Google+ Followers

Thursday, October 6, 2016

06-10-2016

Ada yang aneh dengan angka 06102016? mungkin biasa saja, hanya berupa permainan angka 0, 1 dan 6. Kalau blog digunakan sebagai diary hari ini pun tak ada yang istimewa hanya saja mendapatkan kabar gembira nilai mid semester si sulung yang sedang menuntut ilmu di perantauan menampakkan hasil lumayan. Ada mata pelajaran yang nilainya kurang namun ada pelajaran yang nilainya cukup memuaskan. 

Seperti tausyiah ustadzah tempo hari jika melihat raport anak usahakan jangan hanya berpusat pada nilai terburuk. Bisa jadi nilai terbaiknya menunjukkan bakat, minat dan kemampuan. Dalam kesempatan pengajian tersebut sang ustadzah berkisah tentang anak A dan B yang memiliki kesamaan : meraih nilai buruk di matematika tetapi mencapai nilai bagus di pelajaran menggambar. Ibu si A memarahi anaknya dan menuduh si A terlalu banyak menggambar sehingga tidak fokus di pelajaran matematika. Ia minta si A les matematika dan tidak menggambar lagi. si A menuruti apa kata sang Ibu namun dengan menggerutu.

Sementara ibu si B mendorong anaknya untuk mengikuti les menggambar. Ketika di kota tersebut diadakan lomba menggambar si B turut serta dan keluar sebagai juara. Ibu si B kemudian berkata "wah kamu hebat, bagaimana kalau sekarang les matematika juga, terbukti kan semua kalau dipelajari dengan sungguh-sungguh akan berhasil?" maka si B pun les matematika dengan suka cita.

Ketika musim terima raport datang hasilnya sangat mencengangkan. si A mendapat nilai tidak memuaskan baik untuk pelajaran matematika maupun menggambar. Sedangkan si B menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan baik dalam peraihannya di matematika maupun menggambar. 

Inilah contoh menemukan bakat, potensi dan cara mengoptimalkannya.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan nilai dan rangking sejak anak-anak sekolah. Harapan saya hanya mereka paham ilmunya, berlaku jujur, berakhlak baik dan mandiri. Semoga bukan ekspektasi berlebih.

Apalagi mengingat si sulung ini dulunya SUSAH MAKAN. Saya akui banyak berbuat kesalahan dalam merawatnya hanya karena pusing melihatnya mogok makan di masa batita dan balita. Saya tak ingin mengulang kesalahan yang sama ketika ia menginjak remaja. Berapapun nilai yang diraih adalah hasil perjuangannya. Saya cukup bahagia karena dengan nilai yang ditunjukkannya berarti ia bisa beradaptasi cukup baik di lingkungan pondok pesantren tempat ia menuntut ilmu. Saya membayangkan pastilah sulit untuk anak ABG, umur 12 tahun belajar mandiri jauh dari orang tua dan belajar tanpa dikawal hehe.

Belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan, itulah yang perlu saya lakukan dan saya pelajari agar tidak membuat kesalahan yang sama baik bagi diri sendiri maupun orang-orang yang saya cintai.

No comments:

Post a Comment