Google+ Followers

Tuesday, September 20, 2016

Kisah-Kisah Misteri (Rezeki)

Menjelang pengumuman hasil seleksi Penerimaan Santri Baru tahun ajaran KMI 1437H Kyai Hasan Abdullah Sahal memberikan sambutan yang sarat hikmah. Salah satu yang saya ingat adalah kisah jenakanya tentang santri yang kini jadi menteri karena pas jaga malam mengaduk kopi di ember seng dengan hanger besi. Kata pak kyai : bisa jadi kebarokahan yang diperoleh para santri ini karena mereka rajin bersholawat. Sambil ngaduk kopi, icip-icip bersholawat...bikin mie instan sembunyi-sembunyi, aduk-aduk sambil bersholawat. Berlari-lari masuk kelas atau antri makan sambil bersholawat.
Kenangan : Langit Gontor, Ponorogo suatu ketika menjelang pengumuman hasil seleksi Penerimaan Santri baru 1437 H, direkam dengan HP jadul Nokia C5


Di kesempatan lain saya nonton rekaman di you tube bincang santai Cak Nun di depan jamaah ma'iyah. Kurang lebih begini kata beliau "tinggi mana kedudukan Allah sama bos kalian?" "Kalau bos kalian menyuruh kerja kalian gak nurut itu gak masalah. Tapi kalau Allah yang nyuruh? Ya wajib"

Lalu saya mendapatkan hikmah dari kedua momen yang berbeda ini. Bahwa hidup ini sejatinya hanya menunaikan perintah Allah.

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat lah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" 
(QS : Al Ahzab : 56) 


"Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjuru nya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan 
(QS : Al Mulk : 15)

Masjid yang selalu saya rindukan jika ke Banyuwangi. 

Dan pelajaran yang saya dapatkan :

Bukan banyaknya sholawat atau dzikir yang dilantunkan yang menjadi pusat kekuatan dan kebarokahan. Melainkan keikhlasan menunaikan perintah Allah untuk bershalawat dan berdzikir yang benar-benar dari dalam hati.

Bekerja atau mencari nafkah itu perintah Allah tetapi tetaplah harus meluruskan niat. Bukan sekedar mencari uang seperti yang selama ini telah menjadi doktrin. Bisa saja kita berlelah-lelah mencari nafkah dari pekerjaan A namun yang membawa kebarokahan justru rezeki dari kerja sambilan X. Rezeki itu misteri, kebarokahannya apalagi... Seperti halnya Hajar berlari antara Shofa dan Marwah mencari air demi sang bayi namun air yang dicari justru muncul dari bekas hentakan kaki Ismail kecil yang menangis dan meronta keras sekali.

Hidup itu misteri, seperti saat melakukan perjalanan. Mungkin akan menemui kelokan atau tanjakan tajam atau menuruni jalan curam. Penyelamat dan penyemangat agar sampai tujuan dengan selamat adalah seat belt. Nah kalau penyelamat dalam menjalani kehidupan? tentulah IMAN.

Jadi sodara selama ini saya mengajarkan hal yang kurang tepat pada anak-anak di masa kecil mereka dengan kata-kata "Papa lagi kemana?" 'kerjaaa" "Buat apa" "biar dapat uang buat beli susu, jajan dan mainan" Huaaa bagaimana saya merevisinya? Anak-anak kini sudah bukan balita yang diajak bermain kata-kata biar pandai bicara (meski kadang sebel kalau pas mereka dulu lagi MOGOK MAKAN juga) Hadeeeh sejak bayi dan balita sudah saya ajarin berpikir kapitalis: bekerja untuk dapat uang, bukannya dengan alasan Allah yang memerintahkan. Sekarang baru nyadar bekerja itu bukan sekedar mencari uang tetapi adalah perintah Allah. Maka bekerja yang insyaAllah barokah itu pekerjaan yang dilakukan dengan niatan: Lillahi ta'ala. Bahkan pekerjaan emak-emak rumahan seperti mencuci, menyeterika, memasak jika dilakukan dengan ikhlas dan Lillahi ta'ala bisa jadi membuka pintu kebarokahan dalam keluarga. (OK siiip saya segera ambil kaca, tuding muka sambil bicara: ga usah ngomel pinggang sakit karena nyetrika gaya on the floor atau kaki kesemutan karena nyuci ngucek demi hemat air)

Semangatlah wahai emak-emak di seluruh dunia. Tak perlu sedih kalau kurang PIKNIK. Kualitas generasi muda berada di tangan anda (kok mirip slogan pemerintah seeeh)

