catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Ketika Dilema Melanda


Apa yang terpampang pertama kali dalam benak ketika mendengar kata DILEMA? Apakah si Centini yang sedang melenggak-lenggok sambil menyanyikan lagu Dilema, atau kegalauan hati ketika harus memilih di antara dua, tiga dan seterusnya? Jawabannya terserah anda. Seperti terserah anda juga bagaimana mengatasinya.
Dilema, mungkin hampir setiap orang mengalaminya. Pas baru lulus sekolah interview sana sini lalu diterima di dua perusahaan bonafid sekaligus tentu harus pilih yang mana, saat dua lelaki datang melamar untuk dijadikan istri mantapnya sama siapa? lalu sudah jadi emak-emak online maniacs masih saja mengalami dilema menentukan saat belanja baju terbaru nunggu obral Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) atau Pesta Cashback #eh. Stop...itu bukan kisah nyata saya. Hanya sekedar menggambarkan ribetnya dilema. Kalau tinggal pilih model sepatu atau warna baju sih bukan dilema yang membutuhkan pemikiran lama.
Saya pernah dihinggapi dilema yang cukup menyiksa meski tak sampai membuat saya ogah makan dan sulit tidur. Toh meski berbulan-bulan memikirkan pilihan terbaik nyatanya berat badan masih bertahan. Dilema terbesar saya alami tahun 2012. Ketika harus memilih: terus bekerja kantoran atau keluar dari “zona nyaman” dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Zona nyaman sengaja saya tulis dalam tanda petik sebab nyaman yang saya maksudkan adalah perasaan aman atas penghasilan pasti setiap bulan.
Dilema di antara dua


Jujur saja, saya bukan wanita pengejar karir, tetapi emak pengejar penghasilan. Karena itu saya tak peduli dengan jabatan asal ada kenaikan gaji setiap tahun hehe. Disebut nyaman dengan bold dan garis bawah kenyataannya pekerjaan saya tidak menjanjikan rasa nyaman. Gaji tidak istimewa tetapi resiko kerjanya cukup tinggi mengingat saya pernah mengganti uang perusahaan jutaan rupiah karena tanggung jawab sebagai supervisor administrasi sekaligus kasir divisi operasional. Nggak pernah pinjam uang perusahaan tetapi uangnya raib dan tak sesuai hitungan. Mau tak mau tentu saya harus mengganti “uang hilang” Dibilang nggak krasan lha wong saya bisa bertahan hingga hampir enam tahun padahal jarak tempat kerja ke rumah jauhnya sekitar 30 kilometer dan ditempuh dengan bus kota.
Dilema terjadi ketika anak bontot saya, Raditya harus beberapa kali ganti pengasuh. Sejak kami pindah rumah asisten rumah tangga kami hanya bertahan bekerja selama setahun karena dia tak bisa pulang setiap hari. Saya memutuskan Raditya masuk Daycare daripada mencari asisten rumah tangga yang baru. Pertimbangan saat itu adalah di daycare Raditya bisa belajar bersosialisasi dan mendapatkan dasar-dasar pengetahuan bagi anak-anak pra sekolah. Urusan masak, mencuci, menyeterika dan beberes rumah menjadi tanggung jawab saya kadang dibantu suami.
Semula semua mengalir begitu saja. Kondisi rumah dan anak-anak baik-baik saja. Raditya juga menunjukkan banyak kemajuan. Ia lebih mudah menghafalkan huruf hijaiyah, suka mewarnai dan mulai bisa menulis huruf. Pelajaran-pelajaran dasar yang seringkali tidak optimal saya ajarkan karena harus berbagi waktu dengan urusan pekerjaan rumah sepulang kerja. Sementara sang kakak Rafif yang baru duduk di kelas dua hampir tak ada masalah dengan urusan sekolah dan pergaulan di rumah. 
Masalah mulai timbul ketika di daycare Raditya timbul pergolakan. Para pengasuhnya satu persatu mengundurkan diri. Salah satu pengasuh kebetulan tinggal di dekat rumah. Sehingga ia berinisiatif membawa Raditya di rumahnya. Akhirnya kami pun tidak lagi menggunakan jasa daycare tetapi langsung membayar pada si pengasuh. Sayangnya anak bungsu si pengasuh yang tengah berusia remaja berperilaku tidak sopan. Saya pernah melihatnya mengeluarkan kata-kata kotor kepada sang ibu. Raditya pernah bercerita kalau anak itu marah-marah bisa menjambak rambut segala. Saya khawatir dengan perkembangan psikologis Raditya. Ditambah dengan vonis dokter pada si kakak untuk segera dikhitan karena ada gangguan kesehatan pada organ prianya.
Jika Rafif dikhitan maka saya harus mendampinginya hingga sembuh. Tak mungkin rasanya melepasnya sendirian di rumah setelah cuti saya yang maksimal dua hari kerja. Kalau saya terus bekerja dan menitipkan Raditya di pengasuh yang sama kekhawatiran melanda. Tingkah laku anak pengasuh bisa menyebabkan dampak buruk bagi kepribadiannya. Tapi kalau saya berhenti bekerja bagaimana membayar angsuran KPR rumah, uang bulanan untuk Mama dan infaq bulanan sebagai donatur tetap yayasan sosial yang selama ini diambil dari gaji saya sebab gaji suami cukup untuk makan dan membayar tagihan lain non KPR (maaf ini bukan membuka aib atau pamer manfaat gaji tetapi sekedar menggambarkan beratnya dilema)
Pak ustadz kalau dicurhatin masalah begini pasti menyuruh sholat istikharah. Masalahnya hubungan saya dengan Allah tidak terlalu mesra sehingga saya mungkin kurang mampu menangkap maksudNya. Untuk mengambil keputusan antara berhenti atau terus bekerja hal pertama yang saya lakukan adalah meminta pertimbangan plus ridho suami dan restu Mama. Suami saya hanya berkata “terserah kamu saja” (namun saya melihat sebenarnya ia merasa berat). Sementara Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk saya.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan solusi dari dilema yang saya hadapi. Plus minus jika saya tidak bekerja serta dampak positif dan negatif jika saya terus bekerja. Ok perinciannya kurang lebih:
# Jika saya tetap bekerja: finansial keluarga aman, tabungan persiapan biaya sekolah anak-anak terpenuhi, tagihan-tagihan terbayar. Namun konsekuensinya ada kemungkinan Raditya tumbuh dalam lingkungan yang kurang kondusif dan meniru perilaku anak pengasuh, Rafif kebingungan dalam masa penyembuhan setelah khitan atau terus mengundur proses khitan padahal ia terus kesakitan? Kemudian saya juga masih bertanggung jawab agar lebih sering menjenguk Mama yang tinggal sendiri di luar kota sejak meninggalnya adik bungsu saya di tahun 2011 padahal hari libur saya hanya Minggu, bagaimana cara membagi waktu? (apalagi Mama menolak mentah-mentah untuk meninggalkan rumah kenangan dan tinggal bersama anak-anaknya yang lain)
# Di sisi lain jika saya berhenti bekerja: darimana pos-pos pembiayaan yang selama ini bersumber dari gaji. Tetapi Raditya dan Rafif insyaallah aman dan nyaman di rumah sendiri.
Keputusan kemudian diambil setelah berbulan-bulan diombang-ambingkan kebimbangan. SAYA HARUS BERHENTI BEKERJA. Satu hal yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja adalah anak-anak. Selama berbulan-bulan saya belum menemukan solusi agar anak-anak terjamin kesehatan dan kondisinya maka saya anggap keputusan berhenti bekerja adalah yang paling tepat.
My Precious

