Google+ Followers

Friday, March 13, 2015

Stroke, Sang Pencabut Nyawa Papa

"Jangan suka marah-marah nanti bisa kena hipertensi loh”. Begitu biasa kita dengan orang menasehati si pemarah. Lain kesempatan ada yang berkata “orang itu kok bawaannya marah-marah terus, hipertensi mungkin ya, bahaya itu bisa kena stroke” Jadi mana yang lebih tepat antara dua pendapat tersebut : terlalu mudah marah adalah salah satu ciri-ciri penyakit hipertensi atau terlalu sering marah bisa menyebabkan penyakit darah tinggi dan diakhiri dengan stroke yang sangat berbahaya ?

Menurut penelitian medis ketika marah maka tekanan darah akan meningkat dengan tajam, jantung berdetak lebih kencang. Akibatnya tubuh akan menderita perubahan yang sangat signifikan. Sel-sel tubuh perlahan akan mengalami kerusakan. Berbagai resiko terjadi akibat terlalu mudah marah seperti terjadinya stress yang memicu penyakit diabetes, hipertensi, gangguan pernapasan dan penyakit jantung serta gangguan tidur.

Hipertensi identik dengan stroke. Hal ini bukan sekedar dugaan atau hipotesa tanpa alasan tetapi secara medis memang menunjukkan keterkaitan. Stroke merupakan kondisi ketika terjadi penurunan pasokan Oksigen dalam darah akibat pecah dan penyempitan pada pembuluh darah yang menuju ke otak akibatnya beberapa organ tubuh mengalami kelumpuhan. Bahkan hipertensi yang berujung stroke adalah penyebab kepergian Papa menghadap Sang Maha Kuasa di tahun 1993. 


Semasa hidupnya Papa memang bukan orang yang penyabar, dibandingkan Mama Papa lebih mudah marah. Meskipun begitu Papa adalah kepala rumah tangga yang sangat menyayangi keluarga. Di sela kesibukan sebagai karyawan swasta Papa seringkali meluangkan waktu berwisata kuliner meski kami harus berboncengan sepeda motor beriringan dengan sepeda kayuh di warung bakso beberapa kilometer dari rumah. Demi menghidupi anak dan keempat anaknya beliau sering kerja lembur saat kapal-kapal merapat untuk bongkar muat.


Hingga suatu ketika serangan stroke ringan membuat Papa harus menderita lumpuh di separuh badan. Sebelum stroke ringan melanda Papa memang sering mengeluh bagian kepalanya sakit. Jika diperiksa oleh dokter tekanan darahnya selalu di atas kisaran normal 120/80 mmHg. Obat-obatan hipertensi menjadi bagian dari hidupnya? Tetapi ternyata tak mampu melindungi Papa dari serangan stroke. Pasca serangan stroke bagian tangan dan kaki kiri Papa tidak bisa berfungsi sempurna, melangkah pun harus menyeret dan tangan kirinya tidak bisa berfungsi normal sehingga saat mengancingkan baju pun harus mendapat bantuan. Di kota kecil kami, lebih dari tiga puluh tahun lalu belum berdiri klinik terapi stroke. Fasilitas medis untuk fisioterapi di rumah sakit pun sangat minim, satu-satunya terapi stroke yang bisa dilakukan saat itu adalah teknik akupunktur dengan bantuan sinshe.Tidak banyak perubahan pada syaraf-syaraf Papa yang terlanjur rusak karena stroke. Meski begitu Papa terus bekerja, hanya tak lagi mampu mengendarai motor dan berlangganan tukang becak untuk mengantar jemputnya. 


Serangan stroke kedua terjadi dua tahun kemudian. Seperti ulasan medis, serangan stroke kedua sangat mematikan dan itu benar. Stroke yang strike!. Tak ada tanda-tanda sebelumnya bahwa Papa akan menderita serangan stroke kedua. Ketika sedang menikmati mie pangsit langganan yang biasa mengitari kampung, masih beberapa suap beliau telan tiba-tiba beliau jatuh dari kursi makan. Mama menjerit ketakutan. Tetangga berdatangan dan membantu Papa, menggotong beramai-ramai ke tempat tidur. Seorang tetangga yang juga mantri kesehatan datang memeriksa, menyatakan Papa lumpuh total. Tak menunggu lama tetangga membawa Papa opname di rumah sakit. Saya yang saat itu masih duduk di bangku kelas dua SMA, kakak sulung dan Mama menjaga bergantian. Seminggu kemudian Papa meninggal dunia di usia lima puluh tahun, setelah tiga hari sebelumnya kehilangan kesadaran dan mengalami koma. Sejak itu kami berempat menjadi yatim dan keadaan finansial keluarga terguncang hebat hingga harus memerlukan bantuan dari kerabat.


Kenangan bersama Almarhum Papa


Stroke, adalah penyakit perenggut jiwa di urutan ketiga sedunia. Menurut data Departemen Kesehatan RI di tahun 2011 setiap seribu orang penduduk Indonesia, delapan orang diantaranya menderita stroke. Setiap tujuh orang yang meninggal di Indonesia karena penyakit, satu diantaranya disebabkan oleh stroke. Tak terbayangkan berapa banyak anak-anak yang harus menjadi yatim atau piatu ketika orangtua tercintanya pergi karena menderita stroke di usia yang masih bisa dikategorikan produktif. 

Belajar dari pengalaman pahit, saya berupaya kilas balik, kira-kira apa saja yang menjadi penyebab Papa menderita hipertensi dan berakhir dengan stroke ?. Dengan memahami tanda-tanda stroke dan faktor pemicu stroke setidaknya meningkatkan kewaspadaan dan upaya pengobatan atau menghindari stroke bisa dilakukan sejak dini. 

