Google+ Followers

Thursday, January 21, 2016

Rahasia Pelangi : Alam Adalah Guru yang Tak Menua Oleh Waktu

Penulis: Riawani Elyta dan Shabrina Ws
Editor : Bernard Batubara dan Yulliya
Penyelaras aksara: Idha Umamah
Penata Letak: Wahyu Suwarni
Penyelaras tata letak: Putra Julianto
Desainer sampul: Mulya Printis
Penyelaras desain sampul: Amanta Nathania
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: x + 326 halaman
ISBN: 979-780-820-3



Pernah membaca Ping A Message From Borneo? Penggemar karya sastra Indonesia yang sempat melahap novel duet Riawani Elyta dan Shabrina WS pasti menunggu kapan beliau berdua kembali bekerja sama menulis novel bersama. Kerinduan para pecinta buku atas karya bareng mbak Riawani Elyta dan Shabrina WS terpuaskan ketika Rahasia Pelangi lahir.

Menulis novel pasti bukan pekerjaan mudah. Apalagi jika harus memadukan dua pikiran dalam satu buku. Saya mungkin termasuk satu dari sekian ribu pembaca yang suka novel dengan latar belakang alam dan bisa dibaca remaja maupun dewasa.
     Jika Ping A Message From Borneo mengisahkan tentang orang utan Kalimantan maka Rahasia Pelangi berkisah tentang gajah. Awalnya saya menduga wah ini nanti mbak Shabrina kebagian menulis tentang si gajah dan mbak Lyta tokoh manusianya. Ternyata saya keliru. Meski kedua novel tersebut tetap mengusung semangat mencintai lingkungan namun penokohannya fokus kepada manusia: Anjani, Rachel, Ebi dan Chay. Menariknya romantika yang terjadi adalah segi empat, bukan segitiga. Saya suka banget kalau model segi empat begini, kan adil ..nggak ada yang kecewa, kalau nggak “jadian” dengan sosok yang diharapkan bisa saja berjodoh dengan sosok satunya hehehe.
     Membaca Rahasia Pelangi seperti dibawa turut serta mengembara, menyusuri rimbunnya Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Deskripsi tentang hutan lindung ini begitu nyata. Saya seolah turut mencium aroma kompos alami, menyaksikan kumbang dan kupu beracun namun cantik menggoda, mendengarkan serangga hutan bernyanyi (kapan yaaa bisa ikut patroli bersama Flying Squad). Di bagian menyaksikan kelahiran Akasia, anak Rubi sang gajah betina saya turut berdebar-debar. Terbayang bahwa perjuangan ibu melahirkan anak demikian besarnya. Bagi saya sosok  yang disebut ibu tak hanya hak manusia namun hewan pun memiliki hak sama besarnya, hanya saja sebutannya yang berbeda : ibu, bunda, mama, umi dan kita menyebut "induk" bagi hewan. Penggambaran suasana ketika gajah melahirkan terasa nyata, sampai saya penasaran apa mbak Shabrina benar-benar pernah menunggui gajah melahirkan. Penasaran saya terjawab ketika dalam chit chat beliau mengaku pernah menunggui kambing melahirkan. pantesan nyata banget, kalau saya mah sudah lariiii. Ah bahkan hewan pun punya naluri keibuan yang sama (aduuuh jadi berkaca-kaca saat membaca bab-bab pertama tentang gajah sirkus Anjani itu hiks)

