Google+ Followers

Saturday, April 16, 2016

Ayah, Peran Tak Tak Tergantikan

Akhir pekan kali ini rumah terasa sepi. Suami dan anak bungsu saya pergi dan menginap di luar kota untuk menghadiri acara pernikahan saudara. Sementara saya harus tinggal di rumah menemani si sulung yang sedang menempuh Ujian Akhir Semester kelas enam. Lama tak menikmati waktu dengan tenggelam dalam buku bacaan, saya putuskan berme-time dengan membaca novel Tere-Liye “Ayahku (Bukan) Pembohong. Mata saya basah oleh airmata teringat kenangan bersama ayahanda tercinta. jika Papa saya masih hidup hingga saat ini usia beliau mencapai 74 tahun. Beliau meninggal dunia ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 2. Tanpa kehadiran Papa hidup terasa timpang sebelah. Semasa hidup beliau adalah pencari nafkah tunggal keluarga dan selalu mengajarkan kedisiplinan dan tekad untuk belajar giat. Berkat pom-pom semangat yang selalu dikibarkan Papa saya selalu mampu menembus ranking lima besar di sekolah. Hingga duduk di bangku SMP saya selalu langganan menyabet gelar juara umum atau minimal rangking dua dan sering mendapat hadiah baik berupa buku dan alat sekolah hingga bebas SPP selama satu semester.
Meski beliau telah tiada namun semangat giat berkarya telah tertanam jauh di lubuk hati saya. Kesulitan finansial yang kami derita sepeninggal Papa tak menghalangi saya untuk melanjutkan sekolah hingga meraih gelar sarjana berbekal beasiswa. 
Kerasnya hidup yang harus kami jalani tak mengurungkan niat untuk meraih cita-cita. Seolah nasehat Papa menggelorakan semangat dalam alam bawah sadar sehingga sesulit apapun jalan yang ditempuh terasa lebih mudah diatasi. Bonding ayah-anak rupanya tak berakhir meski sang ayah telah lama pergi. Padahal semasa kuliah saya harus mampu bertahan hidup dengan uang saku 75 ribu rupiah per bulan yang masih harus saya sisihkan 20 ribu rupiah untuk membayar sewa kost. Rumah kost yang jauh dari kampus dengan harga sewa murah tidak menciutkan nyali saya menuntut ilmu meski saya harus berjalan kaki setengah jam untuk mencapai kampus. Saya teringat cerita almarhum Papa yang harus bekerja sampingan sebagai kenek angkutan kota untuk membiayai kuliah.
Peran ayah dalam pembentukan karakter anak memang tak tergantikan. Semasa hidup Papa adalah pekerja keras. Beliau sering pulang larut malam untuk lembur jika harus mengawasi kegiatan bongkar muat dari kapal yang merapat di pelabuhan. Anehnya saya merasa lebih dekat secara emosional kepada Papa daripada Mama. Apakah benar anak perempuan lebih dekat kepada Ayah daripada Ibunya? Pertanyaan yang membuat saya penasaran terjawab ketika menghadiri Pers Conference dalam Event Nestle Lactogrow Happy Date with Legendaddy. 
Inline images 2
Kiri ke Kanan:
1.       Aris Mulyanto, Regional Sales Manager Nestle East Java Region
2.       Gusti Maulani Katani, Brand Manager LACTOGROW
3.       Oka Antara, public figure sekaligus sosok Legendaddy
4.       DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K), Konsultan Spesialis Tumbuh Kembang Anak 
5.       Rini Hildayani, psikolog
6.       I Ketut Prapto, Store Manager Hero Tunjungan Plaza Surabaya

7.       Lendi Yuwarlian, Category Marketing Manager LACTOGROW

Acara yang sarat tips dan ilmu parenting ini menambah wawasan para undangan yang hadir tentang pentingnya membangun kebahagiaan keluarga sebagai faktor penentu karakter dan tumbuh kembang anak. Dalam acara tersebut dikupas tentang pentingnya peran ayah dalam pola asuh anak. Ketika sesi tanya jawab salah seorang peserta bertanya tentang kedekatan ayah dengan anak perempuan, apakah hal tersebut hanya mitos belaka atau terbukti secara ilmiah?

