Google+ Followers

Friday, October 21, 2016

Ketika Dilema Melanda


Apa yang terpampang pertama kali dalam benak ketika mendengar kata DILEMA? Apakah si Centini yang sedang melenggak-lenggok sambil menyanyikan lagu Dilema, atau kegalauan hati ketika harus memilih di antara dua, tiga dan seterusnya? Jawabannya terserah anda. Seperti terserah anda juga bagaimana mengatasinya.
Dilema, mungkin hampir setiap orang mengalaminya. Pas baru lulus sekolah interview sana sini lalu diterima di dua perusahaan bonafid sekaligus tentu harus pilih yang mana, saat dua lelaki datang melamar untuk dijadikan istri mantapnya sama siapa? lalu sudah jadi emak-emak online maniacs masih saja mengalami dilema menentukan saat belanja baju terbaru nunggu obral Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) atau Pesta Cashback #eh. Stop...itu bukan kisah nyata saya. Hanya sekedar menggambarkan ribetnya dilema. Kalau tinggal pilih model sepatu atau warna baju sih bukan dilema yang membutuhkan pemikiran lama.
Saya pernah dihinggapi dilema yang cukup menyiksa meski tak sampai membuat saya ogah makan dan sulit tidur. Toh meski berbulan-bulan memikirkan pilihan terbaik nyatanya berat badan masih bertahan. Dilema terbesar saya alami tahun 2012. Ketika harus memilih: terus bekerja kantoran atau keluar dari “zona nyaman” dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Zona nyaman sengaja saya tulis dalam tanda petik sebab nyaman yang saya maksudkan adalah perasaan aman atas penghasilan pasti setiap bulan.
Dilema di antara dua


Jujur saja, saya bukan wanita pengejar karir, tetapi emak pengejar penghasilan. Karena itu saya tak peduli dengan jabatan asal ada kenaikan gaji setiap tahun hehe. Disebut nyaman dengan bold dan garis bawah kenyataannya pekerjaan saya tidak menjanjikan rasa nyaman. Gaji tidak istimewa tetapi resiko kerjanya cukup tinggi mengingat saya pernah mengganti uang perusahaan jutaan rupiah karena tanggung jawab sebagai supervisor administrasi sekaligus kasir divisi operasional. Nggak pernah pinjam uang perusahaan tetapi uangnya raib dan tak sesuai hitungan. Mau tak mau tentu saya harus mengganti “uang hilang” Dibilang nggak krasan lha wong saya bisa bertahan hingga hampir enam tahun padahal jarak tempat kerja ke rumah jauhnya sekitar 30 kilometer dan ditempuh dengan bus kota.
Dilema terjadi ketika anak bontot saya, Raditya harus beberapa kali ganti pengasuh. Sejak kami pindah rumah asisten rumah tangga kami hanya bertahan bekerja selama setahun karena dia tak bisa pulang setiap hari. Saya memutuskan Raditya masuk Daycare daripada mencari asisten rumah tangga yang baru. Pertimbangan saat itu adalah di daycare Raditya bisa belajar bersosialisasi dan mendapatkan dasar-dasar pengetahuan bagi anak-anak pra sekolah. Urusan masak, mencuci, menyeterika dan beberes rumah menjadi tanggung jawab saya kadang dibantu suami.
Semula semua mengalir begitu saja. Kondisi rumah dan anak-anak baik-baik saja. Raditya juga menunjukkan banyak kemajuan. Ia lebih mudah menghafalkan huruf hijaiyah, suka mewarnai dan mulai bisa menulis huruf. Pelajaran-pelajaran dasar yang seringkali tidak optimal saya ajarkan karena harus berbagi waktu dengan urusan pekerjaan rumah sepulang kerja. Sementara sang kakak Rafif yang baru duduk di kelas dua hampir tak ada masalah dengan urusan sekolah dan pergaulan di rumah. 
Masalah mulai timbul ketika di daycare Raditya timbul pergolakan. Para pengasuhnya satu persatu mengundurkan diri. Salah satu pengasuh kebetulan tinggal di dekat rumah. Sehingga ia berinisiatif membawa Raditya di rumahnya. Akhirnya kami pun tidak lagi menggunakan jasa daycare tetapi langsung membayar pada si pengasuh. Sayangnya anak bungsu si pengasuh yang tengah berusia remaja berperilaku tidak sopan. Saya pernah melihatnya mengeluarkan kata-kata kotor kepada sang ibu. Raditya pernah bercerita kalau anak itu marah-marah bisa menjambak rambut segala. Saya khawatir dengan perkembangan psikologis Raditya. Ditambah dengan vonis dokter pada si kakak untuk segera dikhitan karena ada gangguan kesehatan pada organ prianya.
Jika Rafif dikhitan maka saya harus mendampinginya hingga sembuh. Tak mungkin rasanya melepasnya sendirian di rumah setelah cuti saya yang maksimal dua hari kerja. Kalau saya terus bekerja dan menitipkan Raditya di pengasuh yang sama kekhawatiran melanda. Tingkah laku anak pengasuh bisa menyebabkan dampak buruk bagi kepribadiannya. Tapi kalau saya berhenti bekerja bagaimana membayar angsuran KPR rumah, uang bulanan untuk Mama dan infaq bulanan sebagai donatur tetap yayasan sosial yang selama ini diambil dari gaji saya sebab gaji suami cukup untuk makan dan membayar tagihan lain non KPR (maaf ini bukan membuka aib atau pamer manfaat gaji tetapi sekedar menggambarkan beratnya dilema)
Pak ustadz kalau dicurhatin masalah begini pasti menyuruh sholat istikharah. Masalahnya hubungan saya dengan Allah tidak terlalu mesra sehingga saya mungkin kurang mampu menangkap maksudNya. Untuk mengambil keputusan antara berhenti atau terus bekerja hal pertama yang saya lakukan adalah meminta pertimbangan plus ridho suami dan restu Mama. Suami saya hanya berkata “terserah kamu saja” (namun saya melihat sebenarnya ia merasa berat). Sementara Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk saya.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan solusi dari dilema yang saya hadapi. Plus minus jika saya tidak bekerja serta dampak positif dan negatif jika saya terus bekerja. Ok perinciannya kurang lebih:
# Jika saya tetap bekerja: finansial keluarga aman, tabungan persiapan biaya sekolah anak-anak terpenuhi, tagihan-tagihan terbayar. Namun konsekuensinya ada kemungkinan Raditya tumbuh dalam lingkungan yang kurang kondusif dan meniru perilaku anak pengasuh, Rafif kebingungan dalam masa penyembuhan setelah khitan atau terus mengundur proses khitan padahal ia terus kesakitan? Kemudian saya juga masih bertanggung jawab agar lebih sering menjenguk Mama yang tinggal sendiri di luar kota sejak meninggalnya adik bungsu saya di tahun 2011 padahal hari libur saya hanya Minggu, bagaimana cara membagi waktu? (apalagi Mama menolak mentah-mentah untuk meninggalkan rumah kenangan dan tinggal bersama anak-anaknya yang lain)
# Di sisi lain jika saya berhenti bekerja: darimana pos-pos pembiayaan yang selama ini bersumber dari gaji. Tetapi Raditya dan Rafif insyaallah aman dan nyaman di rumah sendiri.
Keputusan kemudian diambil setelah berbulan-bulan diombang-ambingkan kebimbangan. SAYA HARUS BERHENTI BEKERJA. Satu hal yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja adalah anak-anak. Selama berbulan-bulan saya belum menemukan solusi agar anak-anak terjamin kesehatan dan kondisinya maka saya anggap keputusan berhenti bekerja adalah yang paling tepat.
My Precious

