas bayar belakangan.
Merk roti yang dijualnya kini juga jauh lebih mahal. Variasinya kurang, hanya berupa berbagai jenis roti beda dengan variasi produk sebelumnya ada model pastry atau taart mini. Padahal dulu saya suka beli bolen atau taart mini kesukaan anak-anak. Tetapi perilaku kami terhadap nya tidak berubah. Beli kalau pas lagi pengen atau butuh saja. Juga tidak fanatik harus merk apa.

Biarlah kisah tentang rahasia di balik roti itu kami simpan. Eh tapi sekarang bisa dibaca siapa saja, buat nambah blogpost juga. Hanya sebagai pengingat bahwa dalam plot cerita selalu ada sudut pandang berbeda. Masing-masing punya alasan dan pilihan serta cara bagaimana menentukan hal yang membuatnya nyaman.

Endingnya? Tetap hak prerogatif Sang Sutradara

7 comments:

  1. Pas nih ada yang hot-hot soal boikot roti :)

    Yah, segalanya ada hikmahnya ya Mbak...

    ReplyDelete
  2. Jadi ingat tentang "roti" itu. Jujur saja, membuat saya sedih.

    ReplyDelete
  3. Aku kok baper, ya? Kasihan penjual rotinya.

    ReplyDelete
  4. Postingannya memang pas banget, ya?

    ReplyDelete
  5. Untung udah diperingatkan di awal. Kalau enggak, mungkin saya masih mengira ini review

    ReplyDelete
  6. Aku juga, toh roti merk mana aja sama. Yang penting halal dan terbuat dari gandum

    ReplyDelete
  7. Kisahnya sedih, ya? Padahal sederhana. Nggak tahu, bagian mananya yang rasanya menusuk

    ReplyDelete