Masalah menutup tagihan, saya dan suami berembug. Sisa KPR ditutup dengan sisa tabungan saya ditambah hasil penjualan motor. Satu-satunya motor kemudian dijual dan kami mengajukan kredit lagi. pertimbangannya membayar angsuran motor lebih murah daripada angsuran rumah. Lalu kewajiban lainnya? Beberapa tahun sebelumnya saya sudah pernah vakum dari dunia kerja kantoran, mengurus Rafif dan rumah sepenuhnya selama dua tahun. Kondisi finansial keluarga dan rasa jenuh yang kemudian mendorong saya kembali melamar kerja hingga akhirnya berkarir selama hampir enam tahun. Belajar dari pengalaman maka sebelum mengajukan surat permohonan berhenti bekerja saya mulai mengasah bakat yang sekiranya bisa menjadi ladang rezeki baru sekaligus aktivitas mengisi waktu. Menulis, mengikuti aneka lomba dan kuis adalah serangkaian aktivitas yang rutin saya lakukan di jam-jam istirahat atau waktu senggang. Senangnya aktivitas-aktivitas tersebut kemudian mendatangkan hasil. Saya menyukai prosesnya apalagi hadiah kemenangannya. InsyaAllah aktivitas ini menjadi salah satu pembuka pintu rezeki.
Maka resmilah saya mengajukan surat pengunduran diri di bulan Desember 2012 tepat sehari sebelum Rafif dan Raditya dikhitan. Meski hubungan saya dengan Allah saat itu tidak terlalu mesra namun saya mendapatkan banyak hikmah. Hikmah berupa kepasrahan, tawakal yang sebenarnya. Bahwa janji Allah sebagai Pembagi Rezeki yang Maha Adil tidak sepatutnya dipertanyakan. Saya tak pernah menyesal pernah memilih jalan menjadi wanita pekerja. Dan saya pun menikmati keputusan untuk berhenti bekerja. 

Pemandangan sepulang kerja yang kadang saya rindukan.
 Senja dan burung-burung pulang ke sarang

Seiring berjalannya waktu berbagai rintangan menguji keputusan yang telah diambil. Biaya-biaya transportasi untuk mengantar Mama pulang pergi dari rumah kami ke tempat tinggal Mama yang cukup menguras tabungan, kerusakan beberapa perabot rumah yang kembali membuat saya merogoh sisa tabungan hingga yang terbesar adalah kesulitan finansial ketika suami terPHK, jobless untuk beberapa lama dan mengalami kecelakaan padahal kami tak punya cukup biaya operasi (dan akhirnya berhutang kepada kakak ipar yang tak kunjung lunas hingga kini) Berbagai rintangan itu sempat membuat saya terpuruk, mempertanyakan sudah benarkah keputusan resign tersebut. Apalagi atasan saya tiba-tiba menelepon dan mengajak untuk kembali bekerja. Saat itu suami dalam kondisi jobless dan menyarankan saya menerima tawaran tersebut. Tetapi saya bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah dan memilih mengais rezeki sebagai freelance termasuk sebagai penulis konten dengan fee recehan. Kalau bekerja lagi di tempat yang sama paling cepat saat adzan Maghrib berkumandang saya baru tiba di rumah. Berat rasanya meninggalkan kelas pengajian sore hari yang saya ikuti untuk memperbaiki bacaan Al Quran selepas vakum dari dunia kantoran. 
Tak mudah bertahan dengan kondisi finansial goncang dan musibah demi musibah datang silih berganti. Tetapi Allah tak pernah ingkar janji. Setelah sempit datanglah lapang. Setelah sempat menjual televisi, berbagai hadiah kuis dan lomba termasuk helm baru seharga ratusan ribu rupiah dan menggadaikan satu-satunya kalung yang saya miliki demi menyambung hidup alhamdulillah suami bisa mencari nafkah kembali. Alhamdulillah kondisi finansial keluarga kembali stabil. Malah sekelumit kisah tentang menggadaikan kalung sempat menjadi penghias artikel yang kemudian memenangkan lomba Road Show Pegadaian 2016.
Saya mendapatkan pelajaran ada rahasia di balik dilema. Bahwa proses menentukan pilihan merupakan bagian dari pendewasaan. Bimbang memilih A, B atau C bisa datang kapan saja, tentang apa saja. Tak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Memilih salah satu tetaplah menjadi kewajiban. Sertailah keputusan tersebut dengan doa memohon yang terbaik menurut Allah. Dan bersiap dengan segala konsekuensinya termasuk jika di kemudian hari hasil keputusan tersebut jauh dari harapan dan kondisi yang kita damba.

Share:

Mau Sukses atau Bahagia?

Dulu, sebelum memutuskan berhenti bekerja saya sempat bimbang. Adakah saya akan bahagia dengan keputusan saya? Lalu bagaimana saya mengisi hari-hari nanti ketika anak-anak sudah berangkat sekolah jika sudah terbiasa dengan rutinitas kantor. Kalau anak-anak masih balita dan tinggal di rumah mungkin saya bisa merencanakan permainan atau berbagai stimulasi. Tetapi mereka pasti terus tumbuh dan bersekolah. Apa nggak mati bosan saya dibuatnya, menanti teman ngobrol pulang sekolah. Saat itu Radit harus keluar masuk Tempat Penitipan Anak (duh semacam sepeda motor saja ya hihihi) Rafif yang telah duduk di kelas tiga, mandiri sepulang sekolah SD.
Kegalauan-kegalauan pun muncul silih berganti. Antara badan dan psikis yang sudah merasa terlalu lelah ketika tak mampu lagi mengolah rasa. Antara berat meninggalkan radit yang kala itu masih berusia 4 tahun pra sekolah dalam pengasuhan orang lain dan bekerja di tempat sejauh 30 kilometer dari rumah.
Maka sambil berucap bismillah saya memutuskan berhenti bekerja. Tetapi sebelumnya saya aktif mengikuti kuis berhadiah terutama hadiah buku. Dengan anggapan buku-buku inilah teman saya menanti anak-anak pulang sekolah. Salah satunya adalah 7 Laws Of Happiness karay Arvan Pradiansyah.
Bahagia muncul karena berhasil meraih sukses atau sukses membuat bahagia? Jadi lebih penting mana sukses atau bahagia? Pertanyaan tersebut mungkin sama ribetnya dengan mempertanyakan lebih dulu mana telur atau ayam? Ayam menetas dari telur padahal telur adalah keluar dari perut ayam juga. Mau sukses dulu lalu bahagia atau bahagia karena kesuksesan yang telah diraih? Menariknya saya punya dua buku berbeda yang membahas tentang sukses dan bahagia. Satu buku “The 7 Laws Of Happiness” karangan Arvan Pradiansyah dan buku lainnya berjudul “Sukses Jalan Terus” karya Satria Hadi Lubis.
Jika buku Arvan adalah hasil hadiah kuis twitter. Maka buku Satria Hadi Lubis adalah hadiah ngeblog. Pengirim pertama artikel untuk lomba blog grup Be a Writer mendapatkan paket buku, Sukses Jalan Terus adalah salah satu bukunya.

Ada baiknya definisi sukses dan bahagia kita telaah. Setidaknya definisi menurut kedua buku tersebut. Menurut Kamus Bahasa Indonesia sukses diartikan sebagai berhasil atau beruntung. Dalam buku “Sukses Jalan Terus” Satria Hadi Lubis mengemukakan beberapa definisi sukses menurut para tokoh. John C. Maxwell mengartikan sukses sebagai pencapaian ketika mengetahui tujuan hidup, bertumbuh untuk mencapai kemampuan maksimal dan menabur benih untuk memberikan manfaat kepada lainnya. Henry Wadsworth mendefinisikan sukses sebagai melakukan apa yang dapat dikerjakan dengan baik dan melakukan sebaik-baik apapun yang dapat dikerjakan. Sedangkan Napoleon Hill mengartikan sukses sebagai bentuk tindakan dari mereka yang selalu memberi, membentuk dan mengontrol egonya sendiri, tidak menyisakan tempat untuk mengharapkan adanya keberuntungan atas setiap pekerjaan atau kesempatan atau atas segala perubahan nasib yang dialami.
Arvan Pradiansyah dalam “The 7 Laws Of Happiness” mendefinisikan kebahagiaan sebagai state of mind atau keadaan pikiran. Menjadi bahagia itu menerima keberadaan apa adanya, bersatu dalam kepasarahan dan dalam kekinian. Bahagia berbeda dengan senang sebab kesenangan bisa berumur hanya sementara sedangkan kebahagiaan bisa berlangsung lebih lama tergantung pola pikir kita.

 7 Laws Of Happiness Arvan Pradiansyah: Patience (sabar), Gratefullness (syukur), Simplicity (sederhana), Love (kasih), Giving (memberi), Forgiving (memaafkan) dan Surrender (pasrah atau ikhlas)

Satria Hadi Lubis menyoroti makna kesuksesan sebagai sesuatu yang lebih mendalam. “Sukses Jalan Terus” menekankan pada pentingnya bagi manusia untuk hidup dengan visi dan misi tertentu agar mampu menggapai sukses. Tetapi kesuksesan yang dituju bukan kesuksesan yang sekedar bernilai duniawi seperti jabatan, pangkat, kekayaaan, prestasi dan tolak ukur materi. Kesuksesan yang dimaksud Satria Hadi Lubis adalah kesuksesan sebagai insan seutuhnya. Beliau memetakan lima hal penting sebagai tolak ukur kesuksesan yaitu: keseimbangan hidup, memberikan manfaat bagi orang lain, proses mencapai cita-cita, menikmati kemenangan-kemenangan dan akhir yang baik.
      Keseimbangan yang dimaksud dalam buku Sukses Jalan Terus adalah keseimbangan antara mendapatkan hak dan melakukan kewajiban, keseimbangan antara mengaktualisasikan diri dengan menghargai eksistentsi orang lain. Kesuksesan seseorang juga dapat diperoleh dengan cara menjalani hidup yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Seberapa banyak hal bermanfaat yang bisa diberikan pada masyarakat dan berapa banyak orang yang merasakan manfaat dari sumbangsih adalah salah satu tolak ukur kesuksesan.
      Kesuksesan juga bisa dilihat dari bagaimana proses dan kemampuan meraih cita-cita mulia. Salah satu tolak ukur kesuksesannya adalah menjaga konsistensi ikhtiar dan proses pencapaian cita-cita agar tidak merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Kesuksesan juga bisa dilihat dari cara menikmati kemenangan. Jika cita-cita mulia terpenuhi, hidupnya bisa dikatakan bermanfaat bagi umat, keseimbangan hidup diperoleh maka langkah berikutnya adalah bagaimana cara menikmati kemenangan tersebut? Satria Hadi Lubis menekankan pada pentingnya bersyukur sebagai kesuksesan menikmati kemenangan-kemenangan pada tahapan sebelumnya. Dan tak lupa akhir yang baik merupakan tolak ukur kesuksesan sebenarnya.

      Membaca kedua buku ini secara bergantian menimbulkan pemikiran tentang arti sukses dan bahagia sebenarnya. Jadi silahkan memilih kebahagiaan timbul karena kesuksesan atau sukses karena selalu merasa bahagia dengan kondisi apa adanya. Namun jangan lupa memaknai hakekat sukses dan bahagia sebenarnya agar tidak melanggar hak orang lain dalam pencapaiannya.
       Lalu saya pun menyadari bahwa saya bahagia dengan keputusan saya melepas karir. Tinggal di rumah sambil tetap berikhitar mencari nafkah melalui olah tangan dan pikiran atas seizin Allah.

Share:

Review Film Skip Trace, Jackie Chan

Setiap keluarga memiliki kebijakan mengelola keuangan. Jika keluarga lain menganggarkan budger khusus rekreasi maka biaya rekreasi keluarga kami cukup murah dan tidak dianggarkan secara khusus. Seperti liburan ke jogja dua tahun lalu misalnya dilakukan mendadak saja tetapi sambil mempertimbangkan sisa tabungan. Kalau liburan ke Demak tempo hari jauh lebih hemat karena niatnya bersilaturahim ke rumah kerabat. Makan dan jajan di luar juga ngga sebulan sekali. Tapi ada cara kami bersenang dan menghibur diri sekeluarga yaitu nonton DVD
Gegara hobi nonton DVD ini suami sampai bela-belain beli speaker biar nonton di rumah serasa nonton di sinema atau home video jutaan rupiah hehehe. Kasetnya bisa sewa DVD atau pinjam kenalan. Tentunya harus pilih film yang bisa ditonton segala usia. Ngeri aja kalau nonton film ternyata ada adegan khusus dewasa. Radit baru 7 tahun usianya. Paling aman nonton film "standar" dan bisa dikira-kira ada tidaknya hal-hal yang tak berkenan dan kurang aman dinikmati bersama anak-anak. Pernah nih baru nyalain DVD, film baru masuk iklan film lainnya sudah muncul adegan XXX Kalau sudah begini langsung DVD dimatikan atau dicepetin jalannya, si Radit pun tutup mata. Duh lain kali filmnya kudu di cek dulu sebelum diputar untuk ditonton sama-sama
Salah satu film favorit kami sekeluarga adalah genre action comedy. Paling suka nonton film ala Jackie Chan, seru, menghibur, lucu dan ada pesan moral yang dibawanya. Sudah lama nggak ada kesempatan nonton bersama keluarga. Kali ini kami memilih nonton Skiptrace, Missione Hongkong. Daya tarik film Jackie Chan adalah Kungfu dan Lucu. Perpaduan sempurna buat kami sekeluarga. Anak-anak suka keseruan aksi beladirinya dan pasti terbahak-bahak dengan adegan-adegan filmnya. Adegan actionnya bukan adegan bag big bug yang brutal dan berdarah-darah tetapi sering ada adegan kocak yang memancing tawa. Meski sudah 62 tahun usianya tapi Jackie Chan masih lincah main kungfu.
Skiptrace, Missione Hongkong tidak hanya menjual nama besar Jackie Chan dan image lucu plus seru namun juga keindahan setting. Meski judulnya ada menyebutkan Missione Hongkong namun settingnya tidak melulu seputar Hongkong yang terkenal sebagai pusat gedung-gedung perbelanjaan dan perkantoran yang megah tetapi juga indahnya Mongolia dan perbatasan di sekitar Cina-Mongolia. Kok Jackie Chan yang berperan sebagai Bennie Chan bisa sampai ke Mongolia?