Pemikiran-pemikiran ini yang seringkali menjadi penyemangat saya yang tak kunjung migrasi ke TLD. Ya! mungkin saya telah menjadi salah satu makhluk langka karena blog saya ini masih saja gratisan, tidak keren dan mungkin tampak murahan. Karena saya meyakini Allah tidak pernah salah membagikan rezeki. Saya khawatir justru nanti kalau saya migrasi ke TLD saya tak bisa mengontrol diri. Sebab niatan ber TLD saya pasti karena materi, berharap job review yang kini semakin banyak yang meminta syarat TLD dengan seabreg S dan K. Saya khawatir saya malah sibuk upreg menaikkan Alexa, deg-degan dengan PA, DA, coding-coding aduh apa pula istilah-istilah itu kemudian waktu saya habis untuk ngupreg blog padahal saya gaptek. Sebab hanya saya dan Allah yang mengerti bagaimana sifat saya ini kalau tentang mengejar materi seolah saya akan hidup selamanya dan duit dibawa mati. Belum lagi misalnya kalau Job Review yang dinanti tak kunjung datang atau banyak yang tak bisa dikerjakan karena suatu dan lain hal saya pasti "hipertensi", ngomel tak karuan karena sudah terlanjur keluar uang dan tenaga tapi tak mendapat ganjaran setimpal seperti yang diharapkan. Cukuplah saya berbuat kesalahan di masa lalu yang selalu berpikir bahwa bekerja itu untuk materi belaka, tanpa memahami ada rahasia, hikmah dan misteri besar di baliknya.

Biarlah untuk sementara blog gratisan ini menjadi curahan isi hati, sedikit berbagi sekaligus berharap menjadi salah satu pintu rezeki. Yang penting ikhtiar jalan terus, berdoanya istiqomah gak pakai ngambek kalau belum dikabulkan sambil berharap misteri-misteri rezeki terkuak seperti saat mendapatkan hadiah dari #RoadBlog2016 Pegadaian - Excite Point dari kisah kesusahan finansial xixixi





atau pas dapat email dan telepon yang mengabarkan kalau artikel saya mendapat apresiasi konon berupa "Kam.. G P" seharga xxxx (karena hadiahnya belum saya terima) lha wong ini lomba sejak bulan April lalu. Alhamdulillah serasa dapat arisan :D


Biarlah saya terus berharap masih banyak rekan-rekan blogger profesional yang suka bagi-bagi job review, agency yang masih mempertimbangkan saya dalam timnya dengan sedikit kemampuan menulis dan kemauan bekerja keras meski blognya gratisan. Sebab ada nikmatnya berharap-harap cemas itu. Update blog pun tak ada beban, kapan bisa dilakukan ya monggo jalan, kapan bisa dan tertarik ikut lomba ngeblog ya mari lanjutkan. 

Sesungguhnya posting artikel ini memang saya tulis untuk menyemangati diri sendiri. Agar tak putus asa atas segala rahmatNya. Saya juga tak mau dengan PD berkata: sampai mati pun blog saya tetap gratisan karena saya yakin bahwa Allah Maha Memberi. Tidaaak sodara, tetapi biarlah untuk sementara ini saya nikmati yang ada. Apa yang kelak terjadi di masa depan biarlah menjadi misteri. Kun Fayakun, kalau Allah Maha Berkehendak maka terjadilah. Untuk sementara saya belum ber TLD karena sering lupa akan semua hal, termasuk lupa waktu, lupa diri dan jangan-jangan nantinya lupa kapan waktu perpanjangan sewa padahal saldo di ATM sering tersisa saldo minimal untuk jaga gawang saja (kapan-kapan saya mau nulis tentang mengapa sering ATM saya hanya berisi saldo minimal aah)

Selamat berharap dengan segala kerendahan hati demi menjemput kebarokahan rezeki di setiap langkah kaki. Karena Allah menyukai hambaNya yang santun dalam memohon, mengiba ridhoNya serta mereka yang bertawakal setelah ikhtiar sekuat tenaga.

8 comments:

  1. rezeki memang misteri mba, kadang kita tdk menyangka2 dtgnya darimana. dan sholawat, bisa menjadi pembuka rezeki :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak ...seperti bunyi surat At Thalaq, barangsiapa yang bertawakal akan mendapatkan rezeki dari pintu yang tak disangka-sangka :)

      Delete
  2. Terlecut semangatku setelah baca postingan mbak Dwi.
    Tengkyuuuuuhhh mbaaa

    bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaiiih sama-sama mbak Nurul...I love U too, salah satu blogger favoritku :)

      Delete
  3. Hihihi jangan sampai hipertensi gara-gara nulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaah mbak..pengennya nulis enjoy tapi juga dapat pemasukan hihihi

      Delete
  4. Hihihi jangan sampai hipertensi gara-gara nulis.

    ReplyDelete