Google+ Followers

Saturday, January 26, 2013

Ketakutan dan Harapan

Sore itu Sidoarjo dilanda hujan badai dari sebelum adzan Ashar hingga menjelang Maghrib. Rafi pun urung berangkat mengaji. Petir dan halilintar menyambar-nyambar. Duo Rara- Rafi dan Radit meringkuk mengelilingi si Mama :).

"Kenapa sih Ma, Allah menciptakan kilat yang menakutkan".
"Oh kalau menurut firman Allah di Al Quran surat Ar Raad 12 kilat itu diciptakan untuk menimbulkan ketakutan dan harapan" untungnya setiap bertilawah sempat baca tafsir yaa hmmm.

"Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan dan Dia menciptakan mendung yang berat" QS Ar Raad : 12

QS Ar Ruum : 24 menyinggung tentang kilat juga "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya"

Haa si Rafi ini pertanyaannya sejak dulu suka membuatku bingung memberikan jawaban yang pos, pernah dia bertanya mengapa manusia harus menikah untuk memiliki anak padahal manusia itu diciptakan dari tanah (mungkin dia berpikir mo bikin anak ya cukuplah pakai tanah liat :D), untung saja pertanyaan soal kilat dengan jawaban singkat sudah membuatnya puas.
Biasanya Mama juga melengkapi jawaban dengan sudut pandang ilmiah, tapi masalah kilat dan petir aku cuma ngerti yang standard aja bahwa kilat itu sebenarnya proses pembebasan energi biasa, percikan api (=kilatan cahaya) tercipta dari sebuah proses perbedaan muatan listrik antara gumpalan awan satu dan lainnya, antara awan dengan tanah/bumi...

Menjelang Maghrib hujan mulai reda tinggal gerimis rintik-rintik.
"Ma ngga ke masjid kah ?" . Eia sejak berhenti bekerja aku mengajak Rafi untuk selalu sholat berjamaah di masjid. "Sholat berjamaah itu salah satu cara kita memakmurkan masjid Mas, sayang kalau masjid dibangun tapi dipakai sholat hanya pas Jumat dan tarawih plus hari raya aja" gitu pesanku
"Wah Mas, gerimis gitu ntar kalau pulang kehujanan masuk angin deh, lagipula becek lha paving depan masjid ngga segera di pasang" - ketauan malesnya si Mama.
"Duuh Ma hatiku ini berkata ingin ke masjiiiid" buru - buru dipakainya busana muslim dan bergegas membawa payung
Waduuuuh jadi malu aku, masa Mama kalah sama anaknya , ya udah nekad kutembus saja gerimis senja itu.
Hingga sholat jamaah usai sepertinya gerimis reda, tapi pas sholat sunnah bada maghrib baru di tahiyat akhir terdengar suara menderu -deru di atap. Saat itu aku tinggal sendiri di dalam masjid. Ternyata suara angin!, duh mudah-mudahan bukan angin puting beliung, kemudian disusul hujan sedemikian dahsyatnya dan halilintar menggelegar, sementara masjid dikelilingi dinding kaca sehingga kilatan petir terlihat jelas di depan mata.
Masyallah, baru tadi aku berbincang tentang "ketakutan dan harapan" kini , terjebak di dalam masjid sendiri di tengah gempuran kilat dan hujan badai..nekad pulang ? ngga deh ntar aja kalau kepaksa banget. Sempat kepikir waduh jangan-jangan hujan ngga bakal berhenti trus ngga ada sholat Isya berjamaah ? bakal tidur di masjid deh sampai Subuh, untungnya di rumah ada Mbah uti dan si Papa jadi anak-anak ada temannya.
Well mungkin aku ngga atau belum pumya kesempatan wukuf di Arafah dan belum pernah ber i'tikaf di masjid selama akhir Ramadhan tapi sendirian, lebih dari tigapuluh menit dalam suasana mencekam menjadi ajang muhasabah terasa betapa kecil arti sebuah manusia di hadapanNya. Alhamdulillah hujan reda tepat Adzan Isya mulai berkumandang.

(Ini gambar karya Rafi, tentang hujan dan petir menyambar namun bintang dan bulan masih menghias angkasa...tanda-tanda kekuasaanNya bagi mereka yang mau berpikir )

Antara Ketakutan, kecemasan dan harapan.....

Seperti antara cemas dan takut dalam perjalanan mendidik anak-anak tercinta, cemas, sudahkah kami orangtua memberikan contoh perbuatan, tingkah laku yang sepatutnya?. Berharap mereka meneladani akhlak mulia Rasulullah dan mampu menggapai kemuliaan dunia - akheratnya.

Jangan seperti Mama ya Nak, sholat berjamaah di masjid menunggu berhenti bekerja, umur manusia tak ada yang bisa mengira, adakala usia kita tak sampai tua tiba-tiba sudah dijemput Izrail menghadapNya....persiapkan bekal sedari muda....



4 comments: