Google+ Followers

Monday, July 27, 2015

No Fotografi di Makam Sunan Giri

Hafal nama-nama Walisongo dan perannya dalam syiar agama Islam di nusantara khususnya pulau Jawa? Salah satu sunan dari walisongo adalah Sunan Giri.

Saya baru sadar bahwa dari pusara kesembilan wali, lima makam terdapat di Jawa Timur yaitu
1. Maulana Malik Ibrahim yang terletak di pusat kota Gresik, tepatnya di desa Gapura Wetan
2. Sunan Ampel, putra Maulana Malik Ibrahim yang terdapat di belakang masjid Ampel, Surabaya 
3. Sunan Bonang di Tuban (konon terdapat perbedaan pendapat mengenai keberadaan makam Sunan Bonang, ada yang mengatakan bahwa makam Sunan Bonang berada di Majalengka Jawa Barat bahkan ada yang menyatakan makam Sunan Bonang berada di Rembang)
4. Sunan Drajat di Lamongan
5. Sunan Giri di Gresik

Sunan Giri adalah pendiri kerajaan Giri Kedaton dan memiliki beberapa nama julukan, antara lain Joko Samudro atau Raden Paku. Lokasi makam Sunan Giri tergolong unik karena terletak di puncak bukit. 

Menjelang akhir libur lebaran lalu kami berkesempatan mengunjungi makam Sunan Giri. Kebetulan searah dengan perjalanan menuju Tuban untuk menghadiri acara khitanan/aqiqah dari keponakan.

Rute menuju makam Sunan Giri dari arah Surabaya/Sidoarjo tidaklah terlalu sulit. Dari arah tol Surabaya-Gresik keluar melalui pintu tol Romokalisari. Ikuti jalan raya dan papan petunjuk menuju makam Sunan Giri. Sekitar  lima belas menit perjalanan akan terasa jalan semakin mendaki. Mendekati lokasi makam terdapat lahan parkir untuk menuju makam Sunan Giri. Lahan parkir ini ditujukan untuk rombongan yang menggunakan bus besar atau mungkin jika lahan parkir di dekat kompleks makam tidak mencukupi. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan kereta kuda alias dokar atau ojek motor. Namun kami dengan mobil sewaan dari rumah langsung menuju lokasi makam dan karena masih pagi, sekitar jam 7.30 lahan parkir masih cukup luas.

Tidak ada retribusi masuk kompleks makam, hanya harus membayar karcis parkir suka rela. Jika ingin ke kamar kecil juga memberikan sumbangan sesuai standar.

Lokasi makam yang mengharuskan mendaki bukit mungkin sedikit menyulitkan bagi peziarah yang sudah manula. Eh tapi saya pun sempat ngos-ngosan karena jarang berolahraga. Namun pohon-pohon rindang dan anak tangga membantu perjalanan lebih terasa ringan.


Satu hal yang menarik, menjelang kompleks makam utama (sepanjang perjalanan di kiri kanan anak tangga terdapat pemakaman, mungkin makam para santri sang Sunan. Tetapi kompleks makam utama yang terdiri dari makam Sunan Giri dan anak keturunanannya terdapat di puncak bukit dalam lokasi khusus) 
Makam Sunan Giri berada di dalam tempat khusus, tertutup dengan papan kayi berukir. Di bagian luar makam sang sunan terdapat makam anak-anak dan keturunannya di antaranya adalah makam Sunan Tengah dan Sunan Dalem.


Menjelang gapura makam utama terdapat spanduk bertuliskan "Dilarang meminta-minta di Makam Sunan Giri" nah saya menangkap maksud kata : meminta-minta bisa berarti dua hal yaitu : meminta-minta sebagai pengemis (sepanjang anak tangga banyak pengemis berjajar) atau meminta-minta "berkah". Hayoo ngaku berapa banyak yang datang ke makam ulama, sunan untuk meminta berkah?

Kalau saja mereka yang dimakamkan bisa berbicara mungkin akan menasehati para peminta berkah. Ingatlah bahwa tujuan berziarah kubur adalah sebagai pengingat bahwa kelak kita juga akan mati. Berziarah kubur juga disunahkan untuk membacakan doa bagi yang telah meninggal, berdoa untuk diri kita sendiri agar meniru kesalihan para ulama aman-aman saja asal doa tersebut ditujukan dan dipanjatkan kepada Allah SWT semata, bukan yang lainnya.

Pintu keluar wisata religi ini melewati barisan para pedagang di kios-kios yang menjajakan aneka suvenir dan makanan khas kota Gresik. Ada rebana bertuliskan Wisata Religi Makam Sunan Giri, kaos bertuliskan hal yang sama, biskuit topping gula-gula dan aneka penganan lainnya yang dikemas dalam kemasan plastik mini seharga 10 ribu untuk 3 jenis camilan.
Kok foto-fotonya hanya di luar kompleks makam utama sih? karena memang ada papan "dilarang memotret di makam Sunan Giri". Saya hanya mematuhi peraturan saja, banyak pertimbangan mengapa ada peraturan dilarang memotret. Mungkin karena khawatir foto-foto tersebut dikomersialkan, diedit sedemikian rupa sehingga memunculkan "penampakan" atau untuk keperluan yang tidak pantas dilakukan. Selain itu mungkin juga akan mengurangi kekhusyuan orang yang sedang berdoa. Namanya kan wisata religi, tujuannya adalah untuk mencari ketenangan hati agar lebih dekat kepada Sang Illahi.

Berada di sini, merenung sejenak betapa para sunan, ulama zaman dulu berjuang di jalan dakwah dengan segala kesulitannya, mengadakan perjalanan jauh, mendapat pertentangan dari mereka yang merasa "risih" dan "terancam" oleh syiar Islam. Padahal para wali tidak menetapkan upah, bayaran, ongkos transportasi dan pungutan apapun. Terbayang bagaimana cara lemah lembut diterapkan mereka sehingga masyarakat memeluk Islam dengan sula rela, tanpa paksaan.

Khusus di makam Sunan Giri ini terbayang betapa hormatnya para santri kepada guru. Kebayang ngga sulitnya medan untuk memakamkan sang guru di atas bukit yang saat itu belum dibangun tangga permanen seperti sekarang?

Buat saya berwisata religi seperti mengunjungi makam ulama, sunan atau masjid bersejarah adalah untuk mendapatkan hikmah. Hikmah tentang Islam yang sebenarnya, agama Rahmatan Lil Alamin seperti yang diharapkan Sang Pencipta dari para pemeluknya.


1 comment: