Google+ Followers

Thursday, September 17, 2015

Bertobat Dari 8 Dosa Dalam Mengelola Finansial Sebelum Terlambat

       Apakah menjadi miskin itu hina dan menderita? Seberapa ingin anda menjadi kaya? Berani malu dan bekerja keras untuk menjadi kaya? jika pertanyaan itu ditujukan kepada kita kebanyakan akan menjawab ogah menjadi miskin dan ingin menjadi orang kaya. Menyaksikan orang-orang kaya menikmati hidup dengan jalan-jalan ke luar negeri, mengoleksi perhiasan dan kendaraan pribadi atau gonta-ganti gadget trendy mungkin bisa menimbulkan iri hati atau setidaknya bertanya pada diri sendiri akan sebuah mimpi : kapan ya bisa seperti mereka. Namun jarang yang mau belajar dari kisah perjuangan hidup miliuner mencapai kekayaan yang dimiliki sekarang. Tak jarang mereka yang tampak bersenang-senang di atas kekayaan dahulu hidup dalam penderitaan tetapi tetap teguh dalam berjuang demi hidup yang lebih baik. Pemilik waralaba bakso ternama misalnya sempat berjualan bakso keliling, mendorong gerobak tanpa merasa malu pada lingkungan sekitarnya. Pengusaha catering terkemuka pernah menjadi pelayan restoran dan membuka warung makan.
    Bermimpi menjadi kaya tetapi ogah atau susah merumuskan jalan mengumpulkan kekayaan adalah salah satu penyakit “menular” yang patut diwaspadai. Penyebab utama kegagalan menjadi orang kaya adalah 8 Dosa Besar dalam mengelola finansial. Istilah 8 Dosa Besar dalam mengelola finansial ini diperkenalkan oleh Alviko Ibnugroho di acara jumpa blogger Sun Life yang diselenggarakan di Rocco Restaurant, Artotel Surabaya pada 12 September 2015. Secara lugas Alviko memerinci 8 dosa besar tersebut sebagai
1.   Terperangkap Mitos Masyarakat.
Mitos yang berkembang dalam masyarakat paling umum adalah mitos bahwa pekerjaan menjadi karyawan akan lebih meringankan hidup dan menjanjikan masa depan mapan. Sementara profesi khusus seperti blogger, jago memasak hanya merupakan bentuk dari hobi dan bukan profesi yang mendatangkan kemapanan finansial
2.   Memilih untuk Buta Financial.
Mayoritas orang ogah berbicara masalah finansial, investasi, rencana hari tua dan hal-hal yang berkaitan dengan keuangan. Alasan utamanya karena menganggap tak punya cukup waktu untuk belajar finansial. Waktu untuk bekerja dan rekreasi bareng keluarga jauh lebih utama daripada mempelajari segala sesuatu tentang uang yang dianggap membosankan
3.   Manusia Cenderung Berjuang Untuk Bertahan Hidup bukan Berjuang Demi Keinginan.
Kebanyakan individu hidup sekedar melanjutkan hidup. Misalnya : yang penting sekolah, kuliah tanpa mengejar menuntut ilmu lebih tinggi atau sekolah di institusi yang berkualitas lebih baik.
4.   Tidak Menetapkan Target Financial.
Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak terlalu peduli dengan target financial. Contoh nyata sebagian besar orang akan memilih jawaban : untuk jalan-jalan atau ditabung jika mendadak menerima hadiah 100 juta rupiah. Hanya sebagian kecil yang menjawab untuk investasi atau jawaban lebih konkrit investasi emas dan property. Dalam kesempatan Jumpa Blogger Sun Life tersebut Alviko Ibnugroho juga memaparkan hasil survey dari pihak Sun Life pada Tahun 2014 bahwa sebagian besar responden di Surabaya dan Jakarta menempatkan “menabung” pada prioritas utama. Padahal sebenarnya menabung  perlu tips khusus agar lebih bertaji dalam menghadapai kenaikan biaya hidup dan inflasi.
5.   Tidak Memprioritaskan Kemakmuran Financial.
Sebagian orang berpikir mengejar karir dan berdedikasi penuh sebagai karyawan. Sayangnya tidak diiringi dengan memikirkan langkah mengejar kemakmuran finansial. Hanya sedikit yang berpikir menginvestasikan uang untuk jangka panjang dan menyiapkan masa pensiun.
6.   Tidak Menggunakan Uang Dengan Bijaksana (penyakit mayoritas orang Indonesia).
Boros sepertinya sudah menjadi penyakit bawaan sebagian besar orang. Terima gaji lalu habis untuk makan enak, belanja segala hal mulai dari kebutuhan pokok hingga hal yang sebenarnya kurang penting. Ada juga yang terperosok hutang karena terlalu mengejar gaya hidup tanpa disesuaikan dengan pendapatan. Belum terhitung mereka yang belanja demi melipur lara atau membeli karena dorongan emosi. Terjebak diskon dan obral? sudah menjadi rahasia umum.
7.   Tidak Membuat Anggaran.
Terima gaji lalu habis tanpa sisa. Seolah menjadi hal yang biasa. Uang kurang bisa berhutang. Anggapan tersebut adalah anggapan yang salah. Sebagaimana sebuah organisasi, keluarga adalah sebuah organisasi kecil yang perlu membuat anggaran. Anggaran berfungsi untuk mengetahui pos-pos pengeluaran dan pendapatan setiap bulan.
8.   Tidak Melakukan Investasi.
Dosa finansial terbesar adalah jarang orang berpikir tentang investasi. Padahal investasi merupakan salah satu senjata menghadapi inflasi. Kesalahan lain sebagian besar orang berpikir investasi adalah seputar uang dan harta benda. Namun jika dikaji lebih jauh investasi sebenarnya adalah segala sesuatu yang bisa memberikan manfaat lebih banyak bagi kehidupan termasuk investasi ilmu seperti membaca buku, mengikuti kursus dan pelatihan atau menyerap ilmu dalam seminar.

