Google+ Followers

Monday, June 29, 2015

Rumah, Ruang Kebersamaan Saat Ramadhan

Rumah adalah tempat untuk pulang, jauh darinya membuatnya rindu
Teringat kisah yang terjalin menjadi satu
Rumah tak sekedar bangunan fisik belaka
Di dalamnya ada cinta, tatapan hangat dari orang-orang terdekat yang menerima kita apa adanya
Tulisan tersebut pernah saya posting di sosial media. Ketika haru menerpa ketika kami akan segera pindah ke rumah baru yang lebih nyaman. Rumah sebelumnya langganan banjir setiap musim hujan dan air laut pasang. Syukur kami panjatkan delapan tahun kemudian Tuhan memberi kesempatan agar kami sekeluarga mampu menikmati kebersamaan tanpa takut kebanjiran.
Ketika pindah di rumah yang kami tinggali saat ini lima tahun lalu Radit masih belajar berjalan, Rafi baru masuk SD tak terasa kini Radit sudah masuk MI (SD Islam) dan Rafi harus naik ke kelas enam. Banyak hal terjadi, kenangan manis maupun pahit. Tentang kata-kata pertama yang diucapkan Radit, tentang Rafi yang pernah terpaksa tinggal di rumah sendirian hingga Maghrib menjelang meski masih duduk di kelas dua SD karena Mamanya masih bekerja. Ah ya, sebelum resign hampir tiga tahun lalu saya adalah seorang karyawan swasta yang pontang-panting terutama saat Ramadhan tiba. Tidak punya pembantu, jarak rumah-kantor 40 kilometer belum lagi jika terjebak kemacetan maka tak sempatlah memasak, menu berbuka puasa pun tergantung warung nasi andalan. Sahur? mie instan atau rawon murah meriah adalah menu utama. Sedih? Tidak juga karena hidup adalah pilihan dan pilihan saya saat itu adalah bekerja demi melunasi tagihan KPR.
Usai KPR lunas saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Menemani anak-anak di rumah adalah prioritas utama. Lagipula saya sudah terlalu lelah mengejar bus kota, terjebak kemacetan terutama selama Ramadhan menambah kuatnya tekad untuk menjadi ibu rumahan 24 jam. Terasa sekali bedanya. Kini saya bisa memantau anak-anak hampir 24 jam. Kebersamaan terutama saat Ramadhan memberikan kesan campur-campur antara asem, manis, kecut dan asin. Asem kalau harus bersabar mendengarkan keluhan Rafif dan Raditya selama berpuasa. Oh ya, Radit kini enam tahun dan mulai belajar berpuasa hingga Maghrib. Rafi yang sudah berusia 10 tahun masih saja tak tahan dengan godaan iklan sirup dan ayam crispy di siang bolong hahaha. Berasa manisnya kebersamaan ketika mereka dan si Papa memuji masakan saya saat berbuka puasa meski hanya Ikan goreng dan acar bumbu kuning atau fillet ayam bumbu tepung cocol saus sambal. Kecut dan asin ketika sibuk membangunkan rafi dan radit saat makan sahur, tak kunjung bangun padahal waktu adzan subuh tinggal setengah jam lagi.
Ah semua itu pasti akan saya rindukan ketika mereka telah beranjak dewasa dan meninggalkan rumah. Biarlah kini masa-masa asem manis itu saya nikmati layaknya gurami andalan resto ternama. Kelak mungkin saya akan merindukan masa-masa mengalihkan perhatian mereka dari pertanyaan “kurang berapa jam lagi adzan Maghribnya Ma?” Maka kamar tidur pun menjadi tempat favorit, bisa bersantai sambil berbagi cerita, mendongeng dan menggali imajinasi mereka. 

Ketika waktu berbuka tiba (dan makan sahur tentunya) ruang tamu yang berfungsi ganda sebagai ruang keluarga dan ruang makan menjadi tempat favorit berikutnya. 

Maklum rumah type 36 yang disekat menjadi tiga kamar tidur tidak memungkinkan untuk memiliki ruang makan atau ruang keluarga. Tetapi masih cukup menyisakan sebuah musholla kecil tempat kami melantunkan doa, merajut asa dan menitipkan angan serta harapan agar terwujud menjadi nyata pada Sang Pemilik Kehidupan. Ruang kecil tempat saya mengajarkan membaca Al Quran kepada anak-anak, terasa nikmatnya terutama saat Ramadhan.

Rumah adalah tempat bersemayamnya cinta dan harapan, ruang menemukan kebersamaan bersama orang-orang tercinta, meniti ruas jalan, menjemput takdir kehidupan

 Ramadan adalah momen yang membahagiakan.

2 comments:

  1. alhamdulillah, selamat ya mbak...tulisannya menang nih...rumahku istanaku "baiti jannati"

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah terimakasih mba, namanya samaan nih ;)

      Delete