Cerita bermula ketika Samantha (Fan Bing Bing), putra dari Yeung, partner kerja Jackie Chan yang terjun ke laut dengan bom waktu melingkar di perut mendapatkan ancaman dari bos Mafia. Sebagai imbalan nyawa Samantha, Bennie diminta pentolan mafia mengejar Connor  Watts (Johnny Knoxville), seorang penjudi mulut besar dan lari dari kasino miliknya untuk kembali ke Hongkong. Proses perburuan Connor ini menjadi sumber kelucuan sepanjang film diputar serta mengekspose keindahan alam Mongolia, dari Gurun Gobi yang misterius hingga pegunungannya nan cantik mempesona. Paling suka adegan ketika si Connor berkali-kali berupaya melarikan diri dengan berbagai tipu daya tetapi selalu tertangkap Bennie kembali seolah mereka ditakdirkan bersama. Adegan paling menggelikan ketika Connor berhasil melarikan diri dengan mobil kuno yang ditukar dengan arloji peninggalan ayah Samantha sebelum mencebur ke laut. Alih-alih terbebas dari Bennie eh malah mobil rongsokan itu berjalan mundur ketika tak mampu mesinnya mati karena tak mampu menanjak. Radit ketawa terbahak=bahak dibuatnya. Saya juga berdecak kagum dengan setting yang menonjolkan keindahan Mongolia dan Cina daerah pedesaan. Kontras dengan kondisi Hongkong. Rasanya ingin terbang ke sana menikmati indah panorama dan sejuknya udara (eh tapi Indonesia kan tak kalah indah).
Lucu tapi terharu melihat perseteruan Bennie dan Connor yang sama-sama tak memiliki keluarga. Si Connor malah sedang dalam pelarian karena dikejar “terminator wanita Rusia”, bodyguard bos mafia Rusa yang menuntut Connor menikahi anak wanitanya, wah jagoan cewek ini nggak ada matinya!. Satu pesan moral yang saya peroleh dari Skip Trace adalah pentingnya menepati janji sebagai bagian dari menjaga kehormatan. Bennie telah berjanji kepada mendiang Yeung untuk menjaga Samantha dan memberikan jam tangan sebagai kenang-kenangan. Maka ia pun mati-matian menjaga keselamatan Samantha dan siap bertaruh nyawa dan melakukan apa saja untuk memastikan Samantha selamat termasuk mengejar Connor hingga ke ujung dunia sekalipun.

Kemudian Connor membeberkan pernyataan bahwa harusnya Bennie mengetahui sebab ia dikejar Matador, pentolan mafia Hongkong. Pelarian ini bukan karena si Connor berhutang melainkan karena ia adalah saksi pembunuhan seorang wanita yang dibunuh bos mafia. Tapi benar nggak sih pengakuan Connor sebab Bennie mendapatkan informasi sebaliknya. Ending cerita tentang siapa sesungguhnya Matador sang bos mafia cukup membuat penasaran. Sebagai sarana menghibur, Skiptrace Missione Hongkong bolehnya diacungi jempol tetapi anak-anak tetap butuh pengawasan orang tua untuk menonton film yang diproduksi Cidder Mill Pictures ini.
Nonton film memang telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Dulu pas balita Rafi susah sekali makan. Saya juga masih kurang pengetahuan Tips Agar Ia Doyan Makan untuk diterapkan. Meski berupaya mengajaknya makan sambil nonggo hasilnya kurang memuaskan apalagi saya tipe emak yang kurang sabaran dan nggak pandai masak atau mengolah MPASI. Namun si Rafi kalau diajak nonton film sambil disuapin dan diajak ngobrol makannya bisa lebih cepat dan cukup lahap. Mungkin karena itu sampai sekarang jadi terbiasa makan sambil nonton televisi. Ada yang bilang kebiasaan makan sambil nonton itu kurang baik. Lah tapi kami juga tak ada pilihan lain, keterbatasan tempat memaksa kami makan di ruang tamu, di depan tivi hehehe.
Share:

Sabut Pencuci Tertukar, Peralatan Dapur Bisa Bubar

      Salah satu hal yang membuat hidup lebih hidup adalah HADIAH. Bayangkan senangnya hati ketika mendapatkan hadiah. Jingkrak-jingkrak saya ketika mendapatkan hadiah dari suami berupa barang yang belum pernah saya miliki sebelumnya, apakah itu? Wajan anti lengket. 
     Hahay menjadi ibu rumah tangga hampir 15 tahun tetapi saya belum memiliki wajan andalan emak-emak. Banyak pertimbangan saya untuk membeli. Karena nggak hobi masak lah, karena dana untuk membelinya kepakai untuk keperluan lain, khawatir nanti mubadzir dan lain-lain alasan. Tapiii anehnya saya sering menggerutu : “kalau saja punya penggorengan anti lengket, dadarnya pasti lebih cantik” 
    Nah suami tercinta mungkin sebal  sering mendengar gerutuan aneh itu maka dia memberikan hadiah berupa penggorengan anti lengket di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-13. Saking semangatnya punya peralatan masak yang diidamkan setiap hari penggorengan itu saya pakai untuk menyiapkan menu sarapan hingga makan malam hingga tak memperhatikan cara perawatan. Kalau sisa minyak di penggorengan terlihat  sudah menghitam saya langsung buang lalu penggorengannya cepat-cepat saya cuci. Saat menggoreng pun saya sering menggunakan sutil dan serok besi. Sabut pencucinya nggak beda dengan yang biasa saya pakai mencuci peralatan lainnya. malah kadang saya memilih bagian sabut yang lebih kasar untuk membersihkan kotoran membandel. Akibatnya penggorengan anti lengket ini menemui takdirnya: lapisan anti lengketnya tergores dan mengelupas. Ampuun bubar dah wajan teflon saya.
Oh wajan teflonku yang tak semulus dulu


