Google+ Followers

Thursday, May 12, 2016

Cara Mudah Menuju Mekah Bersama BRISyariah

"Berhaji itu wajib. Setidaknya niat untuk berhaji wajib ada pada hati setiap umat muslim" tausyiah ustadzah dalam suatu majelis taklim menampar saya pelan. Selama ini saya menganggap bahwa naik haji buat saya pribadi membutuhkan keajaiban. Ya bagaimana tidak butuh keajaiban karena untuk hidup sehari-hari kami harus pandai-pandai menyiasati.

Semula saya pikir naik haji adalah ibadah bagi mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Mendaftar ibadah haji harus memiliki sekian rupiah dan wajib lunas ketika tiba saat berangkat naik haji sesuai antrian di Departemen Agama. Lalu darimana uang pelunasan ONH kami jika untuk biaya hidup dan bayar sekolah anak saja pas-pasan?
   Pencerahan memang bisa datang darimana dan kapan saja. Demikian pula halnya dengan pencerahan yang saya peroleh tentang kewajiban berhaji. Sebuah buku hadiah kuis dari penerbit berjudul : Cara Mudah Menuju Mekah memberikan secercah cahaya menerangi pikiran yang khawatir tak mampu berhaji hingga saatnya mati.


  Pemikiran saya tentang “ketidakmampuan” naik haji menurut penulis buku tersebut adalah salah satu kendala sebelum berhaji. Dalam buku tersebut dibahas beberapa kendala yang menyebabkan seseorang muslim bahkan tak pernah memiliki niat untuk berhaji. Kendala berhaji menurut Firmansyah Dimmy, sang penulis buku Cara Mudah Menuju Mekah adalah:
1.        Merasa belum mampu
seperti yang telah saya singgung sebelumnya, kondisi ekonomi pas-pasan adalah penyebab merasa bahwa naik haji hanyalah mimpi. Pemikiran ini sangat berdampak pada pupusnya niat untuk berangkat haji.
2.       Lingkungan yang kurang kondusif,
berada di lingkungan yang mementingkan keduniawian dan gaya hidup hedonis bisa mematahkan niat pergi berhaji. Jangankan naik haji, larut dalam kegembiraan dunia bahkan bisa membuat seseorang lupa melaksanakan sholat dan ibadah-ibadah qauliyah dan amaliyah lainnya.
3.        Menunggu waktu yang tepat
kalimat ini sering kita dengar terlontar spontan jika seorang muslim yang sehat, berkecukupan ekonomi tapi tak segera naik haji. “menunggu waktu yang tepat” sekarang masih repot mengurus keluarga, sibuk bekerja, mengembangkan bisnis. Nanti sajalah kalau sudah usia lanjut. Padahal tak ada yang menjamin usia kita bisa sampai tua.
4.       Belum ada panggilan
Ibadah haji seringkali diibaratkan sholat. Menunggu adzan baru berangkat. Mampu fisik dan ekonomi tapi tidak segera berangkat ke Mekah beralasan “belum ada panggilan” seperti halnya muslimah yang belum berhijab menjawab “masih menjilbabi hati, menunggu hidayah”. Ya Allah, ampuni hamba, bahkan hidayah ternyata bukan dinanti tetap harus dikejar dan dicari
5.       Tidak bisa mengaji.
Buta huruf Al Quran menyebabkan seseorang merasa minder untuk naik haji. Khawatir tidak mampu berdoa dan melafazkan dzikir yang harus diucapkan dalam bahasa Arab. Alhamdulillah buku panduan ritual haji dari Departemen Agama kini sudah dilengkapi doa-doa yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bahkan sebenarnya kalimat-kalimat thayyibah seperti basmalah, hamdalah atau tahmid, tasbih, tahlil, takbir, hasbalah (Hasbunallah wa ni'mal wakil), talbiyah (Labbaik Allahumma labbaik) atau Asmaul Husna asal diucapkan dengan khusyu dari hati telah merupakan doa-doa yang didengar Allah.
6.       Menganggap ke Mekah tidak penting
Duit banyak, lebih baik dipakai keliling Eropa berlibur bersama keluarga. Astaghfirullah semoga kita dijauhkan dari pemikiran ini
7.       Takut naik pesawat.
masyaAllah, fobia naik pesawat mungkin sulit disembuhkan. Tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki.
8.       Takut pembalasan dosa
Nah ini dia kendala yang tak kalah gawatnya, cerita-cerita tentang karma yang dialami di tanah suci berkaitan dengan dosa dan kesalahan dalam kehidupan sehari-hari sering menyurutkan niat untuk berhaji. Opini yang harus diubah dengan pemikiran sebaliknya yaitu bahwa menunaikan ibadah haji adalah salah satu ibadah yang diharapkan dapat membasuh dosa-dosa.

