Google+ Followers

Sunday, September 4, 2016

Resensi : Perjalanan Hati

Judul : Perjalanan Hati
Penulis : Riawani ELyta

Genre : Novel
Cetakan : 2013
Halaman : 194 Halaman
Penerbit : Rak Buku



Masih sering terngiang sang mantan? coba baca Perjalanan Hati. Novel manis yang dengan lugas menganyam kenangan masa lalu, mengaitkannya dengan masa kini. Kira-kira apa yang akan anda lakukan jika berada pada posisi Maira, pernikahannya dengan Yudha baru dua tahunan. Lalu tiba-tiba Donna, masa lalu Yudha datang diam-diam dan menceritakan rahasia tentang kenangannya bersama Yudha sebelum menikah dengan Maira. Apa yang diceritakan Donna dan bagaimana Maira menanggapinya?

Maira tidak bertingkah seperti wanita lain yang dibakar api cemburu. Merajuk, bahkan mungkin berseteru dengan perempuan masa lalu. Ia memilih mencari jalan keluarnya sendiri. Mengikuti touring pendakian Anak Krakatau. Tetapi apa jadinya jika salah satu sebab ia memilih touring kali ini adalah karena adanya nama Andri, pria masa lalu yang begitu berkesan dalam sebuah episode dalam kehidupannya?

Perjalanan Hati sukses membuat saya penasaran. Apakah Maira akan kembali kepada Andri mengingat kesalahan Yudha di masa lalu yang begitu besar? Saya suka cara mbak Riawani Elyta menggambarkan tokoh-tokoh dalam novel ini. Bagi saya tidak ada tokoh antagonis tetapi tidak juga membuat novel ini monoton. Kisahnya terjalin manis dan masing-masing chapter berhasil membuat pembacanya merenung. 

Novel ini layak dibaca siapa saja, pria atau wanita, pasangan pengantin baru yang tengah gelisah maupun yang bahtera rumah tangganya aman-aman saja. Hadirnya masa lalu atau suatu permasalahan bisa saja terjadi suatu ketika dan berbekal pemikiran yang matang untuk menghadapinya adalah bekal yang sangat berharga.

Settingnya keren, pembaca seolah dibawa turut serta menyusuri masa lalu Maira dan Andri lengkap dengan latar belakang keduanya sebagai pecinta alam. Perjalanan ke Anak Krakatau digambarkan sedemikian rupa sehingga saya turut membayangkan bagaimana kondisi sekitar kawah, nikmatnya makan nasi putih dengan ikan bawal goreng dan pasir hisap yang terdapat di area.

Perjalanan Hati bisa menjadi salah satu terapi bagi siapa yang sedang berada dalam dua pilihan : masa lalu yang perlu diperjuangkan atau masa lalu yang harus dilupakan? Permasalahan yang dihadapi orang per orang mungkin tak sama tetapi Perjalanan Hati mengingatkan kembali agar tidak lari dari masalah.

"rintangan ada untuk kita hadapi dan kita taklukkan, bukan untuk dihindari apalagi sampai mencari pelampiasan jika merasa tak sanggup menghadapinya, karena dari situlah kita bisa tahu kekuatan sebenarnya yang kita miliki" (halaman 117)

Saya menikmati cara mbak Riawani bertutur. Menggabungkan masa sekarang dengan masa lalu. Memberikan porsi bagi Yudha dan Maira untuk bergelut dengan berbagai rasa dan berusaha menyelesaikan permasalahannya sendiri. Saya seperti turut merasa kesepian seperti sepinya Yudha ketika ditinggalkan Maira dalam perjalanan kali ini disertai kegundahan apakah Maira akan memilih kembali kepada Andri? Saya juga turut merasakan galaunya hati Maira ketika mengetahui kisah masa lalu Yudha bukan dari bibir sang suami melainkan dari perempuan masa lalunya. Suatu pelajaran bahwa sebelum menikah ada baiknya jujur tentang segala sesuatu agar tidak menjadi beban di kemudian hari.

Satu hal yang kurang saya sukai dalam novel ini adalah adegan merokok karena saya sebal dengan perokok yang suka merokok di tempat umum hehehe....Tapi ya bagaimana lagi, para pecinta alam kan identik dengan rokok ya? mengingat tokoh-tokohnya : Yudha dan Andri adalah para petualang dan pecinta alam.

Nah bagi yang penasaran dengan endingnya monggo silahkan baca sendiri. Nggak rugi kok membaca novel manis ini. Meski belum sempat berwisata ke Anak Krakatau setidaknya bisa turut membayangkan keindahan dan mistisnya gunung yang melegenda melalui penuturan mbak Riawani Elyta


No comments:

Post a Comment