      DR.Dr.Ahmad Suryawan, SpA(K) memaparkan fakta ilmiah yang erat kaitannya dengan kedekatan ayah dan anak perempuan. Ditinjau dari sudut pandang ilmiah jembatan syaraf pada pria dan wanita sangat berbeda. Jembatan syaraf pria berukuran panjang dan kecil sehingga reaksi terhadap suatu rangsangan atau permasalahan memerlukan waktu cukup lama. Dr. Wawan demikian dokter anak senior ini biasa dipanggil, berkata dengan jenaka bahwa hal ini yang mengesankan bahwa pria terkesan lebih bijaksana daripada wanita padahal sebenarnya lola alias loadingnya lama. Sebab untuk memecahkan suatu masalah perlu berpikir lebih “dalam” sebelum mengambil tindakan Sementara jembatan syaraf pada wanita berukuran pendek dan lebar. Akibatnya wanita terkesan lebih spontan dan emosional karena cepat memberikan respon terhadap suatu aksi. Fakta ilmiah ini yang berpengaruh terhadap psikologis pria dan wanita untuk saling melengkapi sebagai pasangan hidup. Dalam prakteknya peran ibu dan ayah bagi perkembangan karakter anak juga saling melengkapi. Anak-anak gadis kemungkinan lebih dekat dengan sang ayah karena dianggap lebih bijak, sesuatu yang kurang diperoleh dari sosok ibu. Sedangkan anak lelaki melihat sosok ibunda sebagai sosok yang sangat responsif dan penuh perhatian sehingga sang anak merasa diperhatikan. 
      Lalu bagaimana dengan anak-anak saya sendiri yang kebetulan keduanya adalah laki-laki. Jangan-jangan mereka kurang memiliki bonding dengan sang ayah seperti yang saya miliki dahulu bersama Papa? Keluarga kecil kami bisa disebut keluarga menengah. Meski belum memiliki mobil pribadi namun kami bersyukur telah tinggal di rumah milik sendiri. Meski tak punya budget untuk berlibur secara khusus kami bersyukur hidup kami tak kekurangan suatu apapun dan kami cukup bahagia dengan berinteraksi dan meluangkan waktu bersama di rumah.
      Kualitas dan interaksi orang tua dan anak => kata kunci ini merupakan faktor penentu dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak. Senada dengan pendapat dari Psikolog Rini Hildayani, M.Si yang hadir sebagai salah satu panelis Pers Conference Nestle Lactogrow Happy Date with Legendaddy, suami saya selalu meluangkan waktu untuk anak-anak baik di hari kerja maupun di akhir pekan. Kadangkala suami mengajak mereka ke toko buku, menyewa DVD film anak-anak atau berbelanja di supermarket untuk memilih camilan sehat dan susu sebagai pelengkap kebutuhan gizi mereka. Karena kondisi saluran cerna yang sehat dan prima mempengaruhi produksi hormon-hormon yang berperan dalam sistem sirkuit otak termasuk pengendali rasa bahagia.