Aduuuh jadi merasa bersalah pada sang suami tercinta. Saya bertekad menebus kesalahan saya dengan janji akan merawat peralatan memasak lebih baik lagi. Alhamdulillah tak lama kemudian saya mendapatkan hadiah lomba berupa peralatan masak lagi berupa satu set alat masak termasuk panci, teko dan penggorengan anti lengket. Aah kali ini harus lebih hati-hati.
      Googling sana sini menemukan beberapa tips merawat peralatan masak anti lengket. Tips yang penting diterapkan agar peralatan makan dan masak anti lengket awet adalah:
1.   Hindari merendam alat masak anti lengket dalam kondisi panas/baru dipanaskan karena akan menyebabkan lapisan anti lengket mengelupas
2.   Gunakan alat menggoreng non logam untuk menghindari goresan
3.   Gunakan sabut khusus untuk peralatan masak anti lengket.
Nah saat berbelanja keperluan bulanan saya menemukan sabut yang pas untuk penggorengan teflon yaitu Sabut spons anti-gores Scotch-Brite untuk mencuci alat makan dan alat masak teflon/anti-lengket.
Ini sabut spons Scotch-Brite anti gores, khusus untuk peralatan anti lengket

      Mengapa saya memilih sabut Sabut spons anti-gores Scotch-Brite? Mungkin jawabannya sama dengan fans berat produk Scotch-Brite lainnya. Ehem kalau sudah yakin sama pilihan ya gitu deh: fanatik. Untuk mencuci piring dan peralatan masak saya memang biasa menggunakan Scotch Brite. Seneng aja, warna-warnanya ceria dan merupakan produk pilihan karena sabut mengandung serat dan mineral berkualitas. Serat yang tepat membantu membersihkan peralatan masak dan makan dengan sempurna. Mineral berkualitas tidak menyebabkan goresan atau kontaminasi zat yang berbahaya.
Duh memilih sabut cuci sampai segitunya? Ya iyalah, tertukar sabut saja alat dapur bisa buyar seperti pengalaman tempo hari, masa iya saya asal pilih sabut untuk cuci piring sehari-hari. Kebersihan dan kehigienisan alat makan penting sekali untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan dan selera makan. Kebayangkan kalau mencuci peralatan dapur, piring dan sendok kurang bersih, lalu sisa makanan masih melekat? Selain kotor, berbau tak sedap juga bisa menjadi sarang bakteri hiiii. Oleh karena itu saya percayakan tugas membersihkan peralatan masak kepada Sabun spons hijau Scotch-Brite untuk mencuci alat masak.
Ini sabut spons hijau untuk mencuci alat masak

Sabun spons hijau Scotch-Brite untuk mencuci alat masak dan Sabut spons anti-gores Scotch-Brite untuk mencuci alat makan dan alat masak teflon/anti-lengket memang pilihan tepat untuk ibu rumah tangga hemat dan hidup sehat. Scotch-Brite telah lama dikenal sebagai produsen peralatan dan perawatan kebersihan rumah tangga, mulai dari pembersih lantai rumah hingga peralatan dapur. Produk perawatan peralatan dapurnya jaminan mutu. Sabut dibuat dengan teknologi yang ampuh untuk membersihkan kotoran sehingga 3xcepat bersih, 3x tahan lama.. Ogah banget kan kalau setiap bulan harus mengeluarkan dana ekstra untuk membeli sabut karena mudah susut dan hasil pekerjaannya kurang bersih? Nah ini salah satu alasan saya memilih sabut Scotch Brite, sabut mengandung serat dan mineral berkualitas sehingga tidak mudah rusak, susut tetapi peralatan dapur baik berupa alat makan maupun alat masak bisa 3xcepat bersih, 3x tahan lama. Emak-emak seperti saya pun bisa lebih menghemat biaya, waktu dan tenaga.

Hemat di segala bidang itu perlu. Daripada berkutat di dapur karena butuh waktu lama untuk mencuci peralatan masak dan dapur yang tak kunjung bersih kan bisa memanfaatkan waktu untuk aktivitas lain seperti menemani anak belajar dan bermain atau ngeblog seperti saya. Hemat biaya? Nah ini jangan ditanya kenapa wajib dilakukan setiap keluarga. Hemat tenaga nggak kalah pentingi, emak-emak kan dituntut multitalenta dan punya cadangan energi ekstra. Tugas-tugas rumah menumpuk dan membutuhkan banyak tenaga. Untungnya ada sabut Scotch-Brite yang meringankan pekerjaan di dapur keluarga. Pekerjaan mencuci piring dan perabot dapur jadi lebih menyenangkan. Tapi pastikan sabut pencucinya tidak tertukar ntar peralatan dapur bisa bubar seperti pengalaman saya dahulu.
Mencuci wajan teflon baru dengan Sabut spons anti-gores Scotch-Brite 

Share:

Jangan Sok Menasihati, Kelak Kau Akan Diuji

Tempo hari saya sempat tertarik melihat kuis mini di facebook tentang bagaimana tanggapan mengenai anggapan: ogah ngasih nasihat karena kelak akan diuji dengan nasihatmu sendiri.

Wow benarkah? saya tak pernah menemukan firman Allah baik dalam Al Quran maupun yang tersirat di dalam hadits Nabi yang mencegah orang memberikan nasihat. Justru firman Allah dalam Al Ashr, jelas "menginstruksikan" untuk saling memberi nasihat dalam kebaikan. Wa tawwa shoubil haqqi watawa shoufi shabr.

Lalu bagaimana dengan inti hadits ke-7 dalam Rangkuman Hadits Arbain Nawawi
, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Artinya agama itu nasihat. Ajaran agama intinya adalah nasihat untuk kaum muslimin baik rakyat maupun pemerintahnya. Nah, kedudukan nasihat sangat penting dong. Mengapa harus takut diuji dengan nasihat? Ujian datang tak hanya dari "pintu nasihat" tetapi dari berbagai sendi kehidupan, bahkan kehidupan sendiri adalah ujian. Bukankah manusia diciptakan untuk diuji. Anak, harta, pasangan hidup adalah ujian.

Namun ada benarnya juga bahwa kita akan diuji dengan nasihat kita sendiri. Ujian itu berfungsi untuk menelisik apakah kita hanya mampu mengucap tetapi tidak mampu menjalani. Bukankah Allah memperingatkan para ulama bahwa mereka dituntut menyampaikan kebenaran dan melakukan apa yang mereka nasihatkan kepada umatNya? jika tidak maka nerakalah ancamannya.

Seperti kisah tetangga saya (sebutlah si A). Putra sulungnya sekolah di pondok pesantren cukup dekat dari rumah. Tetangga yang lain (sebutlah si B) putra tunggalnya mondhok di luar kota. Suatu hari si B curhat kepada si A bahwa dia dipanggil pengurus pondok pesantren berkenaan dengan perilaku anak tunggalnya yang ketahuan merokok padahal itu pelanggaran berat. si B mencak-mencak, karena ia tahu anaknya anak yang sholeh dan melakukan pelanggaran itu karena bujukan si teman. si B bertekad akan mengeluarkan anaknya dari pondok pesantren dan menyekolahkannya di sekolah umum. si A menghibur, ia menasihati si A dan mengatakan bahwa itu hanya ujian. Allah menguji sampai dimana tekad si B untuk mengantarkan anaknya seperti harapan semula ketika mengirimnya ke pondok pesantren.

Setahun kemudian ganti si A yang dipanggil pengurus pondok pesantren berkenaan dengan perilaku anaknya yang menghajar yunior beberapa tingkat di bawahnya bareng-bareng bersama senior lain. Anaknya digundul dan diskorsing sementara pelaku lain dikeluarkan. Degh, hati saya mencelos. Artinya si A diuji Allah apakah ia akan bertahan dengan komitmennya semula. 

