Google+ Followers

Tuesday, January 2, 2018

Bukan Ayah Bunda Biasa

latepost nih.

Tanggal 16 Desember 2017 di Masjid AL Ukhuwwah diadakan kajian umum. Keren abis dah temanya. Saya pengen share di sini poin2 penting. Baik yang dalam ingatan saya maupun share dari takmir via WA




Kalau diajukan pertanyaan kepada para Ayah, “anak yang seperti apa yang diinginkan?” Tentu banyak sekali harapan tertumpah kepada setumpuk kriteria: anak shalih, pintar, rajin, mandiri, berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Tidak ada yang salah dengan sederet harapan itu, namun apa yang ingin dicatat adalah bahwa umumnya seorang ayah tidak tahu bagaimana piawai menjadi ayah, bukan hanya ayah biologis, tetapi juga ayah spiritual, ayah yang mampu melahirkan generasi penerus kepemimpinannya, a father as a leader.

Fenomena yang terjadi justru jauh panggang dari api, banyak sosok Ayah yang abai terhadap pendidikan dan kehidupan anaknya. Bahkan di cibubur ada seorang ayah Utomo Permono (46), dosen di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Muhammadiyah Cileungsi  yang rela  menelantarkan 5 anak kandungnya selama sebulan hingga nyaris sekarat. 

Elly Risman Musa Spi, dosen UI pemerhati kenakalan anak, menemukan fakta bahwa ternyata sangat banyak anak-anak kita yang ber-ayah ada, ber-ayah tiada. Maksudnya, Sang Ayah ada di rumah, hadir secara fisik namun tidak hadir secara emosional dan spiritual di hadapan anak.

Mengapa?, karena ternyata banyak anak-anak yang bertemu ayahnya sebentar di pagi hari atau bahkan tidak bertemu sama sekali, dan baru bertemu lagi di malam hari. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Benry Biller menunjukkan bahwa waktu efektif antara anak dan ayahnya adalah 19 menit sehari atau hanya di akhir pekan saja. Lalu apa yang bisa diharapkan dari nineteen minutes fathertersebut?

Kenyataan inilah yang yang banyak dihadapi oleh anak-anak kita, sehingga tidak berlebihan jika Ely Risman berkesimpulan, bahwa mengapa anak-anak sekarang nakalnya sudah kelewatan?. Menurut Ely, karena Indonesia is the fatherless country. Artinya Indonesia bukanlah negara janda, tetapi ayah hadir hanya secara fisik tetapi mereka tidak hadir  secara emosional dan spiritual dalam waktu dan jumlah yang cukup dihadapan anak.


PERAN PENTING AYAH

Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar magister di Fakultas Pendidikan, Universitas Umm al-Quro, Mekah, bisa menyemangati para ayah untuk lebih peduli dengan anak-anaknya. Judul tulisan ilmiah tersebut adalah: “Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat, Ke-17 dialog tersebut dengan rincian: Dialog antara ayah dengan anaknya  terdapat 14 kali, Dialog antara ibu dan anaknya sebanyak 2 kali, dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya ada 1 kali. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya jauh lebih banyak ketimbang dialog antara ibu dengan anaknya, 14 dibanding 2.

Kisah Al qur’an tentang dialog ayah dengan anak yang dominan, tentu bukan karena kebetulam, tetapi sekaligus memberikan pesan kuat bahwa pendidikan anak versi Al Qur’an adalah berpusat pada sang Ayah.  Ayah bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan dan akhlaq anak, bukan ibu apalagi guru atau diserahkan pembantu.

Perhatikanlah, bagaimana Nabi Adam dibimbing oleh Allah untuk menyelesaikan konflik anak-anaknya Qabil vs Habil. Bagaimana Ibrahim as membesarkan Ismail dalam ketaatan dengan model pendidikan dialogis, bukan hanya perintah dan larangan. Juga bagaimana Nabi Ayyub menjelang ajalnya berwasiat tentang tauhid pada anak-anaknya; Tak ketinggalan, bagaimana kisah Lukmanul Hakim mendidik anaknya tentang syukur, tentang aqidah dan akhlak, tentang menegakkan ibadah terutama sholat juga tentang kesederhanaan (QS 31:12-19).

Naifnya, kini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu penyebab munculnya banyak masalah masalah kenakalan anak muda, yang melampaui usianya. Sebagian ayah sering kehabisan tema untuk bicara dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara uring-uringan dengan intonasi tinggi alias marah-marah.

Ada lagi yang diam saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sakit gigi atau sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi, pelit bicara, kalaupun bicara hanya monoton dan seperlunya saja. Maka pantas hasil generasi penerus ini memprihatinkan, jauh dari yang diharapkan peradaban Islam.

Dengan kajian di atas menegaskan pesan bahwa keluarga khususnya Ayah, menjadi penanggung jawab utama dalam mempersiapkan generasi penerus. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya, apalagi banyak tradisi yang tidak bisa dipungkiri bahwa intensitas pengasuhan ibu kepada anak jauh lebih dominan ketimbang ayah.

Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: Wahai Ayah bicaralah, kalian harus lebih rajin berdialog dengan anak, lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian. Jadilah Ayah istimewa, yang selalu hadir secara emosional dan spiritual yang cukup dalam pengasuhan anak.

Bagaimana membentuk generasi "Yang Tidak Biasa?"

1. Orientasi visi
Visi ayah bunda adalah membangun kehidupan. Tdk sekedar meneruskan keturunan
Visi ayah bunda adalah agar anak2 menjadi qurrota ayun dan muttaqin
Yang bisa menentukan kesuksesan anak adalah jujur, mandiri, disiplin, kreatif dll yg tdk diajarkan di sekolah ( akademis menduduki urutan di atas 10)
2. Reaktualisasi potensi
Laqad holaqnal fii ahsani taqwim
Setiap anak memiliki potensi unik ..fii ahsani taqwim
Bantu anak menemukan passion. Passion adalah ketika belajar dan mengerjakan sesuatu tidak ada keluhan dan tidak ada cacatnya
3. Reposisi dimana ayah, dimana bunda
17 dialog ayah-anak dalam Al Quran dan hanya 2 dialog ibu-anak dalam Al Quran
Maka Ayah lah yg seharusnya memegang peran penting dlm mendidik anak
Ayah harus lbh banyak berdialog dng anak.

Agar anak2 tdk salah pergaulan Pastikan bgmn pergaulan anak2 di luar rumah, serahkan pada Allah setelah ikhtiar mendidik dan membimbing



2 comments:

  1. Untungnya suami cukup dekat dengan anak2, bahkan jadi perantara kalau saya lagi marah sama anak2 heheheee

    ReplyDelete
  2. Pak Huda emang warbiyasak.
    Beliau dulu bossnya PT Temprina kan
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete