Google+ Followers

Friday, May 31, 2013

Sahabat Sejati Ada Hingga Akhir Nanti


Pernahkah kita berpikir tentang apa jadinya hidup jika tak pernah memiliki sahabat ?
Dan apa arti sahabat bagi kehidupan kita di dunia fana ini ?
Bagi saya pribadi, sahabat  adalah teman curhat, ia tak selalu membenarkan kata-kata dan kelakuan kita, namun ia pastilah orang yang peduli dan berani mengingatkan kita untuk selalu berkata dan berperilaku yang benar. Seperti udara, ia selalu ada, meski tinggal kenangan atas sebuah momen istimewa bersamanya, layaknya air, ia membasuh jelaga yang melekat dalam pikiran kita, memadamkan api amarah. Ia mungkin tak selalu hadir di sisi, namun nasehat positifnya selalu menemani.
Jadi masihkah saya punya sahabat  saat ini ?
Bertahun-tahun lalu, saat masih remaja saya memiliki beberapa sahabat sesuai tingkatan sekolah yang saya miliki. 
Namun yang paling berkesan adalah dua sahabat  saya di masa kuliah, Minarti dan Hari Suryawati namanya. Mengapa dia yang paling istimewa di mata saya ?, maklumlah bagi orang rantau, jauh dari orang tua karena harus tinggal di kost-kostan murah meriah dengan segala keterbatasan, sahabatlah yang selalu menemani kita di kala suka dan duka.
Hari Suryawati adalah teman satu kost-an, eits jangan salah, meski namanya Hari, ia seorang cewek tulen, dari Madiun. Ia bukan malaikat yang selalu siap sedia menghibur di saat saya sedih dan gundah gulana, ia anak yang keras kepalanya sama dengan saya namun juga perasa bahkan kami sempat bersitegang (saya lupa apa sebabnya) dan karena jarak yang merenggang itu saya merasa hidup saya hampa...karena selama tinggal dalam satu rumah kost, dia yang paling dekat dengan saya, yang paling saya percaya, saya sempat menangis setiap selesai sholat untuknya, agar kami bisa kembali akrab seperti dulu, menulis puisi yang kutulis dan kutempel di dinding kamar, berharap ia tau...saya rinduuu. Dan Allah menjawab doaku, di masa-masa akhir kuliahku, saya terserang Demam Berdarah, hampir saja terlambat untuk penanganannya karena dokter yang memeriksa saya hanya berkata : infeksi di lambung dan alergi padahal meski sudah minum obat dari dokter darah mulai keluar dari gigi geligi dan lubang-lubang lainnya, atas inisiatif teman-teman, mereka meminta Hari yang menghubungi tetangga kost saya yang kebetulan seorang mahasiswa kedokteran, mereka pula yang membawa saya ke dokter lain dan kemudian harus opname malam itu juga.

Hari dan teman-teman kost yang menemani saya malam itu di rumah sakit, karena Mama saya tinggal di luar kota dan kami tidak memiliki pesawat telepon di rumah, sehingga teman-teman mengirimkan telegram untuk mengabarkan berita emergensi. Dapat dibayangkan, berapa biaya talangan yang teman-teman keluarkan untuk kebutuhan-kebutuhan saya selama di rumah sakit sambil menanti Mama datang. Hingga saat ini saya merasa berhutang nyawa kepada mereka, terutama Hari dan sang dokter muda. Saya bahagia karena di acara pernikahan saya Hari dan beberapa teman kost saya menghadiri acara sederhana tersebut. Sayang saat Hari menikah, ia tidak mengirimkan undangan, nomor Hpnya pun saya dapatkan dari mengais info di sana-sini, betapa senangnya ketika saya mendengar suaranya lagi dan saya transferkan sedikit pulsa (karena saya penjual pulsa elektrik) sebagai hari ulang tahunnya. Beberapa kali kami sempat saling telepon dan sms, ia tinggal nun jau di Purwakarta bersama suami dan anak lelakinya yang saat itu masih balita sementara saya di Sidoarjo. Untuk kesekian kali saya merasa kehilangan ketika nomor handphonenya tak lagi bisa dihubungi, entah apa sebabnya, mungkin saja nomornya hangus tanpa ia sadari dan tidak sempat menghubungi. Saya berharap kembali dapat menyambung tali silaturahmi dengannya, untuk itulah saya menulis kisah ini, mungkin ada yang dapat memberikan informasi tentang Hari Suryawati - pernah kuliah di FE jurusan manajemen Universitas Brawijaya Malang, angkatan 1994.

Sahabat  saya yang kedua adalah Minarti, teman satu jurusan di Kimia UB, ia tak hanya sahabat  yang membebat luka, namun juga mentor jempolan bagi saya, karena ia sangat hebat di ilmu Kimia terutama Kimia organik, masih akan selalu kuingat, kami saling mendukung, berakting sebagai dosen penguji saat salah satu dari kami hendak maju ujian proposal, ujian progresif laboratorium dan ujian Komprehensif untuk skripsi, agar kami semakin mempersiapkan diri untuk meraih hasil maksimal hingga final.
Ia adalah sahabat  yang welas asih, ia mengerti saya bukan anak orang kaya, karena sebagai yatim saya harus bertahan kuliah dengan cukup makan sehari dua kali, itu pun menu paginya hanya mie instan, ia tak segan menjahitkan saya rok hitam untuk seragam maju ujian dan saya tak mampu membalasnya, hanya dengan memberikan kaset lama Iwan Fals sebagai kenang-kenangan yang diterimanya dengan suka cita. Di akhir kuliah, saya sempat curhat bahwa saya mungkin tidak akan mengikuti wisuda karena tak ada biaya, bahkan SPP terakhir saya sedang di ambang bahaya, Minarti menawarkan uang tabungannya, saya terkejut karena ia pasti juga membutuhkan uang itu, saya menolaknya halus karena khawatir tidak mampu membayarnya. Akhirnya Mama menjual sepeda kayuh kami satu-satunya untuk membayar SPP terakhirku dan rapelan beasiswaku selama setahun mencukup biaya-biaya praktikum untuk skripsi dan wisudaku. Saya bahagia, bisa wisuda bersama Minarti, berfoto ria bersama Mama dan (almarhumah) adik sebuah kenangan yang sangat berharga, bagi anak yatim yang meraih cita-cita dengan susah payah. Selepas kuliah kami masih saling bersilaturahmi, lewat surat atau kadang jika ada uang lebih hasil kerja part time ku di tambak ikan, kuluangkan waktu ke wartel untuk menelponnya. Kini, dengan semakin sibuknya kami sebagai ibu (apalagi Minarti berkarir sebagai guru) intensitas silaturahmi tak sering seperti dulu.

Mereka berdualah sahabat  yang pernah teramat berarti mengisi kehidupanku...
Namun usia yang beranjak dewasa, membuatku tersadar aku tak lagi punya sahabat yang selalu ada dan kami bisa sering bercerita tentang apa saja, karena wanita berkeluarga waktunya banyak tersita untuk mereka yang tercinta.
Seiring berjalannya waktu, kusadar sahabat sejatiku hanyalah Dia Yang Maha Satu.
Curhatku tak sia-sia
Rahasiaku aman bersamaNya
Tak semua yang kuinginkan Dia menjadikannya nyata
Namun apa yang kubutuhkan selalu ada.
Dia lah sahabat setia
Hingga saat aku benar-benar bertemu denganNya

“Tulisan ini diikut sertakan dalam GA “Siapa Sahabatmu?” pada blog senyumsyukurbahagia.blogspot.com, hidup bahagia dengan Senyum dan Syukur”

No comments:

Post a Comment