Google+ Followers

Sunday, February 9, 2014

Resensi Teatrikal Hati

Judul    : Teatrikal Hati
Penulis : Rantau Anggun dan Binta Al Mamba
Penerbit : Penerbit Quanta – PT Elex Media Komputindo
Genre : Novel Islami
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 342 halaman
ISBN : 978-602-02-2627-9


Sebuah Cerita tentang Empat Wanita

Pernah membaca novel yang mengisahkan perjalanan hidup empat wanita yang ditulis dua penulis wanita ? rasanya seperti menikmati hidangan aneka rasa, manis, asam, gurih, asin. Teatrikal Hati merupakan novel dalam format sedikit berbeda dengan yang beredar di dunia literasi selama ini. Dibuka dengan prolog tentang pemilihan setting dan tema, novel besutan Rantau Anggun dan Binta Al Mamba sempat membuat penasaran dan bertanya-tanya mengapa pembaca harus menelusuri kisah empat wanita yang berbeda, seperti membaca cerita pendek yang dirangkum dalam sebuah buku. Hingga akhirnya pelan-pelan benang merah mulai menyatukan satu persatu  jalinan kisah ketika Zahra Azkia mulai menjalankan misi memproduseri sinetron bergizi bagi para penikmat televisi terinspirasi dari catatan harian sang Mama dan novel Lelaki Hatiku sebagai sumber ide cerita.

Adalah Zahra Azkia, seorang wanita menjelang tiga puluh yang merintis karir dari seorang artis menjadi produser kreatif di Tropical Entertainment, sebuah production house yang hampir selalu menghasilkan sinetron berating tinggi. Linda Arum, dikisahkan sebagai penyiar radio dan penulis novel yang merindukan kehadiran anak dalam rumah tangganya yang berjalan monoton nyaris tanpa getar romantika cinta. Gwen Saputri, arsitek wanita yang melesat dengan karirnya namun memiliki trauma masa kecil yang membuatnya membenci lelaki sehingga menghindari pernikahan sepanjang hidupnya dan Setyani, kembang desa, putri seorang ulama yang dijodohkan dengan Harjun Notodiningrat, seseorang yang nyaris tak punya kebaikan sedikitpun dibandingkan kemuliaan seorang Setyani.

Zahra Azkia adalah potret muslimah masa kini, cerdas, kreatif, mandiri hingga cukup menyiutkan nyali bagi pemuda yang berniat menyuntingya, adalah Fardan yang menjadi sosok yang sering dijodohkan dengan Zahra oleh rekan-rekan mereka, namun tanggapan dingin Zahra seolah membuat langkah Fardan surut ke belakang, adakah Fardan dan Zahra berhasil mewujudkan harapan teman, keluarga agar mereka bersatu dalam sebuah biduk rumah tangga bahagia ? . Linda yang nyaris putus asa atas tak kunjung hadirnya seorang anak yang begitu didambakan akankah menyerah pada takdir dan menghabiskan masa tua tanpa menikmati masa-masa menjadi ibu yang sangat berharga ?. Sementara itu akankah Gwen memutuskan tak kan pernah menikah akibat memendam luka masa kecil akibat perlakuan sang ayah hingga membuatnya membenci lelaki ? lalu siapakah sebenarnya Setyani, apa yang membuatnya memutuskan menjadi wanita pasrah tanpa ada kehendak untuk memperjuangkan kebebasan dari lelaki yang tak patut dipertahankan ? waktu yang akan menjawab semua pertanyaan pembaca seiring cerita demi cerita membingkai Teatrikal Hati tercipta tanpa jeda. 

Teatrikal Hati menarik untuk dibaca karena menyoroti tayangan sinetron dewasa ini yang terjebak dengan hedonisme dan tidak memberikan pesan moral yang bermanfaat bagi para pemirsa. Kedua penulis tampaknya sangat gelisah dengan trend tontonan televisi saat ini yang didominasi hal-hal vulgar, film-film pendek yang hanya menyajikan adegan percintaan, kekerasan hingga acara campur baur yang tak jelas ujung pangkalnya. Sayangnya dengan ide yang menyentil pentingnya suatu tontonan bermutu bagi pemirsa televisi, Teatrikal Hati nyaris terbawa pada tema cerita sinetron pada umumnya, dimana Harjun Notodiningrat digambarkan sangat sempurna sebagai sosok antagonis, pemabuk, kasar terhadap istri, playboy flamboyan yang suka main perempuan sementara Setyani begitu sempurna dan sangat berbakti kepada suami, taat, patuh luluh meski dihujani pukulan tetap bersabar tanpa niat meminta cerai meski berpuluh bahkan beratus wanita datang dan pergi dari kehidupan sang suami. Fenomena ini sering muncul sebagai tema sinetron tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, membuat gemas bagi yang menyaksikan sekaligus menyebabkan pembaca Teatrikal Hati bertanya-tanya apakah di zaman Setyani – Harjun, di desa sebuah kota santri perilaku asusila Harjun tak mendapat sangsi dari masyarakat ? namun justru dari ketidakwajaran hubungan inilah kisah Teatrikal Hati mengalir sempurna. Mungkin kita sendiri tak sadar bahwa hingga saat ini masih banyak istri yang mendapat perlakuan tak pantas dari suami tanpa mengerti harus mengadu kepada siapa. Namun Teatrikal Hati tetap memikat dalam menampilkan wanita dalam karakter serta perjalanan hidup di masa yang berbeda melalui alur cerita berselang-seling antara flashback dan masa kini.

Teatrikal Hati layaknya kisah kehidupan, ada tangis dalam hidup Setyani, miris akan trauma yang harus dialami Gwen, kehampaan dalam kehidupan Linda sekaligus tawa canda Zahra Azkia dan rekan-rekannya menyadarkan kembali akan kodrat seorang wanita betapa tinggi prestasi dan karir yang dicapainya selalu terbersit harapan untuk melabuhkan hati pada seorang pria, membangun mahligai rumah tangga impian dengan hadirnya anak-anak sebagai pelengkap kebahagiaan serta menuntut kesetiaan seperti kata hati Gwen di halaman 158 “Dan yang paling penting. Aku hanya ingin kesetiaan. Aku ingin menjadi satu-satunya dalam hidup seorang lelaki. Tanpa sambilan atau sampingan.

Tertarik membaca novel ini ? silahkan berburu ke toko buku jangan lupa ikut lomba resensinya sebab Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks


4 comments:

  1. makasiih mbak, sudah sempatkan baca dan buat resensinya. Moga beruntung :)

    ReplyDelete
  2. makasih mbak dwi.. maaf baru mampir.. tulisan mbak dwi selalu "teduh' deh dibacanya :)

    ReplyDelete
  3. mbak Binta, yang teduh itu pas baca Teatrikal Hati, dan menyaksikan senyum manisnya hehehe

    ReplyDelete