Google+ Followers

Friday, August 12, 2016

Ayo Mondok, Pesantrenku Keren

Bulan Agustus ini Rafif, sulung kami berusia 12 tahun. Yang membuat kami haru, bangga, deg-degan, rindu adalah di ulang tahunnya kali ini dia berada di perantauan. Rafi, yang bayinya hobi nangis kejer-kejer, yang (konon) sering membuat ulah di sekolah dan sekitar rumah plus menjadi penyebab beberapa tetangga nglabrak ke rumah kini nyantri di Gontor 5 Darul Muttaqien, Banyuwangi.


Rafif, ketika bersiap untuk menempuh ujian tulis seleksi Pondok Pesantren Modern Gontor Darussalam


"Mondhok, nyantri nanti mau jadi apa? Kerjanya cuma ngaji dan baca kitab saja". "Belajar ilmu kuno yang tidak laku di dunia kerja". "Nanti lulus mondhok kuliah ilmu umum lalu buat apa susah-susah mondhok". "Mondhok mahal banget biayanya ya?"  "Ih kok tega sih anak baru lulus SD dimasukin pondhok" >> Hahaha ...percaya atau tidak kata-kata itu sering saya dengar bahkan dari tetangga, kerabat dan teman dekat saya sendiri. 
Stigma Negatif Pondok Pesantren masih menghantui masyarakat hingga saat ini.


Sebagai orang tua saya nggak menuntut Anak-anak "jadi apa" >> frasa yang biasanya merujuk ke profesi tertentu, target jabatan dan posisi di mata manusia. "Jadi Apa" di pemikiran saya untuk anak-anak adalah jadi apapun mereka kelak yang penting sholeh dan istiqomah di jalanNya. Masalah nanti jadi apa insyaAllah ikuti saja takdir Sang Maha Pencipta. Toh jadi sarjana saja bukan jaminan bisa cepat dapat kerja. saya sudah pernah merasakan jadi pengangguran selepas kuliah. Masih teringat lembaran-lembaran lamaran kerja, interview di sana sini tapi saya baru dapat pekerjaan setelah setahun lulus kuliah. Dulu saya punya mimpi bekerja di laboratorium sesuai background ilmu. Tapi saya sudah sangat bersyukur diberikan kesempatan bekerja sebagai karyawan di perusahaan pelayaran ekspor impor selama hampir sepuluh tahun sebelum akhrinya memilih bekerja di rumah.



Saya sendiri jarang menanyakan anak-anak ingin jadi apa. Pernah sekali saya tanya cita-cita Radit masih berubah-ubah antara jadi polisi, tentara bahkan astronot. Lalu teringat cita-cita Rafi kelak ingin mendapatkan beasiswa sekolah di manca negara, tentang mimpinya menjadi pengusaha. 

Rafi pernah cerita ustadz guru mengajinya berpesan "nanti kalau sudah lulus dari, jadi ustadz sambil kerja, jangan cuma sekedar jadi ustadz saja" Kata Rafi "siapa yang mau kerja ikut orang? saya kelak ingin membuka lapangan kerja, bukan sekedar bekerja"
Semoga tercapai cita-citanya, semesta mendoakan. ALLAH meridhoinya. aamiin allahumma aamiin


Mondhok mahal? ukuran mahal seperti apa? buat saya masa depan anak-anak adalah hal yang patut diperjuangkan. Mahal, murah ukuran manusia jauh berbeda dengan ukuran Sang Maha Pencipta. Gagdet harga dua juta rupiah bagi manusia penggemar gadget adalah hal wajar dengan segala fitur yang tersedia. Tapi dua juta rupiah untuk beli buku atau infaq mungkin terbilang mahal buat penggemar gadget. Untuk urusan pendidikan, buat kami, sesuai kemampuan pribadi terbilang mahal jika uang pangkalnya puluhan juta rupiah, dan bulanannya dua juta rupiah atau lebih. Tapi buat mereka yang lebih mampu dan ingin anaknya sekolah di tempat yang menurut mereka terbaik pasti nominal tersebut tidaklah berat. Jadi mahal seperti apa yang mereka standardkan?

