Google+ Followers

Wednesday, May 2, 2018

Esensi Peringatan Hari Pendidikan Nasional


2 Mei, diperingati dunia akademisi sebagai Hari Pendidikan Nasional. Kebetulan, keesokan hari, 3 Mei 2018 adalah hari pertama Ujian Nasional untuk siswa-siswi SD sederajat.

Dua tahun lalu, sulungku juga menempuh Ujian Nasional setingkat SD. Di peringatan Hari Pendidikan Nasional ini saya ingin menelusuri kembali esensi pendidikan.

Menurut saya pendidikan adalah suatu proses, menjadi lebih baik dan bukan hanya diukur dari nilai. Namun juga segala aspek kehidupan. Belajar disiplin, menghargai orang lain, mandiri, menumbuhkan empati, kreativitas adalah bentuk pendidikan juga. Sayangnya yang saya saksikan dunia pendidikan kita Sebagian besar masih mengejar target nilai..padahal ada nilai kehidupan yang patut diperjuangkan.

Contoh paling mudah dan miris adalah head line surat kabar tempo hari tentang tertangkapnya pelaku pembocoran naskah untuk Ujian Nasional setingkat SMP di Surabaya yang menurut pengakuan pegawai honorer pelaku kejahatan itu atas perintah kepala sekolah. Miris, inikah potret pendidikan masa kini? Karena passing grade meningkat, bobot soal ujian konon lebih menyulitkan maka segala cara dihalalkan asal siswa bisa lulus semua.

Membandingkan sistem pendidikan di pondok pesantren tempat sulung saya menuntut ilmu dengan sistem pendidikan dan ujian sekolah umum mungkin dianggap tidak adil.

Maka saya hanya ingin bercerita saja. Sistem ujian di KMI dibagi dalam dua tahao yaitu ujian lisan dan tertulis. Ujian lisan dimaksudkan untuk menggali rasa percaya diri santri dan mengukur tawadhu'. Ustadz penguji akan mengajukan pertanyaan hingga santri yang diuji tak mampu menjawabnya lagi. Hal ini untuk mengingatkan bahwa selalu ada langit di atas langit.

Ujian tulis dilakukan secara serentak. Dan semua soal ujian dijawab dalam bentuk esai. Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga santri yang dalam tingkat sama tidak duduk bersebelahan. Mencontek akan mendapat sanksi dikeluarkan dari pondok. Sungguh sebuah ujian yang benar-benar menuntut keberanian, kejujuran dan ketekunan.

Rabithoh, adalah salah satu nama gedung lokasi aktivitas belajar mengajar di pondok pesantren tempat sulung ku menuntut ilmu. Rabithoh adalah ikatan. Keterikatan antara santri dan ustadz, antara keduanya dengan pondok sebagai institusi pendidikan. Antara semua unsur tersebut dengan Sang Pemilik Kehidupan sehingga penyelenggaraan pendidikan dan ujian pun ditekankan pentingnya kejujuran. 

1 comment:

  1. Yang di sby itu sekarang pelakunya jadi buron...

    ReplyDelete