Google+ Followers

Tuesday, September 27, 2016

Bisnis PPOB masihkah menguntungkan?

Bisnis PPOB masihkah menguntungkan? pertanyaan yang muncul gegara FB mengingatkan kenangan posting beberapa tahun lalu. Saya jadi terharu dan tersipu-sipu *lebaymodeon* diingatkan bahwa bisnis PPOB yang saya jalani sudah berjalan 3 tahun.
Bisnis jualan pulsa sebenarnya sudah saya lakoni sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Modal utamanya hanya handphone, kartu chip operator tertentu dan duit untuk deposit tentu. Dulu penjual pulsa belum sesemarak sekarang. Pelanggan saya juga sampai ke luar kota saat mendiang adik bungsu saya turut membantu menjualkan pulsa ke teman-temen kerjanya. Penghasilan bersih saya bisa mencapai 700 ribu per bulan. Setelah adik bungsu saya meninggal dan peminat berjualan pulsa makin bertambah omzet saya turun drastis. Keuntungan bersih paling hanya 100-150 ribu per bulan. Sedih? Biasa saja sih, naik turun bisnis itu wajar. Hanya berharap dari income yang kecil itu tetap membawa barokah.

Ketika saya memutuskan untuk kembali kerja kantoran setelah sempat break dua tahun dan mengandalkan hasil jual pulsa, bisnis sampingan ini tetap saya lakoni. Berapapun hasilnya toh pekerjaannya tidak susah, cukup pencet keypad, masukkan nomor HP pembeli lalu send. Seribu perak keuntungan pertransaksi disambut dengan ucap syukur alhamdulillah.

Setelah saya merasa makin lelah bekerja kantoran dan ingin tetap tinggal di rumah sambil mencari nafkah ide membuka PPOB pun muncul. PPOB - Payment Point Online Bank, satu akses untuk berbagai pilihan pembayaran. Pertimbangan kami saat itu sederhana saja: modal utama berupa laptop dan printer sudah tersedia sehingga tidak mengeluarkan biaya. Untungnya printer tinta masih kompatibel dengan sistem akses transaksi sehingga tidak perlu membeli printer dot matrix.

Waktu berlalu dan ganti "distributor" seperti halnya distributor pulsa akhirnya kami lakukan. Penyedia layanan untuk transaksi PPOB kami bukan lagi seperti yang terpasang di banner. Mengapa? banyak faktor menjadi alasan: distributor yang baru lebih fleksibel sebab bisa terima deposit 7 hari dalam seminggu, di tempat baru ada layanan transaksi pdam, fee yang diberikan cukup kompetitif.

Tiga tahun berlalu, saatnya mereview, apakah bisnis PPOB masih menguntungkan? Dari pengalaman pribadi saya, bisnis PPOB yang saya lakoni ini masih cukup menguntungkan, meski keuntungan bersihnya baru mencapai 400 ribu per bulan (ini sudah termasuk keuntungan penjualan pulsa). Tapi perlu diingat, buat kami PPOB ini masih menguntungkan sebab tak perlu biaya operasional. Loketnya di rumah kami sendiri sehingga tidak butuh uang sewa, nggak perlu bayar pegawai, modalnya sudah tersedia sebelum bisnis ini dimulai (laptop dan printer dibeli jauh hari sebelum punya pemikiran buka PPOB). Pemakaian internetnya cukup murah karena saya biasa pakai tethering dari HP untuk internetan (HP ini yang biasa saya pakai untuk WA, BBM, Twitteran dan FB-an) paling banter isi kuota seharga 100 ribu per bulan, tapi seringnya bisa buat 1,5 bulan. Selain itu saya juga nyambi jadi konten writer freelance dan berburu hadiah lomba. So paket internet segitu ya "all in" untuk keperluan PPOB plus aktivitas menulis dan berburu hadiah kuis.

Nah, kalau ada pertanyaan bisnis PPOB masihkah menguntungkan? jawabnya tergantung dari berapa customer yang jadi pelanggan Vs Berapa biaya operasional yang dikeluarkan. Kalau customer pelanggannya berkisar 1000 orang per bulan dan keuntungan rata-rata per transaksi 1000 rupiah maka laba yang diperoleh 1 juta rupiah. Kalau nggak keluar biaya sewa tempat, listrik numpang tagihan rumah, loket dijaga sendiri untungnya sudah gede banget itu hehehe. 