Masalah menutup tagihan, saya dan suami berembug. Sisa KPR ditutup dengan sisa tabungan saya ditambah hasil penjualan motor. Satu-satunya motor kemudian dijual dan kami mengajukan kredit lagi. pertimbangannya membayar angsuran motor lebih murah daripada angsuran rumah. Lalu kewajiban lainnya? Beberapa tahun sebelumnya saya sudah pernah vakum dari dunia kerja kantoran, mengurus Rafif dan rumah sepenuhnya selama dua tahun. Kondisi finansial keluarga dan rasa jenuh yang kemudian mendorong saya kembali melamar kerja hingga akhirnya berkarir selama hampir enam tahun. Belajar dari pengalaman maka sebelum mengajukan surat permohonan berhenti bekerja saya mulai mengasah bakat yang sekiranya bisa menjadi ladang rezeki baru sekaligus aktivitas mengisi waktu. Menulis, mengikuti aneka lomba dan kuis adalah serangkaian aktivitas yang rutin saya lakukan di jam-jam istirahat atau waktu senggang. Senangnya aktivitas-aktivitas tersebut kemudian mendatangkan hasil. Saya menyukai prosesnya apalagi hadiah kemenangannya. InsyaAllah aktivitas ini menjadi salah satu pembuka pintu rezeki.
Maka resmilah saya mengajukan surat pengunduran diri di bulan Desember 2012 tepat sehari sebelum Rafif dan Raditya dikhitan. Meski hubungan saya dengan Allah saat itu tidak terlalu mesra namun saya mendapatkan banyak hikmah. Hikmah berupa kepasrahan, tawakal yang sebenarnya. Bahwa janji Allah sebagai Pembagi Rezeki yang Maha Adil tidak sepatutnya dipertanyakan. Saya tak pernah menyesal pernah memilih jalan menjadi wanita pekerja. Dan saya pun menikmati keputusan untuk berhenti bekerja. 

Pemandangan sepulang kerja yang kadang saya rindukan.
 Senja dan burung-burung pulang ke sarang

Seiring berjalannya waktu berbagai rintangan menguji keputusan yang telah diambil. Biaya-biaya transportasi untuk mengantar Mama pulang pergi dari rumah kami ke tempat tinggal Mama yang cukup menguras tabungan, kerusakan beberapa perabot rumah yang kembali membuat saya merogoh sisa tabungan hingga yang terbesar adalah kesulitan finansial ketika suami terPHK, jobless untuk beberapa lama dan mengalami kecelakaan padahal kami tak punya cukup biaya operasi (dan akhirnya berhutang kepada kakak ipar yang tak kunjung lunas hingga kini) Berbagai rintangan itu sempat membuat saya terpuruk, mempertanyakan sudah benarkah keputusan resign tersebut. Apalagi atasan saya tiba-tiba menelepon dan mengajak untuk kembali bekerja. Saat itu suami dalam kondisi jobless dan menyarankan saya menerima tawaran tersebut. Tetapi saya bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah dan memilih mengais rezeki sebagai freelance termasuk sebagai penulis konten dengan fee recehan. Kalau bekerja lagi di tempat yang sama paling cepat saat adzan Maghrib berkumandang saya baru tiba di rumah. Berat rasanya meninggalkan kelas pengajian sore hari yang saya ikuti untuk memperbaiki bacaan Al Quran selepas vakum dari dunia kantoran. 
Tak mudah bertahan dengan kondisi finansial goncang dan musibah demi musibah datang silih berganti. Tetapi Allah tak pernah ingkar janji. Setelah sempit datanglah lapang. Setelah sempat menjual televisi, berbagai hadiah kuis dan lomba termasuk helm baru seharga ratusan ribu rupiah dan menggadaikan satu-satunya kalung yang saya miliki demi menyambung hidup alhamdulillah suami bisa mencari nafkah kembali. Alhamdulillah kondisi finansial keluarga kembali stabil. Malah sekelumit kisah tentang menggadaikan kalung sempat menjadi penghias artikel yang kemudian memenangkan lomba Road Show Pegadaian 2016.
Saya mendapatkan pelajaran ada rahasia di balik dilema. Bahwa proses menentukan pilihan merupakan bagian dari pendewasaan. Bimbang memilih A, B atau C bisa datang kapan saja, tentang apa saja. Tak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Memilih salah satu tetaplah menjadi kewajiban. Sertailah keputusan tersebut dengan doa memohon yang terbaik menurut Allah. Dan bersiap dengan segala konsekuensinya termasuk jika di kemudian hari hasil keputusan tersebut jauh dari harapan dan kondisi yang kita damba.

14 comments:

  1. Wah, perjuangan saya belum ada apa-apanya kalau dibandingkan Mba' Dwi.. :(
    Jadi malu sendiri bila kadang masih mengeluh, sukses terus ya Mba', InsyaAllah setelah kesulitan selalu ada kemudahan. :)

    ReplyDelete
  2. Tabarokallah ya mbaaaa

    ALLAH itu MAHA AJAIB :)
    Thanks sharingnya mbak. Aku jadi makin setrooong!

    bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes! Be strong and patience mbak Innallaha maa ashobirin...😚😘

      Delete
  3. Ada rahasia di balik dilema. Pernah dengar ngendikane ustadz, pilihan kita itulah takdir ikhtiar kita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggih mbak Murti. Takdir bicara diam-diam di balik pilihan yang kita jatuhkan 😇

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  4. pilihan kadang butuh kekuatan ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak Tira. Konsisten dan yakin atas pilihan yang sudah diambil itu perlu :)

      Delete
  5. Kalau dilema yang sering aku rasakan itu, antara pengen bekerja karena ortu senang dengan pekerjaan, atau milih jadi IRT fokus sama anak, duh sampai sekarang masih kepikirannn

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe dilema sebagian besar wanita pekerja ya mbak :)

      Delete
  6. Janji Allah selalu benar ya mbak. Asal kita selalu berbaik sangka sama rencana Allah, ikhtiar dan doa, inshaa Allah saat manis akan datang di saat yang tepat. Salut sama mbak! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. insyaAllah demikianlah yang dijanjikan Allah mbak...terimakasih sudah mampir :)

      Delete
  7. Artikel bagus dan menginspirasi kaum wanita mbak. Jangan lupa mampir di blog saya mbak www.sitifaridah1996.blogspot.com

    ReplyDelete