Google+ Followers

Wednesday, October 21, 2015

Tan Mei Hwa : Agama Bukan Untuk Berdebat, Melainkan Berbuat

Seorang hajjah kaya menggerutu melihat sosok pengemis lusuh memasuki halaman rumahnya. "Ngapain pengemis itu pagi-pagi ke sini" gerutunya dalam hati.
"Assalamualaikum, bu Haji minta sedekahnya saya belum makan sejak kemarin" kata si pengemis menghiba
"Belum masak, ndak ada makanan" jawab bu Haji sekenanya
"Secuil roti ngga papa bu Haji" pinta si pengemis lagi
"Ndak ada roti" jawab bu Haji ketus
"Makanan kecil, buah atau apalah bu Haji sekedar mengganjal lapar" iba sang pengemis
"Lha memang ndak ada kok" jawab bu Haji lagi
pengemisnya bingung, rumah sebegitu megah masa iya ga ada makanan secuilpun....
"Uang recehan juga ngga papa bu Haji bisa buat beli pisang goreng di warung situ"
"Dibilangin ngga ada kok maksa sih" gerutu bu Haji
si pengemis menyahut kalem "kalau begitu mari bu Haji ikut saya"
"Kemana?"
"Ngemis bareng saya bu Haji, kan sama-sama ngga punya apa-apa untuk dimakan dan dibuat beli makanan"
Spontan hadirin peserta pengajian tertawa terpingkal-pingkal mendengar kisah yang disajikan Hj Tan Mei Hwa di pengajian awal Muharram 17 Oktober 2015 Masjid Al Ukhuwwah.

Pengajian rutin setiap bulan yang diadakan ibu-ibu Majelis Taklim Masjid Al Ukhuwwah, Sukodono Sidoarjo kali ini mengangkat tema dengan semangat Hijrah kita tingkatkan kualitas iman dan islam.
Dalam tausyiahnya Hj Tan Mei Hwa mengingatkan bahwa momentum tahun baru adalah momentum untuk flash back, melihat kembali apa yang telah dilalui. 

Bersama semangat hijrah hendaknya diiringi dengan kemampuan bersyukur, muhasabah untuk meningkatkan kualitas ibadah dan benar-benar melaksanakan keislaman secara kaffah (menyeluruh)

Bentuk bersyukur adalah berterimakasih, terima dari Allah lalu kasih ke orang yang membutuhkan, begitu versi terimakasih dari Hj Tan Mei Hwa. Jadi janganlah terlalu pelit seperti kisah bu Haji tadi.
Muhasabah, menilai diri sendiri bagaimana sih kualitas ibadah kita, apakah kita terlalu banyak nonton televisi daripada mengaji. Apakah sholat malam kita lakukan secara istiqomah atau setengah-setengah dan terengah-engah. Apakah kita sibuk sholat wajib dan sunnah, tilawah, rajin mengikuti pengajian tapi cuek terhadap tetangga, yatim piatu dan kaum dhuafa?.
Tentang menjalankan Islam secara kaffah ini saya tersentuh kisah nyata dari perjuangan Hj Tan Mei Hwa ketika memeluk Islam. Di facebook saya sempatkan menulis :

Baru kali ini mendengarkan ceramah sambil tertawa karena cara bertutur yang jenaka kemudian menangis ketika teringat akan dosa-dosa. Terharu akan kisah hijrah beliau. Tetap menghormati orang tua meski harus belajar Islam sembunyi-sembunyi, diancam mental dan fisiknya, diusir dari rumah saat masih remaja sehingga terpaksa membiayai kehidupan sendiri bekerja serabutan sambil bersekolah hingga kuliah. Butuh perjuangan bertahun-tahun untuk menghijrahkan orang tua, Sang Papa yang sangat membenci Islam pada akhirnya hijrah ke jalan Allah tanpa paksaan, tanpa tipuan. Dan menitip pesan singkat melalui SMS kepada sang putri sebelum meninggal : "Jika saja saya tahu bahwa Islam begitu damai dan indah mungkin sejak lama saya masuk Islam. Jangan pernah berhenti berdakwah, teruskan berjuang mensyiarkan ayat-ayat Allah". Hingga kemudian ditemukan meninggal dalam keadaan bersujud di atas sajadah ketika sang putri, Hj Tan Mei Hwa baru datang dari luar negeri.

~~~~~~~


“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2]: 208-209)



Hj Tan Mei Hwa bersama ibu Lina Ariani, ketua Majelis Taklim Masjid Al Ukhuwwah

Peringatan 1 Hijriah adalah momentum yang sangat berharga untuk meningkatkan kualitas keimanan dan keimanan. Tak perlu menilai kualitas ibadah orang lain lebih mengaca dan memperbaiki diri demi Allah Ta'ala semata. Kadang pusing melihat orang memperdebatkan fiqih siapa yang paling benar. Saya setuju dengan secuplik kalimat dari Hj Tan Mei Hwa di pengajian kali ini bahwa agama itu untuk berbuat, bukan berdebat. Jadi berbuatlah banyak kebaikan agar kebaikan pun menjadi penuntun bagi kita menemukan jalan kebenaran menuju Tuhan.



10 comments:

  1. Mbak mau dong kisah tentang hajjah Tan Mei Hwa nya diceritakan di sini. Eh kok saya jadi ingat judul buku mbak Afifah Afra ya yang Mei Hwa :D apa ini ada hubungannya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kisahnya mengharu biru mbak Lina, sampai diancam secara fisik dan diusir dari rumah agar kembali ke agama lama tapi beliau enggak bersedia. Ooo bukan Mei Hwa yang di novel itu, Tan Mei Hwa dikenal sebagai ustadzah yang sering memberikan tausyiah di televisi (lokal Jatim) :)

      Delete
  2. terima kasih sharingnya, di tunggu review bukunya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. aih mbak Lidya ...memompa semangat untuk ngeblog terus...tentang review novel Mei Hwa (bukan Tan Mei Hwa yang saya ceritakan) pasti mbak Lina lebih jago nulisnya :)

      Delete
  3. Replies
    1. ya mba, Hj. Tan Mei Hwa dikenal suka melucu tapi tausyiahnya nanceb di hati

      Delete
  4. Kayaknya pernah lihat tausiyah ustazah Tan Mei Hwa di youtube mbak.Lucu tapi mengenaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mbak Yuni, khas Tan Mei Hwa memang jenaka tapi langsung nunjeb ke dada :)

      Delete