Google+ Followers

Wednesday, January 2, 2013

Terbiasa

Wah, milih judul posting saja hampir sepuluh menit padahal tulisan untuk blog sendiri yang bahkan baru unyu-unyu di blogspot.

Terbiasa atau membiasakan diri dengan ritme kehidupan ternyata membawa kemudahan melangkah ke depan...nggak percaya ?. Nih contohnya ...aku dulu cuma sholat lima waktu duluuuu sekali maah nggak sampai lima waktu, seiring bertambahnya usia mulai terbiasa lebih rajin hingga sholat rawatib sedikit demi sedikit. Dari terbiasa sholat rawatib 12 rokaat sehari lalu mulai membiasakan diri menambahnya dengan dhuha...terakhir yang paling berat sholat Tahajud (gimana ngga berat lha kan pas enak-enaknya tidur "terpaksa" bangun". Kini alhamdulillah rowatib, dhuha, tahajud, wirid al matsurat, tilawah (meski patah-patah gara-gara duluuuu males mengaji) menjadi lifestyle  karena kalau terpaksa absen gara gara keadaan ngga bisa melakukan - misal kehabisan waktu dalam perjalanan atau sakit tak tertahankan - rasanya ada yang kurang. Padahal jika saja tidak memaksakan atau membiasakan diri tak akan pernah kudapat "kenikmatan" beribadah ini.

Seperti sekarang, aku mulai membiasakan diri dengan ritme baru setelah resign dari pekerjaanku, alhamdulillah karena tak perlu terburu-buru (biasanya sholat di rumah agar bisa segera cap cus ke dapur untuk memasak menu seharian) aku bisa membiasakan diri sholat berjamaah di masjid dekat rumah...cita-citaku sejak dulu, aneh ya ada masjid dekat rumah tapi aku belum pernah sama sekali menikmati sholat berjamaah.
Rasanya mak nyesss, adheeem, nikmatnya tiada tara apalagi di musim penghujan sholat pun diiringi katak dan cenggeret bersahutan layaknya simphoni seolah turut mengamini doa kami.

Satu pelajaran kudapatkan hari ini, biasanya imam sholat subuh di masjid selama ini membaca doa qunut (padahal selama ini aku nggak pernah baca Qunut, meski menurut keyakinanku Qunut hanya dibaca saat keadaan genting seperti saat perang namun karena menghormati kebiasaan di masjid aku turut mengamini dalam hati dan menunggu imam selesai ya lah masa' imam baru baca Qunut aku udah sujud :D) tetapi pagi ini imamnya berbeda meski qiroahnya sama bagus dengan lainnya ia tak membaca Qunut namun saat bangun dari ruku rokaat kedua beliau tetap berdiri lama (mungkin memberi kesempatan bagi jamaah yang sedang membaca Qunut). Selesai sholat imam kali ini memilih mematikan microphone dan mempersilahkan jamaah berdoa sendiri sendiri, biasanya hingga dzikirpun dipimpin imam, jujur aku lebih suka cara imam yang begini...masjid menjadi hening dan aku larut dalam haru yang tak bisa kulukis dengan kata-kata..

Sayang, ada yang mengenaskan soa terbiasa : selama aku berjamaah di sini sepertinya jumlah jamaah sholat subuh  "terbiasa" tidak lebih dari sepuluh orang...kapan yah jamaah sholat subuh terbiasa memenuhi masjid....
Teriring doa Semoga bisa istiqomah membiasakan diri berjamaah di masjid, sekaligus "membiasakan" masjid Ukhuwah menerimaku sebagai jamaah agar kelak tak kaget dengan kehadiranku sebagai obyek sholat berjamaah - sholat jenazah

No comments:

Post a Comment