Google+ Followers

Tuesday, April 9, 2013

Karena Aku Bukan Fatimah Az Zahra

Pepatah bijak berkata "kita tak akan memahami orang lain hingga kita pernah menghabiskan waktu bermalam bersama". Sementara orang bijak lain berbisik "Kamu tak akan pernah benar-benar memahami bagaimana suami atau istrimu hingga akhir nanti"
Laaah mana yang benar itu ? suami-istri kan pasti bertahun-tahun tidur sekamar, seranjang bersama kenapa tidak bisa memahami sampai kapan pun juga ?. 

Tetapi 11 tahun menikah pepatah kedualah yang kurasakan benar adanya, pernikahan layaknya mengikuti pelajaran sekolah, tak pernah ada kata berhenti untuk belajar dan ujian pun sering datang tak terduga.
Apalagi aku dan suami seperti dua kutub yang berbeda, aku cenderung disiplin, pemikir hingga hal-hal kecil, suami lebih ke "semau gue" dan type "pikir belakangan aja ah".
Seperti halnya masalah finansial, suami juga menjawab "Pikir nantilah" kalau kutanya "Pa kalau sudah ngga kerja kita mau usaha apa, lha bukan Pegawai Negeri ntar bingung bagaimana menghidupi" . Maklum saat aku masih bekerja dan memiliki gaji sendiri ATM pun yang membawa suami (tetapi kalau aku lagi butuh uang bulanan untuk Mama dan keperluan lainnya aku bebas mengambil gajiku sendiri), sedang dari penghasilan suami yang aku nggak pernah tau berapa jumlah pastinya, aku mendapatkan semacam "jatah uang belanja" jadi masalah masa depan mungkin belum terpikirkan.

Namun roda berputar, saat adik bungsuku meninggal semuanya berubah, Mama di usia lansia yang awalnya tinggal bersama almarhumah adik terpaksa  sendirian, sempat tinggal bersamaku beberapa bulan tetapi beliau merasa tak nyaman meninggalkan rumah kenangan. Disusul anak sulungku yang diharuskan dokter untuk segera dikhitan karena sering kesakitan. 
Aku harus memilih : mementingkan keluarga atau mencari tambahan penghasilan seperti biasa ?. Kalau aku terus bekerja siapa yang bakal menemani anakku padahal kami tak punya pembantu, belum lagi harus sering keluar kota menjenguk Mama yang sering tak sehat badannya.

Keputusanku sudah bulat, RESIGN. Awalnya suamiku keberatan, jelas, selama ini (tanpa bermaksud riya) seluruh penghasilanku untuk keluarga, bahkan hutang 30 juta untuk menutup sebagian besar KPR dipotong dari gajiku. Karena itulah resign ku pun harus menunggu hutang itu lunas terlebih dahulu.
Alhamdulillah karena tak ada pilihan lain akhirnya suamiku mengalah, aku pun diizinkannya untuk mengundurkan diri per Desember 2012 lalu.

Disinilah babak baru kehidupan mulai bergulir dari yang biasanya tak perlu berpikir tentang biaya hidup sekarang hati sering ketar-ketir, dari jatah uang belanja yang jauh dari angka satu juta rupiah aku tetap berusaha keras menyisihkan seratus ribu sebagai simpanan. Pernah saat harga melambung tinggi uang belanjaku tak bersisa padahal saat itu Mama sedang tinggal bersama kami selama sebulan. Makan berlauk hanya tempe dan krupuk atau sekaleng sarden dimakan berlima pun kami jalani hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta tambahan uang belanja (kalau biasanya kurang kan tinggal ambil gajiku saja), untungnya saat itu suamiku memberikan tambahan seratus ribu. Allah, itu baru bulan Januari, sebulan dari aku tak lagi punya gaji lalu bagaimana nasib kami nanti? begitu galau menghantui.

Seringkali aku berpikir menjadi istri solehah dan qonaah ternyata susah , dan Allah menjawab kegalauanku saat membaca Majalah MAYA - majalah untuk donatur Yatim mandiri di segmen Muslimah, berkisah tentang Fatimah yang tiga hari tidak makan karena Ali sibuk berjihad dan berdakwah serta tentang hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim : "Dari Aisyah r.a berkata : Keluarga Rasulullah tidak pernah kenyang dari roti gandum dalam dua hari berturut-turut sampai ia meninggal"

Maka kuputuskan aku harus lebih berhemat lagi meski untuk itu aku terpaksa menahan airmata menolak dengan halus keinginan anak-anakku untuk membeli roti, membelai lembut rambut mereka dan berkata "kita harus hemat sayang, nanti kalau Mama ada rezeki baru beli roti ya ?" Atau menjawab rengekan si adik minta mainan dengan kalimat andalan "mainan adik masih banyak, bagus-bagus lagi, uang Mama cuma sedikit hanya cukup untuk membayar sekolah".

Sebulan pertama aku tak lagi bekerja, suamiku sering melamun dan sempat dua kali jatuh sakit, aku sempat khawatir dia menjadi stress karena kehidupan kami berbalik 180 derajat, kalau kutanya "sakit kenapa, mikir ga punya duit ya, ga usa dipikir Pa, dicari solusinya". Kuajak dia sedikit demi sedikit lebih taat, menunaikan sholat dhuha, hal yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Biasanya kalau kuajak sholat sunnah "Pa, kalau rajin sholat sunnah seperti tahajud dan dhuha, Allah pasti lebih peduli dan memudahkan urusan kita jika dalam kesempitan" jawabnya "Wah, aku kalau ibadah gak jual-beli gitu sama Tuhan" #gubraxx...^_^

Alhamdulillah Allah membuka hati suami tercinta, sekarang dhuha pun menjadi rutinitasnya. Aku juga sangat bersyukur, suami sangat pengertian tidak keberatan jika aku setiap bulan harus mengunjungi Mama di luar kota dan tinggal seminggu di sana. Kalau berjauhan begini ada romantika tersendiri, sempat kaget pas suami sms "Ma, alhamdulillah dapat rezeki, kubelikan Mukena dan Quran ya, yang ada terjemahan" . "Loh kan Rukuhku masih bagus, sudah ada Quran dan ada buku tafsirnya pula" dia jawab lagi "Ngga apa-apa, biar Mama gak repot mesti baca dua buku". Subhanallah rupanya dia memperhatikan setiap aku mengaji harus membaca dua kitab : Al Quran dan tafsirnya, mukenaku ada dua, sebenarnya juga masih bisa dipakai meski yang satu sudah jamuran, ya udah mukena baru itu disimpan dulu. Dan di hari yang sama kebetulan aku menang kuis berhadiah es krim. Kuis yang unik karena pemenangnya adalah yang mengirimkan tweet dengan kalimat romantis atau pernyataan cinta kepada orang yang dicintainya.

Begitu harunya saat itu sampai sempat aku tulis status yang begini (maklum manusia zaman eksis di dunia maya)





Quran Hadiah si Papa


Seperti yang sempat kubisikkan kepadanya untuk mencari solusi di tengah kesempitan rezeki, bukan berarti sebagai ibu rumahan aku berdiam diri. Aku punya kewajiban menafkahi Mama, membayarkan infak sedekah atas nama para ahli kubur (almarhum Papa, almarhumah mertua, almarhumah adikku) aku tak ingin hanya karena tak lagi punya gaji semua berhenti, di sisi lain aku tak mau menambah beban suami. Lalu apa yang harus kulakukan ? inilah jawabnya : selain menemukan bisnis afiliasi online, sekian lama melanglang buana di dunia pemburu hadiah memacuku meningkatkan intensitas berlomba, Alhamdulillah selama ini di sinilah sumber rezeki kami terbuka, aku yakin sekali Allah tak akan tutup mata.
Nah ini salah satu berita gembiranya, suami mulai kuikutkan serta dalam berlomba, memori paling indah saat bulan Februari lalu tentang kontes foto bertema cinta di sebuah fanpage produk, aku mengusung tema : menerima hadiah cinta dari keluarga : suami dan anak-anak memasak ayam goreng untuk dinikmati bersama...tralala tak kuduga bisa menang, mendapat hadiah uang 500 ribu rupiah.
XpressCinta berhadiah 500 ribu rupiah

Aku sadar bukanlah Fatimah Az Zahra, wanita mulia yang tak pernah mengeluh akan kesulitan hidupnya, aku juga sadar suamiku bukanlah Ali Bin Abi Thalib, lelaki pilihan di zamannya namun yang kuyakini cinta kami kepada Allah dan RasulNya mampu menguatkan pondasi cinta kami hingga saatnya berpisah karena berakhirnya usia di dunia seperti kisah Ali dan Fatimah Az Zahra.

Seperti kalimat romantis yang kutulis untuk suami tercinta di kuis romantis es krim gratis "Tak ada manusia yang sempurna namun cintamu yang bersahaja membuat mataku terbuka untuk menerima apa adanya" begitu pula caraku mencintainya kuharap dia pun menerimaku apa adanya.
Berfoto dengan hadiah es krim kuis romantis

Happy Wedding Anniversary ke-8 mbak Naqi, sesulit apapun hidup yang kita hadapi semoga tak menyurutkan jejak langkah kita di jalan Illahi dan sakinah mawaddah warohmah menyertai hingga akhir nanti.


Posting ini sebuah tanda cinta, berhias kenangan dan diikutkan dalam lomba Give Away Naqiyyah Syam 8th Wedding Anniversary

7 comments:

  1. subhanallah, haru saya membaca kisahnya, terima kasih mbk telah berpartisipasi dan berdoa untuk keluargaku, amin ya Rabb.

    ReplyDelete
  2. "Tak ada manusia yang sempurna namun cintamu yang bersahaja membuat mataku terbuka untuk menerima apa adanya" Romantisme yang akan mengurangi keluhan. TFS, ikut belajar semoga kita bisa seperti Fatimah Az Zahra ya. Mau ikutan ah, kayaknya syaratnya gak ribet nih, xixi maklum gaptek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayoo mbak Murti ikutan :) ntar gantian saya intip ya :D

      Delete
  3. Replies
    1. Terimakasih mbak :) yuk turut memeriahkan GAnya mbak Naqi :)

      Delete

  4. Awalnya aku hanya mencoba main togel akibat adanya hutang yang sangat banyak dan akhirnya aku buka internet mencari aki yang bisa membantu orang akhirnya di situ lah ak bisa meliat nmor nya AKI NAWE terus aku berpikir aku harus hubungi AKI NAWE meskipun itu dilarang agama ,apa boleh buat nasip sudah jadi bubur,dan akhirnya aku menemukan seorang aki.ternyata alhamdulillah AKI NAWE bisa membantu saya juga dan aku dapat mengubah hidup yang jauh lebih baik berkat bantuan AKI NAWE dgn waktu yang singkat aku sudah membuktikan namanya keajaiban satu hari bisa merubah hidup ,kita yang penting kita tdk boleh putus hasa dan harus berusaha insya allah kita pasti meliat hasil nya sendiri. siapa tau anda berminat silakan hubungi AKI NAWE Di Nmr 085--->"218--->"379--->''259'

    ReplyDelete