Lalu saya juga sepertinya kena ujian yang sama. Saat para wali santri ramai debat masalah pencurian di pondok pesantren. Bahkan pondok pesantren terkemuka di Indonesia tidak terbebas dari kriminalitas. Saya hanya bisa mengatakan di grup WA bahwa semua musibah atau kesenangan terjadi atas kehendak Allah dan kita hanya harus bertawakal. Eh lhadalah kok anak saya kemarin menjadi salah satu korban pembobolan lemari, uang untuk biaya pulang liburan semester dan makan sebulan raib dari simpanan. Semua milik Allah akan kembali kepada Allah.

Maka saya pun hanya bisa menulis catatan kecil sambil meratap dalam hati Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun:
Kebahagiaan atau musibah datang, hanya karena Allah memberikan ruang.
Ketika hati merasa tergoncang karena perih tiada kepalang ingatlah selalu bahwa setelah sempit akan datang lapang.
"Laa quwwata Illaa billah. Tidak ada kekuatan melainkan Allah"

Seperti nasihat saya kepada anak sulung saya, agar senantiasa berhati-hati "santri itu bukan malaikat, pondok pesantren adalah tempat di mana kebaikan dan kejahatan berebut tempat" Selama ini pondok pesantren memang erat dengan stigma: membetulkan anak-anak berakhlak rusak, maka pondok pun menjadi semacam bengkel. Sebagian santrinya berakhlak rusak, sebagian lagi masih culun dan belum terlalu mandiri. Seperti kata Kyai Sahal tempo hari, ada yang berhasil dididik menjadi baik 90% tetapi ada juga yang cuma bisa 20%. 
Semoga stigma negatif ini kian terkikis. Hingga kemudian terlahir generasi Rabbani yang benar-benar Rabbani, benar-benar menerapkan nilai Islam dalam kehidupan maupun di dalam hati. 
Semoga ada hikmah di balik musibah, seperti yang saya yakini selama ini Miracle Does Happen for True Believers. Even sometimes we have to fly with broken wings.


Share:

Kena Batunya

    Siang tadi saya kembali diuji, ban sepeda bocor tepat lima belas menit sebelum berangkat menjemput si kecil dari sekolah. Duh dua minggu lalu baru saja ditambal. Dan proses penambalannya saat itu sungguh menyebalkan saya. Bagaimna tidak, waktu menjemput sudah semakin sempit. Sepeda saya tuntun sampai di depan perumahan karena yakin sekali bapak tua penambal ban di depan perumahan bisa membantu. Lalu ditolak dengan alasan dia mau istirahat siang. Tapi saya belajar bersabar dan bertanya lokasi tambal ban terdekat. Si bapak memberikan rekomendasi tambal ban di jalan raya. Saya berjalan lagi sekitar 200 meter dan kembali mengalami penolakan. Yaelah mungkin rasanya lebih nyeseg daripada melihat gebetan menikah. Penolakan dari tukang tambal ban kedua ini disertai  rekomendasi tambal  ban kedua. Aduuh nggak deh. Tempatnya makin jauh dari arah sekolah si kecil. Akhirnya saya balik arah dan memaksakan mengayuh sepeda itu dalam kondisi ban kempes.
      Sekitar 400 meter, di depan pasar saya yakin ada tukang tambal ban. Searah pula dengan lokasi sekolah. Tapi oolala ternyata dua tukang tambal ban di area berdekatan sekitar pasar tak tampak batang hidungnya. Akhirnya saya memutuskan mengayuh sepeda ke arah sekolah. 200 meter sebelum lokasi sekolah ada bengkel langganan untuk memperbaiki sepeda anak saya. Alhamdulillah si bapak nggak menolak. Saya pun  berjalan kaki menemui anak saya yang sudah duduk melantai di teras sekolah. Sendirian. Karena teman-temannya sudah pada pulang. Aduuh. Kaki rasanya pegal linu, hampir lecet dan lapar jadi satu. Biasanya jam 1 siang sudah sampai rumah, jadi molor hingga hampir jam 2. Saya sempat “menandai” si bapak penambal ban depan perumahan kalau saya tak mau lagi menggunakan jasanya. Saya anggap dia nggak punya tenggang rasa karena tidak bersedia membantu saat saya sangat membutuhkan jasanya, so buat apa saya mencarinya lagi untuk pekerjaan lain kali.


      Lalu saya pun kena batunya. Setelah peristiwa ban bocor itu suami langsung membelikan ban dalam buat siap sedia. Eh nggak langsung diganti tapi nunggu ban bocor kedua kali. Dan itu terjadi hari ini. Hihihi malu rasanya menelan ludah sendiri. Terlanjur setengah sebal sama si bapak penambal ban eh saya berharap-harap cemas dia tak menolak kali ini. Alhamdulillah. Dia mau menolong mengganti ban. Peristiwa ini membuat saya tafakur. Betapa tak pantas tindakan saya dengan memendam sebal dan “dendam”. Mungkin saja penolakan si bapak waktu itu karena dia sedang tak enak badan sehingga harus istirahat siang, atau mungkin dia kesulitan jika diminta menambal ban karena penglihatannya yang kurang tajam. 


          Sebenarnya dia ramah. Sambil bekerja ngobrol kesana kemari tentang banjir, tentang mobil yang semakin bersliweran sementara “kita” motor saja tak mampu beli (hihihi saya bukan Cuma nggak mampu beli motor paak, tapi juga ga bisa mengendarari :p). Saya juga mendapatkan pelajaran. Bahwa pembagian rezeki itu benar-benar misteri. Bisa-bisanya saya “menandai” si bapak tukang tambal ban dan ogah memakai jasanya lagi. Sok banget atuh macam saya tak butuh, padahal siapa Yang Maha Memberi Rezeki?. Peristiwa semacam ini menjadi semacam pelajaran juga bahwa tak ada pekerjaan remeh di dunia. Semua punya kedudukan dan tugas tersendiri yang kelak dibutuhkan di waktu yang tak pernah kita ketahui.
             Merenung lagi, tak sekali ini saya kena batunya. Dulu zamannya si sulung masih balita dia sulit sekali makan lahap. BERBAGAI CARA MEMBUJUKNYA DOYAN MAKAN seolah berakhir sia-sia, saya pun naik darah dibuatnya. Ih gimana nggak sebal kalau  satu kali sesi makan butuh waktu dua jam! karena makanan itu cuma dikulum di mulut seperti permen. Pas sudah hilang sarirasanya dia ambil sembunyi-sembunyi lalu ditaruh di balik selimut, koran atau dimana saja yang dia mau. Tapi saat usianya sudah 9 tahunan dia makan seolah tak pernah kenyang. Seperti sekarang saat di pondok pesantren pun uang sakunya lebih gede dari biaya makan kami sebulan (bayangin deh biaya makan kami bertiga saya puter agar cukup 200 ribu dalam sebulan!). Hadeeh kena batunya beneran kali ini nih.
Share:

06-10-2016

Ada yang aneh dengan angka 06102016? mungkin biasa saja, hanya berupa permainan angka 0, 1 dan 6. Kalau blog digunakan sebagai diary hari ini pun tak ada yang istimewa hanya saja mendapatkan kabar gembira nilai mid semester si sulung yang sedang menuntut ilmu di perantauan menampakkan hasil lumayan. Ada mata pelajaran yang nilainya kurang namun ada pelajaran yang nilainya cukup memuaskan. 

