catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Google+ Followers

Sauh: Tentang Cinta yang Berlabuh

Penulis:  Shabrina Ws
Editor : PraditaSeti Rahayu
Penyelaras aksara: Idha Umamah
Penerbit: PT Elexmedia Komputindo
Cetakan: Pertama, 2018
Jumlah hal.: 221 halaman
ISBN: 978-602-04-5206-7

"Untuk mereka yang bertanya sejauh apa cinta harus diperjuangkan"
Quote manis ini diletakkan mbak Shabrina di bagian awal novel. Quote yang seolah memilin benang merah dengan caption di sampul bukunya "bagaimana aku bisa berlabuh pada hati yang bukan dermagaku?"

Dari dua quote ini ditambah blurb yang menyinggung tentang Rosita, Danu dan Firman memberikan bayangan bahwa novel ini bercerita tentang cinta. Tepatnya cinta antara tiga sosok manusia. Cinta yang membuat sosok Rosita harus memilih di antara dua. Adakah Danu, lelaki yang terlebih dahulu mengisi hidupnya ataukah Firman yang datang belakangan.
     Membaca Sauh mengingatkan pada banyak hal. Tentang arti cinta itu sendiri, tentang makna pernikahan, tentang obyek-obyek wisata nan indah di seputar Jawa Timur. Anda seorang yang sebal karena dituntut orang tua untuk segera menikah? novel ini adalah bahan renungan yang tepat agar tak buru-buru menjatuhkan pilihan pada orang yang salah hanya karena dikejar target usia dan dianggap bisa menyelesaikan masalah.
     Anda sedang menaruh harapan pada seseorang lalu datang figur lain yang menjanjikan masa depan? kira-kira siapa yang akan Anda pilih? nikmati bagaimana Sauh menyajikan lika-liku perasaan Rosita, mungkin akan membantu menetapkan pilihan agar tak menyesal kemudian.
Jodoh memang telah ditetapkan sebelum manusia diturunkan, tetapi ikhtiar insan adalah faktor yang tak kalah menentukan. Sauh adalah novel yang mampu menggugah pembaca untuk berikhtiar semaksimal mungkin sebelum berpasrah kepada takdir Tuhan. "Kita nggak pernah tahu di doa kita yang keberapa Tuhan mengabulkan keinginan kita, bukan?" (Sauh; halaman 126)
    Novel ini mampu mengaduk-aduk perasaan. Alurnya manis dan setiap epsiodenya meninggalkan kesan. Quote-quote indah bertebaran. Menikmatinya dari awal hingga akhir tidak menimbulkan bosan. Awalnya saya sempat salah duga. Membaca blurbnya menimbulkan prasangka "duh ini pasti Rosita mudah sekali pindah ke lain hati. Pasti dia bakal memilih lelaki yang lebih mapan, entah itu yang bernama Danu atau Firman" Ternyata deng dong, i'm wrong.  Datanglah ke toko buku atau pesan Sauh melalui mbak Shabrina berbonus tanda tangan agar tak penasaran.
     Satu hal yang membuat novel ini tidak membosankan adalah karena tokoh-tokohnya sangat berkarakter. Inilah kepiawaian mbak Shabrina dalam meramu novel. Dari cara beliau bertutur pembaca bisa membayangkan sosok tokoh utama melalui perilaku, kebiasaan, gestur dan gambaran ciri tubuhnya.
Adalah Rosita, wanita berusia matang, hobinya berlari - tetapi bukan lari dari kenyataan. Rosita berasal dari Ponorogo. Ia perempuan yang mandiri, bahkan kuliah pun dijalani sambil bekerja. 
Tokoh utama berikutnya adalah Danu. Lelaki yang dikenal Rosita di tempat kerjanya. Lelaki yang sangat bertanggungjawab terhadap keluarga. Ketika ayahnya meninggal pria asli Sidoarjo ini pun terpaksa mengambil alih tanggung jawab terhadap keluarga, menjaga ibu dan kedua adik perempuannya serta mencukupi dari segi finansial.
Tokoh yang tak kalah menawan adalah Firman. Sosok yang tak sepenuhnya hidup dengan masa lalu, tetapi juga masih gamang menatap masa depan. Hidupnya tiba-tiba berubah ketika Kalila, calon istrinya meninggal sebulan sebelum tanggal pernikahan yang telah ditetapkan.
      Rosita dan Danu bekerja di Hotel Kaliandra Surabaya. Hotel budget yang hampir selalu ramai dan sibuk hingga tak jarang karyawannya harus bekerja overtime. Hubungan Rosita dan Danu sangat dekat, tetapi tak pernah ada kata cinta yang terucap. Mungkin anak zaman sekarang menyebut hubungan mereka dengan istilah TTM - Teman Tapi Mesra tapi jangan membayangkan "kemesraan" ala berpegangan tangan atau yang lebih dari itu. Sebab Danu memegang teguh nasihat ayahnya untuk memperlakukan dan menghormati wanita dengan cara tidak menyentuhnya. Dan Rosita berpegang kuat pada pesan ibunya untuk tidak terlalu dekat dengan pria sebagai cara menjaga kehormatannya. 
      Kedekatan Rosita dan Danu berakhir tiba-tiba ketika Rosita mendapatkan promosi jabatan dan pindah ke Joglo Homestay sebagai anak perusahaan Hotel Kaliandra di Pacitan. Sedangkan Danu meninggalkan karirnya di hotel Kaliandra untuk kembali ke Sidoarjo mengurus tambak udang milik almarhum ayahnya. Masalah mulai timbul ketika Firman, putra dari pemilik Hotel Kaliandra mengungkapkan bahwa mutasi Rosita ke Pacitan sebenarnya adalah bagian dari skenario perjodohan yang dirancang kedua orang tua Firman dan Rosita (yang ternyata telah saling mengenal sebelumnya) Akankah Rosita menerima perjodohan ini atau ia berusaha mencari kepastian dari Danu yang sempat hilang kontak karena Handphonenya rusak tercebur tambak? 
     Selain penokohan yang kuat, Sauh diperkaya pemaparan deskripsi setting yang memikat. Khas mbak Shabrina dalam mendeskripsikan ruang, latar belakang, setting dengan sangat detail. Contohnya saat beliau menggambarkan salah satu kamar untuk pasangan pengantin baru yang hendak berbulan madu di Joglo Homestay:
Ada satu sofa panjang di ruang tamu dengan meja kopi kecil berlapis kaca, memantulkan sinar matahari terbit yang menerobos lewat pintu yang terbuka. Pemandangan ini tak akan lama. Saat matahari naik, sinarnya akan terhalang rimbunan pohon yang dahan-dahannya sengaja dipangkas sejajar dengan tinggi pintu. Sehingga ruangan tak akan terasa panas. Pemandangan selanjutnya adalah lengkung garis pantai di bawah sana yang berakhir pada pegunungan hijau. Kamar tidur berjendela lebar satu sisi menghadap ke laut biru gelap, sementara sisi lain menghadap ke hutan hijau tempat matahari tenggelam. (Sauh halaman 95)
Sebagai pembaca saya sampai menahan napas membayangkan keindahan Pantai Teleng Ria, dan mencari gambarnya di internet. Hello mbak Shabrina, karena novelmu aku jadi ingin pergi ke sana.
Sauh mungkin bisa membuat "sebal" pembacanya. Duuh kenapa sih bapak ibunya Rosita ini kok masih percaya tahayul tentang: perempuan tidak boleh "dilangkahi" (= didahului menikah) adiknya. Ini zaman digital gitu loh, masa iya percaya yang begitu? Saaabaaar jangan terburu emosi, baca dan sesap pelan-pelan, Mbak Shabrina akan menjelaskan tentang alasan si bapak sampai memaksakan perjodohan agar Rosita tidak dilangkahi.
      Tapiii saya juga masih gemassss. Kenapa di zaman internet kok ya masih SMS-an, padahal Rosita dan Danu punya akun facebook, wooy kan bisa punya whats app messenger, line atau apalah kan, iya kan? (maksa). Mungkin saja SMS diangkat kembali dalam novel ini sebagai pengingat bahwa dahulu pengguna handphone menikmati proses mengetik dengan jempol dan tekun menghitung karakter agar hemat pulsa (ah itu kan dugaan saya sebagai manusia yang seringkali terjebak dalam kenangan *nyengir)
       Ah bicara tentang kenangan, saya sukaaa sekali dengan quote-quote yang menghias novel ini. "Gambar-gambar bisa menyampaikan pesan lebih dari sekadar mengingat kenangan" uhuk, langsung buka instagram. "Sebagian orang berpedih-pedih atas nama kenangan, sebagian lagi meluas-luaskan hatinya sebagai bentuk penerimaan" jadi kalian termasuk sebagian orang yang mana?
      Terimakasih mbak Shabrina, telah meluangkan waktu berbulan-bulan menulis novel yang indah dan tak kalah indah dengan novel-novelmu sebelumnya. Barokallah, semoga istiqomah dalam menebar hikmah dalam jalinan aksara.


