Google+ Followers

Wednesday, April 8, 2015

Saya #BeraniLebih Tabah


“Mama, aku ingin rekreasi bareng teman-teman” rengek Raditya kemarin. Saya membujuknya "Ngga usah deh kan sudah pernah ke sana, enakan di rumah baca buku dan bersepeda". Sekolah Taman Kanak-Kanak Radit mengadakan rekreasi ke Jatim Park II di Batu. Jauh hari saya udah malas duluan ikut rekreasi kali ini. Pertimbangan saya antara lain : tempat rekreasi sudah pernah dikunjungi bersama sekolahnya tahun lalu, Radit ternyata kurang suka dengan wahana permainannya dan tentunya yang terpenting hemat biaya.

Masalah penghematan sangat saya tekankan pada anak-anak. Maklum ayahnya hanya buruh pabrik kontrakan dan emaknya sekedar ibu rumahan yang mencari nafkah dari honorarium menulis konten website dan berburu hadiah di berbagai kuis atau lomba. Apakah keengganan saya mengikuti rekreasi kali ini adalah suatu firasat hanya Tuhan yang Maha Mengetahui karena sehari sebelum tanggal rekreasi si Ayah lagi-lagi membawa kabar buruk bahwa kontrak kerjanya tidak lagi diperpanjang dan ini sudah ketujuh kalinya dalam sejarahnya bekerja.

Hmm harus putar otak menyiasati sisa uang yang ada. Kebutuhan hidup melonjak tinggi tetapi sang Ibu harus pandai mengelola keuangan lebih bijak lagi. Saya mengajak anak-anak untuk hidup lebih hemat. Tak ada lagi uang jajan sekolah, waktu menonton televisi dikurangi, tak ada lagi bermain air di teras rumah. Hiii anak-anak sempat protes hebat dan mengeluh “kapan kita mendapatkan rezeki yang lebih Ma” buru-buru saya menghibur mereka “Nak, bahkan setiap napas yang kita hela dengan bebas adalah segenggam rezeki, tahukah kalian kalau orang sakit di rumah sakit dan memerlukan bantuan tabung Oksigen harus membelinya agar ia bisa bernafas leluasa?”

Saya harus #beranilebih tabah kali ini. Umur suami sudah 40 tahun tentu sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru meski tak menutup kemungkinan masih ada lowongan pekerjaan. Selain itu tahun ini si Radit masuk SD tentu membutuhkan biaya lebih besar dari biasanya. Untungnya kami sudah menabung sejumlah uang di sekolahnya. Besarnya cukup untuk keperluan membeli buku dan seragam. 

Suami diPHK dan jobless beberapa bulan sudah bukan hal baru. Jadi bukan hal aneh jika saya harus #berani lebih tabah dan #berani lebih hemat. Sebenarnya hidup hemat sudah saya lakukan sejak di awal pernikahan. Ketika peraturan outsourcing mulai berlaku dan suami beberapa kali putus sambung kontrak saya bahkan melakukan penghematan "lebih gila” lagi di banyak sektor. Mencuci kembali ngucek mesin cuci hanya digunakan seminggu sekali (bisa lebih hemat air), tak lagi berlangganan ojek untuk jemput anak sekolah karena saya memilih memodifikasi sepeda si ayah dengan menambah boncengan sehingga bisa jemput anak sekolah, di musim kemarau saya biasa menampung air bekas wudhu untuk menyiram tanaman. 

Kira-kira penghematan macam apalagi yang bisa saya lakukan kali ini selain meniadakan uang jajan? Yang sudah diterapkan sih membeli buah yang sedang musim seperti saat musim rambutan bisa dapat 5000 rupiah perkilo, mengganti konsumsi LPG 12 kilogram ke LPG 3 kilogram sejak harganya naik tinggi, mengutamakan lauk pauk murah meriah seperti tempe, tahu yang digoreng sesaat menjelang waktu makan. Hidup hemat memang diajarkan dalam agama kami, itu yang harus saya tekankan pada anak-anak agar mereka tidak merasa hemat dilakukan karena hidup sedang susah tetapi mereka melakukannya secara ikhlas karena Allah.


=================================
Nama : Dwi Aprilytanti Handayani
FB : Dwi Aprilytanti Handayani

Twitter : @dwiaprily

16 comments:

  1. bagus cara mendidiknya mak, hidup hemat emang sesuai ajaran Islam. tapi kita harus jujur dgn kenyataan, bahwa bukan hemat tidak hemat saja yg jadi masalh kita bersama. karna sudah hemat pun masih belu cukup juga...kepala keluarga sudah berusaha bekerja keras, tapi masih terasa belum cukup juga. hari ini kehidupan ekonomi bernegara kita tidak diatur dengan aturan Islam, sehingga harga2 kebutuhan terus naik, BBM naik, gas, listrik naik. tu semua karna negara salah urus, mengurus dgn berpihak pada yg kaya..enggan kembali pada aturan Islam..jadi ya beginilah mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya Mak, saya menyesuaikan dengan usia mereka, perlahan seiring berjalannya waktu mereka akan memahami yang sedang terjadi. Rasanya pengen nembus mesin waktu menyaksikan zaman pemerintahan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin saat semua rakyat merasa senang. yang muslim bayar infaq, sedekah dan zakat maal dengan taat, yang non muslim bayar semacam pajak. Kehidupan tenang gak ada gontok-gontokan meski harus berbeda keyakinan :)

      Delete
  2. Subhanallah..
    Semoga kita semua diberi kekuatan dan ketabahan menjalani semua ujian-Nya ya Mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Mak Sinta....sebab orang yang sebelum kita dan mungkin jauh lebih beriman pun mendapat ujian yang mungkin lebih besar :)

      Delete
  3. betul mbakkk... hrs mengajarkan anak u nggak boros memang penting.. ni lg ngajarin Rafa jg u hemat.. hihi..

    ReplyDelete
  4. yap! hemat itu pangkal kaya.
    nggak boros itu emang harus di didik sejak dini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ok siiip, tapi tidak menjamin kaya itu diperoleh dari berhemat. harus kerja keras dan cerdas plus doa yang pantas :)

      Delete
  5. hemat dan tabah, harus dimiliki oleh setiap orang. gunung aja bisa runtuh kalau pengeluaran terlalu boros..

    Terima kasih, Mbak. sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  6. wow kalimat yang inspiratif "gunung pun bisa runtuh kalau pengeluaran terlalu boros" bener juga ....terimakasih kembali EIRa :)

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Ah ngga juga Mak, kadang kita terpaksa menjadi "hebat" karena keadaan hehehe

      Delete
  8. Sep Mbak Dwi... semoga rejekinya makin lancar.

    ReplyDelete