Seperti tausyiah ustadzah tempo hari jika melihat raport anak usahakan jangan hanya berpusat pada nilai terburuk. Bisa jadi nilai terbaiknya menunjukkan bakat, minat dan kemampuan. Dalam kesempatan pengajian tersebut sang ustadzah berkisah tentang anak A dan B yang memiliki kesamaan : meraih nilai buruk di matematika tetapi mencapai nilai bagus di pelajaran menggambar. Ibu si A memarahi anaknya dan menuduh si A terlalu banyak menggambar sehingga tidak fokus di pelajaran matematika. Ia minta si A les matematika dan tidak menggambar lagi. si A menuruti apa kata sang Ibu namun dengan menggerutu.

Sementara ibu si B mendorong anaknya untuk mengikuti les menggambar. Ketika di kota tersebut diadakan lomba menggambar si B turut serta dan keluar sebagai juara. Ibu si B kemudian berkata "wah kamu hebat, bagaimana kalau sekarang les matematika juga, terbukti kan semua kalau dipelajari dengan sungguh-sungguh akan berhasil?" maka si B pun les matematika dengan suka cita.

Ketika musim terima raport datang hasilnya sangat mencengangkan. si A mendapat nilai tidak memuaskan baik untuk pelajaran matematika maupun menggambar. Sedangkan si B menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan baik dalam peraihannya di matematika maupun menggambar. 

Inilah contoh menemukan bakat, potensi dan cara mengoptimalkannya.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan nilai dan rangking sejak anak-anak sekolah. Harapan saya hanya mereka paham ilmunya, berlaku jujur, berakhlak baik dan mandiri. Semoga bukan ekspektasi berlebih.

Apalagi mengingat si sulung ini dulunya SUSAH MAKAN. Saya akui banyak berbuat kesalahan dalam merawatnya hanya karena pusing melihatnya mogok makan di masa batita dan balita. Saya tak ingin mengulang kesalahan yang sama ketika ia menginjak remaja. Berapapun nilai yang diraih adalah hasil perjuangannya. Saya cukup bahagia karena dengan nilai yang ditunjukkannya berarti ia bisa beradaptasi cukup baik di lingkungan pondok pesantren tempat ia menuntut ilmu. Saya membayangkan pastilah sulit untuk anak ABG, umur 12 tahun belajar mandiri jauh dari orang tua dan belajar tanpa dikawal hehe.

Belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan, itulah yang perlu saya lakukan dan saya pelajari agar tidak membuat kesalahan yang sama baik bagi diri sendiri maupun orang-orang yang saya cintai.
Share:

Belanja Online Dapat Cashback?

Beranda FB saya beberapa waktu lalu ramai dengan posting tentang Shopback. Penasaran saya mencari tau apa sih Shopback itu? ternyata Shopback adalah sejenis perantara toko online dan bisa disebut sebagai "Junction Hall" kalau di dunia offline. Iyaa...coba deh jalan-jalan ke Shopback.co.id dan merasakan sendiri kalau dunia shopping online juga punya "Junction Hall".

Masuk ke ShopBack.co.id rasanya sama dengan berkunjung ke Junction, tempat perbelanjaan yang gedee, kumpulan dari beberapa toko atau kios yang menawarkan berbagai macam produk. Bedanya, online Junction memamerkan produknya hanya melalui gambar dan visual, pengunjung tidak bisa menyaksikan langsung, memegang dan memeriksa produk. Meski tidak bisa berinteraksi langsung dengan produk yang ditawarkan berbelanja online telah menjadi trend dalam lima tahun terakhir.

Kenapa sih kok lebih suka berbelanja online? dari berbagai jajak pendapat yang dilakukan, masyarakat lebih menyukai belanja online karena berbagai keuntungan sebagai berikut:
1. Lebih hemat waktu dan tenaga. Hari gini capek kalau harus keliling toko dan mall. Belum lagi kalau hujan atau macet di jalan. Batal dong menjadikan aktivitas belanja sebagai bagian dari hiburan? 
2. Belanja hemat. Asiknya belanja online itu karena toko online sering mengadakan promo dan nggak pelit memberikan diskon untuk produk tertentu.
3. Belanja cermat. Emak-emak paling suka membandingkan harga agar mendapatkan harga paling murah. Enaknya belanja online bisa membandingkan harga produk yang sama dari berbagai toko online yang berbeda.

Tapi belanja online rawan penipuan bukan? Masih ingat modus penipuan penjualan gadget secara online beberapa waktu lalu? Lalu kalau produknya cacat, tidak sesuai display bagaimana dong? Belum lagi kalau harganya ternyata jauh lebih mahal daripada toko offline. Setiap pilihan ada resikonya. Saya punya tips khusus untuk meminimalisir kecewa saat belanja online, yaitu:
1. Pilih toko online yang sudah "punya nama" Di ShopBack.co.id bisa dilihat sendiri pilihan toko online yang insyaAllah terpercaya. Hal ini untuk menghindari uang sudah ditransfer tetapi produk tak dikirimkan
2. Pertimbangkan rekomendasi dari teman dan kerabat. Meski mungkin toko online tidak memiliki situs resmi dan aksesnya hanya terbatas seperti melalui Instagram atau FB, kita bisa tetap merasa aman berbelanja online dengan mempertimbangkan rekomendasi dari teman dan kerabat yang pernah berbelanja di tempat yang sama.
3. Pilih sistem pembayaran COD (Cash On Delivery) dan poin perjanjian pengembalian produk jika tidak sesuai display yang dijanjikan. Beberapa toko online menawarkan sistem pembayaran COD dan perjanjian pengembalian produk. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk meminimalisir kerugian.
4. Manfaatkan promo dan event tertentu
Mau belanja online muraaah baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk kado atau dijual lagi #eh manfaatkan promo dan even tertentu seperti misalnya Hari Cashback Nasional yang berlangsung pada 10 Oktober 2016. Psst di hari Cashback ini berbagai produk favorit dijual seharga Rp. 1.010. Whaaat? Yang selama ini kekepin dompet kalau pas window shopping di toko online atau suka intip-intip di ShopBack.co.id boleh deh sedikit bernapas lega.
5. Menjadi member ShopBack.co.id. Yaa jangan cuma intip aja, kenapa nggak sekalian mendaftar jadi member ShopBack.co.id. Ada banyak keuntungan bisa didapatkan:
a. Belanja dapat cashback, siapa yang mau nolak Jack?. Terharuuuu belanja satu keranjang lalu dapat cashback yang bisa dipakai belanja lagi. Apalagi saat pertama mendaftar langsung dapat bonus 20 ribu setelah melakukan order pertama. Cashback bisa diambil setelah terkumpul minimal 50 ribu rupiah. 
Bagaimana sistem cashback bekerja? Yuk cek videonya di sini



