Google+ Followers

Tuesday, September 22, 2015

Bijak Mengelola Keuangan Demi Kemapanan Masa Depan

Benarkah semakin tua usia seseorang artinya ia akan semakin kaya? Status kemapanan finansial seseorang dapat dilihat dari usia. Para financial planner di Indonesia mengkategorikan siklus kemapanan sosial menjadi tiga yaitu :
1.   usia 20-25 tahun (punya banyak waktu tapi sedikit uang)
2.   usia 25-35 tahun (punya cukup waktu tapi sedikit lebih banyak uang)
3.   usia 35-50 tahun (punya sedikit waktu tapi banyak uang).
Siklus kemapanan finansial tersebut disimpulkan dari rata-rata aktivitas masyarakat Indonesia. Di usia 20-25 rata-rata baru memulai karir dan lebih banyak mengutamakan having fun. Di usia 25-35 tahun karir yang dirintis mulai mapan dan penghasilan biasanya semakin besar. Di usia 35-50 tahun diharapkan seseorang sudah berada dalam kategori mapan secara finansial. Namun tidak setiap orang mencapai target sesuai siklus finansial yang dipaparkan para financial planner.
      Ditinjau dari usia saya, wanita 39 tahun, ibu dari dua anak seharusnya masuk dalam kategori ketiga mempunyai sedikit waktu tapi banyak uang. Namun faktanya disebut banyak uang juga tidak, disebut dalam kondisi sangat mengenaskan juga kurang tepat. Meski tidak memiliki mobil pribadi namun setidaknya kami memiliki rumah pribadi. Tetapi untuk persiapan sekolah anak-anak dan hari tua jujur saja saya dan suami harus lebih fokus dan berhati-hati merancang segala sesuatu hal yang berkaitan dengan finansial.
      Sebenarnya bagaimana tolak ukur “mapan secara finansial” diaplikasikan? Beberapa orang berpendapat mapan secara finansial itu jika telah memiliki rumah dan mobil pribadi, ada yang berpendapat jika tak lagi punya hutang, jika telah memiliki perusahaan sendiri atau mempunyai daftar kekayaan berupa aset finansial minimal ratusan juta. Secara umum seseorang disebut mapan secara finansial setidaknya jika penghasilan yang diperoleh mampu membiayai kehidupan sehari-hari termasuk biaya kesehatan dan pendidikan serta masih memiliki simpanan baik berupa tabungan atau investasi untuk masa depan. Kunci kemapanan finansial adalah mengelola pendapatan secara bijak sehingga mampu memberikan rasa aman dan nyaman serta tidak khawatir akan masa depan.
Sumber : huffingtonpost.de
      Mengelola finansial secara bijak demi masa depan lebih baik memerlukan langkah-langkah strategis. Ibarat mempersiapkan amunisi dan taktik sebelum maju ke medan perang maka seseorang harus mengenali kelemahan diri, keunggulan pribadi secara finansial dan tips mempersiapkan masa depan lebih baik secara finansial. Perumusan berdasarkan analisa tersebut dikenal dengan istilah SWOT Strength, Weakeness, Opportunities dan Thread.
Strength (Kekuatan)
Dalam merancang kemapanan finansial kekuatan utama seseorang terletak pada penghasilan. Baik itu pegawai dan karyawan, pekerja lepas dan paruh waktu atau wirausahawan dan pebisnis selalu memperoleh penghasilan dari kerja kerasnya. Kekuatan inilah yang harus diupayakan agar kemampuannya bisa dirasakan secara nyata, artinya dapat dimanfaatkan untuk membiayai kehidupan baik yang sedang dijalani dan untuk masa depan.
Kekuatan yang tak kalah adalah keyakinan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan manusia yang beriman yakin bahwa setiap individu memiliki garis rezeki yang harus diupayakan. Manusia dikaruniai akal dan pikiran sebagai modal mengais rezeki yang telah tersebar di muka bumi.
Weakeness (Kelemahan)
      Kelemahan terbesar dalam merancang kemapanan finansial adalah keterbatasan pengetahuan tentang dunia keuangan. Dalam kesempatan event Talkshow Jumpa Blogger Sun Life di Rocco Restaurant, Artotel Surabaya 12 September 2015, Alviko Ibnugroho sebagai pembicara memaparkan 8 Dosa Finansial yang lazim terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Disebut sebagai “dosa” karena kedelapan hal tersebut adalah sebuah kesalahan namun dilakukan sebagian besar orang dan biasanya terjadi secara berulang. 
      Kedelapan dosa finansial tersebut yang menjadi kelemahan dalam merumuskan kemapanan finansial adalah:
  1. Terperangkap Mitos Masyarakat, seperti mitos menjadi karyawan, menerima gaji tetap setiap bulan akan lebih menjamin secara finansial. Sedangkan profesi khusus seperti blogger, ahli kecantikan, desainer busana, pandai memasak dianggap hanya sebatas hobi dan bukan profesi yang mendatangkan kemapanan finansial
  2. Memilih untuk Buta Financial. Sebagian besar orang menganggap belajar finansial dan bicara tentang uang itu hal yang membosankan
  3. Manusia Cenderung Berjuang Untuk Bertahan Hidup bukan Berjuang Demi Keinginan Hidup.
  4. Tidak Menetapkan Target Financial. Sebagian besar orang tidak memiliki target-target finansial. Pendapatan dan pengeluaran dibiarkan mengalir tanpa perencanaan.
  5. Tidak Memprioritaskan Kemakmuran Financial. Hanya sedikit orang yang meluangkan waktu untuk fokus mewujudkan cita-cita mapan secara finansial. Sebagian besar orang lebih senang berwisata, jalan-jalan dan menikmati wisata kuliner daripada meluangkan waktu demi menetapkan konsep masa depan.