Tega benar anak baru lulus SD dikirim ke pondhok pesantren. Haha buat saya akan menjadi orang tua super tega jika melihat anak-anak tumbuh tidak seperti yang diharapkan Allah, anak-anak yang ibadahnya tidak sungguh-sungguh, anak-anak yang hanya membuat susah orang tua karena membuat kericuhan dimanapun ia berada, anak yang berbuat maksiat, anak-anak yang hanya bisa bergantung tanpa punya tekad untuk mandiri sama sekali. Kasarnya saya lebih tak tega lagi jika anak-anak menampakkan bibit (calon) penghuni neraka. Tapi pesantren tidak menjamin kita masuk surga bukan? Lha kan kembali lagi ke masalah masuk surganya. Bukan ibadah kita yang menyebabkan masuk surga tetapi keridhoan Allah, Allah ridho' terhadap ikhtiar kita agar terhindar dari api neraka jika ikhtiar dan ibadah kita Lillahi ta'ala. Belajar ilmu agama di tempatnya pada para ahlinya yaitu alim ulama adalah salah satu ikhtiar bukan?

Nggak merasa kehilangan anak "dipondokkan"? jawabku : mereka bukan punyaku..anak,harta,suami cuma titipan dan milik Allah :)
Maka kusekolahkan anak di pesantren agar ia lebih mencintai Pemiliknya tanpa syarat .

Anàk-anakku laki-laki kelak mereka pun menikah dan meninggalkan rumah apalagi kelak tanggung jàwab sebagai lelaki besar sekali dunia akherat. Biar mereka bersiap sejàk jauh hari. Jawaban ini pula yang saya berikan saat Rafi bertanya mengapa harus sekolah di pondok pesantren? Saat dia curhat bahwa menjelang pengumuman dia menangis usai sholat Maghrib karena hatinya yang bimbang. Jika ia diterima maka akan jauh dari keluarga, jika ia tidak lulus seleksi maka ia merasa perjuangan keras kami berakhir sia-sia saya pun menjawab : jauh dari keluarga? teman-temanmu jika kelak kamu diterima banyak yang datang dari tempat yang lebih jauh. Kami mungkin masih bisa mengunjungimu sebulan sekali, mereka? mungkin setiap liburan baru berkumpul keluarga. Rafi tahu, ulama zaman dahulu bahkan bertahun-tahun tak berkumpul bersama keluarga karena menuntut ilmu di tempat sangat jauh dan kendaraan yang tersedia hanya kuda dan unta. Kenapa semua itu, untuk apa semua itu ? karena Allah jawabnya. Andai tidak diterima di Gontor pun bukan berarti Rafi bodoh, tetapi rezekimu bukan di sini. Artinya Allah sedang mengajarkan ilmu ikhlas kepada kita apapun yang anak terjadi. 
Kemudian takdir pun bergulir di 20 Juli 2016, ketika nomor pendaftaran Rafi disebutkan lulus seleksi dan ditempatkan di Gontor 5 Banyuwangi.

Usai mondhok kuliah jurusan umum? buat apa mondhok? Lha sekolah itung-itungan matematika, menghapalkan rumus, belajar sejarah apakah dipakai di kehidupan kita-sehari-hari? Begitu juga tujuan kami mengarahkan anak-anak untuk jadi santri. Pondok pesantren nggak melulu belajar Al Quran, Al Hadtis, kitab fiqih dan ilmu-ilmu agama tetapi juga ilmu pengetahuan pada umumnya. Santri juga belajar berhitung dan bahasa. Paham sejarah dan bagaimana merangkai kata. Bedanya di pondok pesantren porsi belajar agama Islam lebih besar daripada di sekolah umum. Pembelajarannya bukan sekedar pada text book tetap juga pada hidup keseharian. Bukan berarti kami lepas tangan mengajarkan ilmu agama, akhlaq dan budi pekerti. Pondok pesantren mungkin bukan tempat sempurna tetapi setidaknya anak-anak bisa belajar banyak bukan hanya tentang ilmu agama. Itulah juga sebabnya kami mengarahkan anak-anak dan berjuang bersamanya untuk bisa belajar di Pondok Modern Gontor. Di sini para santri ditempa bukan hanya pondasi akhlaknya tetapi juga stamina fisik, semangat ukhuwwah, kemandirian dan kreativitasnya. Ngapain aja para santri di pondok? yang KEPO bisa mengunjungi akun FB dmtgraphy dan Gontorgraphy atau di situs-situs resmi pondok-pondok pesantren, pastilah dapat gambaran kehidupan para santri