Kalau masih bingung bagaimana mekanisme cashback bisa sorot "bantuan".


b. Sistem afiliasi. Ajak teman bisa dapatin fee 25 ribu lho...dimana lagi kalau tidak di Shopback.co.id

c. Toko onlinenya punya nama. Produk yang ditawarkan serba ada mulai dari produk busana hingga tiket akomodasi di hotel ternama

d. Promo murahnya setiap hari. Di Shopback.co.id promo harga murahnya setiap hari Bo' tidak menunggu jam-jam tertentu atau pasaran Pon, Wage, Kliwon. Tinggal temukan kode kupon di setiap logo toko online atau cermati program promo yang sedang berlangsung. Misalnya promo shoback groceries yang berlangsung pada tanggal 3-7 Oktober. Ini nih yang paling disuka emak-emak: belanja barang kebutuhan sehari-hari, nggak pakai nawar, ngga pakai capek tapi dapat harga banting. Iyess pada mau ngga sih belanja groceries dengan cash back sampai 30%? beneran nih? Yuk silahkan cek sendiri di Shopback.co.id

e. Andil dalam Pesta Cashback Nasional. Yes! pastinya mau banget kan belanjaaa trus dapat harga murah plus dapat cashbacknya pula.

OK deh sepertinya belanja via Shopback.co.id harus masuk list "Do" di "Do and Don't" saat Hari Cashback Nasional. Lalu Don't apa dong? Don't get mad alias jangan kalap saat belanja hehe.

Mau belanja online dapat cashback? ikuti step-step berikut ini
Daftar dan isi identitas diri








Nah, mekanisme mendapatkan cashbacknya juga harus dibaca dengan seksama. Ini salah satu mekanisme di toko online langganan saya



Kebetulan saya punya janji membelikan anak-anak di toko online tersebut menggunakan voucher hadiah. Nunggu 10 Oktober dulu ah, belanja kan jadi lebih cermat dan berlipat-lipat hemat: gratis karena pakai voucher hadiah, tanpa ongkos kirim, (berharap) dapat promo diskon di Hari Cashback Nasional dan dapat cash back pula dari Shopback.co.id.





Share:

Hikmah Bulan Muharram

Sumber : Pixabay

Ini postingan pertama di 1438 Hijriah dan Oktober 2016. Ingin menulis resolusi tahun baru (Islam) tapi ada baiknya ditulis dalam hati aja, khawatir terlalu banyak cita-cita tapi malah mati gaya. Uhuk sebenarnya postingan ini bisa dibilang sedikit terlambat karena Oktobernya sudah tanggal 4 dan Muharramnya sudah tanggal 3. Etapi bener nggak sih penentuan 1 Muharram kemarin ada beberapa versi? Kok denger-denger dan baca-baca ada beberapa pihak yang menetapkan tanggal 1 Muharramnya per-tanggal 1 Oktober, ada juga yang menetapkan 1 Muharram 1438 H jatuh pada tanggal 3 Oktober. Ya sudahlah namanya ijtihad kan hasilnya bisa beda-beda. Ngga perlu dicari perbedaan, lebih baik fokus ke persamaan.

Salah satu persamaan yang menyatukan perbedaan dalam Islam adalah mengenang dan mempelajari hikmah di balik bulan Muharram. Dari beberapa artikel yang saya baca dan beberapa kajian yang saya ikuti, beberapa hikmah yang penting ditafakuri dalam bulan Muharram adalah:
1. Pengertian Hijrah 
Kenapa tahun Islam disebut sebagai Hijriyah? sebab ada kaitannya dengan aktivitas Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Perlu diingat bahwa ketika perintah hijrah diturunkan kepada Nabi Muhammad saat beliau berusia 53 tahun atau bisa disebut usia kenabian Muhammad saat itu mencapai 13 tahun (sebab Muhammad diangkat sebagai Nabi dan Rasul pada usia 40 tahun). Jadi kalau dihitung dan dipertanyakan usia agama Islam pada tahun 1438 Hijriah? tinggal ditambahkan 13 = 1551 tahun. 
2. Indahnya ukhuwwah 
Perlu diingat kembali bahwa penanggalan Islam baru dimulai sejak kepemimpinan khalifah Umar Bin Khattab. Bayangkan bagaimana berijtihad dengan ulama dari segenap penjuru untuk merumuskan dan menyepakati tanggal 1 Muharram pada 1 Hijriyah dalam penanggalan Islam yang menjadi acuan perhitungan bulan-bulan Islam dan ibadah yang terkait dengan bulan tersebut. Pasti sibuk sekali menghitung mundur penanggalan tersebut karena 1 Muharram 1 Hijriyah disepakati pada saat Nabi dan pengikutnya hijrah dari Mekah ke Madinah
3. Hikmah kisah Nabi Musa
Dalam sebuah hadits diriwayatkan tentang kisah Nabi Musa di hari Asyuraa'.
Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti  Musa as. dari mereka.”  Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).
Inilah bukti ketaatan seorang Nabi dan cara beliau bersyukur kepada Allah : dengan berpuasa. Ini juga bukti kerendahan hati seorang Muhammad Rasulullah yang meneladani nabi terdahulu, yaitu Nabi Musa As dengan melakukan ibadah yang sama yaitu berpuasa (dan ditambahkan satu hari sebelumnya sebagai pembeda dengan kaum Yahudi)
4. Amalan yang seyogyanya di lakukan 
Muharram adalah salah satu bulan mulia. Amalan yang dilakukan selama Muharram bernilai berlipat ganda. Apa yang seharusnya dilakukan di bulan Muharram? Sungguh sayang jika Muharram disia-siakan. Dalam sebuah tausyiah, pak ustazd mengingatkan untuk meminimalisir maksiat dan memperbanyak ibadah di bulan Muharram. Ingat, maksiat bukan cuma berjudi, berzina, mabok atau maksiat-maksiat gede lainnya. Maksiat bisa juga berupa dosa-dosa seperti menggunjing, memfitnah, marah-marah dan segala penyakit hati lainnya. Lalu ibadah apa yang sebaiknya dilakukan. Ibadah dan amal kebaikan apa sajalah yang sekiranya membawa kebaikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Bisa sholat sunnah, tilawah, puasa sunnah, sedekah bahkan berbagi ilmu pengetahuan dan TIPS mengatasi ANAK SUSAH MAKAN, TADABUR ALAM atau MERAWAT KECANTIKAN demi suami tersayang #eh.
Puasa Sunnah di bulan Muharram disarankan oleh sebagian besar ulama untuk dilakukan sejak awal bulan. Memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram sangat diutamakan. Namun jika tidak memungkinkan setidaknya puasa 9 Muharram (Tasua') dan 10 Muharram (Asyuraa') bisa dilaksanakan. Ada pula ulama yang menyarankan untuk menambahkan puasa di 11 Muharram jika sekiranya ragu dalam penetapan 1 Muharram. Monggo dilaksanakan yang diyakini dan dilakukan demi menggapai ridho Illahi.

Semoga semangat tahun baru Islam membawa kita menjadi manusia yang berhijrah ke arah yang lebih baik..aamiin allahumma aamiin
Share:

Work at Home

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.