     Rahasia Pelangi mengalur alami. Kadang saya turut merasakan api cemburu di dada Anjani. Aduuh di PHP-in rasanya enggak banget deh. “Saat kerikil datang, cinta bisa bermetamorfosis menjadi rasa yang berbeda dan jaraknya hanya tinggal selapis kertas dengan rasa benci”. Salah satu yang menarik dari Rahasia Pelangi adalah quote-quote manisnya yang menjadikan masing-masing “episode” lebih terasa nyata. Diksi yang dipilih terasa manisnya dan tidak "pasaran" seperti Aku merasa seperti ada sekeping puzzle yang hilang untuk menggambarkan kosong, ketidakutuhan. Aku merasa seperti ada gulungan ombak dalam dadaku ketika mengingatnya (halaman 292)...duuuh gimana rasanya dada yang menggelora 
     Rahasia Pelangi adalah mahakarya tentang cinta, bukan hanya cinta romantika antar manusia tetapi kecintaan manusia kepada alam sekitarnya juga.. Itulah mengapa saya memilih judul Review Rahasia Pelangi : Alam adalah Guru yang Tak Menua Oleh Waktu. Membaca Rahasia Pelangi membukakan mata saya kembali bahwa hewan dan tumbuhan adalah makhluk Tuhan yang berjiwa, bernyawa. Mereka punya hak yang sama untuk hidup aman sejahtera di muka bumi. Betapa selama ini manusia terlalu rakus mengeksploitasi alam, menyisakan perih bagi hewan-hewan yang kehilangan tempat tinggal karena pembalakan liar. mengeksploitasi hewan sebagai hiburan. Pernah terpikir nggak, bahagiakah hewan-hewan sirkus itu? Gajah yang beratraksi, luwak yang dipaksa diet untuk menghasilkan “kotoran kopi”, lumba-lumba yang harus tinggal di kotak sempit nyaris tanpa udara berhari-hari. Bagaimana jika hewan liar menyerang manusia di alam bebas sebagai dorongan naluri mempertahankan hidup sebab habitatnya semakin sempit oleh ulah manusia, sebab ia diburu karena bagian tubuhnya dianggap indah sebagai hiasan dan boleh diambil kapan saja? Pasti dianggap bersalah dan di”halal”kan dibunuh agar manusia tidak terbunuh.
      Bicara tentang penyerangan, episode Penyerangan mampu memompa adrenalin saya lebih cepat, deg-degan kebayang betapa parah luka yang harud diderita korban jika gajah-gajah liar mengamuk membabi buta. Ini hewan liar, besar dan kekuatannya dapat dibayangkan. Kebayang rasanya diinjak gajah, apakah bisa selamat?...Ooooh tidaaak Rachelll…..
Rahasia Pelangi, mengingatkan kita kembali bahwa tak ada yang sempurna di muka bumi. Manusia hanyalah sosok lemah kelak akan kembali menjadi tanah. Bahwa sebagai manusia sekaya apapun, sejenius apapun kita tetaplah makhluk yang kelak pasti kembali. Tak ada yang perlu disombongkan dan sampai kapanpun kita akan tetap membutuhkan bantuan, membutuhan teman dan dukungan. Bahkan doa dari mereka yang mungkin tak singgah dalam benak kita sebelumnya “ada perhatian tak kasatmata. Ia bernama doa dalam diam’
       Rahasia Pelangi tidak hanya berkisah tentang romantika bersetting keindahan bumi Indonesia namun juga tentang perjuangan mengobati trauma, perjuangan meraih cita-cita dan perjuangan mewujudkan cinta. Sebab Jodoh, Mati, Usia adalah rahasia yang disimpan rapat Sang Pencipta. “hidup memang penuh rahasia, seperti pelangi, ia tak bisa ditebak kapan datangnya”

Buat mbak Riawani Elyta dan mbak Shabrina WS semoga istiqomah berkarya mbak, hingga akhir detak jantung kita, peluh dan lelah tak akan pernah sia-sia. Seperti apa yang pernah mbak berdua perbincangkan : teruslah berkarya seperti para musisi tetap menggesek biola meski kapal Titanic perlahan tenggelam setidaknya mereka tenggelam dalam kebahagiaan, berjuang hingga titik darah penghabisan.

12 comments:

  1. serasa punya utang, baca ini, karena saya blm mereview aja novel ini :(

    ReplyDelete
  2. temanya tentang satwa lagi ya, mba. jadi penasaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo baca La, siapa tau Ila bisa membandingkan Randu dan Chay atau Ebi hihihi

      Delete
  3. Terima kasih ya mbak dwi untuk reviewnya yang manis :) tertegun sejenak pd paragraf terakhir yg di italic, lalu terasa ada yg nyess di dasar hati. Sekali lagi terima kasih ya :) Amiin utk doanya yg indah mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih kembali telah mampir mbak Lyta (dan mbak Eni Shabrina juga) ...novelnya manis maka reviewnya pun manis :)

      Delete
  4. Resensinya keren Mbak Dwi. Membaca Rahasia Pelangi memang sesuatu banget. Dapat ilmu banyak dari membaca novel itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang keren novelnya kok mbak Ratna, benar dengan membaca kita selalu berharap ada yang kita "dapat" untuk memperkaya pikiran kita. :)

      Delete
  5. Wah, jadi penasaran ma bukunya. Nunggu ke kota buat beli

    ReplyDelete
  6. memang ciri khas banget deh karya2 nya mba shabrina dan mba riawani

    ReplyDelete