Tanda-tanda penyakit stroke perlu diwaspadai. Beberapa keluhan berikut dialami papa ketika menderita stroke yaitu :
  • rasa kebal atau mati rasa mendadak pada salah satu bagian tubuh
  • merasa bingung dan kesulitan berbicara (lidah mendadak kelu, bibir miring sebelah)
  • kehilangan keseimbangan tubuh secara mendadak
  • pusing tanpa akibat yang jelas
  • pandangan mata tiba-tiba merasa kabur
Stroke bisa terjadi secara perlahan-lahan (iskemik) sehingga penderitanya bahkan tidak merasa namun jika tidak segera diatasi akan menyebabkan keadaan semakin buruk dan menyebabkan kematian sel otak.

Mengapa stroke bisa terjadi pada Papa? Hal-hal berikut menjadi catatan khusus:
1. Papa senang sekali makanan berlemak dan mengandung kolesterol tinggi. Beliau paling suka makan skengkel (kaki sapi), sop buntut, makanan berkuah santan.
2. Beliau termasuk penggemar kopi meski bukan perokok. Secangkir kopi adalah minuman Papa di pagi hari
3. Terlalu sering kerja lembur sehingga kurang istirahat
4. Jarang berolahraga padahal di masa muda Papa adalah jagoan tenis meja dan sering menang di pertandingan yang diadakan perusahaan
5. Lebih mudah marah


Faktor-faktor tersebut kemungkinan besar adalah penyebab stroke yang diderita Papa. Ditinjau secara medis stroke terjadi karena dua hal utama yaitu :
a. Faktor resiko medis - disebabkan oleh riwayat hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, gangguan jantung dan terjadi arteriosklerosis
b. Faktor gaya hidup atau kebiasan berperilaku - seperti kebiasaan mengkonsumsi makanan berlemak, junk food, jarang berolahraga

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencegah stroke ? tentunya dengan menghindari hal-hal yang berpotensi memicu hipertensi dan stroke.
1. Rutin berolahraga. Olahraga membantu melancarkan peredaran darah. Olahraga yang teratur membantu tercapainya berat badan ideal sehingga menurunkan resiko terjadinya obesitas yang memicu berbagai macam penyakit termasuk stroke.
2. Lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayur daripada daging merah dan makanan berlemak. Makanan berlemak merupakan salah satu penyebab tingginya kadar kolesterol jahat dalam diri.
3. Cukup istirahat. Karena stroke bisa terjadi akibat pikiran dan tubuh yang terlalu diforsir untuk bekerja berat
4. Rajin memeriksakan diri atau general check up. Minimal memeriksakan tekanan darah dan kadar gula setiap bulan sekali. Perlu diingat bahwa menurut penelitian medis di tahun 2011 (jian et.al) ditemukan fakta bahwa tidak semua pasien hipertensi memiliki resiko lebih tinggi menderita stroke dibandingkan pasien tekanan darah rendah. Subyek dengan tekanan darah normal bisa berpotensi menderita stroke. Namun secara teoritis semakin tinggi tekanan darah proses fisiologis akan lebih menjadi penyebab patologis sehingga stroke lebih mudah menyerang.
5. Bergaya hidup sehat. Di zaman teknologi canggih berbagai layanan kebugaran dan kesehatan membantu masyarakat bergaya hidup lebih sehat. Terapi ozon adalah salah satunya. Terapi ozon membantu meningkatkan daya serap Oksigen oleh darah dan memperlancar proses transportasi darah alam tubuh. 

Jika terlanjur menderita stroke, apa yang harus dilakukan ? serangan stroke pertama biasanya akan menyebabkan kelumpuhan pada separuh badan. Serangan stroke kedua merupakan serangan yang sangat fatal dan bisa berakibat kematian. Jika pernah mengalami stroke atau mendapati keluarga menderita stroke maka yang perlu dilakukan adalah:
a. Diet makanan ketat. Penderita stroke yang disebabkan oleh hipertensi harus lebih berhati-hati mengkonsumsi makanan, hindari junkfood dan kurangi garam. Perbanyak buah dan sayuran
b. Rutin menjalani Terapi Stroke sebagai upaya fisioterapi untuk memulihkan syaraf yang menderita kelumpuhan akibat serangan stroke. Menstabilkan tekanan darah harus dilaksanakan secara bertahap sebab penurunan tekanan darah secara tiba-tiba dapat menyebabkan resiko terjadinya stroke hemoragik.
c. Berpikir positif. Stress hanya akan memperumit masalah dan memperburuk kondisi tubuh.


Ketika sakit menyerang barulah terasa bahwa kesehatan mahal harganya. Meski dalam agama diyakini bahwa sakit adalah penggugur dosa namun menjaga kebugaran adalah salah satu perwujudan berterimakasih atas karunia Allah berupa kesehatan. Tak perlu menunggu sakit untuk menyadari nikmatnya sehat. salah satu dari lima perkara mengenai pelajaran kehidupan adalah memanfaatkan masa sehat sebelum sakit. Mari membiasakan hidup sehat dan lakukan sedini mungkin.

 Terapi Ozon

4 comments:

  1. bapak mertua saya juga meninggal krn stroke di serangan ke 3. memang penting mnjg kesehatan sejak dini ya mba

    ReplyDelete
  2. Betul mbak, mencegah lebih baik daripada menanggulangi ....

    ReplyDelete
  3. Bapakku juga punya hipertensi.meninggal karena komplikasi jantung dan hipertensi.jantungnya bengkak

    ReplyDelete
  4. Penyakit degeneratif memang sangat berbahaya ya mbak Tatit dan kecenderungannya anak keturunan beresiko lebih tinggi menderita penyakit yang sama...

    ReplyDelete