  6. Tidak Menggunakan Uang Dengan Bijaksana. Sebagian besar masyarakat Indonesia terjebak dengan cara mengelola uang secara tidak bijaksana. Melampiaskan kegalauan dan mengalihkan perhatian dari kesedihan dengan cara berbelanja, hura-hura di tanggal muda bagi para penerima gaji tetap lalu kebingungan di tanggal tua. Sebagian lain mengejar gaya hidup namun tidak berusaha memperbesar penghasilan sehingga menganggap kartu kredit, kredit tanpa agunan adalah jawaban dari permasalahan. Sebagian besar orang tua juga kurang bijak dalam mengajarkan pentingnya nilai uang bagi sang anak, membujuk anak dengan iming-iming hadiah atau uang agar tidak merengek atau bersedia melakukan suatu kegiatan tertentu adalah contoh yang kurang bijak.
  7. Tidak Membuat Anggaran. Sebagian besar orang Indonesia menganggap anggaran belanja individu atau keluarga itu kurang penting. Yang penting uang masuk rekening atau ada di dompet kemudian digunakan untuk pembiayaan pos-pos dianggap sudah biasa. Jika masih ada sisa berarti bisa ditabung jika habis tak mengapa, ini adalah anggapan yang salah
  8. Tidak Melakukan Investasi.
Kedelapan hal tersebut adalah kelemahan terbesar dalam mewujudkan kemapanan finansial dan perlu mendapatkan perhatian untuk diatasi.
Opportunities (Peluang)
      Memetakan kelemahan dan menyadari kekuatan membantu seseorang untuk menciptakan peluang. Peluang yang harus diperjuangkan untuk mendapatkan kesempatan mewujudkan kemapanan finansial adalah:
1.   Berpikir berbeda. Membebaskan dari mitos bahwa kemapanan finansial selalu datang dari gaji. Perlu diingat bahwa seorang karyawan tidak selamanya akan menerima gaji karena akan datang masa pensiun sehingga perlu menyusun langkah untuk mempersiapkan masa tersebut. Kaji kembali kemampuan, bakat dan minat dan berusaha untuk mengoptimalkannya demi mencapai kemapanan finansial. Hal ini pula yang pernah saya terapkan sebelum memutuskan meninggalkan dunia kerja kantoran. Sejak masih bekerja saya merintis untuk lebih tekun menulis. Kini saat sudah tak lagi menjadi karyawan saya mengisi waktu dengan bekerja sebagai penulis konten artikel di website dan mengoptimalkan blog sebagai sumber penghasilan melalui honorarium job review.
2.   Membekali diri dengan pengetahuan finansial. Semakin sering menghadiri seminar tentang tips mengelola finansial, mempelajari jenis-jenis investasi atau membaca buku-buku tentang keuangan akan menambah pengetahuan untuk bertindak secara rasional dalam mengelola keuangan.
3.   Menetapkan target. Demi mencapai kemapanan finansial seseorang harus memiliki target finansial yang jelas dan terukur. Misalnya menetapkan untuk menikah pada target usia tertentu dan membuat rancangan konsep pernikahan beserta perkiraan biaya. Target-target finansial akan mendorong seseorang lebih bijak dalam mengelola pendapatannya.
Starting a home salon with no money:
sumber : pinterest
4. Memanfaatkan teknologi dalam membuat planning anggaran. Teknologi berkembang pesat. Aneka software dan aplikasi gadget memungkinkan masing-masing individu untuk membuat catatan atau perhitungan. Gadget bisa menjadi pengingat kapan saatnya setor premi asuransi, menghadiri seminar finansial atau seekdar membuat catatan belanja bulanan agar tidak lapar mata saat berbelanja sehingga sesuai kebutuhan dan anggaran.
5.   Berinvestasi.
Investasi merupakan salah satu cara mempersiapkan masa depan dengan bijak. Menambah wawasan finansial membantu memahami model-model investasi jangka pendek dan jangka panjang. Belajar masalah keuangan menopang pengetahuan tentang seluk beluk investasi yang memiliki resiko tinggi dengan hasil lebih besar atau resiko kecil namun hasilnya tidak terlalu signifikan. Idealnya investasi dilakukan dalam beberapa bentuk sehingga tidak terpusat dalam satu keranjang. Contohnya untuk investasi jangka panjang bisa memilih reksadana bagi yang sudah paham seluk beluk finansial dan perkembangannya. Tabungan bisa berfungsi sebagai instrument investasi jangka pendek maupun jangka panjang namun perlu diperhatikan bahwa agar tabungan dapat menjadi cadangan masa depan jika dilakukan setoran secara disiplin dalam jumlah besar, rutin dan tidak diambil untuk berbagai keperluan dan sebaiknya dilakukan secara berkesinambungan. Investasi paling aman salah satunya adalah menyimpan uang dalam bentuk emas dan memiliki premi asuransi. Harga emas jangka panjang tak pernah mengalami penurunan. Harga emas sepuluh tahun lalu dibandingkan harga sekarang naik cukup signifikan. Asuransi membantu untuk menyisihkan penghasilan. Asuransi bisa berfungsi ganda sebagai tindakan proteksi maupun investasi. Asuransi Brilliance Hasanah Sejahtera milik Sun Life misalnya merupakan produk asuransi jiwa dan investasi dengan pembayaran berkala yang dikelola berdasarkan prinsip syariah, bebas menentukan kontribusi dan uang pertanggungan sesuai kemampuan dan membuka kesempatan bagi nasabah untuk melakukan penambahan dana investasi.
Sumber : shutterstocks

6.   Membuka peluang usaha.
Sebagian besar orang khawatir merugi atau bingung masalah modal ketika hendak membuka usaha. Jika ditelusur dengan bijak tidak semua jenis usaha membutuhkan modal besar. Wirausaha terbagi menjadi dua yaitu wirausaha hulu dan wirausaha hilir. Wirausaha hulu membutuhkan modal besar karena menghasilkan produk dan jasa. Wirausaha hilir memerlukan modal lebih kecil karena mengutamakan skill menjual dan bergerak di bidang distribusi. Pebisnis online, menjual sistem dropship adalah contoh dari wirausaha hilir karena memerlukan modal lebih kecil.
Threads (Ancaman)
      Seperti halnya maju di medan perang, merumuskan kemapanan finansial masa depan juga menghadapi berbagai ancaman dan hambatan contohnya:
1.   Ancaman PHK
Ketakutan terbesar bagi seorang karyawan adalah ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tidak dapat dibayangkan ketika harus kehilangan penghasilan tetap setiap bulan dan kebingungan mengalokasikan pesangon yang tidak seberapa untuk kebutuhan sehari-hari terutama bagi yang telah berkeluarga. Sementara simpanan terus menipis karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Solusi bijak untuk menghadapi ancaman PHK adalah membekali diri dengan skills. Keahlian merupakan modal untuk menghadapi ancaman terPHK. Membekali diri dengan kemampuan berbahasa asing membantu mendapatkan penghasilan sebagai penterjemah atau pemandu wisata. Mengasah kemampuan menulis membantu terbukanya pintu rezeki melalui media massa, blogging atau artikel konten website. Meningkatkan kemampuan desain web membuka peluang usaha desain web untuk blogger dan kegiatan promosi. Serius belajar memasak bisa membantu usaha kuliner atau memberikan pelatihan dan kelas memasak.
usaha setelah di PHK
gambar diambil dari sini 
2.   Investasi merugi
Investasi beresiko tinggi seperti reksadana dan saham seringkali menimbulkan was-was ketika nilainya menurun drastis. Bagi masyarakat awam dan pemula di bidang finansial akan lebih aman jika memilih investasi yang tidak terlalu beresiko seperti asuransi dan property. Dianjurkan untuk tidak memusatkan seluruh aset dan simpanan dana dalam satu jenis usaha atau investasi. Diharapkan dengan memecah  jenis investasi membantu meminimalisir resiko.
3.   Penghasilan stagnan
Kebutuhan hidup dan inflasi terus meningkat. Ketika pendapatan tidak mampu mengejar inflasi beban hidup terasa semakin berat. Kenaikan gaji tidak signifikan atau bisnis stagnan semakin menambah beban. Solusinya adalah mencari penghasilan tambahan seperti menjual pulsa, menjual makanan ringan serta menambah wawasan, keterampilan dan ilmu sebagai modal menambah penghasilan. Menekan biaya hidup dengan menerapkan penghematan di segala bidang sangat dianjurkan seperti misalnya mengurangi hutang atau meniadakan penggunaan kartu kredit, menghemat konsumsi listrik dengan memilih perangkat elektronik hemat energi, memilih jenis operator seluler yang seragam dalam keluarga untuk menghemat biaya komunikasi atau mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan memilih bersepeda jika memungkinkan.