Share:

8 comments:

  1. Sudah lama nggak baca novel, padahal banyak novel di rumah koleksi anak saya hehehe

    ReplyDelete
  2. Kita nggak pernah tahu di doa kita yang keberapa Tuhan mengabulkan keinginan kita, bukan?
    .
    baru baca resensinya sudah sukses bikin mewek.. meleleh mba - gimana kl baca bukunya yaa.. ������

    ReplyDelete
  3. Kalau masih teguh menggunakan SMS, apa mungkin setting ceritanya bukan jaman NOW ya mbak hihihihi. Mungkin tahun 2000an awal eaaaa apa siiih.

    Btw baca ulasannya jadi penasaran pengen tau endinnya :D

    ReplyDelete
  4. mba, inibkog kayag kisahku banget wkwkwk aq gadis ponorogo yang mendapat suami orang sidoarjo yang bertemu dibtempat kerja wkwkwkw jd pengen beli novelnya

    ReplyDelete
  5. Udah lama banget nggak baca novel romantis. Jadi pengen baca... Aku penasaran sama sosok Rosita yang kayaknya manut banget sama ortu. Jarang2 'anak' hotel kayak dia

    ReplyDelete
  6. Novelnya inspiratif bangetttt
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  7. Saya baru setengah baca, belum kelar. Dinikmati membacanya, ringan banget.

    ReplyDelete

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Labels

Translate

Popular Posts

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

Labels

Labels

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.