Google+ Followers

Sunday, April 12, 2015

Tips Irit di Zaman ISIS

Awas sekarang zaman ISIS ya Ini Sulit Itu Susah begitu punya meme yang bertebaran di dunia maya. Tak dapat dipungkiri tiga bulan terakhir adalah masa yang memukul telak ibu-ibu rumah tangga. bagaimana tidak dengan penghasilan tetap harus pandai memutar otak mengelola keuangan rumah tangga dengan tarif listrik naik (bagi pemilik daya 1300/2200 vA) , harga gas elpiji 12 Kg melonjak, harga-harga kebutuhan sehari-hari turut berlari, BBM naik turun seperti yoyo.

Sebagai ibu dua anak, istri dari buruh kontrak kondisi seperti ini bisa menyebabkan hipertensi. tapi kalau ingat harga obat dan pengobatan mahal (padahal tidak punya premi asuransi, tidak punya BPJS dan tidak ada perlindungan kesehatan dari perusahaan) maka tawakal adalah obat paling mujarab. Tapi ya itulah, tawakal harus tetap diimbangi dengan mengoptimalkan akal.

Bingung muter uang belanja, jangan diputer Bu, tapi dibelanjakan xixixixi....mudah-mudahan beberapa tips hemat saya berikut ini bisa diterapkan :

1. Pilih menu berbahan murah atau sedang turun harga
tempo hari IRT pernah susah pakai banget ya, ayam dan telur mahal. Tapi ada tahu tempe masih terjangkau. Jadilah harus lebih pandai memadu padan menu berbahan tahu tempe. Bisa diolah menjadi nugget tempe, perkedel tahu, botok tahu tempe, tahu tempe penyetan, sayur kuah santan tahu tempe, tahu tempe bacem. Seperti sekarang ayam dan telur murah bolehlah ganti menu. Mumpung (di Sidoarjo ayam sekilo 26 ribu, telur 16 ribu). 

2. Pilih buah yang sedang musim
Kadang kalau budget belanja ngga cukup saya harus meniadakan buah. Anak-anak saya itu juga susah makan buah, kalau jus dan sop buah sih mereka masih mau nah loh. Kalau pas pengen buah usahakan beli buah yang sedang musim. Harganya pasti murah. Misalnya lagi musim rambutan hmmm sekilo bisa dapat rambutan Binje yang manisss, kalau rambutan Aceh bisa lebih murah lagi 10 ribu dapat tiga kilo. Pas musim mangga, sekilo mangga bisa cuma enam ribu rupiah loh. Kalau di Sidoarjo pas musim timun mas waduh kadang malah beli melon dapat gratis dari petaninya.

3. Belanja di detik-detik terakhir.
Seringnya kalau penjual di pasar udah pengen pulang dia bakal menjual murah dagangan yang tersisa. Seperti tongkol yang saya beli hari ini. Dua pindang tongkol gede-gede hanya enam ribu rupiah (karena tinggal satu-satunya dan si mbak udah mau pulang). Ni tongkol kalau beli di tukang sayur yang keliling bisa seharga 9000. Kalau beli di pasar biasanya harga 7500-8000. Pertimbangan discount on the last minute itu yang menyebasbkan saya suka ke pasar agak siangan, sekitar jam 7-8 pagi. Tapi kalau kesiangan juga pernah, keburu pasarnya bubar heheheh.


4. Belanja di pedagang langganan
Harga jual untuk pelanggan dan pembeli musiman itu beda bo'. Saya baru paham pas pernah membandingkan membeli sayur di tempat yang bukan langganan saya. Jangan lupa baik-baikin si pedagang, kasih senyuman termanis terutama kalau sesama jenis. Kalau Penjualnya lawan jenis hati-hati keramahannya sewajarnya aja, disangka naksir bisa runyam urusannya. Selain ngasih harga khusus kadang ada yang suka ngasih hadiah. Pedagang ayam langganan saya bahkan gak pelit dan biasa memberikan hadiah lebaran buat pelanggannya (padahal saya beli ayam cuma setengah atau seperempat kilo buat seminggu hahaha). Kalau bisa hindari pedagang yang perhiasannya gede-gede, biasanya mereka ambil untungnya juga gede hehehehe...

5. Manfaatkan Promo
Kalau program promo ini biasanya di mini market atau swalayan. Coba kumpulin brosur promo JSM di berbagai mini market. Ga perlu pergi ke tokonya langsung, kan setiap fanpagenya selalu aktif posting brosur promo Jumat Sabtu Minggu. Teliti sebelum membeli, kira-kira di swalayan mana yang diskonnya paling gede. Trus harus berangkat pagi-pagi bener sebab saya pernah punya pengalaman aneh. Gerai toko belum dibuka barisan ibu-ibu sudah antri. Walhasil begitu rolling door dibuka ibu-ibu tadi rebutan minyak murah dan saya bisa-bisanya ngga kebagian, Wauuuw ibu-ibu ganas juga kalau soal rebutan barang murah xixiixix

6. Beli di "sumber"nya langsung
Salah satu faktor yang menyebabkan harga menjadi mahal adalah karena biaya transportasi. Beli langsung dari tangan pertama bisa lebih murah. Contohnya beli buah langsung dari petaninya (kalau di Sidoarjo lagi musim panen melon dan timun mas petaninya langsung jejerin buah-buah yang dipanennya langsung di pinggir sawah). Beli beras bisa kok langsung di tempat "nyelep" (pengolahan gabah menjadi beras). Minimal beli di pedagang beras yang menjualnya bukan ngecer tapi langsung 1 zak 25 kilogram, tapi ini berlaku buat keluarga yang terdiri minimal dari 4 orang dan suka makan seperti anak-anak saya dan suami hahaha. Sebab beras kalau kelamaan bisa dihuni banyak kutu.

7. Tanam apa yang bisa ditanam
Kelemahan stok pangan kita adalah kadang tergantung masa panen. Kalau panen gagal harga bisa melambung tinggi. Harga bawang, bawang merah, lombok dan tomat sudah bukan rahasia kalau sewaktu-waktu bisa melonjak tinggi, sebab utamanya : gagal panen. Di rumah mungil saya ada tanaman cabe, lumayan kalau pas panen. Sayang sekarang kok ga berbuah lagi (mungkin dia berbuah nunggu cabe mahal hahaha) saya salut pada seorang teman yang menanam selada dan bawang pre menggunakan botol-botol plastik bekas kemasan air mineral. Saya salut sama "petani dadakan" yang berhasil menanam padi di lahan sempit seperti kaleng-kaleng bekas (kapan ya bisa nanam padi sendiri).

Eia, saya kalau belanja sekalian buat seminggu. Pasarnya dekat dari rumah meski begitu gak perlu bolak-balik biar sekalian hemat BBM. Itu Tips Irit yang berkaitan dengan belanja. Lain kali saya share pengalaman saya soal hemat Air PDAM, BBM, Listrik dan LPG ya...Stay tune :)

2 comments:

  1. Hehe, iya, mba Dwi. Aku juga masak di rumah bahan beli murah di pasar 12 rb udah dapet macem2. Bisa buat makan seharian. Pinter2 berhemat aja. Yang penting jangan banyak ngeluh biar rezeki datang bawa temen2nya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. xexexe ya Ila, ngeluh juga harga daging belum tentu turun jadi ya ga pernah beli daging hahaa

      Delete