      Di hari sibuk suami senantiasa meluangkan waktu sepulang kerja. Beruntung meski kadangkala harus lembur, si Papa bisa tiba di rumah sebelum jam 9 malam sehingga masih bisa ngobrol dan bercanda dengan anak-anak. Mereka berbagi cerita menjelang bed time, tentang apa saja yang kadang membuat saya tergelak mendengarnya. Seperti “proposal” Radit si bungsu ketika meminta uang saku khusus untuk ekstrakurikuler renang. 
Pa, minta uang saku 20 ribu dong, aku besok renang” 
‘Wah banyak sekali Dik, buat apa saja uang sebanyak itu?” 
“Buat sewa pelampung 3500, beli teh botol 3000, beli batagor 5000, sisanya ditabung"jawab si Radit tangkas. 
Yee batagornya 3000 aja Dik, sangunya 10 ribu saja ya?" tawar si Papa. Pembicaraan tersebut ditutup dengan kata sepakat berupa uang saku 10 ribu rupiah. Kenyataannya Radit masih menyisihkan 5000 rupiah karena dia batal jajan batagor dan teh botol favoritnya. Demikian pula si sulung Rafif. Dalam keseharian akhir-akhir ini dia lebih dekat dengan si Papa yang dianggapnya masih bisa diajak berkompromi daripada si Mama yang cenderung bawel dan suka KEPO urusan ABG sepertinya. Saat si Papa keluar kota seperti saat ini, tercetus dari bibirnya“nggak ada Papa nggak rame ya Ma”
      Saya bersyukur kedua anak saya menempatkan posisi ayah dan ibu sebagaimana tempatnya. Adakala sebagai “atasan” yang harus dipatuhi perintahnya, adakala dianggap sebagai sahabat sebagai tempat curhat. Artinya kedekatan dan hubungan emosional yang terbangun antara anak dan orang tuanya akan membantu perkembangan kognitif dan cara bersosialisasi mereka berdua. Rafif dan Radit dikenal sebagai anak yang cukup supel baik di sekolah maupun di rumah, prestasi akademiknya di sekolah di atas rata-rata. Guru mengaji Radit bahkan memujinya secara khusus bahwa si bungsu ini sangat luwes karena mampu bergaul dengan anak-anak sebaya maupun beberapa tahun di atasnya.
       Peran ayah memang tak tergantikan. Bahkan dalam kitab suci Al Quran, ilmu parenting yang menekankan peran ayah dapat ditelaah dalam Surat Luqman. Sebuah surat yang namanya merujuk pada nama seorang ayah. Sosok ayah bernama Luqman yang meski bukan seorang nabi dan hanya bekerja sebagai tukang kayu namun memiliki sifat bijaksana dan“ngemong” Dalam surat Luqman tersebut umat muslim memperoleh hikmah tentang bagaimana menjadi orangtua (dalam hal ini sang ayah) selalu menasehati anaknya dalam ayat-ayat yang bijaksana, seperti: jangan menyekutukan Allah, jangan bersifat sombong dan harus senantiasa berbuat kebajikan. Orang tua bijak tidak hanya memberikan nasehat tentang nilai-nilai kehidupan dari kitab suci namun juga memberikan contoh dalam perilaku sehari-hari. Korelasi semacam ini membantu membangun pondasi jembatan kebahagiaan keluarga.

     Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua juga. Karakter dan tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh kebahagiaan keluarga. Mirisnya survei yang diadakan Lactogrow melalui media sosial menunjukkan fakta bahwa 53% responden menyatakan bahwa anak mereka merasa bahagia dengan hubungannya dengan mereka. Sisanya sejumlah 47% merasa kurang meluangkan waktu bersama anak-anak tercinta. Fakta mencengangkan ini perlu mendapat perhatian untuk menciptakan kondisi lebih baik. Meski sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga sang ayah sepatutnya meluangkan waktu sepulang kerja bersama anak-anak. Meski hanya sekedar bercerita atau bermain bersama dan berkomunikasi secara intens bukan menghabiskan waktu dengan membiarkan anak-anak bermain mobil-mobilan tetapi sang ayah sibuk dengan gadgetnya. Hal inilah yang menginspirasi Nestle Lactogrow menyelenggarakan Nestle Lactogrow Happy Date with Legendaddy. Jika tahun 2015 lalu bertema Happy Beach maka tahun 2016 bertema Happy Winter.


Arena Nestle Lactogrow Happy Winter


Di arena permainan anak-anak dan orang tua bisa bermain bersama sebagai salah satu cara merekatkan hubungan, bonding antara mereka. Ketika bermain diharapkan ibu dan ayah membantu sang anak memahami lingkungan tempat bermain, mengenal warna dan bentuk sehingga merangsang kreativitasnya.
      Kualitas interaksi ayah dan anak menentukan karakter sang anak karena bagaimanapun orang tua adalah role model, tauladan terdekat bagi sang anak. Salah satu cara memperkuat bonding orang tua dan anak adalah dengan sentuhan fisik. Menurut Gary Chapman & Ross Campbell, M.D dalam buku The Five Love Languages of Children orang tua dapat menyatakan kasih sayang kepada anak-anak melalui sentuhan fisik yaitu rangkulan, tepukan, pelukan dan ciuman. Sentuhan fisik ini hendaknya dilakukan berproses sesuai usia sang anak. Jika anak usia 1-6 tahun merasa aman dengan pelukan orang tua sesaat sebelum mereka masuk ruang kelas di sekolah maka anak usia remaja akan merasa diperhatikan dan disayang dengan sentuhan berupa tepukan halus di punggung, pundak atau mengusap kepala mereka. Bonding juga terjalin ketika mendudukkan sang balita dalam pangkuan dan orang tua menceritakan sebuah dongeng.
Candid camera, Bonding or Sleeping?

      Oka Antara sebagai bintang tamu dan sosok yang mewakili Legendaddy berbagi tips dalam berinteraksi dengan sang anak. Ayah dari Sara (7 tahun), Ruga (5 tahun) dan Yusa (3 tahun) ini memahami karakter masing-masing anaknya. Ayah yang sibuk dengan karir sebagai artis ini sambil berkelakar berbagi cerita: "saya sibuk dalam 8 bulan bekerja dan 4 bulan sisanya menganggur di rumah. Baik saat sibuk syuting maupun saat menganggur saya selalu menyempatkan bermain dengan anak-anak apakah itu bermain basket atau sekedar ngobrol bersama.
       Sosok ayah ideal tidak selalu harus mencontoh Oka Antara atau sosok ayah Dam dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong yang rajin berpetualang, jago mendongeng dan memberikan nasehat-nasehat melalui kisah penuh hikmah. Dam pun tumbuh menjadi anak yang mandiri, kaya wawasan, tangguh dan mampu menggapai cita-cita. Sosok ayah yang dicintai anaknya adalah sosok yang ketika menjadi dirinya sendiri tetap meluangkan waktu untuk sang anak, mendorongnya menjadi insan mandiri dan tetap memiliki kelembutan hati.

Satu paragraf dalam Novel tersebut yang menyentuh sanubari saya adalah "sembilan puluh sembilan persen anak laki-laki tidak pernah lagi memeluk ayah sendiri setelah tumbuh dewasa. Padahal sebaliknya, sembilan puluh sembilan persen dari ungkapan hati terdalamnya, seorang ayah selalu ingin memeluk anak-anaknya" artinya bonding ayah dan anak akan bertahan sepanjang masa sama halnya dengan kasih ibu terhadap anaknya.
      Jika ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi sang anak, maka ayah adalah kepala sekolahnya. Regulasi dari "kepala sekolah" hendaknya mencakup kenyamanan dan keamanan "guru dan siswanya" Sesungguhnya menjadi orang tua adalah sekolah yang tak akan pernah usai masanya hingga saat terakhir menutup mata.
      

7 comments:

  1. Wah, mirip sama aku nih. Dulu bapakku kerja di luar kota dan kami cuma ketemu seminggu sekali. Tapi tetap secara emosional aku lebih dekat dengan beliau meski sehari-hari bersama Ibu. Alasan yang disebutkan di atas pernah aku baca sebelumnya di majalah. Jadi masuk akal ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. haay makasih mbak Indi sudah mampir kemari...Benar make sense juga penuturan ilmiah tentang jembatan syaraf itu ya?

      Delete
  2. Putriku dekat dengan ayahnya, sayangnya saya dulu tidak mempunyai kesan baik tentang Ayah. Semoga kita bisa menjadi ayah dan ibu yang baik bagi putra putri kita ya Bun

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya Bund, iya klo ada kenangan buruk bisa trauma yah....

      Delete
  3. Aku dekat (banget malah)dengan ayahku. Dan kedua putriku juga dengan dengan suamiku. Anak lelakiku dekat denganku. Tapi..kami berlima emang dekat sih hubungannya satu sama lain.

    ReplyDelete