Google+ Followers

Tuesday, April 5, 2016

Meluruskan Arti Pendidikan Melalui Ujian Sekolah

Ujian Nasional untuk SMP dan SD sudah di depan mata. Beberapa tahun belakangan menjelang ujian sekolah nasional adalah saat-saat sibuk dan menegangkan bagi siswa dan walinya. Termasuk saya sebaga ortu siswa. Rafi si sulung kinkelas 6 SD. 

Bagaimana tidak tegang jika ujian sekolah tanpa sadar dianggap sebagai ancaman. Nilai buruk? terancam tidak lulus sekolah apalagi ketika standarisasi nilai berlaku nasional. Nilai kurang memuaskan terancam tidak dapat melanjutkan di sekolah lanjutan yang diimpikan. Syukurlah tampaknya Ujian Sekolah Nasional tahun ajaran 2015/2016 tidak terlalu mengerikan seperti ujian nasional di tahun-tahun sebelumnya sebab standarisasi kelulusan tidak hanya berpatokan pada hasil ujian nasional namun juga ujian yang diselenggarakan pihak sekolah serta penilaian kepribadian siswa selama di bangku sekolah. Etapi kira-kira ada pengaruhnya nggak ke proses penentuan standard nilai di sekolah lanjutan. Biasanya kalau nilai kelulusan dikatrol sedemikian rupa maka standard masuk sekolah lanjutan juga terpengaruh kan ya?
Foto dari FP Anies Baswedan

Contoh nyata tentang betapa mirisnya hati ketika membaca berita dua tahun lalu tentang anak SD kelas 6 gantung diri karena takut tidak lulus sekolah.
Ngga jauh-jauh teman sekelas Rafi sendiri yang notabene tetangga saya pernah bilang sama Rafi : "Fi, ojok pinter-pinter, aku nanti makin susah ngejarnya".
Wow, sekolah kok jadi semacam arena balap mobil >_<

Sudah saatnya siswa dan orang tua murid mengubah persepsi tentang tujuan diadakannya ujian sekolah sebenarnya. Ujian sekolah bukan ancaman namun penilaian standar untuk mengetahui apakah sang siswa telah memperoleh ilmu yang bermanfaat selama masa sekolahnya, adakah pembentukan karakter telah tertanam pada diri sang anak, apakah sang anak mampu bersosialisasi dengan baik dan penilaian-penilaian lain yang tidak sekedar berdasarkan angka. 

Ujian sekolah adalah bagian dari pendidikan. Kata dasar "didik" dapat diartikan mengarahkan untuk menjadi lebih baik. Sangat disayangkan jika pihak sekolah dan orang tua serta masyarakat pada umumnya hanya menekankan kepada pencapaian nilai ujian sementara sang anak tak kunjung mandiri, kurang mampu bersosialisasi dan ilmu yang diperoleh tidak dapat diaplikasikan dalam hidup sehari-hari.

Lagi mikir-mikir, menasehati diri sendiri juga tentang apa yang harus diupayakan agar ujian sekolah tak lagi dianggap sebagai ancaman:

1.  Menumbuhkan kesadaran kepada diri siswa bahwa ujian sekolah adalah bagian dari proses yang harus dihadapi. Tak ubahnya ujian kenaikan tingkat pada ekstrakurikuler bela diri, bahwa ujian sekolah lebih mirip tantangan-tantangan yang harus dihadapi pada level game dan permainan agar bisa naik ke level berikutnya, bahwa ujian sekolah tak ubahnya ajang pengukuran kemampuan siswa seperti menonton kuis dan cerdas cermat di televisi. Mencoba mengkondisikan alam bawah sadar siswa bahwa tak perlu khawatir dan ketakutan menghadapi ujian sekolah akan membantunya lebih rileks dan tenang menghadapi ujian. Kenapa saya mengambil contoh sama dengan level game, karena Rafi suka banget ngegame hiks.

2. Mempersiapkan kemampuan siswa dalam menghadapi ujian. Meski tetap rileks menghadapi ujian namun persiapan menghadapi ujian harus diupayakan lebih maksimal. Persiapan jauh-jauh hari biasanya hasilnya lebih optimal daripada sistem belajar kebut semalam. Oleh karena itu mengikutsertakan anak dalam bimbingan belajar dan pengayaan pelajaran perlu dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan ujian. Belajar rutin setiap hari akan lebih berdampak positif bagi otak daripada belajar keras dan otak diforsir mendekati ujian. Nah ini terus terang masih sulit diterapkan buat Rafi. Dia lebih suka belajar menjelang ujian karena dia beranggapan saat les kan sudah sama dengan belajar? iyes...boleh juga deh anggapannya :D

3. Memberikan waktu jeda. Belajar giat bukan berarti meniadakan waktu istirahat. Layaknya mesin, pikiran dan raga tetap harus beristirahat dengan cukup. Les dan bimbingan belajar siang hingga malam tanpa jeda bukan jaminan sang anak akan jauh lebih pintar. Kemungkinan ia malah jenuh dan ilmu yang diserap kurang maksimal. Wis to percoyo..wong kita pasti pas sekolah sudah pernah mengalaminya sendiri kan?

4. Tidak menetapkan target di atas kemampuan. Salah satu "kesalahan" orang tua adalah berharap terlalu besar kepada si anak. Alasan gengsi misalnya menjadikan orang tua memasang target agar si anak bisa diterima di sekolah favorit. Alangkah lebih bijak jika orang tua tetap mempertimbangkan aspirasi sang anak tentang sekolah idamannya sembari tetap mendukungnya dengan berbagai fasilitas belajar serta memberikan masukan berbagai pilihan sekolah yang kemungkinan lebih mudah dituju daripada sekedar mengejar sekolah favorit.

5. Bangkitkan sisi religius. Kewajiban umatNya adalah berikhtiar dan berdoa. Bangkitkan sisi religius siswa untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta. Doa-Ikhtiar-Doa adalah paket 3 in 1 yang tak dapat dipisahkan. Mulai dengan doa dan akhiri dengan doa. Namun perlu dipertegas kembali bahwa kedekatan makhluk kepada Penciptanya tidak hanya saat susah, ketika menjelang ujian. Sama halnya dengan sistem belajar yang efektif semangat spiritual hendaknya dilakukan secara kontinyu, berkesinambungan dan istiqomah. Saya seneng banget baca berita tentang sekolah-sekolah mengajak muridnya beristighotsah menjelang ujian. Asal nggak pakai acara nyelupin pensil ke air kembang #eh

Satu hal yang terpenting ketika mempersiapkan siswa menghadapi ujian adalah menanamkan nilai kejujuran. Beban target yang terlalu tinggi agar siswa meraih prestasi dapat menyebabkan anak menghalalkan berbagai cara. Curang, mencontek, membeli kunci jawaban dan perbuatan-perbuatan lain yang mungkin hanya akan memberikan dampak negatif. Maka tujuan pendidikan untuk menghasilkan generasi muda yang tangguh, mandiri dan mampu bekerja keras akan sia-sia hanya demi mengejar hasil instan belaka.
Iniiih yang paling saya tekankan ke Rafi : Mama lebih suka kamu mendapat nilai 7 tapi hasil kerja kerasmu sendiri, daripada nilai 10 tapi dapat nyontek => ini saya ucapkan lantang dengan wajah judes, silahkan bayangkan sendiri

No comments:

Post a Comment