Google+ Followers

Thursday, April 7, 2016

Benarkah Nama adalah Identitas Diri ?



Tentang Arab dan IndonesIa.  Jadi pengen posting tentang "nama dan identitas". 

Sebenarnya postingan  ini adalah post status saya d FB pas rame-rame kasak kusuk masalah nama bayi cucu pertama RI1 ..jadi teringat pengalaman sendiri. Pas masih kerja salah seorang rekan kerja saya nanya nama anak saya yang kedua. Si teman langsung komen : kok nama anakmu nggak ada unsur Islam/Arabnya : Raditya Damar Pradipta. Nanti malaikat pembawa rahmat ngga bisa ngenalin anakmu. Wah langsung saya balas : loh masa' malaikat kok punya sifat rasis toh Pak, mosok beda2-in umat berdasarkan suku. lagipula kalau malaikat gak mempedulikan orang-orang yang namanya tak mengandung unsur arab artinya kita juga gak masuk itungan...lah sampeyan namanya juga ...Bambang 
upset emotikon
Hahahaha........

Nama kedua anak saya mungkin "njawani" banget, meski nama si sulung masih ada "arab-arabnya" = Rafif. Tetapi saya percaya bahwa nama anak yang disematkan orangtua adalah sebagian dari doa. Maka arti nama si duo Rara itu memiliki makna agar mereka mampu menjadi cahaya dan menjadi pemimpin dalam segala kebaikan. Cahaya, nggak mesti harus "Nur" toh, boleh kan saya menggunakan nama Danu atau Damar?. Pemimpin, mengapa kok selalu berdoa agar anaknya menjadi pemimpin. Trus siapa yang bakal menjadi anak buah?. Tidak sesederhana itu. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda "Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dan dia bertanggung jawab atas harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (Muttafaqun ‘alaihi).
Teringat kata pemimpin atau imam saya jadi teringat ketika hendak membuat undangan pernikahan 14 tahun lalu. Saya merasa "jenuh" dengan tafsir surat Ar Ruum 21 yang biasa tercetak di undangan pernikahan. Ingin ayat yang "tidak pasaran" jadilah meski saat itu belum bisa membaca Al Quran buka-buka tafsirnya ketemu Surat Al Furqaan : 74 "Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (sampai sekarang masih nyengir malu kalau mendengar ayat dan doa ini dibaca imam usai sholat berjamaah atau ustadz ustadzah dalam sebuah majelis)
*Tarik nafas dalam-dalam dan beristighfar* Haa identitas saya sebagai muslim saat itu masih terbatas dengan mencantumkan ayat di undangan pernikahan, persis seperti saat mencari-cari ayat Al Quran yang tampak gagah ditulis di "lembar persembahan" skripsi dan menemukan QS Al Mujadilah ayat 11.
Begitulah "identitas" saya zaman dulu. Maka saya ndak pingin mengulangi hal yang sama, meski anak-anak saya mungkin namanya "kurang islami" harapan saya perilaku mereka mencerminkan ajaran Islam sebenarnya sebagai rahmatan lil alamin...Rasanya ikut sedih kalau mendengar kabar kabur lah itu namanya Ahmad Fathonah kok kelakuannya begitu, lho namanya Muhammad Shiddiq kok ngutang gak mbayar dsb dsb...
Hingga sekarang saya sering malu mengingat bagaimana cara saya mengaplikasikan dan menampakkan identitas sebagai bagian dari Islam, ternyata sekedar menempel ayat dan gagah-gagahan. Semoga masih diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi umat.
Semoga QS Al Mujadilah ayat 11 itu tidak hanya menjadi hiasan skripsi namun juga menginspirasi kami untuk tak lelah menuntut ilmu yang bermanfaat hingga saat - saat terakhir kembali ke haribaan Illahi.
Berharap kami bisa menjadi bagian dari Islam yang membawa kedamaian bagi semesta, cahaya bagi sekitarnya meski mungkin tak begitu besar arti sebuah nama. Ibarat ilmu fiqih tentang benar dan salah yang seharusnya berjalan seiring dengan ilmu aqidah akhlaq tentang baik dan buruk agar tidak mudah membenarkan diri sendiri dan menyalahkan yang lainnya.
Menyitir tausyiah ustadz Salim A Fillah : agama adalah cara memandang hidup, cara memandang hidup sesudah mati, cara memandang Pencipta hidup dan mati serta cara memandang yang hidup maupun yang mati.

No comments:

Post a Comment