Ayo Mondok, Pesantrenku Keren, slogan-slogan tempo hari bukan sekedar slogan biasa. Saat menemani Rafi mengikuti ujian lisan dan tulisan di Gontor tempo hari saya menyaksikan kehidupan para santri dengan mata kepala sendiri. 
Bismillah, semoga pilihan kami tak pernah salah. Biar saja orang mau bilang apa, Allah Maha Mengetahui yang tersimpan di dalam hati.


20 comments:

  1. anakku renacanya juga lulus SD mondok, smg saya bisa kuat. dari sekarg anaknya udah disosialisasi

    ReplyDelete
  2. menurut saya mondok dan sekolah umum itu sama saja, sama2 untuk menuntut ilmu. tapi di mondok anak bisa mendapatkan ilmu yang lebih daripada sekolah umum yaitu ilmu agama, karena hidup di dunia ini tak kan selamanya, untuk apa jadi orang sukses tapi ga tau dengan agama, sama saja dengan bohong :)

    ReplyDelete
  3. pinter ya mba anaknya mau mandiri masuk pesantren diusia belianya ^___^

    ReplyDelete
  4. Sama bun kemaren pas mudik, saya sekalian antar ponakan mondok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe nggak papa mbak, beda kepala beda juga pemikiran kita

      Delete
  5. Sama bun kemaren pas mudik, saya sekalian antar ponakan mondok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah, kita kan wajar punya pendapat berbeda, intinya saling menghargai saja :)

      Delete
  6. Hihi, saya juga mantan anak pondok. Hidup di pondok pesantren itu kalo dinikmati rasanya seru lho. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pas saya njenguk Rafi dia juga bilang begitu mbak :)

      Delete
  7. Kayaknya rafi ini temen anak saya raihan deh, awalnya saya pingin mondokkan raihan jg tp ada perbedaan pola pikir dgn bapaknya intinya sih g tega akhirnya daftar di smp muhammadiyah 1 sidoarjo. Salut buat orang tua yg ikhlas melepas anaknya nyantri dan menahan rindu demi ilmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih salut lagi buat orang tua yang melepas anaknya berjihad di medan perang Bu sepert zaman dulu, kami bukan apa-apa :)

      Delete
  8. Kayaknya rafi ini temen anak saya raihan deh, awalnya saya pingin mondokkan raihan jg tp ada perbedaan pola pikir dgn bapaknya intinya sih g tega akhirnya daftar di smp muhammadiyah 1 sidoarjo. Salut buat orang tua yg ikhlas melepas anaknya nyantri dan menahan rindu demi ilmu.

    ReplyDelete
  9. assalamualaikum bu , maaf mengganggu sya ainy ..sya cma mau minta solusi gmna cranya ngambil hati orang tua agar bisa di izinin mondok ..
    wassalamualaikum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam ...maaf komennya baru kebaca. Coba dengan membuka hati beliau dengan mengajak beliau jalan-jalan ke pondok, membawakan buku tentang kehidupan pondok dan kisah-kisah mereka yang sukses dunia akherat setelah lulus dari pondok. Tentunya dengan doa yang tak pernah putus. Banyak hal yang menjadi pertimbangan ortu tentang keputusan memilih tempat menuntut ilmu bagi ananda tercinta. Yang terpenting bagi ananda adalah restu orang tua...semoga diberikan yang terbaik menurut Allah bagi kehidupan ananda :)

      Delete