Mapan secara finansial adalah harapan setiap orang. Namun tidak semua orang mampu menerapkan strategi untuk mencapai kemapanan finansial demi masa depan lebih baik. Bijak mengelola keuangan sejak dini merupakan pondasi untuk memantapkan strategi mencapai kemapanan finansial.

12 comments:

  1. lengkap sekali nih pembahasannya
    terimakasih mba nambah pengetahuan nih :)

    ReplyDelete
  2. Aku berjuang untuk meminimalkan keinginan yang tidak terlalu berguna :)

    ReplyDelete
  3. 8 Dosa FInansial ..... waaah masih harus banyak berbenah diri, saya Mbak.
    Beruntung ya teman2 di Surabaya bisa menghadiri acara Sun Life itu, jadi nambah wawasan.
    SUkses ya Mbak Dwi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mbak Niar, bisa hadir di acara jumpa blogger Sun Life tempo hari benar-benar rezeki, banyak ilmu diperoleh sesuatu yang nilainya setara dengan investasi :)

      Delete
  4. Wah baru tahu ada 8 dosa finansial...semoga bisa mengurangi dosa2 ini, nice article mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mbak Lyta, penyebutan yang unik : dosa = karena dilakukan berulang-ulang secara massal....makasih mbak sudah mampir :)

      Delete
  5. ulasannya sangat bermanfaat mak, jadi makin melek finansial nih :)

    ReplyDelete