Google+ Followers

Wednesday, September 10, 2014

Bang Bing Bung Yuk Kita Nabung

“Bing beng bang yok kita ke bank. Bang bing bung yok kita nabung. Tang ting tung hey jangan dihitung. Tau tau kita nanti dapat untung.” Duo penyanyi cilik yang menyanyikan lagu tersebut kini sudah remaja tetapi pesan yang tersirat masih relevan hingga kapan saja. Menabung adalah salah satu langkah peduli masalah finansial.  Mengajarkan melek finansial hendaknya dilakukan sedini mungkin. Sejak masih berusia kanak-kanak dan telah mengenal mata uang maka sebaiknya sejak saat itu pula anak-anak diajarkan cara mengelola uang, menghargai uang dengan cara tidak menghamburkannya. Meski belum mampu mengelola keuangan dalam arti luas anak-anak dapat belajar menyisihkan uang saku sekolah, uang hadiah ulang tahun, uang saku hari raya. 

      Anak-anak kok diajarkan melek finansial, bukannya terlalu berat buat mereka ? Anggapan tersebut kuranglah tepat. Dasar-dasar finansial yang dikenalkan pada anak-anak hendaknya dikemas dalam metode sederhana. Dewasa ini banyak sekolah setingkat Taman Kanak-kanak mencantumkan kurikulum dasar-dasar finansial untuk memberikan pemahaman arti uang. Siswa TK atau PAUD diajarkan membuat prakarya atau memasak kue-kue kecil praktis. Anak-anak usia dini tersebut diajarkan pula teknik pemasarannya dalam sebuah bazaar yang dihadiri para wali murid. Dengan demikian anak-anak belajar tentang sulitnya mencari nafkah sehingga merasa sayang hidup berfoya-foya.
      Kemampuan anak mencerna dunia keuangan masih sangat sederhana. Untuk mendapatkan perhatian sang anak tidak cukup dengan hanya menginstruksikan anak giat menabung. Anak-anak selalu mencari role model dan mengikuti segala yang dicontohkan panutannya. Dalam hal ini orang tua sebagai orang terdekat hendaknya mencontohkan perilaku berhemat seperti yang diajarkannya. Anak-anak yang terbiasa menyaksikan orang tuanya bersikap boros, membeli barang-barang tanpa berpikir panjang lambat laun akan meniru gaya hidup konsumtif tersebut. Sementara ketika sang anak melihat orangtuanya menyusun daftar prioritas barang yang akan dibeli akan memberikan kontribusi positif dalam proses pembelajaran mengelola uang secara bijak. Berikan pemahaman bahwa ketika dewasa mereka memiliki tanggung jawab menanggung pos-pos pengeluaran keluarga. Beberapa di antaranya adalah prioritas utama, biaya pendidikan dan perawatan kesehatan salah satunya.
       Apa yang akan terjadi jika anak melihat Mama selalu membeli baju baru setiap kali terima gaji dan Papa tak ketinggalan mengganti gadgetnya dengan model terbaru ? Mereka pasti berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan perilaku konsumtif tersebut. Dalam pikiran mereka akan terbersit pemahaman "oh asyiknya bisa belanja ini itu, kalau aku sudah besar nanti ingin seperti Mama dan Papa". Akibat tidak memperoleh tauladan yang baik si anak mungkin saja tidak memiliki tanggung jawab terhadap barang pribadinya. Mudah menghilangkan alat sekolah, merusak mainan, merengek minta dibelikan barang-barang baru yang tidak terlalu penting sebab dalam pikiran mereka Mama dan Papa punya banyak uang. Tentu hal yang berbeda akan dialami anak-anak yang sejak dini sesekali diajak pergi menabung ke bank atau kantor asuransi untuk membayar premi. Anak-anak usia Sekolah Dasar sudah dapat diajak berdiskusi dan membicarakan tentang pentingnya tabungan pendidikan untuk mereka. Ketika telah menginjak usia remaja pemahaman pentingnya asuransi sebagai tindakan proteksi dapat diberikan kepada mereka. Kenalkan para remaja dengan link asuransi yang terpercaya, misalnya Bancassurance dari SunLife. Bancassurance  adalah salah satu jenis asuransi yang multifungsi karena dapat ditujukan untuk dana pendidikan, tabungan dan dana hari tua.
Jika anak-anak memiliki rekening tabungan di bank, ajak mereka untuk turut berperan dalam meningkatkan saldo tabungannya. Perbesar motivasi anak untuk menabung dengan memberinya kebebasan membeli barang kebutuhannya menggunakan sebagian dari tabungan yang dimiliki. Meski anak bebas menggunakan uang tabungannya bukan berarti ia diperbolehkan membeli barang tanpa sepengetahuan orang tua. Sebaiknya orang tua mengarahkan agar anak-anak membelanjakan uangnya untuk menunjang bakat dan kemampuannya, seperti membeli alat musik, perangkat melukis, buku bacaan.
Edukasi finansial sejak dini tidak hanya dilakukan dengan metode teori dan aplikatif seperti menabung dan menjual hasil karya anak-anak. Pendidikan dan pembentukan kepribadian tidak boleh dilupakan. Menumbuhkan simpati dan empati mereka terhadap kaum dhuafa akan lebih menanamkan pentingnya bijak dalam mengelola keuangan. Sesekali ajak anak-anak ke panti asuhan. Tanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan bahwa banyak orang kurang beruntung dibandingkan mereka dan memerlukan bantuan agar mampu menikmati hidup lebih layak. Dengan demikian anak-anak akan membiasakan diri tidak bersikap boros dan lebih menghargai pemberian orang tuanya.


      Seperti halnya nilai-nilai keagamaan dan moralitas, edukasi finansial sebaiknya dilakukan sejak dini. Anak-anak adalah pembelajar paling cepat. Dengan mendengar, menyaksikan contoh di sekitar, menonton tayangan mereka langsung tanggap. Jika pentingnya bijak dalam mengelola uang diberikan sejak usia dini maka perilaku hemat akan terpatri hingga mereka menginjak dewasa nanti. Menanamkan pentingnya menabung, tidak bergaya hidup mewah dan memiliki kepedulian terhadap sesama sama pentingnya dengan mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Nasib suatu bangsa terletak pada kualitas generasi mudanya. Generasi muda yang berkualitas adalah generasi yang tangguh, mandiri, mau bekerja keras dan bertanggungjawab dalam mewujudkan masa depan gemilang sebagai peran serta mewujudkan kesejahteraan bangsa dan negara. 

No comments:

Post a Comment