Dari kedelapan kendala tersebut yang paling besar untuk saya hadapi adalah : merasa belum mampu.
Bagaimana cara mengusir keraguan bahwa saya tidak mampu naik haji? Cara paling efektif adalah dengan memotivasi diri tentang keutamaan ibadah haji dan tak ragu untuk “bermimpi”.

Seperti kata Laskar Pelangi bahwa mimpi adalah kunci menaklukkan dunia. Tetapi mimpi tanpa langkah nyata adalah angan-angan belaka. Padahal berangan-angan, berandai-andai adalah hal yang tak disukai Allah.

Memotivasi diri untuk berangkat berhaji dapat dilakukan dengan cara mudah, yaitu:
1.   Membaca berulang kali ayat  Al Quran yang mewajibkan umat muslim untuk berangkat haji. Salah satunya adalah Surat Ali Imran ayat 97. Jika perlu cuplikan ayat tersebut difotocopy atau diprint out dari laman Al Quran online, kemudian dilaminating dan ditempel di dinding kamar. Setiap kali sebelum tidur atau bangun dini hari untuk sholat tahajud insyaAllah kita akan selalu teringat untuk memanjatkan doa agar dimampukan untuk berhaji.


2.       Menitipkan doa kepada teman dan kerabat yang berangkat umroh atau haji. Salah satu keutamaan beribadah di tanah suci adalah doa-doa lebih mudah dikabulkan. Berdoa di Roudhoh, Masjid Nabawi dan di Masjidil Haram, di depan Ka’bah diyakini lebih mujarobah. Tak perlu malu untuk menitipkan doa kepada kenalan yang sedang beribadah di Mekah dan Madinah agar kita dimampukan untuk melaksanakan ibadah haji. Namun agar lebih afdol ada baiknya ketika yang dititipi doa sedang memanjatkan doa, kita pun dalam kondisi sedang beribadah, minimal berdzikir. Rasanya kok aneh ketika kita didoakan kok malah bermalas-malasan atau tiduran. Cara ini sempat saya lakukan ketika tetangga berumroh. Kebetulan beliau-beliau adalah anggota majelis taklim. Ketika mendekati waktu berkunjung ke Raudhoh beliau memberikan kabar melalui whatsapp grup sehingga kami yang di Indonesia bersiap diri untuk turut berdoa. Istilahnya “nyambung doa


3.       Membaca kisah-kisah inspiratif tentang orang-orang yang tampaknya kurang mampu secara ekonomi namun ternyata bisa menunaikan ibadah haji. Cerita-cerita semacam Tukang Bubur Naik Haji, pemulung naik haji setelah menabung bertahun-tahun dan guru mengaji tanpa penghasilan tetap yang diumrohkan mantan muridnya adalah contoh kisah-kisah inspiratif yang dapat membangkitkan niat dan membulatkan tekad untuk naik haji.

4.       Memulai ikhtiar.
      Dalam buku “Cara Mudah Menuju Mekah” dibahas pula mengenai Banyak Cara Menuju Mekah salah satunya adalah Tabungan Haji dan Umroh. Saat ini Tabungan Haji dan Umroh banyak pilihan baik dari bank konvensional maupun bank syariah. Namun sebagai nasabah BRI Syariah, Tabungan Haji BRISyariah iB menarik minat saya untuk insyaAllah memilihnya sebagai tabungan berhaji. Sebagai penulis freelance pendapatan saya tak tentu. Salah satu ketentuan Tabungan Haji BRISyariah iB yang sangat sesuai dengan kondisi finansial saya adalah setoran awal mulai Rp. 50.000,- dan setoran berikutnya minimal Rp. 10.000,-. Artinya calon jamaah haji bisa bebas setiap saat menambahkan saldo. Apalagi ketentuan-ketentuan lain terasa tidak memberatkan. 

