Google+ Followers

Friday, August 21, 2015

Borobudur, Saksi Semangat Pantang Mundur atau Nasionalisme Luntur?

17 Agustus tahun 1945 itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa hari lahirnya bangsa Indonesia…merdeka…
17 Agustus 2015 Indonesia berusia 70 tahun sudah....merdekaa!! Bukan usia muda tetapi tak juga terlalu renta. Terbayang perjuangan para pahlawan yang rela bertaruh nyawa demi meraih kemerdekaan Indonesia, sebuah tindakan nyata atas nama cinta. Kini saatnya bagi kita membuktikan kecintaan pada Indonesia raya. Bagaimana caranya? Tentu dengan segenap upaya mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan dengan karya nyata termasuk mencintai dan menggunakan produksi dalam negeri, menjaga kelestarian alamnya. Indonesia terkenal sebagai negeri nan elok panoramanya. Gunung, lembah, pantai, laut, danau, sungai seolah menjelma menjadi perhiasan tanah surga. Tak terhitung kebudayaan bangsa berupa tarian, lagu daerah, alat musik tradisional dan bangunan bersejarah.
      Berkelana dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya di Indonesia tak akan pernah membosankan. Jalan-jalan tidak hanya bersifat rekreatif namun juga mampu membangkitkan nasionalisme dan semangat kebangsaan. Betapa tidak, keindahan panorama Indonesia yang disaksikan membawa pikiran berimajinasi tentang bagaimana Tuhan menganugerahkan bangsa ini keindahan surgawi, mungkin Dia menciptakan Indonesia dalam situasi penuh cinta, semoga saja saat ini Ia tak sedang murka, bumi yang diciptakan penuh keindahan kini sedang merana karena kerusakan lingkungan dan angkara. Menyadari keindahan alam nusantara menggugah kesadaran bahwa cinta padamu negeri tak sekedar syair lagu belaka dan tak akan pernah lekang dimakan usia.
     Sebaliknya berkeliling negeri tercinta ini bisa melunturkan nasionalisme jika menemukan berbagai kondisi yang mengecewakan. Cinta dan sebal dalam satu kesempatan pernah kami alami dalam satu perjalanan ke Borobudur tahun lalu.
      Berwisata adalah kesempatan mahal buat kami. Kondisi finansial keluarga tidak memungkinkan untuk rutin berekreasi. Bersyukur tahun 2014 lalu kami diberi kesempatan mewujudkan impian mengunjungi Borobudur. Meski perjalanan ditempuh dengan naik kereta ekonomi Logawa dari stasiun Sidoarjo hingga stasiun Lempuyangan Yogyakarta namun tubuh tak terasa lelah. Pemandangan alam berupa hamparan sawah adalah hiburan sepanjang jalan. Sejauh mata memandang seolah melihat permadani hijau terhampar. Kereta cukup nyaman tak ada sampah berserakan karena setiap meja disediakan kantong sampah. Petugas kebersihan pun sigap memungut sampah dan membersihkan kereta setidaknya sekali dalam perjalanan yang memakan waktu lima jam.

Tiba di stasiun Lempuyangan dan disambut sopir-sopir taxi atau mobil sewaan yang ramah membuat kami bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Yogyakarta adalah kota yang ramah, harga makanan terjangkau bagi semua kalangan. Ingin makan murah dan suasana Yogyakarta yang gegap gempita, susurilah jalan Malioboro di tengah kota.
Malioboro terkenal sebagai tempat berbelanja oleh-oleh murah meriah. Beragam oleh-oleh khas Yogyakarta bisa ditemukan di sini. Anak-anak bisa belajar tentang kebudayaan bangsa dari aneka kerajinan tangan hingga miniatur gamelan, batik dan aneka asesoris unik bisa diperoleh dengan harga murah. 


Ssst tapi harus pandai membandingkan harga. Sebagian besar pedagang menjual produk dagangannya lebih dari dua kali lipat harga wajar. Duh, jadi merasa sedikit tertipu jika terlanjur membeli produk yang sama di kios yang terlalu mahal. Rupanya asas kapitalisme sudah mulai menjalar, mengikis kejujuran bangsa Indonesia yang dulu dibanggakan. Tetapi rasa takjub sebagai bangsa Indonesia kembali muncul ketika menyadari betapa murahnya harga makanan di sini. Nasi “kucing” di angkringan dijual hanya sekitar lima ribu rupiah lengkap dengan lauknya. Ongkos naik becak dari Malioboro ke pusat jajanan dan oleh-oleh membuat kami membelalakkan mata, murah sekali? Jarak sedemikian jauhnya hanya sepuluh ribu pulang pergi? Hebat sekali orang-orang Indonesia ini meski terhantam inflasi tetapi tetap bisa bertahan hidup tanpa tergiur kemewahan dan merasa cukup dengan berapapun penghasilan.



