Google+ Followers

Saturday, January 7, 2017

"Maaf Bu, Rangkingnya Turun"


Hari ini Raditya terima raport. Lucunya wali kelasnya minta maaf berkali-kali "maaf Bu nilai dan rangking Radit turun satu peringkat. Itu tadi yang rangking satu ibunya baru ambil raport" lalu berbagai cerita meluncur tentang dia sudah cek perhitungan raport berkali-kali, tentang Radit yang bisa menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan di kelas tetapi tidak teliti saat menyelesaikan ujian. Saya harus bersabar menunggu beliau berhenti bercerita sebelum akhir nya menjawab "nggak apa-apa Bu, saya memang tidak biasa mentargetkan anak-anak untuk meraih rangking tertentu. Asal mereka punya adab yang baik, ibadahnya baik, jujur dan naik kelas itu sudah lebih dari cukup. Kalau mereka meraih prestasi saya syukuri Alhamdulillah" Saya melanjutkan dalam hati lha wong jawaban-jawaban ujian Radit yang benar Anda salahkan saja saya nggak protes yang penting saya mengajarkan hal yang benar pada anak-anak. Haha iya memang sering sekali saya lihat di lembar jawaban yang dibagikan ibu yang satu ini kurang tepat dalam mengoreksi lembar hasil ujian pilihan ganda (ulangan harian, UTS maupun UAS). Tapi saya ngga pernah protes, cuma mengingatkan Radit "Mungkin bu guru capek Dik, tapi yang benar jawabannya ini" (Lha ya toh, misalnya ada pilihan ganda bumi itu bulat, rata atau persegi lalu Radit sudah memilih bulat tapi masih disalahkan apa ya saya harus protes. Anggap saja bu guru capek atau menurut beliau yang benar jawaban lain. PS: soal dan jawaban ini cuma contoh loh ya, sekedar contoh saja.

"Sekarang anak-anak yang dulu rangkingnya di bawah bisa berkompetisi Bu, ini urutan 1-14 banyak perubahan" kata bu guru lagi. Kembali saya menjawab dengan tenang "Lha bagus kan Bu, memang menuntut ilmu seharusnya begitu. Ngga usah mikir kompetisi berebut rangking tetapi semua siswa harus pintar dan berilmu. Masa yang pintar lima orang saja lainnya tinggal kelas kan nggak lucu"

Masalah rangking-rangkingan ada yang lucu nih. Dulu kakaknya juga sempat meraih rangking satu. Saya malah nggak tahu karena di raportnya memang tidak dicantumkan. Juga tidak diumumkan di depan kelas. Hanya gurunya yang memberitahukan secara pribadi. Anehnya para tetangga yang anak-anaknya sekelas dengan si Mas bisa tahu karena mereka KEPO urutan rangking kelas dan bertanya langsung pada sang guru. Saya cuma menyeringai saja saat mendengar komen tetangga "Rafi, nakal-nakal pintar ya" Nah saat semester berikutnya rangkingnya turun dan bu guru bertanya pada Papanya yang kebetulan bertugas ambil raport "Pak, kok rangking Rafi turun" eh si Papa menjawab dengan enteng "ya Bu, masa rangking satu terus, kasihan yang lain lah biar pernah merasakan rangking satu" hihihi kita berdua ternyata sama ya, nggak terlalu peduli sama rangking kelas. Si anak naik kelas saja syukur alhamdulillah.

Saya cukup bersyukur mendapat laporan bahwa perilaku Raditya cukup sopan selama di sekolah. Kalau tingkah lakunya buruk mungkin saya bakal enggan ambil raportnya lagi. Maluuu. Haaa jadi ingat sering deg-degan kalau ambil raport si Mas dulu karena dia terkenal sebagai siswa yang usil dan bengal. (Doa kami membersamaimu yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren nun jauh di sana Nak)❤❤❤❤

Saya memang tak terlalu peduli dengan rangking meski dulu saat masih sekolah prestasi saya tak pernah lepas dari tiga besar di kelas. Kini Yang saya khawatirkan adalah peringkat anak-anak (dan orang tuanya juga) di mata Sang Kuasa. Khawatir buku raport kami kelak diserahkan dari arah kiri...naudzubillah mindzalik (sambil merapal doa, ini tidak terjadi). 

Saya jadi teringat pertanyaan ustadzah di suatu kesempatan pengajian "Ibu-ibu kalau menerima raport anak biasa melihat nilai tertinggi atau terendah. Ayo Bu jangan dibiasakan melihat kekurangan tapi juga apresiasi kelebihannya" Eh kalau saya mah ngga terlalu perhatian juga (atau karena raport anak-anak saya biasa di atas rata-rata kelas ya hahaha) Paling saya lihat perbandingan nilai mereka dengan nilai batas KKm atau rata-rata kelas. Kalau di bawah ketentuan berarti harus ada upaya perbaikan agar tidak tinggal kelas. Kedua anak saya mirip saya saat sekolah dulu, nilai yang paling rendah adalah Pendidikan Jasmani dan Keterampilan hahaha. Alhamdulillah pencapaian Raditya saya yakini adalah hasil kerja kerasnya, ia termasuk anak mandiri. Seringnya emaknya malah sibuk NULIS daripada mendampinginya belajar membuatkan soal-soal. Pencapaiannya tergolong luar biasa karena belajar sendiri dan satu semester ini dihabiskan tanpa buku. Benar-benar tanpa text book karena tidak dipinjami dari sekolah dan tidak ada informasi pakai buku mana hahaha. Murni hanya dari hasil penyerapan ilmu dari bu guru saat duduk di kelas ditunjang Lembar Kegiatan Siswa.

Btw yang jadi perhatian saya di raport Radit adalah nilai bahasa Indonesia nya 87 tapi bahasa Arabnya 93 dan bahasa Inggris nya 92. (Piye ya, padahal WNI asli, sweaar!) Mudah-mudahan tidak ada yang meragukan loyalitasmu pada NKRI di zaman gonjang-ganjing ini ya hihihi. ☺☺☺ Mudah-mudahan kemampuan berbahasa Arabmu membantumu lebih mendalami dan mengaplikasikan Al Qur'an dalam kehidupan aamiin... 

No comments:

Post a Comment