Tapi kalau butuh biaya sewa tempat dan bayar pegawai sebaiknya bisnis PPOB itu digabung dengan usaha lain. Misalnya cuci motor, toko camilan, warnet atau usaha apalah apalah sambil buka loket PPOB. Pertimbangan ini diperlukan mengingat layanan PPOB makin menjamur. Kantor Pos, Kantor Pegadaian dan minimart-minimart bahkan sudah ikut terjun menggeluti bisnis ini. Sementara jumlah pelanggan tidak bertambah secara signifikan. Nggak ingin merugi bukan?

Menjaga kepercayaan pelanggan adalah hal yang cukup sulit dilakukan di tengah banyaknya pilihan pelayanan. Itu sebabnya saya memberikan pelayanan : transaksi dulu bayar belakangan. Haha capek sih, butuh modal gede, kesabaran ekstra tapi marginnya sama. Bisnis yang begini yang sering menguras saldo ATM saya hingga menyisakan sisa sekedar penjaga gawang antra 100-150 ribu hahaha. Lha ya, modal untuk PPOB itu cukup besar, tapi marginnya kecil. Bayangkan untuk membayar satu tagihan listrik entah itu 400 ribu, satu juta atau 10 juta rupiah keuntungan yang diperoleh sama = paling 1200 perak (tergantung dari distributor PPOB dan bank rekanannya). Nah pelanggan-pelanggan saya ini ada yang beberapa di luar kota, transaksi sudah saya lakukan tapi kadang mereka baru membayarnya beberapa hari kemudian, bisa karena lupa, tidak sempat, tidak punya waktu atau sebab lainnya. Belum lagi bayarin tagihan tetangga, ada beberapa yang mesti harus saya samperin di rumah padahal ngga ada ongkos Delivery Order hehehe. Kalau sudah begini harus berbekal sabar seluas samudera. Kadang dengan memelas dan wajah beton terpaksa mengingatkan mereka dengan halus. Tapiii dengan cara menjalin komunikasi begini saya dapat untung silaturahim, bukankah menjaga tali silaturahim itu salah satu pintu pembuka rezeki?

Sekarang kembali ke soal permodalan. Bisa dibayangkan bukan jika modal yang disiapkan sebesar 5 juta. Lalu tagihan listrik rata-rata 400 ribu, lalu enam pelanggan bayar beberapa hari kemudian. Padahal transaksi pulsa dan PDAM juga terus berjalan. Dan lokasi distributor untuk setor deposit cukup jauh dari rumah kami, sekitar 15 kilometer. Kalau tidak ditambah dari simpanan pribadi saya bisa-bisa seminggu dua kali sang suami setor deposit, kasiaan capek banget pastinya kan. Maka biarlah saya relakan tabungan yang tak seberapa itu untuk tambahan modal sementara.

Modal gede, untung sedikit, perlu sabar dan kadang nebelin muka buat nagih kok masih mau? lah kan meski "sedikit" tetap untung? lah kan mengais rezeki itu perintah Allah dan bentuk dari ibadah? lah bisnis ini kan bisa disebut bisnis amal sholeh karena membantu teman yang sering ogah mampir di ATM atau antri di loket PPOB demi membayar tagihan apalagi bayarnya belakangan wkwkwkw.

Sejujurnya saya menggeluti bisnis ini karena tidak memerlukan modal tambahan lagi, kecuali kertas untuk print out. Semua bisa dilakukan sendiri tanpa perlu mengeluarkan gaji. Waktu luang pun tetap membuat saya produktif (cuman kadang bingung kalau pas kerjaan nulis dikejar DL dan awal bulan tagihan-tagihan yang harus transaksi sudah mengantri)

Kesimpulannya: bisnis PPOB masihkah menguntungkan? Kembali ke perhitungan biaya operasional dan pendapatannya plus inti dari kebarokahan rezeki. Mudah-mudahan saya bisa selalu ingat bahwa yang sedikit belum tentu tidak mencukupi, yang besar belum tentu memenuhi. Jadi meskipun modalnya besar dan marginnya kecil tetap saya lakoni sambil berharap kebarokahan Illahi. Lumayan kok kalau dikumpulin, bisa buat jajan variasi menu kalau pas anak lagi SUSAH MAKAN. Atau ditabung buat nabung Tabungan Emas perbulan, bisa jadi sumber investasi hihihi....



2 comments:

  1. Wajah beton? Hahaha...saya angkat tangan mbak sama usaha ini. Jual pulsaku bangkrut. Diutang mulu eh modalnya lama-lama abis pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah iya mbak Ika, wajah beton kan lebih tebal dari muka tembok. Hihihii ya begitulah klo tidak bermuka tembok untuk menagih resikonya memang modal habis :D

      Delete