Google+ Followers

Tuesday, March 7, 2017

Hikmah di balik "Musibah"

Musibah, Ujian, Azab, tiga hal ini terlintas di pikiran saya ketika mendapatkan sesuatu yang di luar perkiraan, sesuatu yang sangat menyedihkan, situasi yang paling tidak diinginkan. Apakah ini musibah, ujian atau azab?
Saya pernah mendengar ceramah (atau membaca artikel religi, lupa lupa ingat) bahwa sesuatu yang tidak diinginkan menimpa kita bisa berupa musibah, ujian atau azab. 

Ujian, jika ditujukan pada mereka yang tekun dan ikhlas dalam beribadah, melaksanakan perintah Allah, menjauhi laranganNya tetapi tetap tertimpa sesuatu yang tak diinginkan. Ujian, seperti halnya ujian di sekolah ditujukan untuk mengukur kemampuan apakah sudah pantas untuk naik tingkat?

Musibah atau teguran, ditujukan pada orang yang beriman yang sedang atau telah melakukan kesalahan, khilaf tetapi tidak segera menyadari apalagi beristighfar. Ditegur Allah dengan cobaan yang tidak disukai agar kembali ke jalan Allah dan bertaubat nasuha.

Adzab atau hukuman ditujukan pada orang yang ingkar terhadap Allah, terhadap keesaanNya, terhadap nikmatNya. Wis lah pokoknya mirip anak bandel dan bikin sebel. Jadinya kena hukum deh.

Nah saya lagi mikir nih lagi kena adzab, musibah atau ujian saat suami harus diopname untuk kedua kali di bulan yang sama? Ini alasan saya vacuum hampir dua minggu nggak nulis. Karena suami harus masuk rumah sakit dan rawat inap sejak 25 februari - 1 maret. Kali ini pakai biaya sendiri, nggak pakai BPJS sebab opname tempo hari pulang paksa dari RSUD hehe. Peraturan BPJS ternyata buanyaak dan rumit ya. Saya aja baru tau kalau kartu kepesertaan BPJS bisa diblok jika pulang paksa dari rumah sakit sehingga tidak bisa digunakan untuk klaim rawat inap dengan keluhan dan diagnosa yang sama.

Kondisi suami saat itu sangat mengkhawatirkan. Makin lemah, nafas susah, diare hebat, perut nyeri tak tertahankan. jam 2 dini hari saya nekad ngayuh sepeda ke apotek K24 untuk beli obat diare. Paginya saya paksa suami memeriksakan diri ke rumah sakit, langsung masuk IGD. Dan ternyata HBnya drop sampai 3,2.

Kira-kira ini ujiankah? tapi rasanya saya bukan tergolong orang yang taat banget gitu, apa ya sudah pantas naik tingkat? Musibah? bisa jadi banyak dosa yang tak saya sadari. Jangan-jangan adzab karena saya seringkali kufur nikmat. Duh!

Ya sudahlah daripada bingung mikir "kategori" lebih baik saya mawas diri dan memperbanyak istighfar saja. Terbukti istighfar memang membuka lebih banyak jalan keluar. 

Meski tabungan terkuras (yang sedianya untuk keperluan daftar ulang si sulung), badan remek karena 5 hari staycation di RS sendirian tanpa ada yang gantiin dan emosi labil melihat kondisi suami yang mengenaskan, saya mendapatkan banyak hikmah. Hikmahnya antara lain:
1. Anak bungsu saya lebih mandiri. Dia sempat ikut menginap sehari semalam di rumah sakit. Bantuannya sangat besar karena rela naik turun untuk membelikan diapers dewasa buat si ayah yang harus bedrest. Dia juga akhirnya bersedia dititipkan, nginap di rumah tetangga (sehari di bu RT, 2 hari di guru ngajinya) Senang terima kabar kemandiriannya dari bu ustadzah. Tiap adzan subuh dan ashar dia bisa terbangun dari bobo pulas dan bergegas ambil wudhu untuk sholat jamaah di masjid (biasanya subuh dan ashar dia sholat di rumah karena susah bangun tepat waktu hehe) 
2. Merasa "kaya"
Terus terang, musibah ini membuat saya merasa kaya. Bukan karena kaya materi dan bisa bayar biaya rumah sakit sendiri. Tetapi merasa kaya karena perhatian, support, doa dan dukungan dari tetangga, teman, kerabat tiada henti
3. Menyadari indah silaturahim
Salah satu sahabat yang datang adalah teman akrab saya sejak saya baru memasuki dunia kerja di tahun 1999. Rumah kami berdekatan di kota yang sama tetapi ketemu setahun sekali belum tentu juga. Uniknya kami dipertemukan saat saya tertimpa musibah karena beliau butuh bertandang ke rumah dan mengambil struk pembayaran listrik yang biasanya tidak pernah diperlukan. Waduh akhirnya saya terpaksa mengabari kalau lagi menjaga suami di rumah sakit.

Selalu ada hikmah di balik musibah. Masih banyak hal lagi yang saya dapatkan sebagai pelajaran. Tentang masjid rumah sakit yang tak pernah sepi dari jamaah sholat lima waktu, tentang perawat dan dokter di RS Siti Hajar Sidoarjo yang ramah dan tangkas, tentang kemudahan yang kami peroleh dengan semakin membaiknya kondisi suami setelah transfusi darah (satu kantong darah transfusi biasanya hanya bisa mengangkat satu angka HB tetapi dua kantong transfusi yang dijalani suami bisa mengangkat hingga 2,5 alhamdulillah)

Biidznillah...
Memperbanyak istighfar itu membuka jàlan kemudahan, insyaAllàh menuntun ke jalan yang benar.
Kaya yang sesungguhnya adalah ketika doa dan dukungan dari sahabat, sanak kerabat, tetangga dan teman-teman dekat datang silih berganti menguatkan hati.
Tak mampu membalas kebaikan mereka satu persatu hanya bisa menyebut mereka dalam doa agar orang-orang baik ini senantiasa berlimpah kebarokahan hidup, kelapangan rezeki dan kemudahan-kemudahan tiada henti....
Aamiin

1 comment:

  1. Aku baru mengalami hal serupa, Mbak. Tapi yg sakit anakku. Aku malah berpikir, aku kurang amal nih.

    ReplyDelete