Google+ Followers

Wednesday, May 15, 2013

Cerdas Yang Menular

"Anak ibu cerdas sekali, selamat telah memenangkan perlombaan ini" begitu sering kita mendengar ucapan dari juri atau panitia lomba kepada orangtua peserta yang mayoritas adalah anak-anak usia sekolah.

Kita mengenal sebutan manusia cerdas. Ada juga manusia yang dianggap tidak cerdas atau dikategorikan lambat berpikir. Jumlah manusia yang memiliki pemikiran yang cerdas dapat dikatakan cukup banyak, tetapi jarang sekali orang membahas tentang cerdas yang menular. Perlu diingat pula bahwa kecerdasan tidak hanya ditunjukkan oleh peringkat dalam kelas namun kecerdasan emosional yang diwakili oleh besarnya simpati dan empati hingga kemauan berbagi adalah suatu bentuk kecerdasan yang patut kita hargai.

Apa sih yang dimaksud dengan cerdas yang menular itu ?
“Kita sangat jarang atau bahkan dapat dikatakan tidak pernah mendengar ada kecerdasan yang mampu menular ke orang lain. Hal yang paling sering kita dengar adalah penyakit yang menular atau rasa emosional yang dapat menular ke orang lain,” ujar Ermalen Dewita, motivator pemberdayaan diri yang aktif memberikan pelatihan pengembangan diri ini.

Ternyata, dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa kepintaran atau kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang bisa ditularkan kepada orang lain. Pernyataan ini bukan sekedar rumor, tetapi diperoleh melalui pengujian terhadap sampel yang didapatkan dari lingkungan akademik. Sampel yang digunakan dalam pengamatan ini, berasal dari para siswa yang berada di wilayah tersebut. Dari hasil penelitian, diperoleh sebuah kejutan yang sungguh spesial. Ternyata, kecerdasan bisa menular atau bisa disebut cerdas yang menular.

Faktanya seorang anak memiliki peringkat ke-100 di sekolah yang  kemudian berteman dengan anak yang memiliki peringkat ke-50, mengalami kenaikan peringkat hingga 10-15 peringkat. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang bisa ditularkan. Memiliki lingkungan yang baik akan mampu membuat orang lain menjadi baik pula, seperti yang telah dibuktikan oleh anak kenaikan peringkat si anak yang awalnya berperingkat ke-100 dikarenakan berteman dengan anak yang lebih pintar.

Dewi, panggilan akrab Ermalen Dewita, mengatakan, “Kualitas diri seseorang dapat dilihat dari lingkungan dan teman-teman yang sering diakrabinya. Semakin tinggi tingkat kecerdasan teman yang diakrabi, akan semakin besar peluang bagi diri kita untuk menjadi lebih pintar. Sebaliknya, bagi mereka yang pintar, tidak akan bertambah bodoh. Karena, tidak ada yang dapat membuktikan, seorang guru akan menjadi bodoh ketika mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada muridnya. Malah, guru menjadi lebih pintar karena banyaknya pertanyaan dan masalah yang ditemukan”

Terbukti bukan bahwa cerdas yang menular ada. Berteman sebaiknya memilih teman yang membawa kita menuju kebaikan.
Perumpamaan mencari teman yang baik ini dapat kita temui di hadits Rasulullah : “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Mari mencari teman yang cerdas secara pengetahuan dan emosional agar kita terpengaruh menjadi insan cerdas dan menebar kebaikan.

Personal Branding Agency, Indscript Creative

No comments:

Post a Comment