     Tidak ada kata terlambat dalam segala hal kebaikan. Begitu pula tentang kebijakan mengelola finansial. Sebagai wanita usia hampir 40 yang dalam Financial Life Cycle masuk dalam usia 35-50 tahun jujur saja saya tidak masuk kategori punya sedikit waktu dan banyak uang. Saya tidak menyesal berhenti bekerja sebagai karyawan meski bisnis yang dirintis gulung tikar. Setidaknya dari masa kerja saya selama sepuluh tahun kami memiliki rumah pribadi yang ditempati hingga saat ini. Namun untuk menyiapkan anggaran pendidikan anak-anak dan hari tua saya harus masih memerlukan berbagai rancangan.
      Belajar dari hasil Talk Show mengenai 8 Dosa Finansial, sebagai pekerja lepas alias penulis freelance gado-gado mulai dari menerima job menulis konten artikel, job review hingga berburu hadiah dari aneka kuis dan lomba menulis saya berusaha mengaplikasikan ilmu dan tips yang diberikan Pak Alviko dengan beberapa penyesuaian. Beberapa tips dari Pak Alviko sebenarnya sudah sejak lama saya terapkan, misalnya
·   tidak pernah berbelanja saat dalam keadaan galau. Selama ini jika merasa resah, galau saya larinya ke Allah. Lari ke mall juga percuma hanya membuat pusing kepala, apalagi jika tidak ada dana dan jadwal untuk berbelanja
·   menerapkan Management By Amplop dan membuat list. Membuat anggaran melalui pos-pos sesuai prioritas selama ini cukup efektif bagi saya. Dari kebiasaan ini saya memiliki dana cadangan yang terbukti beberapa kali membantu finansial keluarga

·  menggunakan uang tunai dalam berbelanja. Saya mungkin termasuk orang konvensional. Percaya atau tidak seumur hidup saya tidak pernah memiliki kartu kredit bahkan tak pernah berpikir untuk mengajukan aplikasi.

Beberapa tips lainnya menurut pak Alviko dan pemikiran saya sendiri adalah:
1.   Membebaskan diri dari mitos. Sudah dua tahun saya tak lagi menjadi karyawan. Selama itu pula saya bersyukur masih mampu membantu finansial keluarga meski tak sebesar dulu. Bahkan dari hasil kerja freelance keluarga kami masih tercukupi meski suami sempat jobless karena PHK berbulan-bulan. Namun saya masih harus menciptakan mindset berbeda bahwa berbicara tentang uang sama pentingnya dengan berkarya. Ya! Saya harus mulai banyak membaca segala sesuatu tentang investasi dan finansial. Saya juga harus lebih mampu menyulap tulisan dan blog saya sebagai sumber penghasilan.
2.   Membuka mata terhadap urusan finansial. Hadir dalam Talk Show Jumpa Blogger Sun Life ini membuat saya tak lagi buta masalah finansial. Saya ingin lebih banyak menyerap ilmu pengelolaan finansial. Mudah-mudahan semakin banyak undangan untuk blogger hadir dalam acara serupa atau undangan ke tempat-tempat wira usaha.