      Nasionalisme yang tiba-tiba terbakar sempat meredup karena perjalanan ke Borobudur. Perjalanan kami bertepatan dengan jadwal kampanye salah satu partai politik. Konvoi kendaraan bermotor membuat macet jalanan ditambah raungan knalpot yang memekakkan membuat perjalanan kami terasa menyebalkan. Butuh waktu hampir 3 jam hingga sampai di tujuan.
      Sesampai di Borobudur rasa sebal terobati, haru dan bangga berbaur di dalam hati. Bangga karena berabad lampau nenek moyang kita mampu membangun candi semegah ini tanpa bantuan teknologi. Betapa gigih perjuangan mereka mewariskan kebanggaan pada anak cucunya. Pemandangan Merapi dan Merbabu di kejauhan seolah menjadi saksi kemegahan masa lalu yang bisa dinikmati hingga saat ini. Memantik tanya apa yang kelak akan kita wariskan dan tercatat dalam sejarah kegemilangan bangsa?


Sayang situasi Borobudur yang ramai pengunjung membuat hati sedikit mendung. Banyak dari para pengunjung membuang sampah sembarangan. Bungkus makanan, botol air minuman dalam kemasan berserakan hampir di sepanjang undakan. Hati saya pedih, bukankah candi adalah tempat ibadah dan warisan kebudayaan juga? Mengapa tak bisa menghargai keberadaannya? Inikah Indonesia kita?
      Perjalanan singkat dua hari satu malam itu menyisakan banyak kenangan. Hanya Borobudur tempat wisata yang bisa kami kunjungi dengan mobil sewa seharian karena pulang dan pergi terjebak kemacetan. Nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia bisa pudar oleh hal-hal yang menimbulkan kekecewaan. Bangga karena Indonesia adalah negeri yang elok panorama dan kaya budaya luntur karena perilaku yang tak menunjukkan budaya malu. Membuang sampah sembarangan, bertindak seolah raja jalanan dan menyebabkan kemacetan hanya untuk pawai kendaraan adalah bukti nasionalisme mulai kendur. Banyak orang sekedar bersenang-senang tanpa peduli menjaga lingkungan. Menyaksikan hal-hal yang tidak pada tempatnya ini terus terang membuat kebanggaan saya sebagai bangsa Indonesia turut luntur. Bagaimanapun perjalanan ini adalah sebuah pembelajaran bagi anak-anak saya, pentingnya menanamkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dengan segala keanekaragaman budaya, memupuk rasa nasionalisme dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menanamkan cara berperilaku menghormati sesama sebagaimana mestinya sikap bangsa yang berbudaya.


“Indonesia tempat lahir beta pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa’


FB : Dwi Aprilytanti Handayani
Twitter : @Dwiaprily
IG : dwi.aprily
Email : dwi.aprily@Yahoo.co.id

10 comments:

  1. langsung ke TKP nih aku mak

    heheh

    oya biasanya di halaman candi banyak pedagang salak tuh mak

    ReplyDelete
  2. aku suka naik sepeda di sekitar candi borobudur tuh mak.. asyikkkk.. ada sepeda tandemnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh ya kah Mak ? saya ga sempat menikmati hal-hal lainnya padahal ada kereta wisata keliling juga. Antriannya puanjaanggg

      Delete
  3. Aku malam belum pernah ke sana, huhuhu...

    ReplyDelete
  4. mbak Leyla malah sudah jalan-jalan keliling Bali, lebih jauh dari Yogya hehehe....ntar kapan2 mudah-mudahan bisa menyaksikan Borobudur dari dekat :)

    ReplyDelete
  5. Jadi kepengin ke Borobudur nih mba, sudah sejak es em a kelas 2 (th 94) kesononya ..hehehe ketauan umurnya nih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya pengen ke Borobudur sejak SD mbak Christanty ....eh kesampaian pas sudah punya anak yang duduk di bangku SD..Tahun 94 saya baru masuk kuliah, nah lo lebih tuaan saya hahaha

      Delete
  6. aku kepingin juga main ke borobudur ni mbak ... kapan ya bisa kesana

    ReplyDelete
  7. asyiknya bisa jalan jalan ke borobudur, tapi sayang masih banyak yg buang sampah sembarangan

    ReplyDelete