Google+ Followers

Sunday, May 14, 2017

Wajib Exit Kalau Grup WAnya....

Zaman dunia maya hampir semua orang punya akun media sosial. Facebook dan Twitter saya sudah cukup lama menggunakannya. Tapi Instagram dan What App messenger alias WA baru-baru saja. Boleh lah dibilang ketinggalan zaman tapi lebih terlambat daripada tidak sama sekali bukan? hehehe.

Twitter, Facebook, Together, Exchange Of Information
WhatsApp Messenger, kudu pinter memanage biar ngga keblinger (sumber Pixabay)

Awalnya saya menganggap WA itu nggak penting-penting amat. Tapi akhirnya jadi punya akun gara-gara suami menganjurkan demi mempermudah  dan efisiensi transaksi penjualan pulsa. Teman suami, tetangga kalau butuh pulsa nggak perlu SMS lagi tapi bisa lebih hemat order melalui WA. Koordinasi pengajian pun lebih mudah. Dulunya ngrepotin tetangga untuk selalu mampir ke rumah hanya demi mengabari pengajian berikutnya giliran di rumah siapa (maaf ya Bu tetangga hihihi)

Akhirnya resmilah punya WA dan grup pertama yang saya ikuti adalah grup pengajian rutin MT Maratus Shalihah setiap Kamis malam. Grup WA kedua (masih) grup pengajian juga, tapi kali ini grup khusus tahsin dan tahfidz Quran di masjid Al Ukhuwwah. 

Grup WA berikutnya adalah grup Kumpulan Emak-Emak Blogger Surabaya sekitarnya. Cucoklah dengan aktivitas dan kerjaan saya sebagai blogger.

Diitung-itung sampai sekarang grup WA yang saya ikuti berkutat di pengajian (sebagai pengurus dan pengajian umum), grup blogger dan pekerjaan yang berkaitan dengan kerjaan sebagai buzzer dan blogger, grup walisantri (berkaitan dengan posisi saya sebagai wali santri si sulung yang sedang mondhok di salah satu pesantren di Jawa Timur)

Alhamdulillah saya mempertahankan..ceile...grup WA yang ada hingga sekarang karena saya merasa enjoy saja berada di dalamnya. Saya pernah keluar dari beberapa grup WA karena saya merasa nggak suka.

Yup saya mending keluar dari grup WA daripada menggerutu dan malah jadi penyakit yang menggerogoti hati. 

Saya mewajibkan diri untuk segera exit grup WA kalau grup tersebut:
1. Memasukkan anggota secara paksa, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya
Sebelll banget kan kalau tiba-tiba dimasukkan ke grup WA lalu diberondong gambar-gambar, foto, uraian panjang. Yap! sebagian pebisnis online sering banget melakukan hal begini. Seingat saya dua kali saya dimasukkan secara paksa ke grup WA MLM dan toko online. Pengelola grup WA MLM tersebut sesama wali santri, jadi saya undur diri baik-baik dan menjelaskan bahwa saya tidak berminat dengan MLM PPOB karena saya sudah punya channel PPOB sendiri. Eh kok dua bulan berikutnya saya kembali dimasukkan ke grup WA yang sama. Ya sudahlah saya exit grup dan block si bapak. Grup WA berikutnya pemilik toko online yang khusus jualan tas. Aduh maak, saya mah tas cukup satu saja. Modelnya juga nggak neko-neko. Maka tanpa permisi saya langsung exit grup

2. Terlalu banyak anggota
Grup WA dengan anggota terlalu banyak lebih rentan menimbulkan gesekan antar anggota. Belum lagi yang suka share postingan panjang-panjang. Kadang bersahut-sahutan di depan umum. Ampuuun, hape saya mah sudah lemah baterainya. Kena ting tong ting tong notifikasi bisa ngecharge HP lebih dari tiga kali dalam sehari. Kuota pun jadi cepat habis. Maka saya memilih nggak join grup WA RT dan memberikan alasan logis pada ibu RT: hape saya memorinya ngga cukup besar untuk join banyak grup WA. Cukuplah dapat share informasi dari tetangga kalau ada yang penting. Rumah Bu RTnya juga berjarak dua rumah saja , gampang kan kalau mau nanya-nanya hehehe
Whatsapp, White Male, 3D Model, Isolated, 3D, Model
Grup WA, dibikin enteng aja
3. Vakum tanpa ada kegiatan
Pernah nih saya menjadi agen makanan ringan. Lalu marketing produsen snack tersebut membuat grup WA, katanya untuk mempermudah koordinasi dan share info penting mengenai penjualan dan bimbingan berbisnis. Lha kok grupnya terlalu lama vakum, toh saya juga ngga melanjutkan bisnis jualan makanan ringan ini. Akhirnya saya pun memilih exit grup tanpa permisi.

Kadang ada situasi yang membuat saya kurang sreg dan kurang nyaman di sebuah grup WA, tapi saya masih butuh menjadi anggota karena sesuatu hal. Misalnya di grup lagi seru membahas tema yang saya nggak konek sama sekali, contoh paling nyata membahas film korea sampai ratusan chat hahaha. Tapi saya kan ngga mungkin langsung cabut, maka paling banter langsung clear chat saja.

Bersosialisasi di dunia maya rambu-rambunya hampir sama lah dengan bersosialisasi di dunia nyata. Kalau mau posting atau komen sesuatu jadi mikir-mikir dulu. Kira-kira bakal menyinggung perasaan nggak ya. Lagi seru ngobrolin tema yang klik dengan banyak orang di sebuah grup emang asyik tapi saya harus berusaha keras untuk tidak lupa waktu. Gimana dong kalau rumah masih berantakan tapi saya malah keasyikan pencet-pencet tombol hape demi diskusi yang lagi seru.

Jika ada pepatah "mulutmu harimaumu" maka di zaman sekarang mungkin perlu ditambahkan juga: "jemarimu singamu" Mudah-mudahan kita ngga terjebak kericuhan atau kesia-siaan dalam grup media sosial manapun, termasuk grup WA, sampai kapan pun juga.


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Pertama Aida, Serba-Serbi Grup WA"

1 comment:

  1. Saya juga sering keluar grup WA kalo gak cocok dg hati nurani saya

    ReplyDelete