3.   Menggaji diri sendiri. Selama ini sebagai freelancer saya menghabiskan seluruh penghasilan saya untuk keluarga. Jadi terpikir sesekali menggaji diri saya sendiri dari sebagian penghasilan tersebut. Uangnya bisa saya sisihkan untuk membeli buku, cemilan yang saya suka atau bahkan dikumpulkan untuk membeli perhiasan. Bahkan harapan saya “gaji” tersebut nantinya bisa digunakan untuk modal membeli berbagai jenis produk investasi 
4.   Berani berinvestasi. Dahulu saya sempat berinvestasi reksadana. Tiga bulan pertama laporan keuangan sangat menguntungkan. Bulan berikutnya investasi saya jatuh bebas merosot sangat tajam. Karena panik dan khawatir menelan kerugian lebih besar saya jadi ketakutan dan menarik seluruh saham. Padahal reksadana sebenarnya merupakan investasi jangka panjang. Ketidaktahuan saya tentang masalah finansial membuat saya mudah panik dan kurang mampu bertindak secara rasional. Memperbanyak ilmu dengan membaca masalah finansial, mengikuti seminar atau mempertimbangkan tawaran agen-agen finansial mungkin akan membuat saya lebih paham. Setidaknya ada investasi yang paling mudah seperti ditawarkan pak Alviko yaitu : anting bayi. Sederhana saja niatnya agar uang 500-600 ribu rupiah tidak cepat habis bisa dibelikan anting bayi, dikumpulkan sepasang demi sepasang untuk membeli perhiasan lebih besar. Saya jadi berpikir mengalokasikan sebagian dari hasil kerja keras saya dari menulis freelance untuk investasi emas, mulai dari yang kecil tak mengapa daripada tidak sama sekali. Emas merupakan investasi jangka panjang yang tak pernah susut harganya. Mungkin dalam kurun waktu satu dua bulan harga emas berfluktuasi. Tetapi harga emas dalam lima tahun kemudian akan berlipat-lipat dari harga beli sekarang. salah satu faktanya adalah cincin yang saya beli dari hasil menjual gadget kenang-kenangan dari perusahaan saat saya berhenti bekerja. Dua tahun lalu harga 1 gramnya berkisar 432 ribu rupiah (emas 70% atau 23 karat). Saat ini harga emas 23 karat per gramnya mencapai sekitar 462 ribu rupiah. Lima tahun lagi harga perhiasan emas pasti lebih besar daripada harga saat ini.

Harga cincin emas 2013
Harga emas menurut Antam up to date

Saya juga terpikir untuk menambah premi asuransi. Sepertinya produk Brilliance Hasanah Sejahtera dari Sun Life sangat cocok untuk freelance seperti saya sebab ada poin Bebas menentukan Kontribusi dan Uang Pertanggungan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda
5.   Lebih disiplin saat menabung. Sebagian besar orang terkecoh dengan besaran bunga yang ditawarkan. Padahal tips menabung yang benar sebenarnya adalah: memperbesar setoran, melakukannya secara disiplin dan diterapkan jangka panjang. Semakin sulit prosedur menarik tabungan semakin efisien fungsi tabungan tersebut. Jika ingin menabung lebih baik menabung di produk tabungan berjangka yang hanya dapat diambil pada kurun waktu tertentu (misalnya setelah 3 tahun) dan tidak ada ATM. Saya juga memilih produk tabungan yang tidak mengenakan biaya bulanan, jarang menggunakannya untuk transaksi via ATM sehingga saldo tabungan tidak mudah tergerus oleh biaya-biaya.

Bijak mengelola keuangan tidak memerlukan sekolah harus diperoleh dengan mengkhususkan menuntut ilmu akuntansi atau managemen. Namun pengetahuan mengenai finansial akan mempermudah merumuskan langkah yang mendorong seseorang mencapai kemapanan finansial

12 comments:

  1. Tips yang menarik Mak ! Sesama mantan pegawai dan terjun ke dunia blogger, sepertinya saya harus menerapkan cara mengelola keuangan seperti yang udah diuraikan. Makasih sharingnya ya.. :)

    ReplyDelete
  2. susah banget kalau mengelola keuangan

    ReplyDelete
  3. aku juga ga punya kartu kredit mba :)

    ReplyDelete
  4. makasih sharing tentang keuangannya ya

    ReplyDelete
  5. sangat bermanfaat sekali nih pembahasannya

    ReplyDelete
  6. kereeennn..... yg baca jadi nambah pengetahuannya lagi nih
    semoga sukses ya mbak Dwi....

    ReplyDelete