Ini dia poin-poin penting dari Tabungan Haji BRISyariah iB

Akad : Mudharabah Muthlaqah

Bagaimana Cara Membuka Tabungan Haji BRISyariah iB. Simak Syarat dan Ketentuannya
·    Melampirkan fotokopi KTP (Kartu Tanda Penduduk)
·    Melampirkan fotokopi NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) 
·   Melampirkan fotokopi Kartu Keluarga (untuk pembukaan bagi anak-anak)

Biaya-biaya apa yang dikenakan pada Tabungan Haji BRISyariah iB

  •      Biaya administrasi bulanan tabungan : GRATIS
  •      Biaya rekening pasif : Rp 10.000,- 
  •      Biaya re-aktivasi rekening pasif : GRATIS 
  •   Biaya penggantian buku tabungan karena habis : GRATIS
  • Biaya penggantian buku tabungan karena hilang/rusak  : Rp 5.000,-
  •      Biaya dibawah saldo minimum : GRATIS  
  •      Biaya penutupan rekening : Rp 25.000,- 
Fitur
·         Mata uang IDR (Rupiah)
·         Setoran awal Rp 50.000,-  
·         Setoran berikutnya Rp10.000,-
·         Saldo minimal Rp 50.000,-
·         Dana tidak dapat ditarik sewaktu-waktu
·         Tidak mendapat Kartu ATM

Nah siapa yang nggak mau berangkat ke Mekah dengan cara mudah bersama BRI Syariah. Tabungannya bisa dibuka dengan setoran lima puluh ribu rupiah, setoran berikutnya bebas sesuai kemampuan, tidak ada biaya administrasi bulanan, terdapat bagi hasil yang kompetitif dengan pemotongan zakat secara otomatis plus Transaksi Online dengan SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) untuk kepastian porsi keberangkatan haji.
Tiga tahun lalu saya sempat pesimis menyiapkan dana untuk anak sulung saya masuk pesantren tahun ini. Tetapi Tabungan Impian BRI Syariah telah menjadi sarana bagi saya mewujudkannya. Alhamdulillah dana tersebut telah terkumpul dalam nominal yang cukup lumayan mengingat saya memilih setoran sebesar seratus ribu rupiah setiap bulannya. Mudah-mudahan saya mampu menyempurnakan keimanan dan keIslaman dengan menunaikan ibadah haji melalui Tabungan Haji BRISyariah iB 

Berhaji adalah bukti cinta sejati kepada Illahi. Beribadah haji membutuhkan pengorbanan harta dan tenaga yang besar karena ongkosnya tidak murah, harus meninggalkan keluarga dan segala kenyamanan di rumah sendiri, ritualnya memerlukan kesiapan fisik dan mental. Hal paling mengagumkan ketika berhaji adalah ketika umat muslim dari segala mazhab berkumpul untuk melakukan ritual haji atau sholat berjamaah tanpa mempermasalahkan perbedaan fiqih. Kadang saya sering menangis haru melihat tayangan ritual haji di televisi, betapa ukhuwwah Islamiyah tampak begitu kuatnya ketika berada di depan Ka’bah. Betapa syahdunya suasana wukuf di Arafah. 

   Teriring doa menutup postingan ini, doa yang insyaAllah akan selalu saya panjatkan di penghujung malam nan sunyi : Ya Allah, Engkau memanggil hamba tiga kali dalam hidup ini: ketika sholat, berangkat haji dan ketika mati. Hamba telah berusaha sebaik mungkin menjawab panggilanmu tepat waktu dalam melaksanakan sholat wajib dan menambal kekurangannya dengan sholat-sholat sunnah. Mohon perkenankan dan mampukan hamba untuk menunaikan ibadah haji. Agar kelak saat panggilan terakhirMu hamba tak terlalu memalukan ketika dihadirkan di hadapanMu untuk mempertanggung jawabkan segala sesuatu. 

11 comments:

  1. Haji adalah bukti cinta pada Illahi. Jadi diingatkan tuk buka Tabungan Haji. Semoga Allah perkenankan dan mampukan kita beribadah haji, aamiin

    ReplyDelete
  2. Haji adalah bukti cinta pada Illahi. Jadi diingatkan tuk buka Tabungan Haji. Semoga Allah perkenankan dan mampukan kita beribadah haji, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya Rabbal alamiin...semoga kita mampu ya mbak Murti :)

      Delete
  3. Saya juga tertampar secara halus membaca tulisan Mbak Dwi ini. Semoga niat berhaji selalu tertanam di hati, dan kelak saya bisa mewujudkannya.
    Aamiin-kan bareng2 ya, Mbak Dwi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin..aamiin allahumma aamiin mbak Diah, semoga niat kita dimudahkan untuk terwujud ya :)

      Delete
  4. Saya juga ingin sekali berhaji, atau minumal umroh ya bun.

    ReplyDelete
  5. Semoga segera terwujud ya mba :D

    ReplyDelete